
...πππ...
Leon dan Gloria membawa Violet yang tidak sadarkan diri masuk ke dalam kamar. Kecerobohan Leon membuat Violet tau segalanya, kecuali fakta kalau Leon pernah membunuh Violet di masa lalu.
"Apa yang kau temukan Gloria?" tanya Leon.
"Banyak, tapi dia juga harus mendengarkan apa yang akan ku katakan"
"Mengapa dia juga harus mendengarnya?"tanya Leon tak paham.
"Karena dia adalah ibu sang bayi, tentu saja dia harus mendengarnya" jawab Gloria, "Dia sudah tau semuanya kan? Jadi, tidak perlu ada yang ditutupi lagi" kata Gloria sambil duduk disamping Violet yang masih belum sadarkan diri.
Tak lama kemudian, Violet sadar dari pingsan nya. Dia masih terkejut dengan apa yang sebelumnya terjadi, dia yakin itu bukan mimpi. Supaya Violet tidak bingung lagi, akhirnya Gloria membeberkan semuanya tentang masa lalu Violet, kecuali tentang Kainer yang membunuhnya.
"Jadi, aku adalah kekasihmu di masa lalu? Aku Camellia? Dan kau adalah Raja Iblis?" tanya Violet berusaha menerka apa yang baru saja dia dengar dari Gloria dan Leon. Seperti sebuah pengakuan yang tidak masuk akal baginya, yang merasa berasal dari dunia modern.
"Aku tau kau pasti masih merasa syok dan merasa ini semua tidak masuk akal. Maka aku akan memberikan gambaran agar kau paham bahwa ini adalah fakta" Gloria tersenyum, dia menggunakan sihirnya di depan Violet.
Violet dibuat takjub oleh sihir yang nyata di depannya, sebuah gambar muncul di depannya. Gambaran seorang wanita berambut perak dan Raja iblis yang selalu ada di dalam mimpinya, Violet tercekat karena dia mengenali orang-orang itu.
"Itu.."
"Mereka selalu muncul dalam mimpimu bukan?"
"Benar" Violet menganggukkan kepalanya.
"Gadis ini adalah kau di masa lalu dan pria ini, kau tau kan siapa dia? Dia yang baru saja kau lihat wujud aslinya" Gloria berusaha membuat Violet mengerti.
"Itu adalah aku? Meski ini tidak masuk akal, tapi nyatanya kalian memang bukan manusia biasa. Dan aku familiar dengan sosok wanita berambut perak itu, baiklah..aku percaya" Violet tersenyum tipis, dia percaya dengan apa yang dikatakan Gloria.
Dia percaya dengan apa yang dikatakan Gloria dengan mudah, tapi kenapa dia tidak percaya padaku?. Leon agak kesal karena sebelumnya Violet tidak percaya pada dirinya, harus ada Gloria dulu yang menjadi penengah diantara mereka.
"Syukurlah, ada sebabnya kau tidak mengingat masa lalu mu. Tapi kau dan si Raja iblis ini benar-benar pasangan kekasih, bahkan kalian hampir menikah" Gloria tersenyum menceritakan sedikit masa lalu Kainer dan Camellia.
"Lalu kenapa tidak menikah? Apa kau berselingkuh?"
Deg!
Leon dan Gloria tidak bisa menjelaskan nya bahwa di masa lalu, Kainer telah membunuh Camellia secara tidak sengaja. Leon masih takut untuk mengatakan semuanya.
"Kenapa tidak jawab?" tanya Violet sambil melihat ke arah Violet dan Gloria secara bersamaan dengan penasaran.
"Itu karena...kedua kakak mu tidak menyetujui hubungan kita" Leon beralasan bahwa ini semua karena Arthur dan Dimitri (Kedua kakak Camellia).
"Tentu saja, karena aku berasal dari dunia manusia sedangkan kau iblis. Jelas sekali kalau keluarga ku tidak setuju"
"Tapi kau mencintaiku dan kita saling mencintai, bahkan kita menjadi pasangan kekasih untuk waktu yang cukup lama. Kalau kau ingat semuanya, kau pasti akan tau berapa lama waktu yang kita lewati untuk bisa bersama," jelas Leon pada Violet.
