Jodoh Gadis Indigo

Jodoh Gadis Indigo
Murka


Diana diseret keluar apartemen. Bu Dewi mencemaskan putranya.


"Levi... kamu tidak apa-apa?"


Bu Dewi membantu Levi bangun untuk duduk.


"Levi agak pusing. Terima kasih sudah datang ma..."


Levi merasa lega melihat mama, tangan masih memegang erat bantal sofanya di pangkuannya.


Beberapa orang dari satuan pengaman masih berjaga.


"Perbaiki pintu itu! Panggilkan dokter sekarang juga !" Bu Dewi memerintah petugas kemanan dengan lantang.


Levi mencoba bangkit dengan sempoyongan.


"Levi mau ke kamar mandi ma."


Bu Dewi membantu Levi tapi Levi menolaknya . Ia masih memegang erat bantal sofa itu.


Roni datang dengan ekspresi bingung melihat ada yang memperbaiki pintu apartemen Levi.


Roni segera masuk dan bertemu dengan Bu Dewi yang tampak cemas.


"Kemana saja kamu? Apa Levi tidak menghubungimu tadi?"


"Ya bu tadi mas Levi menghubungi saya dan saya langsung berangkat tapi tadi saya sempat mampir sebentar membelikan makanan pesanannya mas Levi." Roni meletakkan bungkusan makanan di meja.


"Mas Levi mana bu?"


"Roni... sini !" Terdengar suara Levi dari balik pintu toilet yang terbuka sedikit.


Roni mencari sumber suara lalu mendekat, Bu Dewi juga ikut menghampiri Levi.


"Roni ambilkan aku baju di lemari. Cepat ! Baju celana pendek yang longgar dan kemeja panjang!"


"Kamu kenapa mas, bajumu basah semua kamu nyebur ke bath up dengan baju lengkap."


"Sudah sana ambilkan cepat!."


Levi berpegangan pada tembok toilet dan pintu. sebagian badannya yang basah kuyub terlihat.


Roni melaksanakan perintah Levi lalu menyerahkannya kepada Levi yang masih menunggu.


Dokter Didi dari klinik apartemen datang membawa perlengkapan stetoskop bersama seorang perawat laki-laki. Ia mengajak perawat laki-laki karena Levi tidak suka disentuh perempuan.


Levi sudah ganti baju. Ia mengenakan celana pendek dan kemeja yang bagiam bawahnya dibiarkan terjulur. Levi berjalan keluar dari toilet masih terhuyung lalu jatuh di atas sofa tidak sadarkan diri.


Roni dan perawat membenahi posisi Levi. Dr memeriksa Levi.


"Bagaimana Di ?" Bu Dewi tidak memanggil dokter karena Didi adalah temannya Lina dan dianggap anaknya, ia sudah sering datang ke rumah Lina.


"Levi kena efek obat perangsang dosis tinggi sepertinya." Didi mengambil botol mineral lalu membuka botolnya dan menciumnya sebentar.


Bu Dewi kaget mendengar perkataan dokter Didi, ia tampak sangat marah mengingat kejadian tadi. Beraninya kamu Diana ! Mira juga harus tanggung jawab atas kejadian ini.


Bu Dewi tahu bahwa Diana tergabung dalam agency milik Mira.


"Periksa ini di laborat !" Didi menyerahkan botol itu kepada perawatnya.


"Mungkin Levi hanya kelelahan, ia pasti mencari pelampiasan di kamar mandi tadi atau ia berusaha keras menahan dirinya. Hal ini pada beberapa kasus bisa membahayakan. Hal terburuk adalah dia bisa kena serangan jantung spontan bahkan ketika dalam kondisi tidak sadar."


"Terus kamu nunggu apa? Ayo cepat bawa Levi ke klinik ! Dasar lelet kamu!"


Aku kan belum selesai menjelaskan tapi bu Dewi langsung marah-marah. Ia menelfon klinik untuk mempersiapkan peralatan.


"Bida.... Bida.... Aah..." Levi berhalusinasi.


"Siapa Bida?" Bu Dewi menatap tajam ke arah Roni.


Roni memilih bungkam. Maaf Bu Dewi, aku bingung mau jawab apa?


"Levi pasti berhalusinasi tentang seorang perempuan cantik, mungkin Bida adalah nama kekasihnya." Dokter Didi memperkirakan karena Levi masih terus menyebut nama Bida.


