
...🍁🍁🍁...
Semakin banyak korban berjatuhan, semakin banyak pula monster yang dikirim dari dunia iblis. Kedua dari kerajaan besar itu berkumpul dan bekerja sama untuk menyuruh mundur pasukan mereka dan mengutamakan pertolongan kepada warga yang terluka dan masih bisa diselamatkan.
"Keselamatan, bertahan, adalah prioritas kita sekarang! tahan serangan, dan pergilah ketempat yang aman!" ujar Raja Derrick memberi perintah
"Ya, yang mulia!" jawab para prajurit kerajaan Brilla serempak
"Selamatkan yang bisa diselamatkan, prioritas kita adalah bertahan!" seru Raja Darren pada prajurit yang dibawanya dari kerajaan Ilios
"Ya yang mulia!"
Drap
Drap
Drap
Semua orang yang selamat di evakuasi ke tempat yang aman oleh para prajurit kerajaan. Mereka berlarian sibuk kesana kemari untuk menyelamatkan orang-orang yang terluka.
Annelise kau Zayana berada di dekat ruang bawah tanah kerajaan Brilla, tempat orang orang menyelamatkan dirinya. Terlihat beberapa orang berlarian ke ruang bawah tanah itu.
"Annelise, kau bisa bantu ibu kan?" tanya Zayana
"Bantu apa ibu?" tanya Annelise
"Pergilah sendiri ke dalam lorong bawah tanah"
"Ibu? apa maksud ibu? apa ini tidak akan ikut denganku?" tanya Annelise sambil memegang tangan ibunya
"Ibu akan menyusul bersama ayahmu, kau tenang saja ya nak. Ibu akan baik-baik saja, dan kau bantulah juga orang yang terluka " ucap Zayana lembut
"Baiklah ibu, ibu harus berjanji padaku bahwa ibu akan baik-baik saja" kata Annelise
"Pasti nak. Ian, tolong jaga putriku!" ujar Zayana pada Ian, kstaria pengawal Annelise
"Dengan nyawa saya Baginda ratu" jawab Ian patuh
Annelise pun berpisah dengan ibunya yang akan ikut berperang di barisan paling depan bersama ayahnya untuk melawan iblis.
...***...
Serangan-serangan tidak ada habisnya dari bangsa iblis, hanya beberapa dari mereka yang gugur oleh para kstaria terhebat di kerajaan Brilla. Theodore, Dimitri dan Arthur berada di barisan paling depan. Mereka sangat sibuk menghadapi para iblis yang tidak ada habisnya.
"Bagaimana ini kak? kita tidak tau kemana Raja iblis sialan itu membawa Lia?" Arthur cemas, tangannya sibuk menebas leher iblis yang ada di depannya.
"Dia benar-benar brengsek! dia pasti sengaja membuat kita sibuk agar kita tidak bisa menyelamatkan Lia" kata Dimitri yakin
"Tadi aku melihatnya di atas langit, tapi sekarang dia tidak ada" kata Theodore yang juga sibuk menyerang iblis yang ada di depannya.
Darah bercucuran dimana-mana, darah sudah menjadi hal yang tidak asing lagi disana. Mayat tergeletak di mana mana. Camellia tak kuasa melihat semua yang terjadi, ia menangis.
Orang-orang dibawah sedang sibuk, sementara Kainer dan Camellia berada di atas awan yang gelap itu dan melihat semua yang terjadi.
"Sudahlah jangan menangis, kematian adalah hal sudah biasa bagi manusia. Mau mati sekarang atau mati nanti mereka akan tetap mati karena takdirnya memang harus mati" ucap Kainer tanpa perasaan
"Bagaimana bisa kau bicara seperti ini? kau juga pernah jadi manusia, kau juga pernah punya hati. Lalu kenapa kau berkata seolah-olah nyawa manusia adalah hal yang mudah?" Camellia melihat Kainer dengan tatapan kecewa
"Karena itu memang kenyataan nya kan." jawab Kainer dingin
"Kau??!" Camellia terpana dengan sikap Kainer yang dingin itu.
Ia tak percaya, apa benar pria itu pernah menjadi Kainer yang ia cintai? pria dengan kepribadian baik dan lembut? Kenapa sekarang dia seperti tidak punya hati? Sekarang, Kainer sudah jauh bayangannya.
