Jodoh Gadis Indigo

Jodoh Gadis Indigo
Bulan Madu, Cemburu dan Pesta


Bida dan Levi berpamitan untuk berangkat bulan madu. Mereka berangkat sore hari setelah mendapatkan buku nikah.


Mama dan tante Mira berebut gelar paling cekatan. Semua urusan bulan madu sudah disiapkan matang. Tentu saja mama dan Tantenya membuat para stafnya sibuk luar biasa. Para supir juga kelelahan harus kesana kemari. Mama dan tante Mira belum pulang masih menunggu keberangkatan Levi dan Bida.


Levi menyayangi keduanya yang sangat menyayanginya.


"Bapak ibu, Bida berangkat"


"Hati-hati ya." Ibu mencium kening Bida. Bapak hanya tersenyum.


"Levi semangat ! Lakukan yang terbaik. Tante ingin punya cucu kembar. Semua baju Bida sudah tante siapkan. Ada keterangan hari dan momennya dalam tiap bungkusnya." Tante mengedipkan matanya kepada Levi. Levi paham maksud tante.


"Levi jangan lakukan aktivitas yang terlalu melelahkan. Mama ingin Bida segera positif setelah pulang bulan madu. Jangan dengarkan tantemu. Satu janin sudah cukup. Kakakmu akan wisuda menjadi dokter kandungan jadi nanti jika Bida melahirkan bisa melalui bantuan Lina."


"Ya ma." Jawab Levi. Bida hanya diam tersipu.


Sedangkan Pak Joko dan Bu Joko hanya diam merasa kikuk dengan pembicaraan mereka.


******


Mereka sampai di hotel di pulau **** lewat tengah malam. Levi keluar dari kamar mandi setelah membersihkan diri. Bida membongkar isi tasnya lalu mengambil bungkusan bertuliskan baju tidur pertama.


Bida masuk kamar mandi untuk ganti baju.


Levi penasaran dengan baju yang disiapkan tantenya.


"Mas Levi, ini pasti bahannya kurang, masak bagian belakangnya cuma segini."


Levi menghampiri Bida lalu mengitarinya.


Bagus sekali pilihan tante Mira sekali tarik sudah bubar baju ini.


"Bida mau langsung masuk ke dalam selimut saja, punggung Bida kedinginan."


Bida melangkah ke tempat tidur. Levi menyusulnya segera tepat saat Bida berdiri di samping tempat tidur, Levi langsung menarik tali simpul di gaun itu dan byur gaun itu meluncur turun.


"Loh mas"


Bida tidak sempat berkata apa-apa, Levi. sudah membungkamnya dengan ciuman. Mereka melaksanakan tugas utama mereka sesuai temanya yaitu bulan madu.


*****


Bulan madu sudah memasuki hari terakhir, setelah hampir 3 minggu acara bulan madu mereka. Ternyata jadwalnya kebanyakan adalah makan siang, makan malam dan kembali ke hotel lagi.


Pagi ini, Bida membuka bungkusan baju bertuliskan baju santai pagi hari di hotel. Bida menjatuhkan sesuatu, Levi mengambilnya.


"Apa itu mas?" Bida ikut memperhatikan.


"Ini testpack. Ayo pakailah ada petunjuk pemakaiannya."


"Mas aku baru mau wisuda kelulusan SMK dua hari lagi. lagian ini lihat perutku rata gini. Mengapa aku harus periksa?"


"Ayo mas Levi bantu meriksa. Jika kamu tidak paham petunjuknya."


Levi langsung menarik tangan Bida di kamar mandi.


"Aku akan periksa sendiri mas jika itu yang kamu inginkan."


"Baiklah silahkan."


"Loh mas Levi keluar dong."


"Tidak mas Levi tunggu di sini saja."


"Hadap sana ! Jangan ngintip." Bida tampak galak.


"Ya." Setelah memberikan sampel urinnya. Levi langsung datang merebut testpack itu dan membawanya kabur.


"Mas aku mau lihat."


"Mandilah dulu. Ini masih nunggu beberapa menit." Levi berkata keras dari kamar.


Levi menghitung tanggal awal mereka melakukannya itu sudah sebulan yang lalu.


Levi cemas menunggu testpack itu bekerja. Lalu muncul tanda garis merah dua yang artinya positif.


Ah aku berhasil, mama dan tante akan sangat bangga kepadaku. Pusakaku memang sakti mandraguna. Tapi ... Bida tampaknya belum ingin hamil, aku akan menyembunyikannya dulu sampai acara wisuda dan pesta pernikahan selesai, tapi bagaimana caranya.?


Levi melihat ada lagi tespack di lantai ternyata tantenya memberi 2 Alat tespack. Levi menyimpan alat yang asli di dalam tasnya setelah membungkusnya dengan plastik. Sedangkan alat satunya ia beri air teh hasilnya tentu saja negatif bahkan garis satu itupun terlihat kabur.


Bida keluar dari kamar mandi, langsung mencari-cari sesuatu lalu menemukan testpack di atas meja. Bida meraih alat itu.


"Syukurlah negatif."


