
Mentari pagi mengintip di ufuk timur sedang mempersiapkan diri bersinar cerah. Pak Joko terbangun kaget.
"Bu bangun, sudah pagi."
"Loh Pak, ini hampir terang, kok bisa ya ibu bangun kesiangan." Bu Joko. bergegas bangun disusul Pak Joko.
Pak Joko menggunakan kamar mandi bergantian. Bida menggeliat, lalu memicingkan mata melirik jam di dinding kamarnya.
"Wah jam set 6." Sebenarnya tadi Bida mendengar adzan subuh tapi karena haid dan masih mengantuk, akhirnya Bida ingin tidur lagi sebentar.
Bida langsung meloncat dari kasurnya lalu keluar kamar. Karena tergesa-gesa, Bida lupa bahwa ia masih menggunakan gaun tidur.
Gaun tidur Bida bukan lingeri tapi merupakan dress tanpa lengan, selutut berbahan rayon tipis yang nyaman dipakai. Bu Joko yang membuat polanya sendiri, Bida yang membantu menjahit. Bida tidak menggunakan Bra ketika tidur, membuat lekuk tubuhnya tercetak jelas di bawah sinar lampu. Bida hanya menggunakan gaun itu ketika tidur, namun kadang Bida malas menggunakan baju rangkap jika ke kamar mandi di tengah malam. Setelah tahu ada para mahasiswa menginap di rumahnya, Bida selalu pakai baju rangkap jika ke kamar mandi meskipun di tengah malam.
Namun saat ini Bida benar-benar lupa keadaan dirinya. Yang ia pikirkan hanya ibunya yang kerepotan di dapur menyiapkan sarapan.
Levi yang ingin ke kamar mandi, berjalan setengah mengantuk. Setelah sholat subuh, Levi sibuk dengan laptopnya di kamar. Lalu kembali tidur karena masih mengantuk.
Brak. Bida keluar kamar, menabrak Levi yang sedang berjalan. "Bida... jantung Levi serasa copot karena kaget, Levi merasakan tabrakan dada Bida di tubuhnya." Levi terperanjat melihat pemandangan indah di hadapannya. Bidadari cantik itu tadi menempel erat ditubuhnya dengan benturan agak keras lalu mundur namun karena pintu kamar di belakangnya tertutup maka Bida tidak bisa mundur lagi.
"Maaf mas, aku tidak sengaja."
Ya ampun, apa itu? Levi samar-samar melihat bayangan lekuk tubuh Bida di bagian depan gaun tidurnya.
Terdengar suara Miki dan Deni bercanda di dalam kamar sebelah sepertinya mereka sedang melangkah keluar kamar.
Levi tidak ingin mereka melihat Bida seperti ini. Levi membuka pintu kamar Bida lalu mendorong tubuh Bida masuk ke dalam kamarnya. Levi yang tubuhnya tinggi kekar itu, mendorong Bida tergesa-gesa, Bida yang didorong kebelakang tiba-tiba, tidak siap dan akhirnya jatuh terjengkang ke belakang. Spontan Levi berusaha melindungnya namun yang terjadi adalah Bida terjatuh dengan tubuh Levi di atas tubuhnya. Bukan hanya itu karena gerakan kaki levi membuat pintu kamar tertutup.
Sejenak Levi dan Bida saling menatap tertegun, tidak sadar dengan keadaan mereka. Lalu Levi segera sadar, tangan Levi berhasil melindungi kepala Bida dari kerasnya lantai. Tapi sialnya tangan satunya ada di atas dada Bida.
"Maaf.... Levi tergagap, berusaha bangkit dan menarik tangannya pelan dari belakang kepala Bida."
"Bida hanya diam masih syok dengan keadaannya"
Levi sudah berdiri, sedangkan Bida masih terlentang di lantai, dengan rok yang tersingkap hingga paha mulusnya terekspos.
"Bangunlah ! Levi mengulurkan tangannya."
Bida langsung tersadar dengan keadaannya, lalu menerima uluran tangan Levi yang membantunya berdiri. Bida segera menyambar baju dress panjang berbahan katun yang digantung di belakang pintu kamarnya lalu bergegas memakainya.
Levi sempat melihat Bida yang melewatinya untuk mengambil baju itu.
"Bida... kamu tidak apa-apa? Kamu berdarah? Kamu terbentur lantai."