Gadis itu masih belum memahami apa yang terjadi. Tapi, fakta tentang Gloria dan Leon bukan manusia biasa adalah kebenaran. Karena dia melihat sihir itu dengan mata kepalanya sendiri.
"Lalu bayinya? Apa maksudnya aku mengandung anakmu? Kita bahkan baru berhubungan intim sekali dan itu pun hanya satu malam. Bagaimana bisa aku hamil secepat itu?" tanya Violet tentang bayi yang sebelumnya dikatakan oleh Leon.
"Kau sedang hamil anakku, itu benar" jawab Leon.
"Ini tidak mungkin..."
"Itu mungkin karena kau mengandung bayi dari seorang iblis" Gloria terpaksa menjelaskan semuanya, agar tidak ada kesalahpahaman lagi.
Violet tercekat kaget mendengar nya, tangannya memegang perut yang masih datar itu. Hatinya berdebar, dia tidak percaya kalau ada bayi di dalam perutnya.
Leon pun menunjukkan hasil pemeriksaan dokter tentang bayi di dalam kandungan nya, agar Violet percaya. Dia membaca surat hasil USG dan pemeriksaan nya, mengatakan bahwa ia sedang hamil 3 Minggu.
Sungguh hal yang mengagetkan dan tidak masuk akal untuk Violet. "Kau akan melahirkan dalam waktu 5 bulan lagi" kata Gloria
"Li-lima bulan?"
Aku? Hamil anak iblis? Dan aku pernah berpacaran dengan iblis?. Otak nya sulit mencerna semua fakta ini.
"Bayi mu bukan bayi biasa" jawab Gloria menerangkan.
"Aku.. aku tidak mau bayi ini!" teriak Violet sambil beranjak dari ranjang nya.
"Violet!" Leon tercengang melihat murka di wajah cantik gadis itu, dia bahkan menangis. Semua hal ini memang terlalu mengagetkan untuknya.
"Aku tidak mau mengandung anak iblis, aku tidak mau!" Violet ingin menyangkal dan menolak keberadaan bayi yang ada di dalam kandungan nya. Dia memukul mukul perutnya itu, dia histeris.
Buk
Buk
Leon memegang tangan Violet dan menahan gadis itu untuk memukul perutnya. "Violet hentikan! Kau akan menyakiti dirimu sendiri"
"Kau tidak akan bisa membunuhnya! Apa kau tega membunuh bayi yang tidak berdosa?Aku tau kau terkejut, tapi dia adalah bayimu dan Leon!"Gloria berusaha menghentikan Violet untuk memukul perutnya.
Bayi? Ini bayiku? Bayi ini tidak bersalah.. dia benar.. Violet terdiam dengan wajah terpana, dia melihat ke arah perutnya.
Duak Duak..
"Ughhh.."
"Violet, ada apa?" tanya Leon cemas mendengar gadis itu merintih kesakitan.
"Ada yang menendang.." jawab Violet merasakan ada yang menendang perutnya.
Violet tidak tega untuk menyakiti anaknya, dia pun memilih mempertahankan bayi itu karena bayi di dalam kandungan nya adalah darah daging nya. Setelah melalui kesepakatan bersama, Leon dan Violet memutuskan untuk menikah demi bayi mereka.
Pernikahan itu terjadi dengan singkat di sebuah gereja. Mike menggandeng tangan adiknya dan mengantarkan nya untuk Leon.
Pria itu sudah berdiri di dekat seorang pendeta yang akan menikahkan mereka. Violet terlihat sangat cantik dengan gaun pengantin nya, rambutnya di hiasi mahkota bunga dan kain tille transparan.
"Mengapa kau tidak tersenyum? Ini kan hari pernikahan mu? Apa kau tidak bahagia? Masih belum terlambat untuk mengakhiri nya?" tanya Mike sambil menggandeng tangan adiknya, dia melihat wajah Violet yang tidak berekspresi.
"Aku hanya sedang tegang kak, aku baik-baik saja" jawab Violet sambil tersenyum lebar.
Aku memang menyukai pak Leon, tapi aku masih kesal dengan fakta kalau dia adalah iblis. Aku masih belum bisa menerima nya, dan juga bayi ini..
