Jodoh Gadis Indigo

Jodoh Gadis Indigo
Perempuan Tua Menyebalkan


Pagi-pagi Pak Joko mengurus sapi-sapinya sebelum berangkat kerja. Levi dan teman-temannya sudah bersiap berangkat ke balai desa. Bu Sulis tiba-tiba muncul dari pintu belakang samping


"Assalamualaikum..." Bu Sulis mengucapkan salam sambil melenggang masuk ke ruang tengah.


"Waalaikumsalam." Bu Joko yang baru selesai membereskan dapur menjawab salam dari Bu Sulis.


"Masuk Mbak Sulis." Bu Joko sekedar basa basi karena Bu Sulis sudah berada di ruang tengah.


"Eh, mas mas ganteng sudah siap berangkat. Bagaimana rasanya serumah dengan Bidadari cantik?" Bu Sulis mulai melancarkan lidah mautnya.


"Mantab sekali." Jodi tersulut menanggapi Bu Sulis.


"Enak dong, tiap hari bisa melihat gadis cantik. Mana Bida? "Bu Sulis mengedarkan pandangannya.


"Bida sedang menyapu mbak." Bu Joko menjawab. Wajah Bu Joko tampak tidak suka dengan pertanyaan Bu Sulis lalu menatap wajah Jodi dengan pandangan yang sama.


Levi menggenggam pergelangan tangan Jodi sangat erat hingga Jodi kesakitan. Jodi menyadari kesalahannya sudah menanggapi Bu Sulis seperti itu. Padahal Jodi tidak bermaksud menyinggung Bida hanya sekedar ingin membuat Bu Sulis kesal.


"Bu, kami berangkat dulu." Levi berpamitan kepada Bu Joko.


"Mbak Rini (sapaan Bu Sulis kepada Bu Joko), bagaimana sikap mereka kepada Bida ?" Bu Sulis duduk di ruang tengah, Bu Joko akhirnya ikut duduk menemani Bu Sulis.


Bu Sulis dan aku sudah semakin menua, tidak pantas rasanya memanggil mbak. Tapi karena sudah terbiasa jadi canggung mau mengganti panggilan dengan kata bu. Bu Joko memperhatikan Bu Sulis yang memang sudah memiliki banyak kerutan di wajahnya.


"Baik, mereka sopan tidak aneh-aneh."


"Masa sih? Bida kan cantik. Mustahil jika tidak ada seorang pun yang tertarik kepada Bida."


"Waduh, Mbak Sulis ada-ada saja. Bida cantik ya mbak? Saya kira hanya karena saya ibunya maka saya anggap Bida yang paling cantik sedunia...." Bu Joko mengembangkan tangannya ketika menyebut kata sedunia.


"Memang Bida cantik, bukan hanya cantik tapi sexy. Pasti para mahasiswa itu, matanya rabun jika sampai tidak tertarik kepada Bida."


"Hi hi hi, Mbak Sulis. Mereka semuanya baik apalagi yang bernama Roni, sopan sekali."


Jika salah satu dari mereka menyukai Bida dan Bida juga mau menyukainya maka aku akan merestuinya."


"Roni itu yang mana? Yang paling tinggi itu?"


"Bukan, yang paling tinggi itu bernama Levi. Dia juga baik, dia adalah ketua kelompok dan sepertinya teman-temannya sangat menghargainya."


"Jika Mbak Rini mau menjodohkan dmgan salah satu dari mereka, pilih yang bernama Levi saja. Dia yang paling ganteng menurutku."


"Ha ha ha" Bu Joko tidak dapat menahan tawanya mendengar penilaian Bu Sulis.


Aku tidak percaya, Bu Sulis masih bisa menilai cowok ganteng. Bu Joko masih tidak bisa menghentikan tawanya.


Bida masuk ke dalam rumah melewati ruang tengah.


"Eh Bida... sini !"


"Ya Bude, ada apa?"


"Baju apa ini yang kamu pakai? Baju kedodoran begini dipakai. Pantas saja, mereka tidak tertarik padamu."


"Siapa bude ?" Bida memperhatikan bajunya. Ia sedang memakai kemeja longgar dan kulot lebar panjang. Bida merasa tidak ada yang salah dengan bajunya. Bajunya memang modelnya longgar, tapi tidak kedodoran


"Kamu itu cantik, sekarang ada cowok ganteng di rumah kamu. Masa kamu ndak bisa ambil hati mereka? Ambil kesempatan ini, siapa tahu kamu berjodoh dengan salah satu dari mereka.


Bu Joko tersenyum bangga dengan anaknya.


