
Lina kakak Levi sedang sibuk mengerjakan tugas kuliahnya. Ia mendownload beberapa aplikasi yang diperlukan untuk mendukung kuliahnya. Muncul notifikasi memori HP nya yang hampir penuh. Lina membuka galery fotonya yang kebanyakan foto selfi bersama suaminya. Lina menekan tombol hapus semua foto termasuk yang berbintang.
dreet dreet HP nya berbunyi, foto kontak mamanya tampil di layar HP nya.
"Hallo mama"
"Hallo sayang."
"Mama, mohon maaf nanti Lina telpon lagi ya karena Lina buru-buru mau mengirim tugas kuliah."
"Ya sudah. Mama hanya ingin menanyakan tentang foto Levi dan kekasihnya yang kamu janjikan akan dikirim."
"Ya ampun ma. Maaf sepertinya semua foto gallery sudah terhapus. Lina lupa ma."
"Ya sudah. Tidak apa-apa."
"Sudahlah ma. Mama kan janji tidak ikut campur. Jika Levi serius pasti Levi akan ajak calonnya menemui mama."
"Ya sudah."
*Tut tut tut.
Wah mama langsung menutup telfon*.
Lina langsung mamasukkan HP nya ke dalam tas. Lalu mengirimkan tugas melalui email.
*****
"Hallo tante."
"Hallo sayang, bagaimana kabarnya?"
"Baik tante. Mohon maaf Levi belum mengirim kebaya yang Levi pinjam kemarin. Levi sangat berterima kasih. Ayu bagus banget hasil riasannya."
"Ya. Tante sudah lihat fotonya dari Ayu. Cantik banget. Kapan-kapan tante dikenalin ya."
"Belum saatnya tante. Tapi Levi janji akan mengenalkan kepada tante nanti."
*****
Bida keluar dari kamar melewati Levi dan Roni yang sedang membicarakan tentang rehap rumahnya.
Bida menunduk malu ketika melewati mereka. Setelah menceritakan mimpinya, Bida merasa malu bertemu dengan Levi.
"Bida hari ini, gunakan kamar tengah ya. Amankan barang berharga di kamarmu. Pekerja akan mulai mengerjakan kamar mandimu hari ini dan akan ada beberapa penyesuaian di kamarmu."
"Ya mas." Bida masih menunduk malu.
Levi geleng-geleng kepala melihatnya. Kamu merasa mimpi tidur kutemani saja sudah seperti itu, bagaimana jika aku ceritakan yang sebenarnya kepadamu semua kejadian tadi malam.
Levi masih memperhatikan Bida hingga masuk ke dapur untuk membantu ibunya hingga punggungnya tidak terlihat lagi.
"Assalamualaikum" Gatot mengucap salam
"Waalaikumsalam" Bu Joko menjawab salam lalu mempersilahkan Gatot masuk.
"Maaf Bu Joko, saya mau bertemu dengan mas Levi."
Bu Joko mengantar Gatot ke ruang tengah. Levi dan Roni sedang mendiskusikan tentang rehap.
"Permisi mas Levi, saya ada kepentingan."
Levi menatap laki-laki berkulit hitam itu dengan enggan, ia memakai kaos lusuh yang tampak kotor. Banyak debu menempel di kaos hitam lusuh bergambar logo cat tembok. Bau keringatnya menguar membuat mual.
"Ada apa ? Apakah surat pernyataannya sudah siap?"
"Belum mas." Bentuk bibir Gatot yang tebal lebar mengingatkan Levi akan Bu Sulis
"Terus ada urusan apa kamu menemuiku?" Levi menatap tajam Gatot.
"Begini, Ibu bilang jika Ibu akan memasakkan makan siang buat para pekerja yang rehap rumahnya Pak Joko. Saya lihat, rehapnya sudah dimulai. Jadi ibu meminta saya, menanyakan jumlah pekerja dan menu yang diinginkan."
"Tidak perlu. Aku tidak ingin masakan ibumu."
"Tapi ibu bilang, sudah menerima uang 1 juta ...."
Levi mengangkat tangannya untuk memberi isyarat kepada Gatot agar diam.
"Gunakan saja uang itu untuk mengurus pagar pemisah pekaranganmu dan pekarangan Pak Joko. Surat pernyataannya akan segera ku urus agar ibumu dan para saksi tinggal tanda tangan. Sekarang pergilah." Levi mengibaskan tangannya ke arah Gatot.
"Ya mas. Terima kasih." Gatot berdiri memasuki dapur agar bisa keluar melalui pintu belakang seperti kedatangannya tadi.