"Kau harus sehat, demi bayi yang kau kandung. Kau harus bahagia, kalau dia menyakiti mu.. kau harus bilang pada kakak mu ini, paham?" Mike tersenyum, dia menggenggam tangan adiknya. Sebelumnya Violet dan Leon memang sudah memberitahu tentang kehamilan Violet lebih dulu, karena takutnya keluarga Violet akan curiga.
Violet dan Leon mengarang cerita kalau mereka berpacaran sudah 3 bulan, supaya ketika perut Violet yang membesar nanti, tidak banyak yang menanyakan nya.
Mike mengantarkan Violet pada Leon, Leon menggandeng tangan Violet. Jantungnya berdebar kencang karena ini adalah pernikahan pertamanya.
Dia tak menyangka bahwa dia akan menikah dengan Violet/Camellia di kehidupan kali ini yang tidak pernah terwujud di kehidupan sebelumnya. Senyuman indah terlihat di bibir Leon menyambut calon istrinya. Ini benar-benar mimpi indahnya yang menjadi nyata.
"Ya, saya berjanji, saya bersedia akan menjaga janji ini sampai maut memisahkan!" Leon tersenyum bahagia.
"Nona Violetta Swans, apa anda bersedia menjadi istri dari tuan Leonardo Maxton? Setia, menjadi istri yang baik untuk dirinya seumur hidup, sampai maut memisahkan?"
"Ya, saya bersedia. Akan menjaga janji ini sampai maut memisahkan" jawab Violet.
"Saya sah kan kalian sebagai pasangan suami istri!"
Semua orang yang menghadiri upacara pernikahan itu, bertepuk tangan bahagia.
Prok prok prok
"Akhirnya adikmu menikah juga, Mike.. kau juga harus segera menyusul" kata Bu Elisa pada anak sulungnya.
"Aku belum ada calon" jawab Mike dingin.
"Terus, bagaimana dengan gadis di sebelah sana? Bukankah dia pacarmu?" Tanya Bu Elisa sambil melirik ke arah Nina yang duduk tak jauh dari sana. Gadis itu tersenyum manis pada Mike dan melambaikan tangannya.
"Aihh.. ibu.." Mike terlihat malu-malu.
Apa apaan gadis itu?
Prosesi tukar cincin pun di lakukan, mereka saling menyematkan cincin pada jari masing-masing.
"Tuan Leonardo Maxton, anda bisa mencium mempelai anda" kata pria berpakaian hitam itu pada Leon.
Leon membuka kain penutup transparan yang menutupi wajah cantik Violet, "Boleh aku mencium mu?" tanya Leon dengan sopan.
"Kau adalah suamiku sekarang, kau berhak melakukan apapun yang kau mau..tubuhku adalah milikmu," Violet tersenyum tipis, dia menatap dalam-dalam pada mata biru milik Leon.
Leon tersenyum, dia meraih kedua pipi Violet dengan lembut. Kemudian dia membenamkan bibirnya pada bibir merah nan cantik milik istrinya. Leon menyesap bibir manis itu, dia terlihat sangat bahagia.
Tangan Violet memeluk Leon dengan lembut. Setelah upacara pernikahan, Leon membawa Violet ke rumahnya untuk beristirahat.
"Violet.."
"Ya?"
"Maafkan aku, aku tau kalau kau belum bahagia dengan pernikahan ini karena kau terpaksa. Maafkan kekurangan ku" Leon berlutut di depan istrinya yang sedang duduk di ranjang.
"Tidak apa-apa, ini kan kesepakatan kita berdua. Dan kau salah, aku tidak menikah denganmu karena terpaksa. Aku menyukai mu juga" Violet memegang tangan Leon sambil tersenyum. Entah kenapa dia masih bisa menerima Leon sebagai iblis dan anak di dalam kandungan nya, apa memang ingatan Camellia sedikit mempengaruhi nya.
"Apa kau bersungguh-sungguh? Kau menyukai ku juga? Seberapa besar?" Leon tercekat mendengar nya.
"Sedikit" jawab Violet sambil menggaruk-garuk kepalanya.
"Baiklah, tidak apa-apa..aku sudah sangat bersyukur kau sudah mau menikah denganku yang bukan manusia," Leon memeluk istrinya dengan kasih sayang dan cinta.
