
Pagi ini Bida melarang bibi atau nenek ikut ke sekolah. Bida mengayuh sepedanya dengan riang. Sampai di parkiran, hanya ada beberapa sepeda yang terparkir. Bida menuju ruang kelasnya yang ada di dekat kantin. Bida melewati kantin, sejenak Bida berhenti lalu mengedarkan pandangannya ke kantin.
Kantin ini lebih bersih daripada kantin di sekolahku yang dulu. Tidak ada sosok penglaris bau. Oh Syukurlah...
Bida tersenyum kepada ibu-ibu yang tampaknya penjaga kantin karena beliau sedang menata aneka kue disana.
Bida masuk ke dalam kelasnya. Bida duduk di deretan bangku ke 4 dari depan. Bida memilih duduk dekat tembok, Rona belum datang. Bida siswa pertama yang datang di kelas itu.
Bida tidak menyadari ada yang sedang mengikuti dan terus menatapnya dengan lembut sejak kedatangannya di sekolah itu.
Bida duduk di kursinya lalu mengeluarkan buku tulis lalu membuka bagian belakangnya. Ia menulis nama Levi Braveano di sana.
"Siapa Levi Braveano itu?" Bida kaget dengan suara tanpa wujud itu. Suara itu seperti tidak asing di telinganya. Tidak ada siapa-siapa, aneh sekali. Bida meraba tengkuknya yang sedikit merinding.
"Kau mencariku ?" Laki-laki muda itu sekarang menggunakan kemeja batik dengan paduan celana panjang yang warnanya senada dengan batik itu. Batik itu dominan warna kelabu. Celananya berwarna abu tua. Ia tampak tampan menggunakan baju itu.
"Mengapa kamu suka ganti baju? Pasti wajah aslimu jelek ya sampai kau harus mengubah ubah penampilanmu?" Bida menatap laki-laki itu yang sudah berdiri bersandar di meja yang ada di depannya. Ada kursi diantara meja Bida dan mejanya. Anehnya laki-laki itu bersandar di meja sambil melipatkan tangannya di dada sedangkan kakinya menembus kursi. Bida terus memperhatikannya.
"Ini wajah asliku, aku bisa mengubah wajahku tapi aku sudah merasa cukup tampan dengan wajah asliku. Apa yang kau perhatikan? Kau tampaknya sangat tertarik kepadaku?"
"Bukan tertarik tapi heran, mengapa kau bisa bersandar sekaligus menembus?" Bida mencoba menyentuh kaki laki-laki itu dengan ujung pulpennya tapi pulpen itu berhasil menyentuhnya. Pulpennya tidak menembusnya, padahal kakinya menembus kursi.
"Aku bisa mengendalikan tubuhku.. Kemarin bibi itu juga heran kepadaku. Katanya dia tidak bisa menyentuhmu jika ada seseorang yang berada disekitarmu. Mungkin dia yang bernama Levi Braveano. Kau menulis nama itu dengan baik di bukumu. Benarkah itu?"
Laki-laki itu sekarang menegakkan tubuhnya lalu merebut pulpen Bida kemudian menyentuh tangan Bida dengan pulpen tersebut. Bida geli dengan gerakan pulpen itu di telapak tangannya.
Ia tersenyum sambil terkekeh pelan.
"Artinya Levi Braveano itu sedang tidak ada di sekitarmu bukan?"
Bida mengidik takut, rasanya ia menyesal telah melarang bibi ikut dengannya ke sekolah.
"Jangan takut kepadaku, aku akan menjagamu selama kamu sekolah disini."
Laki-laki itu menatap mata Bida dengan pandangan intens, pupil matanya berubah menjadi coklat keemasan.
"Kosong, aku tidak bisa membaca pikiranmu."