"Sebenarnya apa mau mu sih? kenapa kau menahan ku disini?" tanya Camelia dengan nada kesal
"Mau apa lagi? tentu saja menjemputmu, aku kan sudah bilang kalau aku akan membawamu kembali"
"Kembali kemana? padamu?" Camellia menyeringai
"Tentu saja, pada siapa lagi kau akan kembali jika bukan padaku" jawab Kainer dengan percaya diri
"Kau tidak pernah menjadi tahanan, kau adalah kekasihku, Camellia" Kainer tersenyum dan mencium kening
"Kekasih?!"
Cukup! aku harus bersama dengan kakak dan keluarga ku yang lain. Aku tidak bisa bersama dengan iblis ini.
"Kalau aku kekasihmu, kau pasti akan mengabulkan permintaan ku kan?" tanya Camellia
"Katakan, kau mau apa?" tanya Kainer
"Hentikan perangnya, aku mohon.." Camellia menatap Kainer dengan tatapan memelas
GLEK
Kainer menelan saliva nya, hatinya mulai tergerak melihat wajah Camellia yang memelas dan memohon.
"Maaf, untuk yang satu ini aku tidak bisa mengabulkan nya. Kau bisa minta yang lain, asal jangan ini" ucap Kainer
"Ternyata kau tidak cukup mencintaiku, kau bahkan tidak bisa mengabulkan permohonan ku ini. Aku sudah salah menilai mu, kau mungkin sama sekali tidak mencintaiku" Camellia terlihat kesal
"Aku mencintaimu!"
"Tidak, kau tidak mencintaiku. Aku tidak percaya, aku benci padamu. Aku lebih menyukai pria yang melakukan segala hal untuk ku"
"Aku juga bisa melakukan segala hal untuk mu, tapi untuk menghentikan perang aku tidak bisa melakukan nya" ucap Kainer tegas
"Katanya kau raja iblis, kau pasti bisa menghentikan peperangan ini hanya dengan satu kata. Katanya kau juga mencintaiku dan bisa melakukan segala hal untukku, tapi mana buktinya? hanya omong kosong saja" Camellia memanasi agar Kainer terpancing olehnya. Kainer melamun, ia terlihat merenung memikirkan sesuatu.
Kumohon, berhasil lah! aku harus menghentikan perang. Kainer, aku harap kau masih punya hati.
"Ternyata kau tidak punya hati, cintamu hanya sebatas di mulut saja ya? ternyata putra mahkota Theodore lebih baik darimu"
"Apa kau bilang?" Kainer menatap Camellia dengan kesal
"Putra mahkota Theodore lebih baik darimu, dan dia lebih mencintaiku daripada kau!" seru Camellia
Kainer memegang dagu Camellia dengan kesal, matanya berubah merah. Gawat! Camellia telah memancing amarahnya!
"Sa-sakit! kau jahat!" Camellia menepis tangan Kainer yang memegang dagunya
"Jangan bandingkan aku dengan pria itu! aku lebih mencintaimu daripada dirinya,camkan itu!"
"Kalau begitu buktikanlah! perlihatkan padaku, apa kau benar-benar mencintai ku atau tidak?" tanya Camellia
"Haah.. baiklah, aku kalah darimu. Kau menang, aku akan menghentikan perang dan membawa kembali iblis iblis ku ke dunia mereka. Tapi.. "
Dia masih punya hati.. aku berhasil memancingnya. Camellia sedikit lega
"Tapi?"
"Aku butuh jaminan" jawab Kainer
"Jaminan?"
"Ya, aku butuh jaminan dan syarat. Kedua hal itu hanya bisa di lakukan olehmu, sebagai gantinya aku akan melakukan apa yang kau minta" Kainer membelai pipi Camellia dengan lembut
"Benarkah? kau akan melakukan apapun yang ku minta? "
"Ya, asalkan kau tidak pergi dariku. Bagaimana? apa kau masih berfikir aku tidak mencintaimu, sayang?" tanya Kainer sambil menciumi pipi gadis itu.
"Aku tau kau mencintaiku.. jadi, apa syarat dan jaminan itu?" tanya Camellia semangat
Asalkan aku bisa menyelamatkan semua orang, aku rela melakukan apapun. Masalah asmara ku, akan aku urus belakangan saja.
Kainer tersenyum menyeringai, ia memandangi Camellia dan mulutnya mulai terbuka, bersiap mengatakan sesuatu.
...---****---...