
Levi mengetuk pintu kamar Bida.
Bida membuka sedikit pintu kamarnya, Badannya di balik pintu.
"Ada apa mas ?"
"Pakai hijabmu lalu keluarlah, ada pekeja yang akan melakukan pengukuran."
" Ya mas."
Bu Joko baru keluar dari kamar mandi.
"Bu maaf, mohon ijin untuk melakukan pengukuran di kamar ibu?"
Ibu melongok para pekerja lalu mengangguk kemudian membukakan pintu kamarnya.
Bida sudah keluar dari kamarnya.
Levi mempersilahkan para pekerja itu melakukan pengukuran.
Roni menemani Levi mendampingi para pekerja melakukan tugasnya. Mereka bekerja cekatan lalu pamit undur diri. Teman-teman Levi mengamati dari jauh. Jodi semakin yakin dengan ucapan Roni.
Pak Joko datang dari rumah Pak Muhit.
Pak Joko sempat berpapasan dengan para pekerja berseragam itu.
"Siapa mereka bu? Apakah mereka dari rumah kita? "
"Ya Pak. Mereka yang akan melakukan rehap kata nak Levi."
Levi sedang menemani Bida yang sedang menyiapkan makan siang di dapur. Levi duduk di kursi yang ada di dapur, sementara matanya tidak lepas dari Bida.
"Mas Levi suka melihat Bida ya?"
"Kamu apanya mas Levi?"
"Istrinya mas Levi."
"Kok masih tanya."
"Tapi membuat Bida jadi gugup."
"Bagus dong."
"Ih mas levi menggoda Bida terus."
"Bantu Bida yuk mas, meletakkan ini di meja makan."
"Boleh" Levi mengambil mangkuk besar berisi sop untuk diletakkan di atas meja makan.
"Loh nak Levi... Bida kamu apa-apaan. Kamu kan bisa minta bantuan ibu."
"Tidak apa-apa bu." Levi tersenyum kepada Bida.
"Panggil teman-temannya nak Levi. Biar Ibu yang menyiapakan meja makan."
Levi menggandeng tangan Bida mengajaknya ke ruang tengah.
"Mas aku mau bantu ibu."
"Sudahlah Bida, kamu pergilah bersama nak Levi." Bu Joko menatap putrinya dengan setengah menggodanya.
Sampai di ruang tengah.
"Roni, panggil teman-teman untuk makan siang sebelum mereka pulang."
"Ya mas." Roni selalu segera melaksanakan perintah Levi tanpa protes.
"Mas Levi kok suka menyuruh nyuruh mas Roni."
"Karena Roni memang asisten mas Levi."
Bida tidak paham, karena yang Bida tahu Roni dan Levi sama-sama sedang KKN
"Mas mengapa mas levi mengajak Bida duduk disini kan ibu repot."
"Kan tinggal menata meja saja. Bida besok para pekerja sudah mulai bekerja, Bida harus jaga diri. Lebih baik Bida menggunakan kamar tengah. Jodi, Deni dan Miki akan kembali siang ini. Jadi kamar tersebut kosong."
"Ya mas. Mas besok Bida mendaftar SMK."
"Besok ya. Besok mas Levi sibuk. Bida berangkat sendiri ya, nanti mas Levi jemput. SMK yang pernah kamu tunjukkan waktu pulang wisuda itu kan?"
"Ya mas. Tapi tidak usah dijemput tidak apa-apa kok. Bida biasa naik sepeda pancal."
"Baiklah. Mas Levi juga kuatir tidak bisa menjemput tepat waktu."
*****
Setelah makan siang, teman-teman Levi kecuali Roni pamit kepada Pak Joko, Bu Joko dan Bida.
Mereka naik mobil travel yang sudah dipesan Levi menuju Malang.
Levi dan Bida mengantar hingga ke halaman.
"Levi, jaga diri baik-baik. Bertahanlah sekuat tenaga. Semangat !" Deni menepuk lengan Levi.
Levi tersenyum tidak membalas celotehan Deni.
Levi langsung meninju lengan Miki pelan.
"Terima kasih atas semuanya ya Vi." Hanya itu yang disampaikan Jodi.
*****
Bida berangkat ke SMK. Sekolah itu letaknya lebih jauh dari gedung SMP Bida.
Sampai di SMK ada Yogi yang sudah menunggunya.
"Hai Bida, yuk kita ke bagian pendafataran." Bida memparkir sepedanya di tempat yang sudah disediakan.
Ternyata prosesnya sangat cepat. Sekarang Yogi dan Bida sedang duduk di bangku depan kantor.
"Bida aku akan pulang duluan ya, karena saudaraku ada hajatan."
"Ya Yogi. silahkan... aku juga mau pulang kok."
