
...🍀🍀🍀...
Terjadi ketegangan di udara, atmosfer menjadi buruk. Sudah jelas karena pemberontakan yang dilakukan Vairas, Hilde dan rakyat yang tidak menyukai Kainer.
"Apa yang kalian inginkan? cepat katakan!" ujar Kainer pada Hilde dan Vairas
"Kami ingin kau menyerah! serahkan tahta mu dan wanita mu" ucap Vairas sambil tersenyum menyeringai
"APA kau mau mati?!" Kainer menatap murka pada Vairas dan Hilde
Bukan hanya merebut tahta, dia juga ingin Camellia?. Kainer mengepal tangannya penuh kemarahan
"Kau tidak punya pilihan Raja iblis, kau mau menyerahkan nya atau kekasihmu ini akan mati" Hilde angkat bicara, ia melilit tubuh Camellia untuk menyiksa perasaan Kainer dan kekasihnya.
"AHHHHHH!!" Camellia menjerit kesakitan
Kainer menatap Camellia dengan perasaan dilema, ia tidak masalah kehilangan tahta. Tapi jika ia harus kehilangan Camellia, ia tidak bisa.
"Yang mulia, tolong jangan lakukan itu! jangan serahkan keduanya!" seru Gordon pada Kainer memohon
GLEK
Kainer menelan ludah, ia tidak punya banyak waktu untuk berfikir. Bingung, gelisah, dilema, khawatir dan takut. Keadaannya sudah terjepit berada di ujung tanduk.
"Akan ku serahkan tahta, tapi bebaskan dia. Dia tidak ada hubungannya dengan masalah kita" Kainer mencoba bernegosiasi
Aku harus memulangkan dia kembali ke dunia manusia. Wanita tua itu benar, cintaku hanya akan membawanya pada kesengsaraan. Seperti nya inilah kesengsaraan yang di maksud itu. batin Kainer sedih, ia menyesal membawa Camellia ke dunia iblis bersamanya. Cinta nya pada Camellia sudah membuat gadis itu menderita.
"Kau tidak bisa bernegosiasi dengan kami Raja iblis, menyerah dan serahkan dia.. atau dia mati, kau tidak punya pilihan" Hilde mengancam
Vairas tersenyum mesum, ia memandangi Camellia dengan tatapan nanar penuh nafsu. Lidahnya menjulur keluar seakan ingin melahap gadis itu. Camellia terperangah melihatnya, tubuhnya gemetar ketakutan.
Sebentar lagi kau akan menerima pembalasan dendam dariku, Hilde tidak akan pernah melupakan hutang. Vairas si iblis mesum akan membantu ku membayar hutang padamu, manusia rendahan!. Hilde menatap Camellia dengan sinis, terlihat senyuman menyeringai.
Sebentar lagi aku harus bersiap siap melahapnya. Aku harus memulihkan tenagaku, pasti Raja iblis akan menyerah. batin Vairas
Kenapa si serigala busuk ini menatapku begitu? menjijikan!. Camellia menyadari tatapan mesum Vairas padanya.
Sementara itu Kainer terlihat sedang berfikir keras, semua pengikutnya menantikan keputusan apa yang akan diambil oleh Kainer. Dan akhir nya Kainer mulai membuka mulutnya.
"Baiklah, akan aku serahkan tahta dan juga Camellia pada kalian. Tapi..jangan sakiti Camellia ataupun para pengikut ku" ucap Kainer
Kainer menyerahkan ku? kenapa? tidak.. pasti Kainer berkata seperti ini karena dia memiliki rencana. Camellia terperangah mendengarnya
Tenang saja Ellia, aku akan membebaskan mu. Saat ini yang paling penting adalah kau selamat dan baik-baik saja. batin Kainer sambil menatap ke arah Camellia
Para pengikut Kainer terpana dengan keputusan Kainer yang menyerahkan tahtanya begitu saja, karena mereka tidak tau kalau Kainer memiliki rencana.
Keadaan pun berbalik, pengikut setia Kainer yang jumlahnya tidak banyak di masukkan ke dalam penjara di kastil iblis itu sendiri. Bersama Kainer di dalamnya. Sementara Camellia di bawa pergi oleh Vairas.
"Yang mulia, mengapa anda menyerahkan tahta dan putri pada mereka?!" tanya Keith pada Kainer
"Keith, mengalah untuk menang" jawab nya singkat, sambil duduk di tanah yang dingin dab kotor itu.
