Jodoh Gadis Indigo

Jodoh Gadis Indigo
Bagaimana Menurutmu ? 2


Bida sudah siap dengan tasnya. Bida duduk melamun di ruang tamu. Levi mendatanginya lalu duduk disampingnya.


"Apa yang Bida pikirkan? Jangan kuatir, setelah pulang dari rumah nenek kan kita bertemu lagi. Kuatir kangen ya?" Levi menggoda Bida.


"Bukan begitu. Bida mengkhawatirkan... " Bida tidak meneruskan kalimatnya karena di pikiran Bida adalah bagaimana menjalani hidup di sana jika nenek dan bibi tidak ikut. Ia khawatir hantu pohon bambu itu mengancam menyakiti ibunya. Bida menyebut hantu pada makhluk halus selain Wowo, nenek dan bibi.


"Jadi Bida tidak mencemaskan mas Levi? Baiklah mas Levi akan kembali ke ***** sebelum Bida pulang." Levi mencoba mengancam Bida.


"Mas Levi tidak mungkin melakukan itu karena ..." Bida tidak meneruskan kalimatnya karena terpesona menatap wajah Levi yang tampak sangat tampan hari ini. Rambutnya basah, aroma sampo masih tercium, wajahnya bersih, dengan warna bibir merah. Apakah mas Levi itu mentato bibirnya, kok merah gitu? Bida saja tidak semerah itu. Matanya tajam, manik matanya hitam legam. Memandangnya membuat waktu seolah berhenti berdetak.


"Ayo teruskan kalimatmu !" Levi mengagetkan Bida, Levi masih menunggu lanjutan kalimat Bida.


"Karena kan rehapnya tidak akan selesai seminggu" Kata Bida sambil mengalihkan pandangannya.


"Siapa bilang tidak selesai? Lagi pula mas Levi kan bisa meminta Roni saja yang mengawasi disini. Mas Levi bisa kembali ke Malang kapan saja." Levi mencoba memasang wajah serius.


Bida menatapnya lekat. Apakah mas Levi akan benar-benar pergi, tapi kembali lagi kan ketika Bida lulus? Mas Levi sudah janji kan?


Levi tersenyum melihat ekspresi Bida yang tampak kecewa dan sedih ketika Levi mengatakan akan pergi.


Tin tin Sebuah mobil parkir di depan rumah Bida. Pak Joko dan Bu Joko yang sudah menunggu di teras memanggil Bida.


Bida berdiri membawa tasnya lalu menunduk untuk berpamitan. "Bida berangkat ya mas, jangan lupa jemput Bida 3 tahun lagi" Bida akan melangkah pergi. Levi berdiri mengikuti Bida lalu menghentikan langkah Bida dengan memegang pergelangan tangan kanan Bida. lalu mendekat, masih di belakang Bida, Levi membungkuk, berbicara di telinga Bida.


"Mas Levi akan menunggu disini sampai Bida kembali dari B********. Pergilah, Bida membawa buku berisi peraturan yang sudah mas Levi diktekan kan?"


Bida menggeleng lalu menoleh hingga pipinya menempel dengan wajah Levi yang masih membungkuk. Bida langsung tertunduk. "Bida hafal peraturan itu."


"Bagus.. " Levi meraih tas Bida lalu membawakannya ke depan. Bida mengikuti Levi dengan wajah cerah.


Nenek dan Bibi melambaikan tangannya kepada Wowo. Wowo sangat ingin mengikuti Bida juga. Tapi Bida tidak mengucapkan kalimat mengajaknya.


Sebenarnya Bibi dan nenek selalu di sekitar Bida. Hanya Bida tidak melihat atau mendengar mereka.


Mobil yang membawa Bida berangkat, dengan nenek dan bibi ketika berada di jalan besar, berpapasan dengan truk kontainer besar berisi properti dan interior rehap rumah Pak Joko.


*****


Malam hari di ruang tamu. Levi dan Roni sedang mengobrol.


"Ruang tengah penuh barang mas, berantakan sekali kasur dan lemari pak Joko dan Bida diletakkan disana karena mas Levi berniat mengganti keramik lantainya juga kan?"


"Ya, beginilah jika melakukan rehap. Untunglah Bida tidak disini. Mungkin Bida sudah sampai di kota B********."


"Mengapa mas Levi menolak ketika bu Joko menawarkan Bida tinggal disini mas?"


"Tidak bisa. Aku tidak bisa membiarkan Bida disini tanpa ada Ibu dan bapak."


"Oh ya. Justru asyik kan mas. Aku akan menyingkir juga jadi kalian bisa berdua."


"Justru itu yang kuhindari Ron. Jika aku berdua akan terjadi malapetaka."


"Maksudnya mas?"


"Roni, apakah kamu pernah jatuh cinta?" Levi mengalihkan pembicaraan.


"Mungkin ya. Cinta monyet mas ketika SMA."


"Oh ya. Seperti apa rasanya Ron ? Jelaskan padaku! "


"Memangnya kenapa sih mas kok kepo? Baiklah aku akan ceritakan. Waktu itu aku melihatnya pertama ketika kemah. Dia sangat cantik bahkan aku merasa ia adalah wanita paling cantik yang pernah aku temui."