"Apa maksudmu?" Bida berkata lirih karena temannya yang melambai datang namun hanya meletakkan tasnya lalu keluar setelah menyapamya dengan senyuman
"Aku tahu apa yang dipikirkan seseorang dengan menatap matanya. Temanmu tadi berkata dalam hatinya, iiih Bida kok cantik sih, aku pengen loh punya lesung pipit sepeeti punyamu
Bida tertawa terbahak bahak melihat laki-laki keren dihadapannya berkata melambai khas temannya yang bernama Faisol itu.
"Kamu sengaja menggodaku ya?" Bida masih tertawa.
"Baca komik lucu ya? Kok sampai tertawa begitu?" Rona datang. Bida langsung terdiam namun masih menahan tawanya sambil melirik laki-laki.di.depannya.
"Tidak, aku hanya sedang mengingat kejadian lucu saja." Bida mengalihkan pandangannya ke arah Rona. Bida sengaja berpura-pura tidak melihatnya.
"Bida seharusnya memakai masker agar Arman tidak sering menatapnya. Jujur saja aku tidak suka jika Arman menyukai Bida. Bida pasti berbohong jika ia menyatakan Arman tidak menarik, itu yang dikatakan temanmu ini sekarang." Laki-laki itu masih menatap mata Rona.
"Rona, aku tidak menyukai Arman, aku hanya menyukai mas levi." Bida berkata pelan.
Rona langsung senang, "Oh ya, Siapa Levi itu Bida? Apakah ia pacarmu?" Rona memegang tangan Bida.
"Seperti itulah, mas Levi akan menjemputku setelah aku lulus sekolah. Mas levi sudah berjanji kepadaku, ibu dan bapak." Bida berusaha meyakinkan Rona dan dirinya sendiri
"Jadi orang tuamu kenal yang namanya mas Levi ini?" Rona semakin penasaran sekigus senang karena Arman incarannya tidak akan disukai Bida.
"Ya. Mas levi sudah berpesan kepada Bapak agar menjagaku. Mas Levi pencemburu, meski ia di luar kota, aku akan tetap matuhi aturannya." Bida menjelaskan.
"Apa saja aturannya? Rona semakin berbinar.
"Banyak, diantaranya aku tidak boleh dekat-dekat atau menerima tamu laki-laki manapun." Bida sengaja menekankan kalimat itu agar laki-laki muda di depannya mendengarnya juga. Tapi ekspresinya masih biasa, ia tetap tersenyum namun kemudian sirna ia menghilang.
"Ia memberiku uang tunai 3 juta, membelikan aku baju, rutin memberiku uang saku." Bida tersenyum malu tidak ingin cerita tentang renovasi kamar dan kamar mandinya.
"Uang saku, bagaimana caranya kan katamu ia di luar kota.?"
"Mas Levi memberiku kartu atm dan pin nya adalah tanggal kami... jadian." itu yang terpikir oleh Bida karena ibu dan bapaknya melarang Bida menceritakan bahwa ia sudah menikah.
"So sweet... Berapa isi atm nya?"
"Aku tidak tahu, karena aku sudah dapat uang saku dari bapak. Tas sepatuku ini juga dibelikan mas Levi. Jadi aku belum butuh sesuatu."
"Kamu keren Bida. Mungkin kamu yang membawa keberuntungan. Aku ingin sepertimu." Kamu cantik dan punya tunangan yang menyayangimu.
Bida hanya tersenyum menanggapi ucapan Rona. Aku memang sangat mensyukuri kedatangan mas Levi hingga aku ingin berterima kasih kepada Wowo dan bude Sulis. Mereka memang mencelakaiku tidak sengaja tapi itulah awal semuanya.
# Di Kampus
Mereka berkumpul di kantin.
"Vi, kamu kok tambah kekar?" Miki menatap dada dan lengan Levi.
"Mas Roni rajin push up setelah menikah." Roni bercerita jujur.
Teman-temannya terkikik sendiri.