Aku sudah memasang sihir pelindung di tubuh Camellia, jadi harusnya si mesum itu tidak akan bisa berbuat macam-macam padanya. Namun, aku lebih mengkhawatirkan si Hilde.. karena dia tidak mempan dengan sihir pelindung ku. Tentu saja karena dia bukan iblis, tapi penjaga neraka.
"Apa?" tanya Keith bingung
"Sudah saya duga kalau yang mulia memiliki rencana" Gordon tersenyum mendengar kata-kata Kainer.
Perang itu tidak berakhir begitu saja dengan kekalahan Kainer, masih ada babak baru dalam perang saudara itu. Kainer memiliki segudang rencana licik, ia bisa saja dengan mudahnya membunuh Vairas. Akan tetapi dengan Camellia berada disisi Vairas dan Hilde, membuat Kainer tidak bisa bergerak leluasa. Kainer hanya bisa bermain kotor.
"Aku akan tidur, kalian jangan menganggu ku!" seru Kainer pada Keith dan Gordon yang satu sel dengannya
"Tidur? yang mulia kan tidak pernah tidur?" tanya Gordon keheranan dengan ucapan Kainer
Raja iblis itu tidak bicara lagi, ia menutup matanya. Jiwanya keluar dari tubuhnya tanpa terlihat oleh Keith dan Gordon. Mereka hanya melihat Kainer yang tertidur nyenyak di lantai.
"Gordon, yang mulia benar-benar tidur??" tanya Keith tidak percaya melihat Raja iblis itu tidur untuk pertama kalinya
"Yang mulia pasti memiliki rencana, sudahlah kita jangan ganggu yang mulia" Gordon duduk di sebelah tubuh Kainer yang sedang tertidur itu.
"Syukurlah, seperti nya mereka tidak bisa melihatku" Kainer merasa lega karena ia tidak terlihat oleh para anak buahnya, dan artinya ia juga tidak akan terlihat oleh iblis lainnya.
Ilmu yang belum pernah aku gunakan ini ternyata sangat berguna. Aku akan menemui Camellia. batin Kainer
Roh Kainer yang terlihat seperti bayangan itu melayang berjalan ke arah aula istana nya. Disana terlihat ramai oleh para iblis pemberontak yang sedang berpesta untuk kemenangan Vairas. Kainer menatap Vairas dengan kesal, terlebih lagi saat Camellia duduk dipangkuan nya.
"Selamat yang mulia Raja Vairas! Raja dunia iblis yang baru! hidup!!" seru para iblis sambil mengangkat gelas berisi minuman ke atas. Begitu banyak jamuan diacara itu, daging mentah yang menjadi makanan mereka sehari-sehari.
Mereka bersorak bahagia atas kemenangan Vairas dan menikmati pesta itu.
"Terimakasih atas bantuan kalian, silahkan nikmati sepuasnya!" Vairas tersenyum penuh kemenangan dan bahagia.
"Hidup Raja Vairas! Hidup Raja iblis!!" sorak sorai para iblis itu bahagia.
Nikmati saja dulu kemenangan mu Vairas, karena tidak lama lagi aku mengambilnya kembali. batin Kainer penuh kemarahan
Ditengah-tengah pesta yang sedang berlangsung, Hilde dan beberapa makhluk dari neraka berpamitan pada Vairas untuk segera kembali ke kerajaan neraka.
"Kenapa buru-buru sekali? bukan nya bersenang-senang dulu, banyak wanita disini yang bisa menemanimu" ucap Vairas keheranan
"Aku tidak suka hal seperti itu. Nikmatilah kemenangan mu" Hilde tersenyum menyeringai melihat ke arah Camellia
Camellia tidak suka dengan tatapan Hilde padanya, ia meludahi Hilde.
"Cuih!!"
Ludah itu mengenai wajah Hilde, Hilde langsung menarik tubuh gadis itu lalu memukul Camellia hingga gadis itu terjatuh ke lantai.
BUK
"Ahh!!" Camellia jatuh terduduk di depan Hilde.
"Beraninya seorang manusia rendahan seperti mu meludahi ku!" seru Hilde marah pada Camellia.
Roh Kainer terkejut karena Hilde bisa menembus sihir perlindungan yang ada di dalam tubuh Camellia.
"Jadi sihir itu tidak berguna pada bawahan Raja neraka! sial! Jika begitu ada kemungkinan juga kalau dia bisa melihat ku" Kainer ingin menolong Camellia namun ia tak bisa maju ke depan sana karena kekuatan roh nya terbatas. Dan mungkin saja Hilde bisa melihatnya.
Aku akan menghabisi mu nanti Hilde!