"Iya, cinta kan tidak memandang dari apapun. Bukankah itu tugas cinta? Untuk menyatukan perbedaan?" Violet mencoba pengertian dan menerima semua keadaan.
***
.
.
5 bulan kemudian...
Violet yang sudah hamil besar, sedang duduk di sebuah kursi panjang. Dia menunggu kepulangan suaminya dari kantor. Gloria menemaninya. Dan sampai saat itu dia belum ingat masa lalu nya sebagai Violet.
"Kau pasti sangat kesulitan mengandung anaknya, dia sangat aktif di dalam sana bukan?" tanya Gloria pada Violet dengan cemas.
"Aku tidak tahu, karena aku tidak pernah ham sebelumnya. Tidak tahu ini normal atau tidak, tapi dia sering sekali menendang" Violet memegang perutnya.
"Ibu ku juga dulu pasti kesulitan sama seperti mu..Kau sangat hebat yang mulia" Gloria memuji Violet karena dia sudah bertahan untuk mengandung anak Leon yang notabene nya bukan anak manusia.
"Kenapa nyonya Gloria memanggilku yang mulia lagi?" tanya Violet sambil menyandarkan kepalanya di kursi.
"Kau dulu adalah tuan putri, banyak pria yang mengejar mu..tapi kau hanya jatuh cinta pada si iblis" Gloria tertawa kecil.
"Seperti nya di dalam kehidupan kali ini dan kehidupan sebelumnya, aku masih sangat mencintai Leon" Violet tersenyum memikirkan ayah si bayi.
Selama lima bulan ini, Leon selalu mencurahkan perhatian kasih sayang pada Violet dan anak yang ada di dalam kandungan nya. Semua keinginan Violet selalu dia turuti, perlahan-lahan rasa suka Violet yang sedikit itu menjadi besar pada ayah si bayi.
Malam itu Leon pulang dari kantornya, bajunya tampak acak-acakan karena dia banyak pekerjaan. Dengan susah payah dalam langkah beratnya, Violet menyambut suaminya. Menyiapkan makan malam dan menyiapkan air hangat untuk nya mandi.
"Kau tidak pernah melakukan ini istriku" Leon memeluk istrinya dari belakang, mengecup lehernya dengan lembut.
"Ini kewajiban ku sebagai istrimu" Violet memegang tangan Leon sambil tersenyum.
"Tapi kau sedang hamil besar" Leon khawatir melihat perut membuncit itu.
"Kau tidak usah khawatir, dengan perut besar seperti ini.. aku masih bisa melakukan pekerjaan kecil" Violet tersenyum.
"Aku khawatir karena tidak tahu kapan anak kita akan lahir, kehamilan mu kan bukan kehamilan biasa" Leon khawatir.
"Kalau mau lahir ya lahir saja? Nenek Gloria juga sudah bilang kan kalau ini tidak membahayakan nyawa.. karena anak ini kuat" Violet tersenyum santai, "Airnya sudah siap, pergilah mandi"
"Baik tuan putri, aku akan segera kembali" Leon melepaskan pelukannya. Dia berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Sementara Violet sedang menyiapkan piyama tidur untuk sang suami. Ketika akan duduk di ranjang.
"Ughhh... Akhhhhhh!!" Violet memegang perutnya, dia merintih kesakitan. Dia merasakan ada cairan yang tumpah dari tubuhnya dan membasahi lantai.
Dengan cepat dan sigap Leon langsung menghampiri Violet, begitu mendengar rintihan dari wanita itu.
"Ada apa Violet?" tanya Leon pada istrinya.
"Se-sepertinya aku mau melahirkan.." jawab Violet terbata-bata.
"Apa?!!" Leon terbelalak, dia panik melihat kondisi Violet.
...End...
...----***---...
Hai Readers! Akhirnya end juga novelku Kekasih Raja iblis! Mohon maaf tidak bisa memuaskan reader, karena dalam novel ini masih banyak kekurangan apalagi up nya suka lam..βΊοΈβΊοΈ
Terimakasih kepada readers yang selalu mendukung novel ini dari awal sampai akhir π€π€
ππππ sampai jumpa lagi di novelku yang lainnya ya ..ππ₯°