
Levi ditemani Roni memberi arahan kepada para pekerja dan berbicara dengan penanggung jawabnya. Setelah semua terkondisikan, Levi menemui bu Joko.
"Bu Bida saya minta diam di kamar, ibu juga lebih baik istirahat saja." Levi menyerahkan kunci kamar yang ditempati Bida.
Bu Joko mengernyitkan dahinya sambil menerima kunci.
Bu Joko bergegas menuju kamar dan membuka pintu dengan kunci dari Levi.
Di dalam kamar, tampak Bida sedang tertidur pulas dengan masih menggunakan hijabnya.
Bu Joko pun kemudian berbaring di samping Bida.
***
Para pegawai sedang makan siang nasi Kotak. Kepala Divisi sudah menyiapkan segalanya.
Bida mengusap matanya setelah bangun tidur sedangkan bu Joko tidak bisa tidur kemudian memilih keluar untuk menyiapkan kopi untuk para pekerja.
Bida keluar kamar, kemudian berpapasan dengan Levi di ruang tengah.
"Bida, maaf mas Levi menguncimu tadi, yuk kita makan." Sambil berjalan menuju ruang makan, Levi menceritakan perkembangan rehap. Karena Bida tampak heran dengan situasi rumah yang kacau.
"Tadi situasi benar-benar sibuk. Kamarmu berantakan karena pekerja sudah mulai mengerjakan pekerjaan mereka masing-masing. Ada 3 tugas utama kan kamar mandimu, kamar mandi ibu dan dapur."
Bida melongok kamarnya karena pintunya terbuka. Lemari pakaiannya sudah digeser begitu juga barang-barang yang lain. Kasurnya ditutupi plastik bening lebar dengan banyak barang di atasnya.
Bu Joko membawa satu teko kopi untuk pekerja.
"Roni ! Bawakan kopi ke depan. Ibu makan dulu.' Levi memanggil Roni.
"Ya mas." Roni menghampuri bu Joko kemudian mengambil alih teko kopi dari tangan bu Joko
Ibu duduk di ruang makan bersama Bida dan Levi.
"Siapa yang bantu Ibu memasak ?"
"Hari ini ibu tidak memasak. Saluran air sedang dalam perbaikan. Makanan ini tadi dibeli nak Roni."
"Sebaiknya ibu tidak perlu memasak dulu selama beberapa hari ke depan. Tadi saya sudah meminta Roni memesan makanan untuk beberapa hari. Mereka akan mengantarnya nanti. Ibu tinggal memanaskan lagi jika perlu. Ibu juga tidak perlu menyiapkan kopi. Sebenarnya upah mereka sudah include dengan konsumsi."
"Mengapa tidak pesan gofood mas?" Bida bertanya meskipun ia sendiri tidak pernah menggunakan aplikasi itu untuk pesan makanan kan Bida tidak punya HP.
"Mas Levi sengaja meminta Roni agar melihat kebersihan restaurannya."
"Oh."
Restauran mana ini yang dipilih mas Roni. Bida agak kuatir, bagaimana jika restoran itu menggunakan jasa penglaris. Hi iii Bida jijik.
"Ayo makanlah !" Levi meletakkan udang asam manis di piring Bida. Bida memakannya setengah hati.
"Bu, sebaiknya ibu dan Bida diam di dalam kamar tengah saja, kamar Bida dan ibu sedang berantakan. Untuk nanti malam, Pak Joko bisa tidur di kamar depan, biar saya dan Roni tidur di ruang tamu.". Levi berkata dengan santun.
"Baiklah nak Levi."
"Tapi Bida ingin lihat mereka mengerjakan kamar mandi Bida bu." Bida komplain
"Apa yang mau kamu lihat? Debu dimana-mana, hari ini mereka membongkar kulitan dinding dan keramik lantai. Nanti malah kamu sesak nafas karena debu. Mereka saja pakai masker dan kaca mata. Lagi pula kamu mau jadi mandor seperti bapak ?" Bu Joko mengomeli Bida.
Levi tersenyum menang. Memang Levi tadi sengaja mengurung Bida di kamar karena situasi sangat sibuk dan berantakan, para pekerja memindahkan beberapa barang dan
melakukan pembongkaran.
*****
Pak Joko datang menjelang petang.
Setelah makan malam, Pak Joko mengamati perkembangan rehap ditemani Levi.
