
Bida dan Levi sampai di rumah Bida. Besok, Pak Joko dan Bu Joko akan berangkat umroh.
Kehamilan Bida sudah usia 10 minggu. Tubuhnya semakin berisi, meski perutnya belum membuncit tapi terlihat bahwa rubuhnya tampak berisi. Membuat Bida tampak semakin seksi. Ditambah lagi ngidam Bida yang masih sama yaitu suka menciumi tubuh Levi yang katanya harum.
Saat wisuda Levi kemarin, Bida menjadi sorotan teman-teman Levi karena tubuhnya yang seksi menggunakan kebaya kekinian.
Bu Sulis tampak membantu Bu Joko menata bungkusan nasi kotak dan kue yang barusan di antar oleh pegawai dari restauran B Levi.
Bida sedang makan nasi kotak itu dengan lahap. Bu Sulis memperhatikan Bida.
"Bida kamu sekarang berisi tidak seperti ABG lagi. Nanti jika sudah punya anak kamu pasti gendut." Bu Sulis berkata sambil menata nasi kotak.
Bida langsung diam, ia tidak melanjutkan makannya. Bida menutup kotak makannya lalu mencuci tangannya dan masuk ke kamarnya.
Levi yang tadinya duduk di ruang tengah tidak mendengar perkataan bu Sulis. Tapi ia melihat Bida tampak sedih. Tadi Bida menawarinya makan nasi kotak juga tapi karena Levi menolak karena masih kenyang.
Levi masuk ke kamar menyusul Bida.
Bida sedang mematut dirinya di depan cermin. Ia menatap perutnya yang mulai teraba berisi meski belum membuncit.
"Kenapa Bida? Sudah habis makannya?"
"Tidak. Kata bude Sulis nanti aku jika sudah punya anak akan gendut. Masak sih mas, perut Bida akan tetap gendut meskipun sudah melahirkan. Bida tidak mau gendut mas. Nanti mas Levi meninggalkan Bida."
Bida memeluk Levi. Levi jadi geram.
"Kamu ingat kan kata dokter, kemungkinan anak kita kembar. Bagaimana jika mereka kelaparan di dalam karena mamanya takut gendut? Mas Levi ambilkan nasi kotaknya ya. Bida makan di kamar saja agar tidak mendengar perkataan Bude Sulis." Levi mulai membujuk Bida.
"Ya mas. Nasi kotaknya enak mas. Tolong ambilkan ya."
"Ok Bos. Siap." Levi keluar kamar untuk mengambil nasi kotak Bida yang masih tergeletak di atas meja. Ia juga mengambil nasi kotak yang lain. Perkataan Bida yang menyatakan bahwa nasi kotaknya enak membuat Levi ingin makan juga.
*****
Levi dan Bapak pergi naik mobil bersama Bu Sulis untuk mengantar nasi kotak ke semua warga di kampungnya.
Pak Joko tidak hanya mengundang beberapa orang pada acara tasyakuran sebelum keberangkatannya umroh namun Pak Joko bertekad memberi hantaran kepada semua warga kampung karena ia tidak mengundang mereka di acara legalitas pernikahan Bida yang sederhana.
Bu Sulis sangat senang diajak Levi dan Pak Joko untuk membantu mengantar hantaran. Saat itu, Levi sedang membawa mobil panoramic yang bisa dibuka bagian kap nya. Sepanjang jalan, bu Sulis membuka jendela dan kap atas sambil melambaikan tangannya.


Di rumah tinggal Bida dan Bu Joko.
"Bu, nenek dan bibi tidak kelihatan padahal mas Levi sedang pergi. Wowo sih sudah lama sekali tidak terlihat." Bida mengedarkan pandangannya ke sekeliling dapur dan ruang tengah tempat Nenek dan bibi biasa muncul.
"Oh ya Ibu senang mendengarnya." Bu Joko membelai rambut Bida.
Bida sebaiknya kamu periksa ke dokter kandungan, kamu tambah berisi. Mungkin kamu hamil.