"Bau sekali... " Roni mengibaskan tangannya di depan hidungnya. Meski Gatot sudah tidak di ruangan itu namun aroma keringatnya masih memenuhi ruangan.
Gatot masih penuh peluh karena ia dibantu kerabat sibuk membuat pagar pembatas pekarangannya dan pekarangan Pak Joko.
Bida muncul di ruang tengah
"Mas Levi, tadi mas Gatot kok menemui mas Levi. Ada apa mas?"
"Mau menanyakan tentang makan para pekerja tapi aku melarangnya."
"Loh mas, kan mas Levi sudah bayar 1 juta."
Bida mengingatkan Levi.
"Ah biar saja."
"Mas... Kasihan Bapak mas. Nanti jika uang penjualan sapinya tidak cukup bagaimana? Sekarang sudah berkurang 1 juta kan.?"
"Bida... semuanya akan beres. Kamu jangan kuatir. Uangnya sudah cukup."
"Baiklah, terserah mas Levi saja. Mas kok ada suara truk ?" Bida mencoba mendengar lagi dengan seksama.
"Oh pasti mereka sudah datang." Levi bangkit dari duduknya diikuti Roni. Bida mengekor di belakangnya.
"Wah keren sekali." Bida menatap para pekerja berseragam yang ada di halaman rumahnya. Selama ini tukang Pak Muhit selalu pakai baju kaos lusuh jika bekerja.
Levi menoleh ke arah Bida yang menatap para pekerja yang sibuk menurunkan berbagai perlengkapan di halaman rumahnya.
"Roni urus ini dulu" Levi berkata pelan kepada Roni.
"Ya mas."
Levi menarik tangan Bida mengajaknya masuk. Lalu setengah menyeretmya ke dalam kamar tengah yang pernah dipakai teman-temannya.
"Masuk !"
"Mas ada apa sih. Aku mau melihat mereka." Bida mengusap pergelangan tangannya yang baru dilepas Levi.
"Mereka keren ya? Bagaimana dengan suamimu ini?" Levi mendekatkan tubuhnya ke Bida. Bida memundurkan tubuhnya hingga menempel ke tembok tidak bisa mundur lagi.
Bida mendongak mengamati Levi yang sangat dekat jaraknya. Rambut ikalnya tersisir rapi, matanya tajam, alisnya tebal, hidungnya mancung, bibirmya berwarna merah seperti memakai lipstik. Mirip artis korea di film-film. Pantas saja teman-temannku kepo mengajak mas Levi foto. Mas Levi tampan sekali. Tubuhnya juga tinggi dan gagah.
"Ganteng sekali" Tanpa sadar Bida mengucapkan itu, lalu menutup mulutnya dengan tangan kanannya. Ia menundukkan pandangannya, tidak berani menatap Levi lagi.
Levi mendengar ucapan Bida meskipun diucapkan Bida sangat pelan seolah berbisik pada dirinya sendiri.
Levi semakin merapatkan tubuhnya. Levi membungkuk, mendekatkan mulutnya ke teinga Bida. "Benarkah yang kamu katakan?"
"Apanya mas?" Bida mencoba mendorong tubuh Levi menjauh tapi badan Levi tidak bergeser sama sekali.
Levi melangkah mundur lalu berhenti, menatap Bida lekat-lekat.
Istrinya ini berwajah imut. Bibirmya berwarna pink alami. Lesung pipitnya terlihat saat berbicara. Apalagi saat tersenyum, lesung pipitnya akan semakin jelas. Ia memakai baju tertutup dan kerudung tapi kerudung itu tidak cukup menyembunyikan tubuh moleknya.
Aku tidak suka jika ada salah satu dari pekerja itu melihat dan menggodamu. Kamu diam di kamar saja lagipula suasana akan kacau, banyak debu, pekerja mondar mandir. Ini hukumanmu karena mengatakan mereka keren.
Jika saja kamu sudah lulus SMK aku akan membawamu ke apartemen lalu ku kunci di dalam apartemen selama aku kuliah. Malam harinya kita habiskan malam kita, Kita akan berlibur di akhir pekan.
"Bida... kamu tetap disini. Jangan keluar ! mas Levi akan menemuimu nanti." Levi mencabut anak kunci yang tertancap di pintu kamar lalu menutup pintu dan menguncinya dari luar dan memasukkan kuncinya ke dalam sakunya.
Bida keget lalu mencoba membuka pintu kamar tapi terkunci
Ya mas Levi kok gitu.