"Mengapa kamu berharap negatif?" Levi berbaring di atas kasur menatap Bida.


"Aku malu mas jika ketahuan hamil sebelum lulus SMK. Jika sudah wisuda aku akan buatkan anak kembar buat mas Levi jika bisa kembar 3."


"Kok 3?"


"Agar jika kita berkumpul, mama, tante dan ibu megang satu-satu."


"Kita bagaimana?"


"Kita jalan-jalan berdua mas. Kan tiap hari anak-anak juga sudah bersama kita."


"Ide yang bagus. Jika Kembar 3 berarti buatnya harus 3 kali" Kata Levi menggoda Bida.


Bida hanya melongo lalu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


Sejak tahu Bida hamil, Levi menjaga Bida sebaik-baiknya.


Siangnya mereka akan makan siang di sebuah cafe tepi pantai.


"Mas kita pilih tempat di atas sana saja, pemandangannya pasti bagus."


Bida menaiki tangga dengan penuh semangat. Levi segera panik.


"Bida, stop." Levi berakting terengah-engah.


"Kenapa mas ? Mas Levi kenapa?" Bida panik,ia memeluk pinggang Levi mengajaknya turun kembali padahal baru melewati satu tangga. Sedangkan tujuan Bida di lantai 3.


"Mas Levi kelelahan, hampir 3 minggu kan mas Levi kerja keras." Bisik Levi di telinga Bida.


"Kerja keras mas. Kita kan kerjanya hanya jalan-jalan, makan, dan itu saja." Bida membantu Levi duduk di kursi dilantai dasar.


"Itu yang membuat mas Levi kelelahan. Itu perlu fisik prima."


"Oh. Berarti kita istirahat saja mas. Tidak usah melakukan itu dulu sampai mas Levi sehat. Apakah sebulan istirahat sudah cukup mas?"


"Sebulan ? Yang benar saja. Kita ini masih pengantin baru. Besok juga sudah kembali prima." Levi menunjukkan otot lengannya kepada Bida.


"Ssst...kan mas Levi sudah bilang, Jadi istri harus nurut. Besok sudah boleh. Dengar !"


"Ya mas." Bida menunduk.


Levi kasihan melihatnya. Ia menepuk pipi Bida lalu berkata "Bida, I Love you."


Bida pun tersenyum mendengar Levi mengatakan itu.


*****


Acara Wisuda berlangsung khidmat. Bida tampil angggun dengan balutan baju kebaya modern.


Bu Joko, Pak Joko dan Levi yang menemani Wisuda Bida.


Pak Joko dan Bu Joko sangat bahagia melihat putrinya yang sudah dewasa dan sudah berstatus menikah secara resmi.


Setelah acara wisuda selesai. Teman-teman Bida yang mayoritas perempuan mengerubungi Levi untuk minta foto bersama. Rona yang tampak enggan mendekati Levi.


"Kamu tampak berisi Bida." Kata Rona.


"Oh ya. Tidak juga, ini perutku masih rata."


"Perutmu rata tapi dadamu tambah penuh."


"Ah kamu ada-ada saja, mungkin bajuku yang sempit.


"Rona ayo foto dengan kakaknya Bida. Oppa itu ganteng sekali." kata salah satu temannya.


Rona hanya menggeleng.


Rombongan teman wanita Bida datang dan langsung mengerubungi Levi. Bida sampai tersisih menjauh karena ulah mereka.


"Mas kita foto bareng ya." Tanpa menunggu jawaban Levi mereka sudah berpose bergantian posisi di samping Levi membuat Bida Cemberut.


"Pasti berat jika punya tunangan Ganteng, Bida kamu harus tegas." Rona mencoba menenagkan Bida.


"Aku tidak pernah mengatakan mas Levi tunanganku, kamu yang menyimpulkannya sendiri." Bida masih tetap cemberut melihat teman-temannya masih belum tampak ingin menyudahi sesi foto bersama Levi.


"Jadi kalian belum bertunangan, tapi kalian tampak mesra sekali." Rona menatap Bida heran.


"Aku dan mas Levi sudah menikah. Kami suami istri yang sah. Mau aku tunjukkan buku nikahku?" Bida memanyunkan bibirnya lalu menghampiri Levi yang sudah terlihat kesal ingin lari dari kepungan teman-teman Bida.


Rona merasa speechless, hanya memandang kepergian Bida menuju Levi.


"Stop ! Sudah selesai foto-fotonya. Ayo kita pulang mas ! Bida terlihat sewot." Bida menarik tangan Levi menjauh. Levi tersenyum senang melihat Bida tampak cemburu dan menyelamatkannya dari teman-teman Bida


"Bida.. tunggu. Boleh aku minta no HP kakakmu? Salah satu teman perempuannya yang paling centil dan sok cantik menyiapkan HPnya.


Levi diam menunggu respon Bida sambil tersenyum. Bida langsung memasang wajah serius. "Ini mas Levi suami Bida bukan kakaknya Bida, jangan dekat-dekat mas Levi. Bida tidak suka itu." Bida sedikit mendorong temannya agar minggir. Lalu Bida kembali meneruskan berjalan sambil menggandeng tangan Levi.


