
Levi dan Bida tiba di depan unit apartemen yang ditinggali Bu Dewi.
Setelah menekan bel, pintu terbuka. Bu Dewi mempersilahkan Levi dan Bida masuk.
"Pagi sekali, kalian sudah datang. Bagaimana kabarmu Bida?"
"Baik ma." Bida tersenyum sambil menganggukkan kepalanya sedikit ke Bu Dewi. Mira menatap Bida dari ujung kaki hingga kepala. Bida risi diperhatikan seperti itu.
"Oh ini yang namanya Bidadari..... cantik. Levi memang pinter milih istri. Kenalkan sayang, aku tante Mira, tantenya Levi."
Mira menyodorkan tangannya, Bida menyambut tangan Mira.
Cantik sekali tante Mira ini. Mungkin karena a begelut di dunia model sehingga selalu menjaga penampilan.
"Sayang, apa hobimu?" Mira masih saja memperhatikan Bida.
"Menjahit tante."
"Benarkah ? Aku suka ini. Kak Dewi, kau dengar Levi memberiku partner." Mira memprovokasi bu Dewi.
Aku bukan hanya akan merebut simpati anakmu tapi juga menantumu. Mira tersenyum ke arah bu Dewi.
"Apakah kalian sudah sarapan ?"
Bu Dewi menatap Levi dan Bida.
"Sudah ma. Rencana Levi mau mengajak Bida jalan-jalan lalu mengantar Bida pulang sekalian mengurus legalitas pernikahan kami."
"Benarkah itu? Kamu akan berangkat hari ini, bukan minggu depan?" Bu Dewi mencoba menatap dalam ke mata Levi untuk meyakinkannya.
"Ya. ma. Jangan membuat Levi ragu-ragu lagi. Levi sudah membulatkan tekad untuk memutuskannya."
Ma... sulit rasanya bagi Levi untuk tinggal satu apartemen berdua saja dengan Bida tanpa menginginkannya. Maka itu legalitas pernikahanku harus terlaksana dulu. Agar aku tidak ada beban melakukannya, juga aku ingin menarik perhatian Bida kepadaku pelan-pelan. Aku ingin Bida menginginkanku sebagai seorang wanita kepada seorang laki-laki.
"Kalian bicara apa sih ?" Mira yang bergelut di dunia model yang glamour tidak ngeh dengan pembicaraan Levi dan mamanya.
"Baiklah Vi. Jangan gunakan terranomu. Pakailah mobilmu yang lain. Juga bawakan oleh-oleh buat mertuamu. Jaga martabat keluarga Braveano!" Bu Dewi berkata tegas.
"Memangnya kenapa kak Dewi?" Mira menatap kakak iparnya yang terlihat agak kesal.
"Mira, perlu kamu ketahui ya, Levi ini memberi mahar kepada Bida senilai 3 juta. Levi selama KkN tinggal di rumah Bida dengan 4 orang temannya secara gratis baik penginapan maupun makan. Mereka KKN selama sebulan. Sedangkan Levi dan asistennya Roni tinggal di sana hampir 2 bulan tanpa membayar apapun."
"Benarkah ? Levi.... kamu bisa begitu ya" ck ck Mira berdecak tidak percaya.
"Maaf tidak begitu kok kejadiannya. Mas Levi baik suka membelikan Bida baju dan makanan. Bida sampai kasihan ke mas Levi. Sekarang ini, pasti mas Levi sudah keluar banyak biaya buat biaya rumah sakit kemarin. Mas Levi kan baru sakit."
Levi tersenyum bangga melihat Bida membelanya.
Sedangkan Mira dan Bu Dewi heran dengan kalimat pembelaan Bida.
"Bida... apakah kamu tidak mengenal Levi dengan baik?" Mira menatap Levi tajam.
Bida tidak paham, arti tatapan Mira kepada Levi.
"Apa maksud tante Mira? Bida tahu mas Levi masih kuliah sambil bekerja di bidang kontraktor seperti membuat desain bangunan seperti itulah kata mas Levi."
Levi senyum cengar cengir membuat mama dan tantenya kesal.
"Levi bisa-bisanya kamu tidak menceritakan yang sebenarnya. Bidadari cantik ini bahkan bisa mencintaimu sebesar itu tanpa tahu kondisi ekonomi keluarga kita. Kamu benar-benar hebat ya."
"Maksud tante kondisi ekonomi apa? Bida tahu mas Levi orang kaya buktinya mas Levi bisa tinggal di apartemen mewah ini. Pasti sewanya mahal. Tapi meskipun orang kaya mas Levi mau menerima Bida yang orang biasa. Ia kan mas Levi ?" Bida menatap Levi seperti ingin Levi menyatakan bahwa Levi menerima Bida apa adanya.
"Ya ampun. Ini seperti drama saja. Aku jadi bingung." Bu Dewi menopang wajahnya dengan tangannya.
Levi masih senyum-senyum
"Tentu saja Bida sayang, mas Levi sangat mencintai Bida apa adanya." Levi merangkul pundak Bida, membawanya merapat ke tubuhnya."
"Bida. Levi tidak menyewa apartemen ini. Apartemen ini milik Levi." Mira mulai kesal.