Datang seorang mahasiswi cantik berkaos ketat di balik almamaternya seperti sengaja menonjolkan bagian tubuhnya. Ia ragu-ragu namun memberanikan diri mendekat. Ia salah satu dari mahasiswi yang suka memperhatikan Levi.
Miki ingin mengetahui perkembangan Levi, ia menjadikan mahasiswi cantik itu sebagai kelinci percobaannya. Levi selalu cuek kepada perempuan manapun sebelum menikah, Miki ingin mengetahui reaksi Levi kepada perempuan setelah menikah.
"Mau gabung, sini duduk." Miki sengaja berpindah tempat duduk dari samping Levi dan menawarkan kursi kosong di samping Levi untuk mahasiswi itu.
Mahasiswi itu sangat cantik dengan riasan natural, eyelinernya sangat rapi, bulu matanya lentik namun terlalu mencolok mungkin ia menggunakan program eyelash. Miki pernah melihatnya di istagram.
"Terima kasih. Gerah ya... " Mahasiswi itu sengaja membuka kancing almamaternya untuk memperlihatkan tubuhnya yang sedang dibalut kaos ketat. Roni diam tidak berani bersuara. Hanya tatapan Miki yang penuh selidik.
Levi masih fokus pada HP nya ia bersikap cuek, sama sekali tidak melirik wanita itu seperti kebiasaannya.
"Mas maaf ada semut nih!" Mahasiswi cantik itu menyentuh rambut Levi dengan sengaja untuk mengambil semut merah yang mungkin terjatuh dari pohon di sekitar kantin kampus.
Levi menatapnya tajam, matanya memindai tubuh mahasiswi di sampingnya. Melihat tatapan Levi kepadanya, membuat ia tinggi hati.
Ah dia kan Levi yang sering dibicarakan para mahasiswi lainnya, sekarang sedang memperhatikanku. Untunglah dandananku prima hari ini.
Ia memberanikan diri menatap Levi. Lalu ingin kembali menyentuh rambut Levi ketika beberapa mata mahasiswi lain sedang memperhatikannya.
"Maaf ya mas, rambutmu jadi berantakan" Mahasiswa itu akan menyentuh rambut Levi lagi namun langsung ditepis oleh Levi demgan kasar.
Mahasiswi itu menahan sakit di tangannya, karena ia malu maka ia sengaja mengendurkan situasi. "Maaf saya tidak ada maksud apa-apa, mas Levi sudah punya pacar?"
Gawat, tatapan Levi itu sekarang beda, aku menyesal menjadikan mahasiswi ini sebagai kelinci percobaan. Tangannya pasti sakit. Tapi harusnya ia segera pergi, mengapa memperburuk keadaan.
Levi menarik nafas panjang lalu berkata,
"Aku tidak punya pacar, tapi aku punya istri. Berani sekali kamu menyentuhku!." Suara Levi memang tidak membentak juga tidak terlalu lantang tapi tekanan pada pengucapannya akan membuktikan bahwa Levi sangat marah.
Mahasiswi itu segera pergi tanpa bersuara lagi. Levi menatap Miki yang pura-pura tidak melihatnya. Levi berdiri lalu meninggalkan mereka tanpa berkata apa-apa. Bahkan Roni tidak ingin mengikuti Levi saat ini, atau Roni akan terkena imbas kekesalan Levi.
"Kamu cari gara-gara ya. Siapa yang akan membayar makanan dan minumanku. Kau yang harus membayar semuanya." Jodi marah karena memang sudah kebiasaan Levi mentraktir teman-temannya jika berkumpul di kantin. Levi sangat jarang ke kantin, ia suka membawa bekal makan sendiri.
Deni juga memasang wajah kesal kepada Miki. Miki menyesali sikapnya, menyayangkan uang sakunya yang sudah tipis akan semakin menipis karena harus membayar makanan teman-temannya.
Roni akhirmya pergi menyusul Levi, setelah menunggu sejenak.