Kekasihku Raja Iblis

Kekasihku Raja Iblis
Bab 8. Potongan ingatan


🍁🍁🍁


Ting!


🎡🎡


...Jawab, aku ingin bertemu sekarang!...


"Ada apa dengannya? bukankah aku baru saja pulang dari rumahnya? mengapa dia mengajakku bertemu?" gumam Violet kebingungan saat membaca pesan dari Leon.


Ting!


🎡🎡


...Aku akan ke rumahmu sekarang! kalau kau tidak membalas pesanku!...


Violet terkejut membaca pesan itu, ia keheranan dengan sikap Leon. Ada apa maksud apa Leon mengajaknya bertemu?


Lebih baik aku membalas pesannya saja, supaya dia tidak kemari. Bibirnya mengerucut melihat pesan dari Violet.


Violet : "Ada apa pak?


Presdir tidak waras: "Kita harus bertemu"


Violet: "Bicara disini saja pak, saya tidak bisa bertemu sekarang. Malaikat pencabut nyawa sedang berada di rumah"


Presdir tidak waras : "Hah?!"


🎢🎢🎢


Ponsel Violet berdering dan bergetar. Rupanya itu adalah telpon dari Leon. Dengan rasa kesal dan malas Violet mengangkat telpon dari bosnya itu di kamarnya, karena takut terdengar oleh kakak nya yang sedang tidur.


"Malaikat pencabut nyawa? siapa itu?!" tanya Leon penasaran


Bukannya bilang halo, atau hai, dia malah menanyakan siapa malaikat pencabut nyawa? haha.


"Itu tidak penting, yang penting sekarang kenapa bapak menelpon saya?"


"Ada hal penting yang ingin aku bicarakan denganmu" kata Leon dengan suara serius


"Baik, bilang saja pak" ucap Violet sambil merebahkan tubuhnya di ranjang.


"Tidak bisa kita harus bertemu!" ucapnya tegas


"Maafkan saya pak, tapi saya tidak bisa pergi sekarang"


"Kau membantah perintahku?!" Leon terdengar kesal


"Ti-tidak, bukan begitu pak! saya bisa bertemu dengan bapak tapi tidak sekarang" jelas Violet pada bos nya yang pemarah itu.


Kenapa dia begitu pemarah?


"Nanti sore ke rumahku, aku tunggu!" seru Leon lalu menutup telponnya begitu saja.


Leon terlihat bingung, ia ingin menanyakan sesuatu tentang sosok berambut perak itu pada Violet. Leon tidak bisa menghilangkan bayang-bayang sosok wanita berambut perak itu di dalam pikiran nya. Seolah mempunyai ikatan yang kuat di dalam hatinya.


Violet menggerutu kesal karena seenaknya saja Leon menutup telponnya tanpa membiarkan nya bicara lebih dulu. "Heh! mentang-mentang bos, jadi dia bisa melakukan apa saja! menyebalkan sekali! kalau tidak punya hutang padanya, aku tidak mau dia memperbudak ku seperti ini"


Gadis itu menutup matanya dan tanpa sadar ia tertidur pulas. Di dalam mimpinya itu terlihat seorang wanita berambut perak dan seorang pria tampan bersayap hitam.


Pria tampan bersayap hitam itu adalah Kainer, yang membawa Camellia terbang ke langit. Camellia terlihat sangat bahagia melihat pemandangan dari atas sana, namun ia juga takut terjatuh.


"Bisakah kau pelan-pelan? aku takut" Camellia meringkuk takut dan memeluk Kainer semakin erat


"Katanya kau senang terbang bersamaku, tapi ternyata kau takut?" goda Kainer pada Camellia sambil memegangi tubuh mungil itu dengan erat.


"Aku senang bukan berarti aku tidak takut, ini terlalu tinggi" gumam Camellia dengan bibirnya yang mengerucut.


"Sudah lah jangan marah, sebentar lagi kita akan sampai ditempat tujuan. Jadi, pegangan erat-erat ya" Kainer tersenyum lebar dan semakin erat memeluk Camellia.