"Ya mas ? Mama membelikan apartemen buat mas Levi untuk tinggal selama kuliah ? Apartemen kan mahal mas. Bida pernah lihat di brosur. Harga unit apartemen itu mahal mas bisa lebih dari 500 juta. Bida tidak menyangka mas Levi berasal dari kalangan sekaya itu mau tinggal di rumah Bida yang sederhana."
"Levi.. mama tidak suka kesalahpahaman ini. Kamu harus jelaskan kepada Bida semuanya pelan-pelan."
"Jelaskan sedikit saja. Kamu lihat Bida sangat mengkhawatirkanmu dalam hal keuangan. Jangan-jangan nanti Bida yang akan membayarimu ketika makan di luar." Bu Dewi terlihat semakin jengkel kepada Levi.
"Kok mama tahu? Tadi saja Bida menawarkan akan membayar sarapan tadi."
Tok tok
Sebuah remot AC mendarat di dahi Levi.
Mira mengetuk dahi Levi dengan remot AC
"Kamu keterlaluan. Jika kamu tidak mau menjelaskan biarkan tante yang menjelaskan. Dasar pelit kamu."
Mira bersungut kesal kepada Levi. Levi semakin melebarkan senyumnya. Sementara Bida tampak tidak mengerti.
"Levi pergilah belikan sesuatu untuk Bida. Mama juga akan membelikan Bida sesuatu, nanti mama akan bawa ketika berkunjung ke rumah Bida bersama tante Mira dan yang lain. Sekarang pergilah kalian bersenang-senang."
"Ok. Ayo Bida kita pergi. Permisi mama, tante..." Levi mengajak Bida keluar dari apartemen mamanya.
Mira masih memandang Levi dengan tatapan tajam hingga Levi menghilang dari balik pintu.
"Kak Dewi. Leviku memang yang paling keren dan membanggakan. Leviku bisa mendapatkan cinta gadis secantik itu tanpa mengungkap kekayaannya. Aku ingin segera punya cucu dari Levi. Aku akan mengajak cucuku jalan-jalan. Aku akan dipanggil uti. Wah menyenangkan sekali." Mira mulai berkhayal.
Bu Dewi merasa tidak suka mendengar Mira menyebut kata Leviku dan cucuku. namun kemudian ikut berkahayal seperti yang dikatakan Mira.
Levi itu anakku bukan anakmu. Anaknya Levi adalah cucuku bukan cucumu. Aku akan mengajak cucuku main di mall. Pasti menyenangkan jika ada anak kecil mungil memanggilku grandma.
Bu Dewi tersenyum sendiri.
Levi berjalan sambil melingkarkan tangannya di pinggang Bida. Ketika melewati pintu apartemennya, Levi berhenti sejenak.
"Bida kita mampir ke kamar dulu ya, sebentar saja ?" Kata Levi menatap Bida sayu.
"Kenapa mas, mas Levi mau pipis dulu ya ?" Ayo mas daripada nanti kebelet ketika jalan-jalan. Bida salah persepsi dengan kalimat Levi.
Levi menatap wajah polos Bida.
Bida... mas Levi tidak berencana sampai tahap itu tapi mas Levi hanya ingin bermesraan denganmu sebentar saja.
Sampai di dalam apartemen, Levi duduk di sofa lalu menarik tubuh Bida di atas pangkuannya. Mengecup pelan bibirnya namun mengetahui deru nafas Bida yang sama dengannya membuatnya lupa pada rencananya tidak akan sampai tahap itu. Yang terjadi kemudian adalah Levi membawa Bida hingga meraih puncak bersama. Pakaian mereka berserakan di ruang tamu. Mereka terbaring kelelahan di kamar.
"Bida..."
"Apa mas ?" Bida mengeratkan pelukannya ke tubuh Levi.
"Nanti di rumahmu, kita tidur terpisah ya. Kita akan tidur bersama lagi ketika surat nikah kita sudah jadi."
"Ya mas. Bapak dan ibu jangan sampai tahu ya mas jika kita sudah melakukan ini."
Wajah Bida merona karena malu.
"Melakukan apa?" Levi menggoda Bida.
"Ya ini mas." Bida menempelkan badannya semakin erat ke tubuh Levi.
Levi terkekeh lalu mengubah posisinya di atas Bida bertumpu di kedua tangannya.
"Apakah seperti ini maksudmu?" Levi menatap wajah Bida yang memerah.
Bida mendorong tubuh Levi menjauh namun tubuh Levi tidak bergerak sama sekali.
Levi tersenyum menggoda Bida.
"Ayo kita mandi. Kita harus membeli sesuatu lalu pulang ke rumahmu. Tapi jika Bida masih menginginkannya lagi, kita bisa mengulanginya."
"T tidak mas. Aku sudah capek."
Bida bangkit lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. Tapi ketika Bida menarik selimut itu, justru tubuh polos Levi yang tampak olehnya. Ia kembali menutupkan pada tubuh Levi tapi justru tubuhnya yang terbuka karena selimutnya hanya satu. Bida mengambil bantal dan menutupkanya pada bagian bawah Levi sedangkan selimutnya ia pakai menutupi tubuhnya.
Levi terkekeh melihat wajah Bida yang merah karena menahan malu sambil berlalu ke kamar mandi.