"Nak Levi, bapak diajak Pak Muhit ke Surabaya selama sebulan. Pak Muhit menerima tawaran kerja sama dengan properti grup di Surabaya. Bapak akan usahakan pulang tiap hari Minggu. Tidak apa-apa kan jika Bapak tidak ikut membantu mengurus ini."
"Tidak apa-apa Pak, silahkan."
*****
Pagi hari Pak Joko tampak serius berbicara di telfon.
"Ya, tentu kami akan segera berangkat kesana ." Suara Pak Joko terdengar sedih.
Bu Joko mengamati Pak Joko dan menunggu Pak Joko menyelesaikan telfonnya.
"Ada apa Pak? Siapa yang telfon ?"
"Bu... kita harus ke kota B******** bawalah baju secukupnya ajak Bida juga."
"Ada apa Pak?" Bida bertanya pada ayahnya setelah meletakkan sup di atas meja makan.
"Kakekmu sakit Bida. Kita harus ke B********, bapak akan carikan travel, tapi bapak tidak menginap ya. Bapak akan ke Surabaya, ada proyek disana. Nanti hari Minggu, bapak akan jemput."
"Seminggu?" Bu Joko tampak cemas.
Pak Joko melihat kecemasan di wajah istrinya.
Aku harus memutuskan Bida ikut bu. Bida tidak mungkin kita tinggal di rumah sendirian bersama Nak Levi dan Nak Roni. Aku bukan tidak percaya kepada mereka tapi kau tahu sendiri mulut tetangga kita. Apalagi banyak pekerja laki-laki di rumah kita ketika siang hari.
"Nak Levi, apakah nak Levi bisa menjaga Bida di rumah selama seminggu ?" Bu Joko memberanikan diri menanyakan hal itu meski tidak yakin jika dirinya benar-benar rela meninggalkan Bida bersamanya.
Jawaban Levi membuat bu Joko senang campur sedih. Senang karena Levi mengedepankan kebaikan Bida. Jika Levi laki-laki yang tidak bertanggung jawab, ia pasti menyambut baik situasi ini. Tapi Bida seminggu di kampung halamannya....
#Flash Back
Sebenarnya Bu Joko dan Pak Joko trauma mengajak Bida menginap. Sudah 2 kali Bida diajak menginap di kota B********* . Pertama saat Bida berusia 4 tahun. Orang tua Bu Joko menuduh Bida ketempelan jin karena suka berbicara sendiri bahkan Bida didatangkan seorang dukun namun yang terjadi kemudian justru Bida demam tinggi hingga kejang.
Kedua, Bida masih duduk di kelas 4 SD ketika bapak dan ibu mengajak Bida menginap di rumah kakek Bida. Pak Joko dan Bu Joko mengingatkan Bida agar tidak berbicara dengan makhkuk halus.
"Bida selama di rumah kakek jangan berkomunikasi dengan makhluk halus."
"Jangan menatap mereka meskipun kamu melihatnya, pura-puralah tidak melihat atau mendengar suaranya. Sampaikan kepada Nenek dan Bibi tersebut agar diam di rumah saja. Mereka tidak perlu ikut ke B********."
"Tapi kita tidak lama kan bu menginap di rumah kakek. Bida tidak mau lama di rumah kakek jika nenek dan Bibi tidak ikut ?"
"Tidak, kita hanya menginap 3 hari." Kata Bu Joko.
Bida memang sangat penurut dan tidak berbicara yang aneh - aneh. Hingga suatu malam, Bu Joko tidak menemukan Bida disisinya. Bu Joko keluar kamar lalu melihat pintu belakang rumah orang tuanya terbuka. Bu Joko segera membangunkan Pak Joko yang sedang tidur di ruang tamu, lalu Bu Joko bersama Pak Joko keluar mencari Bida.
Di belakang rumah orang tua Bu Joko.
Tumbuh rumpun bambu yang sangat lebat. Angin berhembus tenang, suasana sunyi, bulu kuduk Pak Joko dan Bu Joko meremang.
Tampak kabut tipis menutupi rumpun bambu. Sedangkan Desa tempat tinggal orang tua Bu Joko bukanlah dataran tinggi. Suara derit pohon bambu yang bergesekan menyiratkan sesuatu yang menyayat. Kriyeeeet kriyeeet....
