Jodoh Gadis Indigo

Jodoh Gadis Indigo
Lihat Saja Nanti


Jodi ingin melanjutkan penjelasannya ketika suara HP nya berbunyi tanda ada pesan masuk. Jodi meraih HP nya, ada pesan masuk dari Roni. Roni menoleh ke Roni yang berpura-pura tidak mengetahui jika Jodi memandangnya.


Diamlah ! jangan komentar apapun. Aku mohon... ----Roni


??? ---- Jodi


Jangan ikut campur urusan Levi. ---- Roni


" Maksudmu apa sih Ron, pakai w.... aow " Jodi tidak melanjutkan ucapannya karena Roni menendang kakinya keras.


"Jodi, kita ke depan yuk, aku gerah." Roni berdiri lalu Jodi mengikutinya.


Sampai di depan kamar depan, Roni langsung menarik Jodi ke dalam kamar.


Roni yang kaget, berusaha melepaskan diri.


"Kamu kenapa sih Ron, kamu dan Levi memang aneh. Kamu mau saja disuruh ini itu juga selalu mendukung Levi. Memangnya kamu pembantunya."


"Ya. benar mirip seperti itu. Aku asistennya." Levi tidak sadar telah mengatakannya.


Aah... mengapa aku mengatakannya?


"Dengarkan aku baik- baik, tapi jangan ceritakan kepada siapapun !" Roni menarik krah baju Jodi lalu segera melepaskannya.


"Ada apa sih?"


"Kamu pernah aku ajak ke rumahku kan? kamu tahu kondisiku ekonomi keluargaku kan? Aku bisa kuliah karena program bidik misi. Aku menjadi asisten Levi. Aku memanggilnya mas Levi karena memang ia bos ku."


"Bos ?" Jodi terkekeh he he he....Memang sih Levi suka nraktir kita. Levi juga pernah ngundang kita ke apartemen dan menjamu kita. Tapi bukan berarti dia Bos yang bisa nyuruh kamu seenaknya. Memangnya kamu digaji tiap bulan?" Jodi bernada meremehkan.


Roni mengintip keluar kamar. Setelah memastikan situas aman. Roni duduk di kursi yang ada di dalam kamar, sedangkan Jodi masih berdiri menunggu jawaban Roni.


"Jodi jangan pernah menceritakan hal ini kepada siapapun. Benar, aku digaji Levi tiap bulan. Aku sangat beruntung bisa kenal dengan Levi. Aku tidak pernah minta kiriman uang dari ibuku. Aku menjadi tenaga cleaning service di apartemen Levi. Lalu aku bertemu Levi di sana. Levi akhirnya memintaku menjadi asistennya. Aku bertanggung jawab membersihkan apartemennya secara pribadi. Aku hanya membersihkan unit yang ditempati Levi saja dan mengurus rumah kos miliknya dan laporan keuangan serta beberapa keperluan lainnya. Aku mendapat gaji yang lumayan untuk tambahan biaya hidupku. Bahkan aku bisa sesekali membelikan sesuatu buat adikku."


"Keren banget si Levi. Jadi Levi punya rumah kos di Malang. Dimana?"


"Kamu tidak akan percaya." Roni membuat Jodi semakin penasaran.


"Levi adalah pemilik tempat kos tempat Miki. Itu adalah miliknya pribadi yang dibelinya dengan uangnya sendiri. Sedangkan apartemen itu adalah milik keluarganya."


"Gila... setajir itu si Levi. Tempat kos Miki termasuk mewah dengan kamar mandi dalam dengan pemanas air di dalamnya, free wifi dan biaya sewanya sudah include. Miki sering membanggakan tempat kosnya yang nilai sewanya 1,7 juta per bulan. Berapa kira-kira harga unit apartemen itu? 400 juta kah?"


"Kamu sok pintar tapi nyatanya ndk pintar." Roni menonjok lengan Jodi.


"Memangnya berapa? 300 juta atau 500 juta? Setajir itu tapi penampilannya biasa saja. Levi memang keren dan tidak sombong."


Pletak Jodi memukul dahi Jodi keras-keras


"Wadaow" Jodi mengaduh


"Levi bukan hanya pemilik satu unit apartemen, tapi hampir semua apartemen di gedung itu. Karena sebagian sudah terjual, sebagian lagi disewakan."


Mulut Jodi menganga lebar dan tidak berkedip.


Plok Roni menepuk pipinya pelan


"Aku perjelas ya. Bangunan 20 lantai dengan jumlah unit ribuan itu milik keluarga Levi. Aku digaji 4 juta tiap bulan belum termasuk bonus. Bonusku sangat lumayan"


"What ! Aku mau juga daftar jadi asistennya Levi." Jodi bergegas mau keluar kamar.