Bu Joko memperhatikan tubuh Bida.
*****
Bida dan Levi sedang antri periksa di dokter yang sama di kota *****
"Nyonya Levi.."
Levi menggandeng Bida menuju ruang periksa.
Perawat menyingkap kaos yang dikenakan Bida dan memelorotkan roknya sedikit.
Dokter datang memeriksa,
"Wah selamat ya kembar 3"
Levi dan Bida tersenyum senang melihat gambar yang terpampang di layar monitor di depannya.
****
Pulang dari dokter, Bida langsung menghubungi ibunya yang sedang umroh.
"Bu Bida hamil kembar 3."
"Alhamduliillah... Bu Joko meneteskan air mata karena bahagia."
Pak Joko yang mendengarnya ikut senang. Bu Joko mensetel speaker di HP nya ketika menerima panggilan dari Bida.
Sementara itu Levi.juga melakukan panggilan telfon.
Levi menghubungi mama, kak Lina dan tantenya bersamaan dengan mengadakan panggilan video call bertiga untuk mengabarkan bahwa Bida hamil kembar tiga.
"Levi... biar Tante yang beri nama ya jika perempuan. Tante akan beri nama yang ada kata Mira nya di nama cucu tante.
"Jangan Vi. Mama saja yang beri nama baik laki-laki maupun peremuan. Pokoknya ada nama Braveanonya."
"Loh kak Dewi kok gitu. Aku juga ikut andil di kehamilannya Bida. Aku kan yang menyiapkan baju Bida selama bulan madu." Tante Mira tampak bangga.
"Itu tidak pengaruh, karena kemungkinan Bida sudah hamil sebelum bulan madu." Bu Dewi tidak mau kalah
"Loh kok bisa?" Tante Mira bingung.
"Ya. Karena waktu itu Levi sedang masih dalam pengaruh itu jadi joss langsung kembar 3 deh." Bu Dewi berkata tanpa peduli ekspresi Levi yang gugup.
Sedangkan Lina kakak Levi hanya diam melongo.
"Mama jangan ungkit itu." Kata Levi setelah berhasil mengatasi gugupnya.
"Duh kok ribut sih, kan kembar tiga. kita kasih nama masing-masing satu." Akhirnya Lina ikut berpendapat.
"Tidak bisa dong" Mama dan Mira tantemya Levi kompak berkata besamaan
"Maka itu, kamu ngalah saja. Levi kan anakku." Kata bu Dewi.
"Loh meski aku tidak melahirkan Levi tapi aku yang sering merawatnya sejak kecil." Mira sewot.
Klik.
Lina memutuskan hubungan telfonnya. Ia merasa cemburu dengan perhatian mama dan tantenya kepada Levi.
Ia menelfon suaminya.
"Honey plase go home now."
"Now ? What's the matter, are you ok baby?"
"Yes. I am ok. No, I am not Ok Now. I need you Now. I want a baby. I want to pregnant as soon as possible."
"Are you sure?" Suami Lina heran karena selama ini, Lina selalu memintanya menggunakan pengaman karena Lina ingin fokus pada kuliahnya. Sekarang Lina sudah bergelar spog tapi masih menjalani masa trainee di sebuah Rumah sakit.
"I am sure." Just come before I change my mind.
"Ok I'm coming soon." Suami Lina tergesa-gesa meraih tasnya lalu pulang meninggalkan rekannya yang sedang melaporkan pekerjaannya.
"I will see you tomorrow. Ok Bye" Suami Lina keluar kantor sambil melambaikan tangannya kepada rekan kerjanya
Di rumahnya, Lina tampak emosi.
Apa-apaan mama dan tante lebay, awas ya Lina juga akan buatkan cucu buat kalian. Lina tidak akan kalah dengan Levi. Lina kan dokter kandungan masa kalah sama Levi. Levi kan adik Lina. Lina kakaknya, seniormya. Mama dan tante sampai segitu perhatiannya ke Levi.
