
πππ
Dunia manusia.
Istana Fostiarus, ruang kerjanya Dimitri.
"Yang mulia.." ucap seseorang dari balik pintu
"Masuklah Pierre!" seru Dimitri pada orang kepercayaan nya itu
KLEK
Pierre masuk ke dalam ruangan kerja Dimitri. Dimana semua dokumen bertumpuk dan Dimitri sedang menyelesaikan dokumen yang menumpuk itu. Kini ia adalah seorang Raja, yang memiliki banyak pekerjaan. Dimitri sangat sibuk untuk membangun negara dan mengemban tugas sebagai seorang Raja.
"Ada apa?" tanya Dimitri sambil meletakkan alat tulis nya. Dimitri melihat ke arah Pierre.
Pierre menunduk hormat, ia menyerahkan sebuah surat dengan stempel kerajaan Ilios pada Dimitri. "Yang mulia Raja, ada surat dari kekaisaran Ilios" ucapnya dengan suara yang sopan dan rendah
"Baiklah, kau bisa pergi" ucap nya pada Pierre
"Ya, yang mulia. Kalau begitu, saya permisi" Pierre berjalan ke luar ruangan itu. Lalu menutup pintunya rapat-rapat.
Ini terlihat seperti undangan. batin Dimitri sambil melihat amplop berukuran persegi yang cukup panjang, tidak seperti amplop surat biasanya.
Benar saja, ternyata surat itu bukanlah surat melainkan sebuah undangan. Undangan pernikahan dari kerajaan Ilios, pernikahan Annelise dan Theodore. Dimitri tersenyum senang melihat undangan itu.
"Haah.. jadi akhirnya mereka akan menikah. Ternyata putra mahkota Theodore bukanlah jodoh Lia, padahal tadinya aku berharap dia bisa bersama Camellia. Tapi jodoh tidak ada yang tau" gumam Dimitri yang sedikit menyesalkan karena adiknya tidak bersanding dengan Theodore. Namun, ia juga senang karena kakak sepupu nya Annelise akan segera menikah. "Aku harus segera memberitahu Lia, lebih baik aku mencari Arthur saja. Cermin ajaib kan ada padanya"
Dimitri keluar dari ruangannya, ia mencari Arthur untuk meminjam cermin ajaib penghubung dunia iblis dan dunia manusia. Dimitri berjalan ke arah camp kstaria black knight.
SRET
KLANG
KLANG
Suara pedang beradu dengan sengit terdengar di dekat sana.
Hyaatt!! Hyatt!!"
"Ada apa Damian? jangan bilang kau tidak menggunakan kekuatan mu, hanya karena kau menyerang ku!" Arthur tersenyum di wajah yang penuh keringat, tangannya masih memegang pedang. Ia sedang sparing dengan Damian salah satu anggota kstaria black knight juga teman dekat Kainer saat dia berada di dunia manusia.
"Saya berkata jujur yang mulia, ketika saya menyerang seseorang saya tidak pernah membeda-bedakan kekuatan saya. Saya selalu mengerahkan semua tenaga saya, yang mulia memang kuat" Damian tersenyum tulus, memuji kemampuan berpedang Arthur yang semakin hari semakin baik.
"Arthur, kau disini rupanya" Dimitri menghampiri adiknya.
"Salam hormat saya, Baginda" Damian menyapa Dimitri dengan membungkukkan setengah badan nya.
"Ya, pergilah. Aku ingin bicara dengan pangeran Arthur" ucap Dimitri pada Damian.
Tanpa bicara, Damian hanya menundukkan kepalanya lalu melangkah pergi. Kini hanya Arthur dan Dimitri yang berada di ruangan terbuka itu.
"Ada apa kakak mencari ku?" ucap Arthur sambil membersihkan keringat di wajah nya dengan handuk kering.
"Arthur, aku mendapatkan kabar bahwa pernikahan kak Annelise dan putra mahkota Theodore akan segera dilaksanakan. Pernikahan mereka hanya tinggal satu minggu lagi"
"Benarkah? mereka akan menikah? sayang sekali.. padahal aku berharap dia menjadi adik ipar ku" Arthur menyayangkan adiknya yang tidak jadi bersama Theodore dan malah jatuh cinta pada Raja iblis
"Sudahlah Arthur, ini sudah takdir Tuhan. Hati tidak bisa memilih kepada siapa kita akan jatuh cinta" ucap Dimitri
"Baiklah baiklah, aku akan menutup mulutku. Tapi kakak, apa kau datang hanya untuk memberitahukan hal ini kepadaku?" tanya Arthur lagi
"Aku mau pinjam cermin ajaib mu, aku akan memberitahu Lia tentang ini" pinta nya pada Arthur
"Oh cerminnya ada di kamarku, akan aku ambil dulu ya kak. Aku juga ingin menghubungi Lia, aku rindu padanya" Arthur tersenyum mengingat adik nya, ia melangkah pergi.