"Kamu ini pinter, tapi ingin jadi penjahit. Lagi pula, kamu ingin buka usaha konveksi, tapi selera mode bajumu seperti itu. Siapa yang mau beli karyamu? Dimana-mana wanita ingin tampil cantik. Baju seperti karung gitu kok dipakai?" Bu Sulis ngomongnya berapi-api hingga Bida mundur untuk menghindari semprotan dari mulut Bu Sulis.


"Maaf Mbak Sulis, Bida berencana pakai hijab mulai SMK nanti. Sekarang Bida sedang membiasakan pakai baju panjang. Lagi pula, Mbak Sulis tahu sendiri, ada pandawa lima menginap di rumah kami. Saya yang mewanti-wanti agar Bida selalu pakai baju tertutup meskipun di dalam rumah." Bu Joko mencoba mencerahkan Bu Sulis.


"Mbak Rini ini tidak paham anak jaman sekarang. Jika Bida penampilannya seperti karung berjalan, siapa yang akan tertarik? Jika saya jadi Bida, saya akan merasa terhina jika tidak ada satupun di antara mahasiswa itu yang tertarik pada saya."


Mas Roni dan teman-temannya pasti sudah sampai di balai desa. Aku bisa melihat bibi dan nenek melayang menuju kemari. Oh jangan-jangan mereka akan menyakiti Bude Sulis. Bida memandang ke arah nenek dan Bibi yang semakin mendekati Bude Sulis.


"Bida, meskipun kamu masih mau sekolah SMK apa salahnya jika kamu tunangan dulu, atau menikah siri sambil sekolah?" Bu Sulis menepuk tangan Bida karena terlihat melamun.


"Tidak bude, Bida tidak mau seperti itu. Mereka juga masih kuliah meski hampir lulus. Bida masih ingin sekolah. Soal Jodoh, Bida yakin sudah diatur Allah."


Angin kencang, pasti Wowo marah sekarang. Aku jarang bertemu Wowo. Wowo pasti menuju kemari. Nenek dan Bibi mengapa melototi Bude Sulis. Wah Gawat.


Wowo berkelebat turun dengan menembus langit-langit. Nenek meniup tengkuk bu Sulis, sedangkan Bibi meniup leher depan Bu Sulis. Wowo menatap Bu Sulis dengan mata merah menyala.


Bida menutup wajahnya. Bida tidak suka wajah mereka yang menyeramkan. Bu Joko menemukan perubahan pada wajah Bida dan menduga pasti sedang ada sesuatu yang terjadi berhubungan dengan makhluk halus.


"Aduh, badanku merinding... Mbak. Aku mau pulang saja. Rumah Mbak Rini ini pasti berhantu."


Bu Joko hanya menatap bu Sulis yang melangkah keluar menuju pintu belakang.


"Bu Sulis ? Sudah lama? Pak Joko menyapa Bu Sulis.


"Ya Pak. Pak Joko darimana?"


"Dari kandang Sapi."


"Mulai tadi itu? tadi waktu kemari, saya melihat Pak Joko di kandang Sapi."


"Ya. Saya berencana mau menjual sapi saya untuk membuatkan kamar mandi dalam kamarnya Bida."


"Ha ? Buat kamar mandi saja mau jual Sapi. Kok tidak sekalian saja buat kolam renang di kamarnya Bida."


"Jika saja dananya cukup, pasti saya buatkan kolam renang untuk Bida." Pak Joko yang tidak suka kepada sikap Bu Sulis, sengaja ingin membuat Bu Sulis kesal.


"Seharusnya Pak Joko itu khawatir, mengapa Bida tidak menarik bagi para mahasiswa itu? Kata Mbak Rini, tidak terjadi apa-apa diantara Bida dan Mahasiswa itu. Tidak ada satu pun yang mencoba menggoda Bida. Jangan-jangan, Bida itu dikelilingi makhluk halus sehingga setiap laki-laki melihat Bida maka yang tampak adalah wajah hantu yang menyeramkan. Lebih baik Pak Joko cari dukun untuk menyembuhkan Bida."


Bu Sulis nyerocos, suaranya seperti suara laju kereta api. tuuuut tuuut panjang memekakkan telinga.


Nenek menginjak kaki bu Sulis, membuat Bu Sulis meringis kesakitan. "Aaaduuuh..."


"Ada apa bu?" Pak Joko melihat Bu Sulis meringis kesakitan.


"Kaki saya sakit. Pak Joko menginjak kaki saya ya?"


"Loh bu. Saya kan disini. Jauh dari posisi Bu Sulis, masa kaki saya menginjak kaki Bu Sulis. Saya bisa saya lakukan adalah menendang kaki Bu Sulis jika dari sini." Pak Joko semakin jengkel.


"Udah ah. Saya mau pulang." Bu Sulis berlalu dengan bibir mengerucut seperti pucuk tumpeng.


Dasar perempuan tua menyebalkan. Pak Joko memaki Bu Sulis dalam hati