*****
Bida tampak menahan kesakitan, perutnya sangat besar. Ia merintih di kamar VVIP.
Levi bingung mau membantu apa untuk meringankan sakit Bida. Bida ngotot tidak mau menjalani operasi karena ingin merasakan melahirkan secara normal.
Kak Lina sudah berjanji akan datang ke kota ***. Kak Lina juga sedang hamil 3 bulan. Kak Lina tinggal bersama mama di kota *** karena suaminya sedang dinas di Timur tengah.
Levi hanya bisa membiarkan Bida *******-***** tangannya.
Kak Lina akhirnya datang bersama mama.
"Kak Lina, tolong bantu Bida kak." Levi hampir menangis ketika mengatakannya. ia tidak tega melihat Bida kesakitan.
"Sudah bukaan berapa ?" Tanya kak Lina.
"Bukaan tujuh katanya kak. Perlengkapan melahirkan sedang disiapkan" Bida menjawab disela nafasnya yang menahan sakit.
"Levi sini !" Kak Lina memanggil Levi mendekat.
"Hormon oksitosin, Bida perlu hormon oksitosin Kamu pasti jarang melakukan itu setelah usia kehamilan 9 bulan. Kamu harus membuat Bida merasa bahwa kamu sangat mencintainya, pelan, rileks dan tenangkan Bida. Jika perlu bermesraanlah dengan Bida. Kakak akan tutup pintunya, lalu kakak akan berjaga di luar kamar. Nanti jika Bida sudah tidak tahan mulai mengejan spontan maka kamu buka pintu, panggil kakak. Kakak akan segera memanggil dokter.
"Kakak gila ya. Bida kesakitan begitu."
"Apa kamu bilang, kakak gila. Dasar kamu yang bego, kakak ini seorang dokter."
"Oh ya kak, maaf."
"Kakak keluar ya." Kak Lina keluar dari tuangan dan menutup pintunya.
"Mengapa kak Lina keluar lagi mas?" Bida kembali meringis kesakitan.
Levi mendekat ke Bida, ia membelai pipi Bida lalu meraba bibirnya.
"Mas kenapa mau apa? Ah sakit sekali.." Bida mengelus perutnya.
Levi menunduk mencium perut Bida lalu berbisik. "Cepat keluar ya sayang, kasihan mama. Keluarnya yang tertib jangan berebut. Jika nakal, papa akan cubit kalian saat keluar nanti. Jika kalian nurut, maka papa janji akan segera memberi kalian adik."
Bida terkekeh..."Mas apa-apaan sih?"
Levi senang melihat Bida tersenyum menanggapi perkataanya.
Levi duduk di samping Bida sambil memeluknya ringan, ia mengecup bibir Bida.
"Mas nanti ada perawat datang."
Bida terdiam karena Levi sudah membungkamnya dengan sebuah kecupan lama di bibirnya membuat Bida terhanyut sebentar. Levi mengusap halus punggung Bida lalu mengecup belakang telinganya sambil berbisik pelan, "Be strong honey, I Love you." Bida terharu dengan perlakuan Levi yang romantis. Namun kemudian rasa sakit kembali menderanya, " Aaah sakit mas". Bida mencoba mengambil nafas panjang. Levi fokus membelai perut Bida yang terasa sering menegang karena kontraksi, sambil terus sesekali mengecup bahu dan leher Bida bahkan hingga meninggalkan kissmark. Levi meneteskan air mata tidak tega melihat Bida kesakitan. Levi mengatakannya berulang-ulang, " I love you Bida, I do love you." Sesekali Levi mengecup bibir Bida. Tanpa sadar Bida meremas rambut Levi ketika sakit menderanya. Levi sama sekali tidak menghindar. Bida semakin kesakitan, Levi masih duduk disamping Bida, mendekap tubuh Bida dengan tangan kirinya yang ia lingkarkan di bahu Bida. Tangan kanannya masih membelai perut Bida yang lebih sering menegang karena kontraksi. Sesekali Levi menghapus air mata Bida yang keluar spontan karena kesakitan. Ia lalu mencium bibir Bida kali ini lebih dari sekedar kecupan. Bida yang kesulitan bernafas lalu menggigit bibir Levi keras. "I love you, be strong, you can do it." Levi mengucapkannya dengan tulus sambil meneteskan air mata lalu mengecup leher Bida yang berkeringat dan tidak beranjak dari sana, air matanya masih mengalir. Ia merasa tidak sanggup melihat ekspresi wajah Bida yang kesakitan. Tangan Levi yang terus membelai perut Bida dengan lembut membuat Bida merasakan sakit yang semakin tajam memuncak hingga kemudian rasa sakit itu hilang diganti rasa ingin mengejan spontan.