Temannya melongo ekspresinya tampak bloon. Matanya berkedip-kedip tidak percaya dengan yang baru diucapkan Bida. Namun sekarang di depan matanya. Laki-laki keren yang dipanggil mas Levi itu melepas tangannya dari tangan Bida tapi kemudian meraih pundak Bida. Mereka berjalan mesra menuju mobil, Pak Joko dan Bu Joko menunggu mereka di samping mobil.


"Bida kamu keren sekali, Mas Levi suka. Suka suka suka... "


Levi menirukan gaya Meimei di film upin ipin ketika mengatakan suka suka suka.


Bida masih manyun, tidak terpengaruh dengan candaan Levi.


Di dalam mobil, Bida masih saja cemberut. Pak Joko paham situasinya. Pak Joko hanya saling menatap dengan Bu Joko lalu mereka tersenyum.


Bida... bersyukurlah kamu berjodoh dengan nak Levi yang ganteng juga kaya raya. Bersabarlah karena semakin tinggi pohon maka pohon itu akan semakin goyah ketika diterpa angin.


Pak Joko hanya bisa menasehati Bida dari dalam hati.


Sampai di rumah Bida langsung masuk rumah. Ia tidak menunggu Levi yang masih mengunci mobil.


Pasti Bida masih marah karena cemburu. Levi tersenyum senang namun kemudian khawatir karena itu tidak bagus untuk wanita hamil.


Levi segera menyusul Bida ke dalam kamar. Bida masih di dalam kamar mandi. Levi menunggunya sambil berbaring di tempat tidur sambil memainkan HP nya.


"Mas Levi..."


"Hmmm.." Levi menyahut tanpa menoleh ke arah Bida.


Tiba-tiba, Bida naik ke atas tubuhnya. Levi kaget melihat Bida menggunakan lingeri warna merah menyala kontras dengan kulitnya yang putih.


"Bida... kamu..."


Levi tidak meneruskan kalimatnya karena Bida sudah menekan bibirmya ke bibir Levi.


Bida jika seperti ini reaksimu jika cemburu maka aku akan membuatmu cemburu setiap hari. Batin Levi


Hari ini adalah hari paling berkesan bagi Levi karena untuk pertama kalinya Bida bersikap berani mendominasinya.


*****


Resepsi pernikahan berlangsung meriah dan elegan di hallroom hotel milik Levi di kota *****. Levi cemberut mengetahui bahwa kegiatan resepsi terasa melelahkan. Levi akhirmya permisi dari sisi Bida lalu berbisik kepada mama dan tantenya bergantian tentang kehamilan Bida dan rencana Levi merahasiakannya.


Tante dan mamanya sangat terkejut lalu berunding sebentar. Kemudian Mira mengajak Bida kembali ke kamar karena ia beralasan mamanya levi sedang kambuh vertigonya. Mc tetap menghibur para hafirin dengan mengalihkan ke acara hiburan.


Bida menemani mama mertuanya di kamar hotel. Bida mengambil minyak kayu putih lalu memijiti kaki mama mertuanya. Karena masih pakai baju pengantin Bida kesulitan bergerak. Ketika hendak pindah posisi justru sisi jariknya keinjak. Bida hampir jatuh membentur nakas. Bu Dewi berteriak panik.


"Bida, hati-hati."


Bu Dewi merasa bersalah, ia bangun memegang Bida lalu meminta Bida ganti baju. Bu Dewi membantu Bida ganti baju. Bu Dewi melihat perubahan fisik khas pada orang hamil. Dada Bida yang memang sudah big size terlihat semakin penuh.


"Sayang ayo sini rebahan disini. Mana yang sakit sayang ? Tadi kakimu tersandung kaki meja ya. Bu Dewi mengoleskan minyak kayu putih di kaki Bida.


Tante Mira datang ke kamar.


"Bida kenapa? "


"Bida tersandung kaki meja, ia hampir jatuh."


Levi datang tepat ketika tante Mira menyebut kata jatuh. Tadi Levi masih menerima beberapa tamu kolega bisnis sehingga baru bisa menemui Bida.


"Sayang kamu jatuh, mana yang sakit?" Levi panik. Ia naik ke kasur tempat Bida berbaring..


"Aku tidak sakit mas. Mama yang kambuh vertigonya tadi aku mijiti mama terus mau ganti posisi tapi aku tidak sengaja menginjak bajuku sendiri akhirnya aku hampir jatuh kakiku menabrak kaki nakas."


Bida bangun mengusap kakinya yang lecet sedikit.


"Mama sudah baikan sayang, ia tadi mama pusing tapi sekarang sudah tidak." Bu Dewi mencoba menjelaskan.


Mama, tante Levi mau berdua bersama Bida ya sebentar saja. Levi menatap mama dan tantenya. Meski tidak mengatakan apa-apa, mama dan tantenya paham arti tatapan Levi.


Bu Dewi dan Mira keluar dari kamar. Tapi mereka masih di depan kamar menunggu.