Levi.... menyebut Bida, Itu nama seorang gadis atau kemungkinan besar... Levi berhalusinasi melihat Bidadari sexy yang biasa digambarkan dengan kondisi naked...


Sialnya kamu ya, dalam kondisi fly begini kamu ditemani mamamu. Harusnya kamu hadirkan Bidadari itu didunia nyata.


Dokter Didi mengomel dalam hati.


Dokter Didi memeriksa jumlah denyut nadi Levi yang tampaknya belum stabil.


*****


Levi terbaring di atas ranjang klinik. Ia masih belum sadar sepenuhnya.


Bu Dewi terlihat cemas. "Apakah tidak sebaiknya Levi diinfus saja Di."


"Saya rasa tidak perlu karena Levi akan berangsur sadar meski obat itu pasti masih bereaksi." Dokter Didi menjelaskan kepada Bu Dewi. Atas rekomendasi dari Lina yang menjadikan Didi sebagai pimpinan di klinik kalangan atas di apartemen itu.


"Apa ruginya jika Levi diinfus. Infus itu kan akan membantunya cepat pulih. Infus saja agar Levi cepat pulih."


Dokter Didi menghela nafas. Terserah anda sudah bu. Toh Levi anakmu.


"Baiklah, ibu tanda tangan tindakan dulu, saya akan memasang infusnya."


Dokter Didi memasang infus. Levi tidak menyadari tindakan pemasangan infus tersebut karena masih belum sadar.


Cepatlah sadar mas. Ibumu membuatku takut. Beliau pasti akan memaksaku menceritakan tentang Bida jika kamu terus menyebut namanya.


Bu Dewi membuka ponselnya lalu mengirim foto Levi yang terbaring dengan selang infus di tangannya. Bu Dewi mengirimkannya kepada Mira.


Mira baru saja selesai melakukan pertemuan dengan kliennya. Ia heran melihat ada wa chat masuk dari bu Dewi.


Kak Dewi, tumben chat aku duluan. Mira membuka foto yang dikirim Bu Dewi sebagai kakak iparnya.


Levi... kenapa Levi?


Mira langsung menelfon bu Dewi.


"Hallo kak Dewi. Levi kenapa ? Itu di klinik apartemen kan? Diana sedang ada di kota ***** sekarang. Aku akan minta Diana menjenguk Levi. Aku juga akan menyusul kesana besok karena aku masih ada urusan sedikit." Mira sangat cemas hingga berbicara panjang kepada kakak iparnya.


"Bagus sekali. Jadi kamu tahu rencana Diana, baiklah. Siapkan pengacara terbaikmu karena jika terjadi sesuatu pada Levi. Aku tidak peduli hubungan kekerabatan kita. Aku akan pastikan kamu dan Diana meringkuk di sel."


Tut tut tut... Bu Dewi menutup telfonnya.


Mira berusaha menelfon berkali-kali namun tidak diangkat oleh Bu Dewi.


Apa maksud kak Dewi dengan aku harus mencari pengacara. Apa rencana Diana? Aku harus menelfon Diana.


Mira menelfon Diana tapi Diana selalu menolak panggilannya. Mira akhirnya menghubungi Ayu. Tapi Ayu mengatakan bahwa ia belum bertemu Diana sejak siang, bahkan Diana tidak datang di kegiatan gladi bersih. Mira semakin bingung.


Besok aku akan memajukan jadwal bertemu dengan klien lalu segera berangkat ke kota M****.


***


"Roni... " Roni mendekati Levi lalu memegang tangan Levi.


Bu Dewi memperhatikan Roni yang tampak sangat perhatian kepada Levi.


"Aku ingin menemui Bida Ron.... Bida... mas Levi sangat merindukanmu. Bida... " Kemudian Levi terdiam lagi.


"Mas Levi ternyata masih belum sepenuhnya sadar bu. Saya ingin memeriksa cctv di apartemen mas Levi. Jika ibu mengijinkan, saya akan meninggalkan mas Levi sebentar."


Bu Dewi baru tersadar bahwa ia harusnya memeriksa cctv.


"Jangan, kamu diam disini saja. Biar aku menelfon pihak apartemen. Aku takut sendirian menjaga Levi. Aku takut ada sesuatu terjadi kepada Levi."


Bu Dewi membuka HP nya dan mengetikkan sesuatu.


