
#Di kamar Pak Joko dan Bu Joko setelah makan malam.
"Apakah ibu lihat tadi ? Nak Levi kok terlihat berbeda, seperti anak kecil.
"Ya Pak. Ambil makanan saja, minta tolong Bida. Padahal makanan itu ada di depannya."
"Yang lebih aneh, aku baru menyadari jika nak Levi ternyata suka menatap tajam ke teman-temannya karena Bida."
"Benarkah Pak, aku kurang memeperhatikannya." Bu Joko mencoba mengingat-ingat.
"Bapak merasa nak Levi sudah menyukai Bida selama ini."
"Mengapa bapak berpikir begitu?"
"Nak Levi itu selalu memandang Bida tapi mungkin ia sungkan atau apa sehingga tidak pernah mendekati Bida."
"Jadi maksud Bapak, nak Levi itu menikahi Bida bukan hanya sekedar karena tragedi tapi juga karena menyukai Bida."
"Ya bu. Aku sempat mendengar nak Levi berbicara di telfon ada kalimat mama mohon restu. sebelum akad nikah" Pak Joko meyakinkan Istrinya.
"Benar Pak ? Jika begitu kita tidak salah pilih Pak. Perkara nak Levi masih kuliah dan Bida masih sekolah tidak jadi masalah pak. Yang penting mereka saling menyukai. Ibu merasa Bida juga menyukai nak Levi. Bida tampak mengkhawatirkan nak Levi tadi."
"Ibu ini kok bilang kita tidak salah pilih. Kapan kita memilih bu? Kita menikahkan Bida begitu saja. Ini semua karena takdir. Bu Sulis lah perantaranya yang mewujudkan takdir ini."
"Ibu jadi Kasihan Mbak Sulis Pak, pasti bibirnya masih perot hingga tidak tampak keluar dari rumahnya."
"Jangan mengkasihani Bu Sulis. Ia memang berlidah ular, bercabang dan berbisa juga mendesis terus. Lebih baik ia perot dulu agar tidak mengganggu kita. Pintu belakang itu sebaiknya diberi pintu teralis dan selalu kita kunci. Agar Bu Sulis tidak kesini seperti jelangkung, datang tak dijemput, pulang tak diantar. Jangan manggil mbak Sulis lagi bu panggil saja Bu Sulis. Dia lebih pantas dipanggil Mak perot sekarang."
"Bapak kok jadi begini, bapak kok ngomongnya pedas seperti ketularan Mbak Sulis."
"Maaf bu, aku terbawa suasana. Kita membicarakan Bida dan nak Levi saja.
Selama ini aku mengira kebaikan nak Levi kepada Bida karena ia dan teman-temannya tinggal dan makan di rumah kita dengan gratis. Jadi aku tidak berpikir nak Levi menyukai Bida. Tapi setelah aku lihat ekspresinya setelah menikah lalu aku kaitkan dengan perlakuannya kepada Bida selama ini. Aku yakin, nak Levi memang menyukai Bida."
"Bu, cari tahu keadaaan Bida besok bu? Pelan-pelan bertanyanya. Jangan sampai nak Levi tahu ketika ibu bertanya."
"Tentang apa pak, Bida kan serumah dengan kita Pak. Kok tanya keadaaanya."
"Ya ampun bu. Tanya tentang kejadian malam ini bu. Mereka sudah menikah tadi sore. Cari tahu, apa yang sudah dialami Bida malam ini."
Bu Joko menutup mulutnya.
"Pak, bagaimana ini? Apakah kita perlu mengajak Bida tidur bersama kita selama nak Levi masih di rumah kita?"
"Bu, jangan terlalu kentara begitu. Kita harus mencari cara lain. Bapak ini juga laki-laki. Meskipun Bapak berharap nak Levi orang yang bijaksana dan sabar. Tidak menutup kemungkinan juga nak Levi akan tidak bisa mengendalikan diri."
"Pak, mengapa takdir anak kita seperti ini? Mendapat kutukan makhluk halus, bertemu jodohnya di usia yang belum cukup. Coba bapak pikirkan bagaimana sikap nak Levi kepada Bida yang masih kecil."
"Bu, jika aku jadi nak Levi. Aku tidak menganggap Bida anak kecil. Bapak bisa mengartikan tatapan nak Levi kepada Bida. Saat Bida memakai kebaya, bukan hanya nak Levi saja yang memandang Bida sebagai perempuan bu. Semua mata laki-laki tidak lagi melihat Bida sebagai anak kecil. Kita saja yang masih menganggapnya kecil. Bapak baru menyadari hari ini bahwa Bida sudah tumbuh menjadi remaja. Bida bukan anak kecil lagi."