Kemudian mmngggh aaah terdengar suara oek oek oek... Levi langsung meloncat dari tempatnya duduk di samping Bida. Suara bayi itu keras melengking, Lina yang ada di luar kamar langsung membuka pintu kamar dan memanggil dokter.
Levi melihat seorang bayi kecil berkelamin laki-laki menangis di bawah sana, ia masih terhubung dengan tubuh Bida. Dokter dan Bidan asistennya tergopoh mendatangi kamar Bida sambil membawa peralatan. Mata Levi sudah basah dengan air mata ketika kemudian keluar lagi anaknya yang kedua lalu yang ketiga. Ketiganya adalah anak laki-laki. Levi bersyukur ketiga anaknya lahir dengan lancar dan selamat. Ia mengecup bibir Bida berkali-kali. Setelah dibersihkan, dokter meletakkan bayinya di atas dada Bida untuk melakukan inisiasi dini. Dokter itu kaget karena leher Bida bermotif polkadot yang sepertinya baru saja dicetak begitu juga di bahunya
Levi yang kemudian mengamati ekspresi dokter itu jadi tersadar. Sementara Bida belum menyadarinya. Ia hanya fokus memandangi bayi-bayi kecilnya yang lucu.
"Mas mereka ganteng seperti kamu mas." Kata Bida.
"Mas Bibir kamu kenapa kok seperti bengkak seperti habis kena gigit, itu malah ada yang luka." Bida kemudian terdiam ia menggigit bibirnya sendiri. Ia mengingat bahwa ia yang menggigit bibir Levi tadi.
Anakmu memang ganteng-ganteng seperti papanya tapi jangan mewarisi perlakuan mesum seperti papanya. Bisa-bisanya mencumbu istrinya yang hampir lahiran. Batin Bidan yang membantu persalinan Bida.
Bu Joko dan Pak Joko sedang dalam perjalanan menuju kota ***** Sepanjang perjalanan mereka mendoakan keselamatan Bida dan cucu mereka.
*****
"Bravi, Bravo, Brava ayo sayang kita berangkat ke rumah nenek!" Levi memanggil semua jagoannya.
Tampak 3 anak usia 4 tahun sedang berjalan sambil menarik tas. Masing-masing anak menarik tas travel beroda yang tidak terlalu besar. Mereka menggunakan setelan kemeja yang sama modelnya. Hanya beda di warna rompinya. Rompi Bravi berwarna biru, rompo Bravo berwarna coklat tua, sedangkan rompi Brava berwarna abu-abu. Baju mereka adalah hasil rancangan mamanya sendiri.
Mamanya berjalan di belakang mereka. Bida tidak membawa apa-apa, semua tas sudah dimasukkan Levi ke dalam mobil. Meski begitu, Bida sudah tampak lelah membawa tubuhnya yang gendut. Perutnya tampak buncit bulat karena ada 2 bayi kembar laki-laki berusia 32 minggu di dalamnya. Bida dan Levi memutuskan akan tinggal bersama bu Dewi di kota **** karena Bida akan kerepotan jika melahirkan sendiri dengan 3 bocah laki-laki yang aktif luar biasa.
Tamat