Satu jam kemudian, seseorang mengetuk pintu kamar tempat Levi dirawat. Seorang petugas IT datang membawa laptop. Bu Dewi tadi sudah memerintahkan agar ia memeriksa hasil rekaman cctv dan menunjukkannya di kamar klinik. Bu Dewi sangat khawatir tidak mau meninggalkan Levi sendiri. Levi sendiri sedang tertidur setelah mendapatkan suntikan penenang.


Tenaga Ahli IT itu menunjukkan rekaman CCTV tersebut menunjukkan kegiatan Levi hari itu. Terlihat Levi yang sibuk dengan HP dan laptopnya.


"Coba keraskan suaranya!" Bu Dewi memberi instruksi.


Terbongkarlah semua kenyataan yang terjadi bahwa Levi membuka pintu apartemen karena mengira Roni yang datang ke apartemennya. Kemudian semua kejadian di ruang tamu, di ruang makan ditampilkan. Bu Dewi semakin geram melihat Diana memasukkan obat ke minuman Levi.


Rekaman itu memperliharkan kejadian sebelum Diana datang hingga ketika Levi sudah dibawa keluar apartemen untuk dibawa ke klinik.


Bu Dewi meminta agar Rekaman itu dikirim ke HPnya. Setelah rekaman itu masuk ke HP nya. Bu Dewi langsung mengirimkannya kepada Mira.


Mira sedang ada di kamar mandi ketika HPnya berbunyi tanda ada notifikasi masuk.


Dari kamar mandi, Mira rebahan di tempat tidur sambil memegang HP nya.


Mira membuka kiriman video dari Bu Dewi.


Video apa sih ini kok besar filenya. Lama sekali downloadnya.


Mira langsung terlonjak melihat kiriman video. Ia membelalakkan mata berkali-kali mengulangi beberapa bagian dan tidak percaya dengan penglihatannya. Ia sampai menscreen shot wajah Diana lalu menzoomnya. Mira geleng-geleng kepala.


Keparat sekali kamu Diana. Beraninya kamu melakukan ini kepada Levi. Aku akan menghancurkanmu. Levi.... Levi... sayang, kamu baik-baik saja kan ?...


Mira meneteskan air mata, melihat video yang menunjukkan tubuh Levi terjatuh tak sadarkan diri lalu diangkut keluar oleh Dokter dan perawat.


Mira membuka lagi foto kiriman Bu Dewi yang menunjukkan keadaan Levi sedang terbaring di klinik.


Pantas saja Kak Dewi sangat marah. Aku tidak akan tinggal diam. Diana... awas kau. Bagaimana mungkin Kak Dewi menuduhku terlibat dengan kelakuan Biadap Diana. Aku yang akan menghancurkan Diana dengan tanganku sendiri.


Mira bangkit mengepak bajunya. Ia menelfon Ayu.


"Ayu... jangan libatkan Diana dalam kegiatan fashion besok. Diana sudah kupecat tidak hormat. Batalkan semua kontrak dengan Diana. Siapkan model pengganti Diana. Aku tidak memerlukannya lagi. Aku akan melenyapkannya dari dunia Model. Jangan sebut aku Mira jika tidak bisa menghancurkannya. Dengar itu ! Jangan pernah berhubungan dengan Diana lagi!"


Mira langsung menutup telfonnya.


Ayu masih bengong, ia melihat layar HP nya. Benar... tadi itu Mira yang menelfon. Mira memang tegas kadang marah tapi marahnya Mira tidak pernah berapi-api seperti itu. Apa kesalahan Diana pada Mira? Tidak mungkin hanya karena laporanku jika ia tidak hadir untuk gladi bersih. Pasti ada hal serius yang membuatnya begitu marah.


Ting.... HP Mira kembali berbunyi.


Ada pesan masuk dari Bu Dewi.


Jika terjadi sesuatu pada Levi, maka aku yang akan menghancurkanmu dengan tanganku sendiri. ---- Dewi


Mira sangat khawatir bukan pada dirinya. Bukan karena ancaman kakak iparnya. Tapi ia sangat mencemaskan Levi.


Mira kembali menangis sambil menatap wajah Levi yang tidak berdaya.


Ia sudah membulatkan tekad akan segera datang menjenguk Levi. Mira membatalkan pertemuan dengan klien nya besok pagi. Ia sangat mencemaskan Levi.


Levi sedang memimpikan kebersamaanya bersama Bida. Berjalan berdua bergandengan tangan melewati taman bunga, Ada sungai yang mengalir disana. Airnya sangat jernih. Bida mengajaknya mandi di sungi itu.