"Bida berkaca lalu mengusap kepalanya tapi tidak menemukan darah di tangannya. Juga tidak merasa terluka."
"Bukan di situ, darahnya ada di sini." Tanpa sungkan Levi menyingkap baju rangkapan Bida dan menunjukkan noda merah di gaun tidur Bida yang berwarna putih.
Bida langsung mundur, Bida merasa sangat malu atas kelakuan Levi. Bida menyadari bahwa ia mengalami kebocoran karena sedang haid.
Levi yang belum muncul kewarasannya justru menggendong Bida dengan paksa lalu merebahkannya ke atas tempat tidur.
"Istirahatlah, aku akan panggilkan Pak Joko."
"Jangan sampai ada yang tahu jika mas Levi ada di kamar Bida." Bida bangun lalu mengunci pintu kamarnya segera.
"Ya. tapi kamu berdarah. Jangan pikirkan yang lain dulu, kesehatanmu yang paling penting."
"Mas, Bida tidak apa-apa. Bida sedang haid." Akhirnya Bida mengucapkannya setelah lama terdiam.
Tok tok tok "Bida ayo kita sarapan." Suara ibu menambah panik Bida. Bida sekarang berdiri di belakang pintu kamar berusaha menahan pintu kamarnya padahal Bida sudah menguncinya
Kewarasan Levi berangsur pulih. Bagaimana ini? Apa yang telah aku lakukan? Bida menabrakku, aku mendorongnya masuk kamar, aku membuatnya terjatuh, aku menindihnya, tanganku di dadanya, aku menyingkap bajunya, aku menggendongnya, membaringkannya di kasur, dan aku sekarang berdua di dalam kamar dengan Bida.
Sedangkan Bu Joko ada di depan kamar.
Levi panik menatap Bida yang semakin pucat.
Bida meletakkan tangannya dibibirmya memberi isyarat agar Levi diam.
"Bida... bisa ibu masuk?" Bu Joko ternyata masih di depan pintu kamar Bida.
Bida mendekati Levi lalu menariknya dan menyuruhnya masuk ke lemari gantung di kamar Bida kemudian menguncinya dari luar.
Bida membuka pintu kamarnya. Bu Joko masuk lalu duduk di tempat tidur.
"Bida, acara wisudamu kan 10 hari lagi, ibu akan sewakan kebaya yang bagus dan mendatangkan perias kemari."
"Ya bu."
"Kamu kok pucat, apakah kamu sakit?"
"Tidak bu, Bida sehat. Bida hanya anemia mungkin karena sedang haid."
"Oh ya juga. Ibu tinggal dulu ya. Pasti semua sudah siap di ruang makan."
"Ya bu. Bida bangkit, mengapit lengan ibunya menuntunnya segera menuju pintu kamar."
Setelah ibunya keluar, Bida kembali mengunci kamarnya lagi, lalu duduk di tempat tidur dengan masih berdebar-debar. Debaran itu sudah sejak tadi melanda dan semakin intens dengan kedatangan ibunya.
Bida mengambil nafas. lalu menuju lemarinya.
Levi di dalam lemari tertutup mulai merasa kekurangan oksigen. Levi yang tubuhnya jangkung harus berdiri setengah menunduk di antara baju-baju Bida. Bahkan ada Aneka Bra dengan cup lumayan besar tergantung di hanger kecil di dalam lemari tersebut.
Begitu pintu lemari dibuka, Bida bisa melihat wajah Levi diantara bajunya. Levi keluar dari lemari, sedikit pincang karena kakinya kesemutan menahan beban tubuhnya yang meringkuk. Bahu Levi tidak sengaja menyenggol hanger hingga membuat Bra merah yang tadinya tergantung jatuh di lantai.
Bida panik memungut bra tersebut, melemparnya ke dalam lemari lalu bergegas menguncinya lagi.
"Mas, cepat keluar." Bida mendorong tubuh Levi ke arah pintu lalu Bida membuka pintu kamar sedikit, mengedarkan pandangannya, dan memberi kode kepada Levi untuk keluar.
Levi segera keluar kamar. Oh untung tidak ada yang melihat, aku keluar dari kamar Bida.
Levi mengelus dadanya lega.
Tanpa Levi sadari, Roni terpana melihat Levi keluar dari kamar Bida.