
# Apartemen
Setelah Levi tertidur tenang, bu Dewi memanggil Dokter Didi untuk menanyakan kondisi Levi.
Dokter Didi segera melakukan pemeriksaan.
"Istirahatlah bu Dewi. Levi tidak apa-apa. Detak jantungnya sudah normal."
"Syukurlah. aku akan ke apartemen Levi. Kamu jangan pernah berani meninggalkan Levi sebelum aku datang." Bu Dewi menunjukkan jarinya kepada Roni.
Bu Dewi masuk ke apartemen Levi setelah minta kode baru kepada petugas IT karena pintu Levi baru diperbaiki. Bu Dewi masuk ke kamar Levi lalu tertegun melihat foto ukuran besar yang terpajang di dinding kamar.
Foto tersebut adalah foto yang diunggah Ayu di istagramnya. Bu Dewi memang tidak mengikuti ig Ayu. Ia mendapat foto tersebut dari Sisi pegawainya. Ia membuka HP nya. Ada 10 panggilan masuk dari Mira.
Bu Dewi mengirim pesan kepada Mira.
"Jangan pernah menemui Levi sebelum menemuiku." ---- Dewi.
"Aku di perjalanan, aku akan menemui Kak Dewi jika aku sampai Kota ****" ---- Mira.
Bu Dewi berusaha memejamkan matanya, lalu ia pun tertidur.
# Bida di rumahnya
Bida berusaha memejamkan matanya namun tidak bisa tertidur. Pikirannya terus dipenuhi Levi.
Sudah hampir 2 tahun mas Levi pergi. Mas Levi selalu mengirimiku paket. Artinya mas Levi tidak melupakanku. Tapi mengapa aku merasa cemas. Besok adalah hari ulang tahunku yang ke 17, aku akan membeli ponsel dengan uang tabunganku. Aku belum pernah menggunakan uang di ATM itu. Apakah aku harus menggunakannya? Karena kata mas Levi aku harus mentaati semua aturannya. Hanya penggunaan ATM itu yang tidak aku laksanakan karena bapak selalu memberiku uang saku. Mas Levi juga sering mengirimkan paket dari on line shop jadi aku tidak merasa perlu membeli apa-apa. Besok aku akan mengambil sedikit saja untuk membeli casing HP ku. Tapi meskipun aku punya HP , aku tidak tahu nomer HP mas Levi. Sudahlah aku akan tidur karena besok hari terakhir aku ujian kelulusan. Aku akan segera lulus karena aku mengikuti program akselerasi.
Bida memejamkan matanya lalu tertidur.
*****
Levi terbangun melihat kondisi di sekitarnya. Ia menatap slang infus di tangannya. Roni duduk di sofa, matanya terpejam karena masih tertidur pulas.
Levi mencoba mengingat semuanya. Levi merasakan kepalanya masih berdenyut pusing.
Mengapa hal ini harus terjadi kepadaku? Aku tidak ingin melihat wajah Diana lagi.
Levi menekan tombol panggilan perawatan. Didi datang menemuinya. Roni terbangun karena ada yang membuka pintu klinik.
"Dokter Didi, mengapa aku diinfus? Ayo buka ini. Aku mau ke kamar mandi." Levi memanggil sebutan dokter tapi bahasanya tidak formal karena ia sudah kenal dekat dengan teman kakaknya itu.
"Mamamu yang minta kamu diinfus. Daripada aku kena marah ya sudah aku lakukan saja. Sebentar aku akan ambil perlengkapan."
Didi keluar kamar untuk mengambil perlengkapan.
Harusnya ini pekerjaan perawat namun karena kamu anaknya Bu Dewi maka aku akan melakukannya.
Roni menghampiri Levi, "Bagaimana keadaanmu mas?"
"Aku baik-baik saja, untunglah aku memasang tombol panggilan darurat di ruang tamu dekat sofa. Jika tidak setan itu pasti berhasil....." Levi mengepalkan tangannya.
"Berhasil apa mas?" Roni menggoda Levi karena Ia sudah melihat rekaman CCTV nya.
