Jodoh Gadis Indigo

Jodoh Gadis Indigo
Progres dan Prestasi


Pagi hari Bu Joko dan Bu Joko keluar kamar. Pak Joko hendak ke musholla sedangkan Bu Joko ingin ke dapur. Bu Joko kaget melihat Levi tertidur di atas karpet di ruang tengah.


"Pak kasihan nak Levi, cepat selesaikan catatan nikah Bida dan nak Levi. Mereka saling mencintai. Biarkan mereka bersama agar Bida juga terlepas dari dunia bangsa lain."


"Ya bu. Bapak juga berpikir begitu."


Levi terbangun karena mendengar suara orang berbicara. Ia mengerjapkan matanya.


"Pak, tunggu Levi ya. Levi akan wudhu dan ganti baju."


"Ya. nak Levi."


Levi masuk ke kamar. Bida masih tidur. Ia segera wudhu, mengganti bajunya lalu keluar menemui Pak Joko untuk berangkat ke musholla untuk sholat subuh.


Bida terbangun, ia menemukan dirinya di atas kasur lalu mencari Levi. Setelah mandi kemudian sholat, Bida menggunakan baju rangkap lalu keluar kamar mencari Levi.


"Mana mas Levi bu?"


"Ke musholla, harusnya sudah datang, cahaya pagi sudah terang benderang."


"Tadi malam Bida sangat mengantuk jadi Bida langsung tidur. Mas Levi tidur dimana bu? karena tidak ada di kasur."


Padahal tadi malam mas Levi di kasur, kok malah aku yang di kasur. Bida berpikir


"Tadi ibu lihat Levi tidur di atas karpet di ruang tengah."


"Kasihan mas Levi... Oh ya mana nenek.dan bibi ya bu. Kan mas Levi sedang pergi, kok tidak menampakkan diri kepada Bida.


Nenek... Bibi..."


Bida masih mengedarkan pandangannya ke penjuru rumah sambil memanggil Bibi dan nenek.


"Jika bisa memilih, Bida lebih suka lihat Levi atau nenek dan bibi ?" Ibu menggoda Bida.


"Ah ibu kan beda bu." Bida pergi meninggalkan ibu di dapur belakang. Bida akan membuatkan kopi untuk Pak Joko dan Levi di dapur baru.


Terdengat suara langkah. Pak Joko dan Levi datang dari Musholla


"Bida.... mas Levi akan ke kantor kelurahan jam 8 nanti. Mas Levi mengantuk sekali, tapi bapak mengajak mas Levi mengurus sapi setelah sarapan." Levi menguap setelah mengatakan itu.


"Itu sapinya mas Levi. Uangnya kan kurang, jadi bapak menyerahkan sapi itu kepada mas Levi. Eh sapinya beranak setiap tahun, setelah 2 tahun, sekarang sapinya mas Levi ada 4. Jika menurut kebiasaan karena mas Levi tidak ikut merawat maka sapinya mas Levi 3 karena yg 1 milik bapak sebagai upah perawatan."


"Oh ya. Sapinya buat bapak semua saja. Mas Levi tidak suka memelihara hewan." Levi kembali menguap, wajahnya tampak agak lesu karena mengantuk.


Bida mendekati Levi, lalu meletakkan tangannya di dahi Levi.


"Mas Levi badannya agak anget mas. Ayo mas Levi harus istirahat dulu. Nanti jika sudah bangun akan Bida temani sarapan."


Levi memegang dahinya sendiri tapi suhunya normal. Tangan Bida yang dingin karena habis memegang air. Tadi Bida mencuci peralatan dapur.


Levi menguap lagi. Akhirnya Levi memutuskan tidur di kamar Bida. Levi merebahkan tubuhnya dan langsung tertidur karena sangat mengantuk.


"Mana Levi Bida?"


"Tidur pak. sepertinya mas Levi agak demam. Mas Levi pasti kelelahan."


"Ya sudah biarkan tidur."


Satu jam kemudian, Levi bangun ia mandi. Wajahnya sudah segar, menyisir rambutnya lalu keluar kamar. Bida baru saja selesai menyapu.


"Mas Levi, wajahnya sudah segar, mari kita sarapan. Bida sudah lapar."


Bida menyiapkan makanan di dapur baru. Mereka sarapan berdua.


"Nak Levi sudah enakan?" Pak Joko menyapa Levi yang baru selesai sarapan.


"Saya sehat Pak, saya hanya kecapekan dan mengantuk tadi."