"Aku ikut, kita ambil bersama saja" ucap Dimitri sambil mengikuti adiknya itu
"Ayo kak"
Saat kedua saudara itu sedang berjalan di lorong, mereka melihat Pierre berlari terburu-buru ke arah Dimitri. Pierre membungkuk hormat dan mengatakan maaf karena ia sudah berlari di sekitar istana.
"Pierre ada apa?" tanya Dimitri dengan wajah dinginnya
"Yang mulia Raja, sebelumnya saya minta maaf karena saya datang berlari seperti ini. Saya ingin menyampaikan kalau Saintess Gloria sudah datang, dan katanya ada hal darurat yang ingin dikatakan nya pada Baginda juga pangeran Arthur" jelas Pierre singkat
Mata Dimitri dan Arthur membulat, mereka saling melirik. Kira-kira situasi darurat apa yang membuat Gloria keluar dari pertapaan nya.
"Kakak, ayo kita temui dia" ajak Arthur serius
Dimitri mengangguk. Mereka berdua menemui Saintess Gloria yang berada di ruang tamu kerajaan. Gloria langsung memberi hormat pada Dimitri dan Arthur.
"Salam hormat saya pada matahari kekaisaran Fostiarus, Baginda Raja dan pangeran Arthur" ucap Gloria sambil membungkukkan setengah badannya.
"Bangunlah, tidak baik bagi kesehatan mu, membungkuk di hadapan kami" ucap Dimitri yang khawatir dengan kesehatan wanita tua itu.
"Terimakasih yang mulia Raja" jawab Gloria penuh hormat
"Duduklah wanita tua" Arthur tersenyum pada Gloria
"Pangeran apa anda sedang mengejek saya?" Gloria cemberut, ia tidak mau dipanggil tua.
"Ba-baiklah, Saintess.. ayo duduk" Arthur nyengir, masih sempat sempatnya ia menggoda Gloria
Dasar wanita tua pemarah.
"Ya, aku memang pemarah. Di kutuk jadi kodok, baru lah pangeran akan tau rasa" gerutu Gloria kesal, sambil duduk di kursi. Begitupula dengan Dimitri.
"Aku tidak bilang begitu!" sangkal Arthur sambil duduk di kursinya.
Kenapa dia bisa tau kalau mengatakan nya pemarah? Apa dia bisa membaca pikiranku?
"Ya saya bisa membaca nya, jadi lebih baik pangeran Arthur berhati-hati terhadap saya" Gloria tersenyum sinis, ia menatap kesal Arthur.
"Kita sudahi dulu basa-basi nya, saya ingin menyampaikan hal penting" ucap Gloria dengan wajah yang serius, matanya menunjukkan kecemasan.
"Baiklah, katakan apa itu Saintess!" ujar Dimitri pada Saintess
"Hari ini adalah harinya, dimana takdir yang saya ramalkan mungkin akan terjadi..Takdir kelam putri Camellia akan segera terjadi!" Gloria terlihat panik dan takut
Mengapa aku harus memiliki penglihatan ini. Aku sudah terlalu tua untuk ini. Apa penglihatan ini adalah karunia dari Tuhan? ataukah musibah yang diberikan Tuhan kepada ku? tapi kenapa harus aku?
Mata Gloria berkaca-kaca, ia terbayang penglihatan yang ia lihat tentang Camellia.
"Apa maksud anda Saintess??! takdir kelam?"tanya Arthur tak mengerti apa yang dikatakan Gloria
"Apa itu yang pernah kau ceritakan padaku?!" tanya Dimitri penasaran melihat wajah Gloria yang panik
"Kita harus ke dunia iblis sekarang! kita tak punya banyak waktu!" seru Gloria terburu-buru
"Tunggu! aku akan mengambil cermin penghubung itu dulu!" Arthur segera berlari terburu-buru menuju ke kamarnya.
Arthur mencari cermin ajaib penghubung itu di kamarnya. Beberapa menit kemudian, Arthur datang dan membawa cerminnya.
Tanpa banyak bicara, Arthur mengiris tangannya dan menumpahkan setetes darah ke cermin itu. Sementara Dimitri terus berdua agar adiknya baik-baik saja di dunia iblis.
Clak!
WUSH~~~
Muncullah sebuah gambaran di mana Greta, Monia dan Aludra terikat oleh tali sihir. Disekitar mereka juga tampak hancur.
Arthur terkejut melihatnya.