"Kau makhluk menjijikan!! kau pengecut yang beraninya memukul wanita!" seru Camellia menatap marah pada Hilde yang memukulnya
"Bodoh! mau wanita ataupun pria, disini tidak ada bedanya" ucap Hilde sambil memegang dagu Camellia. "Kau cukup cantik, tapi sayang.. kecantikan mu ini hanya akan membawamu pada kehancuran. Berhati-hati lah pada harga dirimu, jaga baik-baik. Bukankah harga diri adalah hal terpenting bagi seorang wanita" bisik Hilde pada Camellia
DEG!
Aneh, kenapa mendengar kata-kata makhluk ini.. aku merasa seperti terancam.
Camellia berdebar-debar mendengar kata-kata Hilde pada nya yang seperti ancaman.
"Maaf Raja iblis Vairas, aku memukul wanita mu" Hilde tersenyum ke arah Vairas
Apa katanya? asalkan aku tidak mati dan kulitku mulus? apa maksudnya?. Batin Camellia kebingungan
"Haha kalau begitu kau harus memuaskan nafsumu itu wahai Raja iblis. Lepaskan semua dahaga mu dan selamat berpesta" Hilde melambaikan tangannya pada Vairas
"Pasti aku akan melepaskan semuanya. Terimakasih atas bantuan mu, sampaikan juga pada Raja Koros kalau aku sangat sangat berterimakasih atas bantuannya" Vairas tersenyum lalu menarik tubuh Camellia dan memeluknya.
Setelah aku mendapatkan mu, maka kau tidak akan berguna lagi.
"Lepas... lepaskan!!" pinta Camellia yang merasa jijik dengan sentuhan Vairas.
"Baiklah, tentu saja akan aku sampaikan" Hilde membungkukkan setengah badannya, mahluk neraka pendendam itu tersenyum mengejek Camellia yang akan di lecehkan atau mungkin di hancurkan oleh Vairas.
Disisi lain ada Zefanya, ia senang melihat Camellia berada ditangan ayahnya yang mesum itu.
Sementara itu Kainer masih memantau situasi, ia senang karena Hilde pergi dari sana. Setelah itu roh Kainer mengikuti Camellia dan Vairas ke sebuah ruangan terbuka.
"A-apa yang kau lakukan?" tanya Camellia yang terkejut melihat Vairas tiba-tiba membuka bajunya.
Kenapa dia membuka bajunya seperti itu? apa yang akan dia lakukan?. Camellia panik melihat pria itu semakin mendekat padanya
"Tuan putri, apa kau mau melakukan nya disini atau dikamar?" tanya Vairas sambil menjulurkan lidahnya, wajah iblis itu penuh nafsu yang tidak bisa kondisikan lagi.
"Melakukan apa??" tanya Camellia penuh amarah
Vairas membuka celananya, kini ia sudah telanjang bulat. Mata Camellia membulat, ia belum pernah melihat benda yang keras milik seorang pria. Kini ia mengerti kalau Vairas ingin tidur dengannya.
Camellia berkeringat dingin, ia memalingkan matanya dari Vairas yang telanjang.Vairas semakin mendekat.
Kainer, tolong aku.
"Kau benar-benar cantik, tuan putri. Patuh lah, aku akan membuatmu kenikmatan" Tangan Vairas hendak menyentuh wajah Camellia.
"Brengsek!! benar-benar binatang!" Kainer menatap Vairas yang akan melecehkan Camellia dengan penuh amarah
CTASS..
"Auw!!" belum sempat menyentuh Camellia, tangan Kainer seperti terbakar oleh sesuatu.
Camellia terkejut karena Vairas kesakitan saat menyentuhnya.
Kenapa dia kesakitan seperti itu? batin nya keheranan
"Baguslah, sihir pelindungku ternyata berguna disaat Camellia dalam bahaya dan jika ada yang berniat buruk padanya" Kainer lega karena Vairas tidak bisa menyentuh Camellia.
"Sialan!! kau punya sihir apa? kenapa aku tidak. bisa menyentuhmu!" Vairas kesal sendiri karena ia tidak bisa menjalankan apa yang ingin ia lakukan pada Camellia.
Aneh sekali! mengapa si Hilde bisa menyentuh bahkan memukulmu tapi aku tidak bisa?
Camellia tersenyum lega, dia menduga kalau Kainer lah penyebabnya. Dimana pun Kainer berada, dia akan selalu melindungi Camellia.
Terimakasih Kainer, tapi aku takut.
🍁🍁🍁
Di istana Fostiarus, Arthur, Dimitri dan Gloria terlihat kebingungan. Mereka sedang memikirkan cara untuk pergi ke dunia iblis. Sebelum semuanya terlambat dan takdir buruk akan mendatangi Camellia.