"Terus bagaimana? Kamu dan dia masih berhubungan sampai sekarang?"


"Tidak mas. Dia ternyata tidak menyukaiku. jadi aku lama kelamaan melupakannya."


"Benarkah kamu bisa melupakannya?"


"Jika sekarang, di usiamu sekarang. Apakah kamu pernah jatuh cinta lagi?"


"Tidak pernah. Mungkin karena aku fokus ke kuliahku jadj aku tidak sempat memperhatikan perempuan."


"Jadi ... jika di usia puber, cintanya bernama cinta monyet jika sudah menikah saat dewasa namanya cinta sejati." Levi manggut-manggut serius.


Darimana mas Levi dapat kesimpulan itu? Roni heran dengan kesimpulan yang diambil Levi. Levi memang jago menyimpulkan kualitas properti tapi soal cinta nilainya nol.


Levi meneruskan kalimatnya lagi


"Gawat Ron. Kasusku beda. Aku menikah, tapi Bida di usia puber sedangkan aku usia dewasa. Bida bilang mungkin ia mengalami cinta monyet kepadaku. Aku sendiri belum tahu jenis cintaku. Jika cintaku sejati karena terjadi di usia dewasa maka cintaku dan Bida disebut apa Ron?"


"Malas mikir begituan mas?"


"Pikir dong, kamu kan asistenku. Jika x dan y kan jadi xy. Jika cinta monyet dan cinta sejati jadi apa Ron?"


Ha ha ha... "Roni tidak mampu menahan tawanya."


"Apa yang kamu tertawakan Ron? Aku serius, sudah lama aku ingin membahas ini denganmu. Sekarang kita berdua di rumah ini, ayo bantu aku, Bagaimana menurutmu antara aku dan Bida ?"


Kamu bodoh mas. Merancang desain rumah dan interior itu sudah menyita waktumu. Mengapa harus bersusah payah mikir soal beginian ?


"Roni... sudah selesai mikirnya? Bagaimana menurutmu?" Levi menunggu Roni dengan ekspresi penuh harapan.


"Mas, sini aku tanya ya, coba pikir siapa nama orang tua upin dan ipin?"


"Buat apa aku mikirkan itu?"


"Benar sekali, untuk apa juga aku mikirkan cinta monyet + cinta sejati dalam pernikahan?"


"Jangan coba-coba membantahku. Ayo pikirkan ! Apakah Bida akan melupakanku ?"


"Mas yang aku tahu, laki-laki dan perempuan menikah, X dan Y lalu mereka kawin terus istrinya hamil. Begitu mas! Jika kamu ingin Bida tidak melupakanmu, hamili saja."


Bug. Levi meraih HP Roni lalu melempar HP tersebut ke perutnya, untung Roni segera menangkapnya.


"Mas kok HP ku dilempar? Coba HP mu yang kamu lempar aku akan dengan senang hati menangkapnya." Roni tertawa tertahan karena sorot mata Levi tajam menghujamnya.


"Jangan mikir kotor. Cintaku itu sejati. Aku tidak akan melakukan itu sampai ia lulus sekolah. Aku selalu berjuang menahan diri, meski sangat sulit."


"Maka itu mas Levi sering push up di malam hari. Iya kan?" Roni tersenyum mengejek Levi


"Begitulah... makanya aku ingin rehap ini segera selesai, jadi aku bisa segera melarikan diri. Aku menginginkannya tapi tidak suka melakukannya. Aku ingin bersamanya tapi aku memutuskan meninggalkannya. Aku akan menjemputnya 3 tahun lagi. Aku tidak ingin mendatanginya sebelum 3 tahun. Menurutmu Cinta monyet Bida bisa berangsur menjadi cinta sejati kan Ron? Kan kami sudah menikah."


"Mas Levi tidak akan menjalin komunikasi dengan Bida selama 3 tahun, sama sekali?"


"Ya. Saat serumah saja, tiap aku melihat Bida. Rasanya ingin memeluknya. Jika saja Bida itu kertas, akan aku remas, aku masukkan kantong terus kubawa kemana-mana. Maka itu aku tidak akan menemuinya. Nanti di usianya yang ke 17 aku akan berkomunikasi dengannya melalui HP. Aku sudah memberinya uang untuk beli HP di hari ulang tahunnya yang ke 17."


"Mas itu masih lama, 2 tahun lagi."


"Tidak masalah, aku akan fokus dalam bisnisku sampai waktunya tiba."


"Mas Levi tidak menelfon Pak Joko agar bisa bicara dengan Bida?"


"Aku tidak tahun nomernya Pak Joko. Lagi pula aku ingin Bida merindukanku." Levi tersenyum wajahnya merona.


Kamu ini ganteng apa cantik sih mas? Badan kekar, tapi bibirmu merah sekarang pipimu merona..


Aku jadi takut, jangan-jangan lama kelamaan memandang ekspresi bodohmu itu bisa membuatku jatuh cinta kepadamu.


Hii menakutkan ...


Tidurlah mas! Aku di kamar tengah, kamu.di kamar depan. Aku takut kamu mengigau menganggapku Bida, setelah kita membahas X dan Y.


Roni masuk ke kamar depan lalu mengunci pintunya dari dalam.