Roni langsung mencengkram lengannya.


"Aku belum selesai. Levi memintaku merahasiakan ini semua. Aku tidak mau dipecat gara-gara ulahmu.!"


"Rahasiakan ini ! Untukmu juga, karena Levi adalah ketua tim kita dan Levi sangat dikenal oleh pihak kampus. Jangan katakan aku tidak memperingatkanmu. Kamu cukup diam saja. Jangan cari perkara dengan Levi. Kamu tidak tahu apa yang bisa dilakukan Levi jika marah."


Roni menjelaskan dengan wajah serius, lalu keluar kamar, Jodi mengikutinya kembali ke ruang tengah.


#Di ruang tengah


"Bida... tidak pernah merepotkan bapak. Bida selalu membanggakan bapak." Pak Joko paling tidak tahan melihat Bida bersedih.


Awas kau Jodi. Aku tidak akan diam saja. Levi menahan marah melihat ekspresi Bida.


"Mas Levi, maaf ya. Lebih baik mas Levi fokus ke KKN saja, biar bapak minta bantuan Pak Muhit saja." Bida mengangkat wajahnya menghadap Levi.


"Tidak apa-apa Bida. Mas Levi juga punya kenalan kontraktor yang bisa membantu. Bida percaya saja pada mas Levi." Levi memandang ke mata Bida yang tampak basah.


Bida jangan sampai air matamu jatuh. Jika air matamu sampai jatuh maka Jodi akan semakin kubuat menderita.


"Sudahlah Bida, jangan seperti ini. Ibu mengenggam tangan Bida."


Bida tersenyum namun air matanya jatuh melewati lesung pipit di kedua pipinya.


Jodi dan Roni kembali ke ruang tengah. Levi mengepalkan tangan di pangkuannya sambil menatap tajam pada Jodi.


Jodi mulai mempelajari penjelasan Roni.


Pasti Levi marah aku katakan salah hitungan karena Levi adalah pebisnis dalam bidang properti. Gengsinya sangat besar hingga tidak mau disebut salah di depan orang lain. Padahal sepandai-pandainya tupai melompat pasti akan jatuh juga. Jelas sekali Levi salah perhitungan tapi tidak mau mengakuinya.


Tapi aku akan diam saja, aku pilih aman. Yang terpenting selama KKN, Levi yang paling banyak keluar biaya. Bahkan Levi yang membantu membuat laporan serta mengirimkannya ke dosen pembimbing.


Deni dan Miki mengakui kebenaran ucapan Jodi tapi melihat Bida yang tampak kecewa, membuat mereka diam. Bida tampak sangat sedih bukan karena khawatir gagal memiliki kamar mandi mewah, namun Bida tampak sangat sedih karena merasa membebani orang tuanya. Sedangkan Levi wajar saja jika salah perhitungan karena akhir-akhir ini Levi tampak semakin bodoh, entah apa penyebabnya.


"Maaf Pak, Bida permisi dulu, Bida mengantuk."


"Baiklah, tidurlah."


"Bida permisi..." Bida berdiri, menganggukan kepalanya, lalu pergi menuju kamarnya.


"Nak Levi, tolong buatkan saja kamar mandi yang seperti Bida inginkan, atau minimal hampir sama."


"Jangan memikirkan membuat kamar mandi di kamar kita dan tidak perlu merehap dapur pak. Bida yang terpenting." Bu Joko tampak khawatir.


"Ya bu. Lebih baik ibu tidur dulu." Pak Joko mengajak Bu Joko bangkit dari duduknya.


"Jangan kuatir pak, percayakan kepada saya." Levi menatap Pak Joko yang tampak murung.


"Terima kasih nak Levi." Bapak permisi juga.


"Ya. Pak."


Setelah Pak Joko dan Bu Joko masuk ke kamarnya. Levi langsung menatap tajam ke arah Jodi.


"Jodi, jangan campuri urusanku ! Urus saja dirimu sendiri ! Aku sudah menghitungnya dengan cermat, kau tidak perlu komentar. Mengerti ! Levi mengatakan semuanya dengan volume suara biasa, namun nadanya tinggi disertai sorot mata tajam."


"Tidak ada satupun dari kalian yang boleh komentar soal biaya rehap rumahnya Pak Joko." Levi menunjukkan jari telunjuknya ke seluruh temannya.


"Kamu,..." Levi menatap Roni.


"Ya."


"Jangan ikut-ikut mereka melawanku."


Roni hanya menganggukkan kepalanya tanda menyanggupi permintaan Levi.