"Menurut bapak, Apa yang nak Levi lakukan sekarang?"
"Bapak tidak berani memikirkannya bu."
"Bu, pukul berapa sekarang? Tubuhku lelah sekali tapi aku selalu terbayang wajah nak Levi ketika menatap Bida setelah nak Levi mengucap akad nikah.
"Pukul 00.00 Wib Pak. Ibu juga tidak bisa tidur, Ibu memikirkan Bida. Bida tadi bilang badannya capek semua. Ibu akan ke kamar Bida ya Pak? Ibu akan pijati Bida." Bu Joko bangkit dari pembaringan.
"Jangan bu. Ini sudah malam."
"Tidak apa-apa Pak, ibu akan mengetuk pintu kamar Bida pelan-pelan."
"Bu, sudahlah kita tidur saja sekarang. Kamu ini masih juga tidak paham inti pembicaraan kita."
"Kita berbicara tentang Bida yang sudah menikah bu dan ini sudah malam. Tidurlah!"
*****
Pagi hari Bu Joko sudah sibuk di dapur. Tadi malam Bu Joko dan Pak Joko mengobrol hingga larut malam.. Mereka tidak bisa tidur nyenyak memikirkan nasib putrinya.
Bida berjalan ke dapur dengan agak terseok.
"Bida mengapa jalanmu seperti itu?" Bu Joko mengkhawatirkan putrinya.
"Kaki Bida menendang meja bu, seru sekali bu. Kami bergulat hingga Bida jatuh dari tempat tidur."
Bu Joko kaget hingga menjatuhkan telur beserta kulitnya di penggorengan.
"Kok digoreng dengan kulitnya bu?" Bida mengambil sodet mencoba mengeluarkan kulit telur dari penggorengan.
"Nak Levi sekarang dimana Bida?" Ibu mencoba menahan diri agar bisa bersikap wajar.
"Mungkin masih tidur bu."
"Kok mungkin? Waktu Bida tinggal kemari nak Levi sedang apa?" Bu Joko bertanya lagi dengan suara pelan.
"Mana Bida tahu bu, kamarnya mas Levi dan mas Roni kan tertutup lagi pula, Bida tidak melewati kamarnya."
"Loh tadi malam nak Levi jam berapa ke kamar Bida?" Bu Joko mulai menggencarkan aksinya.
"Memangnya mas Levi ke kamar Bida? Ibu mendengar mas Levi mengetuk kamar Bida? Kok Bida ndak dengar ya?"
"Jadi Bida dan nak Levi tidak bersama tadi malam?"
Bida mengerutkan dahinya.
"Apa yang kalian lakukan ketika bersama?" Bu Joko mematikan kompor karena sudah selesai menggoreng telur.
"Mengapa ibu tanya begitu?"
Bu Joko diam, bingung mau menjawab apa.
"Tidak apa-apa, jika Bida tidak mau jawab juga tidak apa-apa? Bida tidak kesakitan kan? Bu Joko membelai rambut Bida.
"Tentu saja sakit bu. Badan Bida pegel semua. Kan Bida sudah Bilang, badan mas Levi berat."
Bu Joko memandang iba kepada Bida. Bu Joko tidak kuasa menahan air matanya.
"Ibu kok menangis, ibu marah ya ke Bida. Baiklah ibu akan ceritakan apa saja yang terjadi dengan Bida dan mas Levi kemarin. ibu jangan nangis lagi"
"Tidak usah Bida jika kamu tidak mau cerita jangan dipaksakan."
"Bida mau cerita kok. Dari mana ya? dari pagi kita ke sekolah diantar mas Levi?"
"Jangan, dari malam saja setelah kita makan malam."
"Loh Bida kan bersama mas Levi sampai makan malam bu. Bahkan Bida yang pergi tidur lebih dulu. Setelah itu sampai sekarang Bida belum ketemu mas Levi. Ibu mengapa? Ibu jangan banyak mikir bu? Bida pernah dijelaskan tentang penyakit Alzeimer oleh bu Ade guru biologi. Ibu sampai lupa jika kita makan malam bersama tadi malam. Ibu, bapak, Bida, mas Levi dan lainnya. Kita makan malam bersama bu lalu Bida ijin pamit duluan karena Bida capek terus Bida ... "
"Sudahlah Bida. Ibu sudah ingat kok."
Bu Joko lega mendengar cerita Bida namun sedikit kuatir.
Kata Bapak, Nak Levi menyukai Bida tapi kok mereka tidak ngobrol berdua seperti orang yang jatuh cinta. Apakah nak Levi menikah hanya karena terpaksa lalu kembali ke kotanya meninggalkan Bida dan melupakan pernikahannya. Kasihan Bida jika itu sampai terjadi.