"Kakak! lihat ini!" seru Arthur setengah berteriak saat melihat pemandangan di cermin itu
Gloria pun berinisiatif menggunakan sihir untuk memperbesar layar yang di cermin. Terlihat gambaran kastil iblis yang hampir hancur oleh peperangan bangsa mereka sendiri. Banyak iblis yang gugur disana.
"Saintess!! apa yang harus kita lakukan?!!" Dimitri semakin mencemaskan adiknya yang tidak terlihat di layar cermin itu, sama hal nya seperti Arthur yang ketakutan.
πΉπΉπΉ
.
Mengapa? mengapa dia tertangkap?
Kainer mengepal tangannya dengan gemas, matanya menatap Camellia yang berada ditangan Hilde dengan takut dan cemas.
Vairas tersenyum, tertawa terkekeh-kekeh. Menertawakan Kainer yang tidak berkutik saat wanita yang ia cintai berada dalam cengkraman Hilde. Bawahan Raja neraka yang sadis dan kejam.
"BuAHAHahahaha... kenapa Raja iblis? apa kau kehilangan kata-kata?? kenapa kau diam saja? kemana taring mu yang barusan? Apa kau kehilangan keberanian mu?" tanya Vairas menatap merendahkan pada Kainer
"Lepaskan dia! dia tidak ada hubungan nya dengan pertarungan kita!" mata Kainer memerah, menandakan Raja iblis itu marah.
"Wow.. wow wow.. tenanglah, marah marah tidak akan menyelesaikan masalah. Sikapmu ini hanya akan membuat kekasihmu menderita" Vairas tersenyum puas
Wanita ini benar-benar seperti bom waktu yang bisa membuat Lucifer meledak. Menarik sekali, aku akan menggodanya sedikit.
"Kainer! aku tidak apa-apa! kau habisi saja mere.."
Kkeukkk!!
Hilde mencekik leher Camellia, membunuh manusia adalah perkara baginya. Bagi Hilde manusia adalah makhluk paling lemah di dunia, mudah saja membunuh atau menghancurkan nya. Camellia kesakitan, lehernya yang kecil itu mungkin akan patah jika Hilde mencekik nya lebih keras.
"Kkkeukkh!!" Gadis itu merintih kesakitan, ia sudah kesulitan untuk bicara bahkan untuk bernapas sekalipun.
Dia pasti punya dendam padaku, dia ingin membunuhku. Seharusnya aku lebih cepat untuk kembali ke istana ku, berada disini aku hanya menjadi kelemahannya saja. Kainer maafkan aku..
"Aku bahkan tidak menggunakan kekuatan ku dan dia sudah seperti ini! manusia memang lemah ya" ejek Hilde pada Camellia. Mata nya menatap penuh dendam pada Camellia.
"Ellia!!" teriak Kainer panik,"Lepaskan dia! jangan sakiti dia!" seru Kainer meminta agar Hilde melepaskan Camellia.
Mengapa Keith tidak berhasil membawanya?! Kenapa.. Kainer berharap waktu bisa diputar kembali, mungkin Camellia akan pergi dari sana.
Disisi lain, Keith dan Gordon sedang berusaha menyelamatkan Greta dan Aludra juga sibuk bertarung dengan para pemberontak.
"Lepaskan? tidak mau" Hilde tersenyum sinis ia sama sekali tidak mau melepaskan nya
"Hey bawahan Raja neraka! lepaskan gadis itu, aku tidak mau dia mati lebih dulu" bisik Vairas pada Hilde
"Sial!" Hilde melepaskan cekikan nya pada leher Camellia. Gadis itu berada di dalam kungkungan dan lilitan ekor Hilde yang panjang.
"Uhuk... uhuk.." Camellia memegang leher nya yang sudah hampir patah itu.
Ini menyakitkan.. dan dia bilang dia tidak menggunakan tenaganya? dia mencengkram ku sangat keras. gerutu Camellia pada Hilde, ia menatap Hilde dengan penuh kebencian.
"Apa kau lihat-lihat? mau ku cekik lagi?" ancam Hilde pada Camellia.
"Uhuk.. uhuk..." Camelia masih sibuk mengatur napasnya yang belum teratur.
Vairas dan Hilde tersenyum puas melihat Kainer menatap kekasihnya dengan mata berkaca-kaca.
"Apa yang kalian inginkan?" tanya Kainer dengan suara rendah, pertanda menyerah
"Hahahaha.. kau akhirnya paham apa maksud kami" Vairas tertawa, ia merasa sudah menang dan Kainer berada di ujung tanduk.
Aku akan lakukan apapun agar kau baik baik saja Camellia.
Tidak! jangan Kainer! jangan menyerah hanya karena diriku..
...---***---...
Mau lanjut? komen dan like dulu dongππ€
kasih gift nya juga ya,ππ€