"Syukurlah, kita berangkat sekarang ya."


"Ya Pak."


Setelah sarapan, Levi dan Pak Joko pergi ke kelurahan untuk mengurus keperluan legalisasi pernikahan Bida.


Setelah Levi pergi. Bida masuk ke kamarnya. Ia teringat buku hadiah dari Rona. Bida membacanya dan bisa lebih menghayati isi buku tersebut karena sebagian sudah dialaminya. Sesekali Bida mengulangi bagian yang menarik baginya.


Bida membacanyq dengan seksama. Sesekali Bida mengubah posisi duduknya karena lehernya kaku kelamaan di posisi yang sama.


Bida membaca novel tersebut, sesekali melewati beberapa bagian yang menurutnya tidak menarik. Hingga sebuah ketukan di pintu kamarnya membuatnya panik.


Ia menyembunyikan buku itu di antara tumpukan baju di dalam lemari yang ada di walk closet.


Bida membuka pintu kamar, ternyata ibu memanggilnya karena ada Rona datang. Rona dan ibu sudah berdiri di depan pintu kamarnya.


"Rona, Ibu tinggal ya, mau ke pasar."


"Silahkan bu."


Bida mengajak Rona duduk di kursi makan di dapurnya. Rona sempat melihat isi kamar Bida dan bengong melihat isi kamar Bida karena pintu kamar Bida terbuka. Selama ini jika berkunjung, Bida tidak pernah mengajaknya masuk kamar.


"Rona mari duduk disana saja." Bida menunjuk dapur yang terlihat dari depan kamarnya.


Rona senang berada dapur Bida yang katanya mirip cafe. Mereka biasa ngobrol di sana sambil menikmati minuman dan cemilan.


"Bagaimana bukunya sudah dibaca?"


"Sudah sebagian. Aku masih sibuk." Bida mengeluarkan Happy tos dari kemasannya ke atas piring, lalu membuatkan minuman untuk Rona.


"Sibuk apa? Bagus kan isinya?"


"Mmmh.... bagus. Aku penasaran darimana kamu mendapatkan buku seperti itu?"


"Ada deh. Kamu sudah beli HP? Ada aplikasi novel on line. Kamu tinggal download saja.


"Mas Levi memberiku HP tapi aku belum memakainya."


"Mas Levi lagi. Aku jadi penasaran. Seperti apa sih Mas Levimu itu. Sepatu, tas, jam tangan, semua barangmu, hingga cemilan yang selalu kamu hidangkan saat aku berkunjung ke sini. Semuanya kamu bilang dari Mas Levi."


"Mas Levi yang pernah kuceritakan itu sekarang sedang ada di ... " Belum sempat Bida menyelesaikan kalimatnya ketika ia mendengar suara yang selalu dirindukannya


"Assalamualaikum. Bida.... "


"Waalikumsalam" Jawab Bida dan Rona


Rona yang sedang duduk membelakangi Levi, menoleh dan terpesona. Seorang laki-laki tinggi dan gagah dengan wajah mirip oppa di film korea berdiri disana. Ia memakai celana jeans dan sweater. Wajahnya ganteng dengan alis tebal, mata tajam dan bibir berwarna merah seperti memakai lipstik.


"Bagaimana urusannya mas?" Bida bertanya kepada Levi tapi tatapannya beralih menatap tajam ke arah Rona yang terus menatap wajah Levi.


"Nanti siang jam 1, mas Levi akan temani Bida membuat KTP dulu." Levi mulai memahami ekspresi Bida kepada gadis di depannya.


Levi mengulum senyum mengetahui ekspresi Bida yang terlihat masam memandang wajah gadis di depannya yang terpaku menatapnya.


Levi mendekat, mengambil kursi disamping gadis yang pandangannya masih mengikuti langkahnya.


Rona semakin terpesona melihat wajah Levi dari jarak dekat hanya dihalangi meja sempit panjang.


Levi manarik kursi, meraih pinggang Bida mendekat ke arahnya lalu mendudukkan Bida di pangkuannya. Pak Joko sudah pamit langsung kerja setelah dari kelurahan sedangkan Bu Joko tadi berpamitan ke pasar ketika berpapasan di ruang tamu.


Levi melingkarkan tangannya di perut Bida. Ia meletakkan wajahnya di bahu kanan Bida. Lalu berkata pelan di samping telinga Bida.


"Sayang... siapa dia, apakah teman sekolahmu?"