"Kamu ini... Aku tidak ingin membahasnya lagi."
Dokter Didi datang membawa perlengkapannya. Setelah melepas jarum infus itu. Dokter Didi tersenyum senyum sendiri.
"Bida... Bida ... Aaah" Dokter Levi menirukan ucapan Levi ketika fly.
"Siapa Bida itu? Kamu terus mengatakannya, kamu mikirkan apa sih ketika sedang fly tadi malam" Dokter Didi mengedipkan matanya ke arah Levi.
"Oh itu... bukan urusanmu " Levi sangat malu meski ia berkata ketus tapi wajahnya memerah.
"Baiklah karena kamu sudah baikan, akhirnya aku bisa istirahat dengan tenang. Aku akan kembali ke kamarku." Dokter Didi keluar ruangan.
Levi bangkit menuju toilet.
"Roni tunggu disini, kita harus bicara"
"Ya mas."
Setelah keluar dari toilet, Levi duduk di sofa menghadap Roni.
"Aku tidak mau masalahku tersebar dan aku tidak ingin membicarakannya lagi. Aku akan urus masalah ini sendiri."
"Ya mas."
"Kita membicarakan Bida saja. Hari ini ulang tahun Bida yang ke 17, aku ingin mengiriminya HP yang sudah aku isikan no dan mensetting wallpappernya dengan fotoku bersamanya. Rencananya aku akan kirimkan pagi ini tapi karena kejadian kemarin membuat kacau rencanaku."
"Aku akan bantu mengurus HP itu mas. Maaf ya mas, makanan yang kamu pesan itu restonya sangat ramai. Aku jadi terlambat hingga kejadian itu terjadi. Hebat kamu mas bisa sekeren itu."
"Maksudmu? Apanya yang keren ?"
"Aku dan mamamu melihat rekaman CCTV mas, kamu bisa menahan diri seperti itu. Padahal dia cantik."
"Keren katamu. Aku merasa lemah Ron. Aku ingin sekali menyeretnya keluar tapi tubuhku tidak berdaya lemah sekali. Mama... ah ya aku ingat. Dimana mama sekarang?"
"Istirahat di apartemenmu mas."
# Di depan kamar klinik
Bu Dewi hendak menjenguk Levi namun ia berhenti, mendengar perbincangan Levi dan Roni yang terdengar dari celah pintu yang sedikit terbuka.
HP bu Dewi berbunyi tanda ada pesan masuk.
Aku sudah di depan apartemen kak. ---- Mira
Baiklah tunggu sebentar ---- Dewi
Bu Dewi menuju apartemen Levi untuk menemui Mira.
****
"Kak Dewi bagaimana kondisi Levi?" Mira mulai meneteskan air mata.
Melihat kondisi Mira. Bu Dewi yakin bahwa Mira tidak terlibat dalam urusan Diana.
"Aku tidak tahu rencana Diana kak. Aku sudah memecatnya. Aku tidak ingin masalah ini tersebar. Levi sudah seperti anakku. Aku menamatkan karir Diana di dunia Model dengan caraku sendiri nanti. Jangan tuntut Diana, nanti masalah ini bisa tersebar. Kasihan Levi."
"Baiklah aku juga berpikir begitu. Tapi kamu harus membantuku. Aku akan biarkan kamu menjaga Levi. Biarkan Levi istirahat di klinik selama semalam lagi. Karena aku ada keperluan. Ingat anak buahmu hampir mencelakai Levi. Sekarang aku minta kamu menjaganya. Kamu harus pastikan Levi tetap istirahat di klinik selama semalam lagi."
"Tentu Kak Dewi. Aku akan menemui Levi sekarang."
"Sebentar, apakah kamu tahu foto ini?" Bu Dewi menunjukkan foto Levi dan Bida.
"Ya. Aku meminta Ayu yang meriasnya. Aku juga dikirimi foto itu oleh Ayu.
"Bagus, aku ingin tahu alamatnya."
"Kak itu kan masalah Levi, jangan campuri masalah pribadinya. Levi janji akan mengenalkan gadis itu kepadaku pada saatnya nanti."