"Jangan dulu cepat sampai, aku masih ingin melihat pemandangan dari atas sini.. kumohon.." Camellia merengek manja pada kekasihnya itu.


"Ckckck.. katanya kau takut, tapi kau masih mau melihat pemandangan disini" Kainer tersenyum manis memandang ke arah Camellia yang merengek itu.


"Aku memang takut ketinggian, tapi aku tidak begitu takut karena ada kau disisi ku" ucap nya dengan suara yang manis.


Begitu besar kepercayaan Camellia padanya, hingga membuat Kainer terpana dan terharu. Mereka berdua melihat pemandangan dari atas sana dengan bahagia.


"Kainer.."


"Ya?"


"Kau tidak akan membiarkan aku jatuh, kan?" tanya Camellia sambil melihat ke bawah, pemandangan kota dan kerajaan nya.


"Tidak akan"


"Benarkah tidak akan?" tanya Camellia tak percaya


Kainer tersenyum lalu mencubit pipi Camellia dengan gemas. "Kau bertanya seolah kau tidak percaya padaku?"


"Aku percaya padamu, bahwa kau tidak akan melepaskan ku. Tapi jika aku memintamu untuk melepaskan ku, bagaimana?" tanya Camellia sambil menatap kekasihnya dengan senyuman pahit yang terukir di bibirnya.


"Ellia.. kau ini bicara apa? apa kau berniat pergi dariku?" tanya Kainer mulai kesal dengan pertanyaan Camellia padanya. Tidak mungkin Kainer akan mengabulkan permintaan nya.


"Jawab saja, jika aku memintamu untuk melepaskan ku apa kau akan membiarkan ku pergi?" tanya Camellia sambil menatap Kainer penuh kasih sayang


"Tidak akan pernah, meski kau meminta untuk pergi dariku. Aku tidak akan pernah melepaskan mu, aku akan mengikat mu disisi ku selamanya"


"Lalu bagaimana denganmu? jika aku memintamu untuk melepaskan ku, apa kau akan membiarkan ku pergi?" Kainer menanyakan pertanyaan yang sama dengan apa yang ditanyakan oleh Camellia padanya.


"Hmm.. silahkan saja pergi, aku akan melepaskan mu" jawab Camellia sambil nyengir dengan gaya santainya.


Kainer langsung menatap Camellia dengan mata memicing, bibirnya cemberut, keningnya mengkerut. Dia tidak puas dengan jawaban Camellia.


"Kenapa kau bilang begitu? apa kau tidak begitu mencintai ku?!" tanya Kainer marah-marah


Camellia meletakkan tangan mungil dan hangat nya pada pipi Kainer, menatapnya dengan penuh kasih sayang. "Karena kau tidak akan pernah menanyakan hal seperti itu padaku, karena kau begitu mencintaiku jadi kau tidak akan bertanya" gadis itu tersenyum percaya diri saat mengatakan nya.


*bertanya untuk melepaskan Camellia atau tidak


"Apa kau sedang menggombali aku?" Kainer tersenyum dan memegang kedua tangan mungil nan bersih itu selembut mungkin.


"Gombal? bukannya kau yang selalu melakukan itu! aku hanya mengatakan apa yang ada di dalam hatiku, apa aku salah? atau hanya aku saja yang cukup percaya diri?"


"Hahaha, kepercayaan dirimu itu memang benar. Aku tidak akan pernah bertanya seperti itu, cintaku cukup besar untukmu.. dan aku tidak akan sanggup meninggalkan mu"


"Tentu saja, aku benar kan? kau sangat mencintai ku" Camellia tersenyum lebar


"Ya, aku sangat mencintaimu. Sampai aku sendiri tidak tahu dimana dasarnya perasaan ini"


Camellia dan Kainer berpelukan sambil tersenyum cerah memandang ke arah langit.


Aku harap kita akan bersama selamanya sampai maut memisahkan kita, Kainer.


Aku harap kau hidup lama bersamaku, Ellia. Aku mencintaimu.