Bu Joko melayangkan pandangannya ke atas pohon bambu. Bu Joko kaget hingga mulutnya mengaga, matanya tidak berkedip menatap atas pohon bambu. Pak Joko mengikuti pandangan istrinya ke atas pohon bambu.
Bida melayang berada di sela-sela rumpun bambu itu. Pak Joko dan Bu Joko sangat mencemaskan Bida.
"Bida Pak..." Bu Joko menangis sambil menunjuk ke atas pohon bambu.
"Bida melayang turun lalu mendekati ibu dan bapaknya." Ia menatap ke atas pohon bambu. Lalu berkata, "Pergilah aku sudah bermain denganmu."
"Mari masuk bu." Bida menggandeng ibunya yang masih menangis. Pagi harinya Bu Joko dan Pak Joko langsung mengajak Bida Pulang.
"Kau baru menginap sehari, mengapa harus terburu-buru pulang? " Tanya Ibunya bu Joko.
"Maaf ada keperluan penting, kami akan berkunjung lagi lain kali." Pak Joko memohon maaf kepada mertuanya.
"Perjalanan dari rumahmu ke sini itu jauh, perlu 6 jam perjalanan. Kasihan Bida jika kalian hanya sebentar disini. Biarkan Bida tinggal lebih lama, kami akan mengantarnya beberapa hari lagi." Bapaknya bu Joko menawarkan.
Bu Joko langsung mendekap putrinya erat.
Meninggalkan Bida disini beberapa hari, tidak... aku tidak akan menyanggupinya.
Bida hanya diam, matanya melirik ke arah jendela yang pintunya terbuka lebar.
Setelah sampai di rumah. Bida langsung masuk rumah sambil memanggil nenek dan bibi.
"Nenek... Bibi... Bida lalu berhenti memanggil kemudian duduk di ruang tengah, namun pandangannya ke arah atas." Sepertinya Bida sudah bertemu dengan mereka
"Aku kangen nenek dan bibi. Di rumah kakek, ada hantu berbentuk mirip Wowo tinggalnya di pohon bambu. Ia memaksa Bida agar ikut bersamanya. Ia mengajak Bida melayang-layang hingga tangan Bida tergores rumpun bambu. Lihat ini nek..." Bida yang sedang berbaju merah, menggulung lengan panjangnya lalu menunjukkan tangannya yang terdapat banyak goresan.
Ibu mendekat memperhatikan tangan Bida. Ibu rupanya hanya fokus ingin pulang tanpa memeriksa kondisi Bida. Bahkan Ibu mengajak menaiki kereta yang berangkat setelah subuh. Hingga Bida belum sempat mandi pagi dan ganti baju.
Ibu meneteskan air mata, Pak Joko menyerahkan betadin kepada ibu. Pak Joko juga mengamati dan mendengar cerita Bida yang tidak ditujukan kepadanya. Pak Joko belum menanyakan tentang apa yang terjadi kepada Bida. Mereka berencana menanyakannya setelah sampai di rumah.
Bida meringis ketika betadin itu merembes ke sela goresan di tangannya.
"Sakit ya?" Bu Joko bertanya terbata diantar isakannya.
"Sedikiiiit sekali." Bida tersenyum lalu menghapus air mata ibunya.
Bida tampak mendongak lagi sekarang pandangannya ke arah jendela.
"itu Wowo ! Bi... yang di rumpun bambu itu mirip Wowo tapi dia jahat. Dia bilang jika Bida tidak mau ikut dengannya, dia akan menyakiti ibu."
Ibu tidak tahan lagi...
"Bida... ibu akan istirahat dulu di kamar ya, ibu capek."
Pak Joko mengikuti ibu di kamar
*****
# Kembali ke masa sekarang
"Biar Levi yang mencari travel pak." Levi membuka HP nya.
"Baiklah... Ibu dan Bida bersiap-siap ya."
"Ya pak." Bu Joko melangkah menuju lemari pakaian untuk menyiapkan baju.
Setelah menyiapkan bajunya, ibu mendekati Bida yang sedang menyiapkan pakaiannya.
Ibu setengah berbisik kepada Bida.
"Ajak nenek dan bibi ke rumah kakek ! Tapi jangan berkomunikasi dengan mereka ketika ada orang lain di sekitar kita."
"Bida tidak melihat Bibi dan Nenek selama ada mas Levi bu. Bagaimana cara Bida mengajak mereka?" Bida berbicara pelan
Bu Joko menghela nafas.