"Kirim alamatnya padaku sekarang. Aku tidak melawannya justru aku mendukungnya. Sudahlah aku ada urusan, jangan cerita ke Levi jika aku meminta informasi tentang itu."
"Baiklah Kak. Aku sangat ingin menemui Levi sekarang." Mira seperti anak kecil yang ingin ketemu mamanya.
Sebenarnya kamu itu yang selalu kepo. Kamu yang butuh anak-anakku bukan sebaliknya. Selalu saja bersikap seperti ini.
"Ayo kita temui Levi sekalian aku berpamitan." Bu Dewi mengambil tasnya.
"Ayo cepat Kak." Mira sangat senang ia keluar duluan dari apartemen Levi dan menunggu di luar.
Bu Diana menghela nafas namun ia lega mendapatkan informasi dari adik iparnya yang kadang menjengkelkan namun selalu bisa diandalkan menjaga anak-anaknya sejak kecil.
Mira menggandeng tangan kakak iparnya sambil mengayunkannya ketika berjalan. Bu Dewi membiarkan saja, karena ia tahu bahwa Mira sangat menyayangi Levi. Bagaimanapun Ia yang merawat Levi ketika masih kecil jika ia dan suaminya sibuk.
Sampai di Klinik. Mira melepaskan gandengan tangannya lalu masuk tanpa permisi dan langsung memeluk Levi.
"Sayang... Bagaimana keadaanmu ? Ayo sini tiduran saja. Tante Mira akan menjagamu." Mira memeluk, mengecup dahi dan pipi Levi berkali-kali lalu menarik tangan Levi, memaksanya naik ke tempat tidur lalu menyelimutinya.
Roni terpukau melihat Levi sebesar itu mendapat perlakuan seperti seorang balita.
"Tante mengapa tahu jika aku di sini?"
Pasti mama yang mengabari tante Mira. Dari ekpresi mama, jelas mama tidak mencurigai tante Mira terlibat urusan Diana. Tapi kedatangan tante Mira sangat tidak tepat. Aku pasti tidak bisa kemana-mana sekarang.
"Sst.... jangan berpikir yang berat ya sayang, tante langsung meletakkan jari telunjuknya di bibirnya. Tante memang datang untuk menjengukmu karena tante kangen berat. Eh kok kamu sakit sih. Kamu istirahat saja, tante akan temani kamu malam ini disini."
"Apa te? malam ini, disini ? Aku sehat te, aku akan pulang."
"Sudahlah Levi, kamu harusnya menghargai tantemu yang sudah mau menemanimu. Mama tidak bisa menemanimu, untunglah ada tantemu ini. Mama pergi dulu ya." Mama mencium kening Levi lalu pergi dari ruangan Levi.
Apa-apaan ini, hari ini aku akan mencari HP terbaik di counter, mensettingnya lalu meminta kurir mengirimnya. Buat apa aku opname lagi disini. Apa diagnosanya? Aku sekarang merasa sehat kok.
"Roni..." Levi duduk lalu memanggil Roni.
"Roni ambilkan HP ku."
"Ya mas." Roni mengambilkan HP Levi yang ada di atas meja lalu menyerahkannya.
Tante Mira memijit kaki Levi.
"Siapa ini Levi ? Ini yang namanya Roni kan asistenmu?"
Aku harus mengawasinya, aku dengar Levi selalu bersamanya. Jangan-jangan dia yang
mempengaruhi Levi agar menyukainya. Dia memanfaatkan Leviku yang polos ini. Apakah ia seorang hetero****.
Bagaimana perkembangan hubungan Levi dengan gadis yang pernah memakai kebayaku itu ?
Kak Dewi kali ini kamu benar, seharusnya kita segera mencari info tentang kehidupan pribadi Levi. Jika ada gadis yang Levi suka, dukung ia jika perlu segera nikahkan,
Siapa yang tahu, mungkin pengaruh obat itu masih ada, dan laki-laki bernama Roni ini bisa saja memanfaatkan kesempatan.
Roni langsung duduk kembali di sofa, ia merasa tantemya Levi menatapnya tidak suka.