****


Violet membuka matanya, ia terbangun dari tidurnya. Seprai bantal nya lagi-lagi basah karena air yang keluar dari kedua matanya.


"Aku menangis lagi karena mimpi itu. Mimpi itu seperti sebuah ingatan dan kenangan yang terpotong-potong, mengapa mimpi itu terus berulang? siapa sebenarnya mereka berdua? kenapa mereka terus hadir di dalam mimpiku? dan kenapa aku merasa sedih melihat kenangan mereka?" Violet masih menangis seolah ia adalah Camellia. Violet menyeka air mata nya dengan kedua tangannya.


Setelah memimpikan Camellia dan Kainer, Violet selalu merasa sedih. Violet tau bahwa pria bersayap di dalam mimpinya pasti bukan manusia, sosoknya yang tampan tapi menyeramkan itu adalah seorang monster. Itulah pendapat Violet tentang pria bersayap itu, karena ia pernah melihat di mimpinya yang sebelumnya kalau pria bersayap itu telah membunuh banyak orang.


Gadis itu mencuci mukanya di kamar mandi, matanya selalu sembab setiap bangun tidur. Setelah itu ia keluar dari kamarnya dan melihat ibunya yang baru pulang dari restoran.


"Kau sudah pulang, Violet?" tanya Bu Elisa pada putrinya itu


"Iya Bu, tadi pagi aku sudah pulang" jawab Violet dengan suara yang pelan


Bu Elisa mendekat ke arah putrinya, ia cemas melihat mata Violet yang sembab dan merah. "Kau memimpikan itu lagi?" tanya Bu Elisa menebak.


Violet mengangguk pelan dengan wajah sedihnya yang masih memikirkan mimpi itu. "Besok kita pergi ke rumah kenalan teman ibu, dia adalah seorang penafsir mimpi dan peramal terkenal. Dia mungkin punya sesuatu yang bisa menangkal mimpi buruk mu itu"


"Ibu, kenapa ibu masih percaya dukun di zaman seperti ini?" tanya Violet keheranan karena ibunya masih percaya dengan dukun, peramal dan takhayul.


"Tidak ada salahnya untuk mencoba, kan? besok sepulang kau bekerja. Kita pergi kesana ya, ibu tidak mau kau terus seperti ini" Bu Elisa menatap Violet sambil tersenyum


"Iya baiklah Bu"


Setelah itu Violet makan siang bersama dengan ibu dan kakaknya. Lalu pada sore harinya, Violet pergi ke luar rumah untuk menemui Leon dengan alasan bertemu temannya.


Leon terus saja menelpon dan mengirim pesan pada Violet hingga membuat gadis itu terganggu. Bahkan Leon menyuruh Violet untuk membeli fried chicken dan minuman soda ke rumahnya.


Segera setelah selesai belanja apa yang diinginkan oleh Leon, Violet berdiri di pinggir jalan untuk mencari bus yang lewat.


Drett..


Drett..


🎢🎢


Tut..


Presdir pemarah calling...


"Hey! kau dimana?!" teriak Leon pada Violet


"Saya sedang menunggu bus, pak"


"Pantas saja kau lama sekali seperti siput, naik taksi saja!" bentak nya pada Violet.


"Saya hanya karyawan baru yang belum mempunyai gaji pak, bagaimana bisa saya menghamburkan uang saya untuk naik taksi" gerutu Violet berani pada bos nya itu


"Baiklah, naik taksi! aku yang bayar dan cepatlah kemari!" seru Leon kesal


"Baiklah kalau begitu saya akan naik..."


Ponsel Violet dan barang bawaannya terjatuh ke aspal. Seseorang membekap mulut Violet dengan telapak tangannya yang besar itu.


PRAK


"UMM.. Ummm!!" mata Violet membulat melihat ke arah ponselnya yang jatuh ke aspal.


"Haloo.. Violetta ! kau dengar aku? suara apa itu?" tanya Leon pada Violet.


BUGH


Pria misterius itu memukul bagian belakang kepala Violet dengan tangannya. Violet jatuh tak sadarkan diri.


...---****---...