Mereka berdua menuju tempat parkir. Sepeda Bida terhalang sebuah sepeda motor. Bida bingung mau mengeluarkan sepedanya, karena sepeda motor itu dikunci setir. Yogi sudah menaiki sepeda motornya.
"Da da Bida..." Yogi berlalu meninggalkannya.
Bida bingung mau minta bantuan siapa, Bida melihat ke arah bangku di depan kelasnya ada seorang laki-laki berpakaian hitam-hitam mungkin beliau adalah pak satpam. Pikir Bida
Bida mendatangi bapak tersebut, "Permisi pak, saya minta tolong mengeluarkan sepeda saya yang berwarna hijau itu. Bida menunjuk sepedanya di parkiran.
Bapak tersebut hanya menatapnya dingin. Bulu kuduk Bida meremang. "Kau berbicara denganku ?" Suara bapak itu terdengar berat.
Bida langsung menyadari bahwa bapak di depannya bukan manusia.
Bida panik pergi kembali ke parkiran tapi tetap kesulitan mengeluarkan sepedanya. Ada seorang laki-laki seusia Bida, melewati tempat parkir.
"Maaf tolong bantu saya mengeluarkan sepeda." Bida melirik laki-laki yang masih duduk di depan kelas, masih menatapnya tak berkedip.
"Apakah kamu berbicara dengan saya? Yang mana sepedanya?"
"Yang itu. Bida menunjuk sepedanya." Laki-laki itu mengangkat sepeda Bida. Ia menyerahkan sepeda itu kepada Bida.
"Terima kasih." Bida masih melirik takut kepada laki-laki yang masih duduk di tempatnya.
Bida menaiki sepedanya segera lalu menundukkan kepala kepada laki-laki itu. Belum mengayuh sepedanya, Bida langsung tertegun. Laki-laki yang membantunya tadi berjalan menembus deretan pot bunga besar yang terjejer rapi di parkiran.
Bida mengerjapkan matanya tidak percaya. Laki-laki itu menoleh dan tersenyum manis.
"Kamu akan sekolah disini kan, kita akan berteman."
"Hei ! Siapa itu ?" Bida menoleh ke arah teriakan itu. Tampak seorang perempuan gendut, dengan mata merah berambut panjang terurai menutupi sebagian wajahnya menatap Bida marah. Bida membeku di tempatnya.
"Pergilah ! Bapak tadi berteriak panik kepada Bida."
Laki-laki di depannya masih tetap tersenyum manis. "Pergilah, ia marah kepadamu. Ia sangat posesif kepadaku. Ia pasti cemburu kepadamu."
Bida berkeringat dingin. Tiba-tiba saja perempuan gendut itu sudah ada di depannya
Ia membawa pisau cutter lalu melayangkannya ke arah wajah Bida. Bida berteriak. Namun cutter itu hanya menembus wajahnya tidak melukainya. Meski begitu, Bida sangat syok, baru sekarang ada makhluk halus yang berusaha menyakitinya.
Bida meneteskan air matanya.
"Jangan coba-coba mendekati pacarku!"
Sodok gendut itu berteriak marah.
Bida menguatkan tekadnya. Ia menuntun sepedanya menjauh lalu mengayuhnya cepat menuju rumah. Ia dan sepedanya menembus wanita gendut itu.
Makhluk halus yang Bida temui ada yang bisa menyentuh Bida, ada juga yang seperti bayangan namun ada juga yang terlihat nyata tapi jika berpapasan akan menembus Bida.
Nenek dan Bibi pernah bercerita bahwa jenis mereka memang sangat banyak, ada yang menirukan manusia, ada yang berupa hewan dan lain-lain.
***
Sampai rumah, tampak para pekerja sedang sibuk membuat tandon air.di samping rumah.
Di dalam rumah. Para bekerja sedang berada di kamar ibunya.
Wajah Bida tampak pucat. Setelah mengucap salam, ia langsung tergesa masuk rumah dan berpapasan dengan Roni di ruang tamu
"Apakah kamarku belum diapa-apakan?"
Bida bertanya kepada Roni.
"Belum. Hari ini kamu bisa menggunakan kamarmu." Roni menjawab pertanyaan Bida.
Bida langsung masuk ke kamarnya. Bida menghempaskan badannya di atas kasur lalu menangis tertahan mengingat kejadian mengerikan yang dialaminya.
Bu Joko yang sempat melihat wajah Bida yang pucat langsung menyusul Bida di kamarnya.
Roni merasa ada yang tidak beres tapi Levi sedang sibuk di luar.
Bu Joko mendekati Bida yang tertelungkup di kasur masih menggunakan sepatunya.
"Bida... ada apa?" Bu Joko tidak pernah melihat Bida ketakutan seperti sekarang.
"Ibu... Bida sangat takut." Bida menangis di pelukan ibunya.