"Saya sudah mencoba melihat portal, tapi semuanya ditutup rapat. Kekuatan saya tidak bisa menembus kekuatan Raja iblis " ucap Gloria setelah ia mengecek portal dunia iblis dan manusia yang tertutup.
"Apa Saintess tidak bisa menggunakan sihir teleportasi saja? atau pergi memakai sayap?" tanya Arthur
PLETAK
Entah keberapa kali nya tongkat itu memukul kepala Arthur. Tidak peduli Arthur seorang pangeran atau bukan, Gloria tetap berani memukulnya.
"Aduh! Saintess sakit!" gerutu Arthur sambil memegang kepalanya yang baru saja di pukul tongkat.
"Makanya jangan bicara sembarangan! apa yang mulia pikir saya ini iblis atau malaikat yang punya sayap? apa yang mulia pikir saya bisa menggunakan sihir teleportasi ke dunia iblis?" Gloria menggerutu marah pada Arthur
"Ya, aku kan hanya bertanya saja! kau tidak perlu memukul ku juga kan? huh, jahat sekali" gerutu Arthur sebal kepalanya di pukul terus
"Maafkan adik saya yang bicara sembarangan. Tapi, Saintess sekarang bukan waktunya Berdebat untuk hal yang kecil seperti ini, Camellia mungkin sedang dalam bahaya" ucap Dimitri tegas
"Ampuni hamba yang mulia Raja, tanpa sadar hamba bersikap tidak sopan" Gloria menundukkan kepalanya seraya memohon maaf atas kelakuan nya yang tidak sopan.
"Tidak apa, tapi tidak ada lain kali. Katakan saja cara apa lagi yang kita punya untuk melihat kondisi Camellia?" tanya Dimitri dengan wajah dingin nya.
Melihat sikap tegasnya, aku teringat Raja tiran itu.
"Cara terakhir yang terpikirkan oleh ku adalah menghubungi Raja iblis itu. Cobalah hubungi dia dengan cermin ajaib nya lagi" saran Gloria
"Baiklah, kita coba lagi"
Arthur meneteskan darah nya pada cermin itu untuk ke dua kali nya. Kini cermin ajaib itu memperlihatkan gambaran kondisi penjara.
"Kakak, ini seperti penjara yang terakhir kali kita lihat?" Arthur menunjuk ke arah cermin itu
"Benar, apa Greta yang memegang cerminnya masih dipenjara?" Dimitri bertanya-tanya
"Saya pinjam cerminnya, yang mulia pangeran" pinta Gloria
"Silahkan Saintess Gloria" Arthur menyerahkan cermin itu pada Gloria.
Mulut wanita tua itu komat-kamit entah apa yang dia gumamkan. Mata dan telapak tangannya mengarah pada cermin itu.
Sebuah cahaya muncul dari cermin itu, lalu menyedot mereka bertiga secara bersamaan. Mereka masuk ke dalam cermin.
SRATTT
Sadar-sadar mereka sudah ada di dunia iblis, tepatnya di penjara bawah tanah.
"Lagi-lagi kau membuat kami terkejut Saintess Gloria" ucap Dimitri kagum
"Kenapa kau tidak melakukan ini dari tadi?" tanya Arthur setengah menggerutu
"Saya juga tidak mengerti mengapa kekuatan saya membawa kita kemari" Gloria tak mengerti, padahal ia hanya memakai kekuatan penglihatan nya pada cermin itu dan bukannya teleportasi karena Gloria tak punya kekuatan untuk ber teleportasi ke dunia iblis.
Di usiaku yang sudah tua ini, aku masih harus berurusan dengan hal-hal seperti ini. batin Gloria sambil memegang punggung nya
"Yang mulia Raja Dimitri! yang mulia pangeran Arthur!" seru Greta menyapa kedua pria dari kerajaan Fostiarus itu. Dari balik jeruji.
"Greta! dimana Camelia?!" tanya Arthur yang langsung memburu Greta dengan pertanyaan
"Kalian berdua? kalian berdua adalah bawahan Raja iblis kan? kenapa kalian ada disini?" tanya Dimitri pada Keith dan Gordon yang ada di penjara.
"Sebenarnya..."Keith terlihat kebingungan harus menjelaskan nya atau tidak.
Dimitri menatap tajam ke arah Kainer yang terlihat seperti sedang tidur itu.
"Apa yang terjadi disini sebenarnya? mengapa..." Dimitri kebingungan, kenapa Kainer dan anak buahnya berada di dalam penjara istana mereka sendiri.
...---***---...