Barulah Bida tersadar begitu juga Rona langsung berkedip setelah semakin melebarkan matanya melihat sikap mesra laki-laki ganteng itu kepada Bida.


Bida merasa gugup di pangkuan Levi karena ada Rona di hadapannya. Ia hendak bangkit, tapi tertahan tangan levi yang melingkar di perutnya.


"Siapa ?" Levi bertanya dengan isyarat dagu.


"Mas Levi, ini Rona teman Bida."


"Oh Kenalkan saya Levi." Levi memperkenalkan diri tanpa menatap wajah Rona. Levi menempelkan pipinya di pipi Bida.


Rona tampak sangat gugup dengan adegan romantis di depannya.


Bida juga jadi serba salah.


"Mas jangan begini, aku malu." Bida mencoba menjauhkan wajahnya.


"Baiklah.. "Levi melepas pelukannya. Bida segera berdiri dari pangkuan Levi.


"Silahkan diminum Rona." Bida menggeser segelas teh dingin ke arah Rona.


Rona langsung meminum minumannya hingga habis. Tenggorokannya terasa kering kebanyakan menganga.


Levi tersenyum, ia berhasil menghapus wajah cemburu Bida.


Levi berdiri lalu memutar tubuh Bida agar menghadapnya, menatap ke mata Bida.


"Bida, mas Levi ke kamar dulu ya." Levi mengecup bibir Bida di depan Rona. Membuat Rona menelan ludahnya.


"Maaf Rona aku permisi." Levi berlalu lalu masuk ke kamar Bida.


Mas Levi yang ganteng itu masuk ke kamar Bida. Di depanku saja, ia tidak sungkan bersikap mesra. Apalagi di dalam kamar.


Setelah kepergian Levi, Rona dan Bida hanya diam canggung. Namun kemudian Rona menatap Bida, meminta penjelasan Bida dengan isyarat matanya.


"Rona, sebenarnya aku dan mas Levi sudah menikah."


Rona membelalakkan mata karena kaget.


"Kapan kalian menikah?" suara Rona terbata.


"Dua tahun lalu. Kami menikah secara agama lalu kami hidup terpisah. Mas Levi ingin aku menjalani masa sekolahku secara normal. Jadi selama dua tahun kami tidak pernah bertemu. Saat ini kami sedang mengurus legalitas pernikahan kami di mata hukum. Maaf kami sedang sibuk menyiapkan beberapa hal."


"Ya. Maaf aku hanya mampir. Aku pamit dulu."


"Maaf aku tidak bermaksud untuk ...."


"Tidak apa-apa."


Rona berdiri melangkah keluar diantar Bida hingga ruang tamu.


"Bida,... "


"Ya."


"Sepertinya aku memberi hadiah yang tepat untukmu." Rona tersenyum sambil mengedipkan matanya.


Bida hanya tersenyum dengan wajah merona malu.


Setelah Rona melewati pagar rumahnya dan sudah tak terlihat, Bida menutup kembali pintu rumahnya.


Bida menuju kamarnya. Isi buku yang dibacanya terngiang di kepalanya.


Levi memejamkam mata pura-pura tidur tapi setelah Bida duduk di sampingnya. Ia langsung bangun dan mendekap Bida kemudian merebahkannya di atas tempat tidur.


Legalisasi pernikahannya sedang dalam proses. Mereka sedang berdua di kamar. Sedangkan Bida sedang terobsesi dengan novel percintaan yang tadi dibacanya.


"Mas..."


"Mmmm..."


Selanjutnya, Bida tak kuasa menolak setiap sentuhan manis Levi. Levi memperlakukannya penuh kelembutan. Ia sudah tidak mampu berpikir apapun. Yang ada di benaknya hanya Levi, suami yang dirindukannya. Mereka berdua hanyut dalam pusaran keindahan. Levi tidak mampu menahan diri namun tetap ingin memberi kesan lembut. Levi mengecup kening Bida yang berpeluh.


"Tunggu sini." Levi menyelimuti Bida.


Bida mengangguk dengan senyum tipis, wajahnya memerah.


Levi menyiapkan air hangat di bathup, lalu menggendong Bida dan memasukkannya dengan hati-hati sementara ia membersihkan dirinya di bawah shower.


"Aku tunggu di ruang tengah ya."


Levi keluar kamar mandi setelah membersihkan diri.


Bida menganggukkan kepalanya.


Levi keluar kamar mandi tanpa menoleh lagi.


Dasar aku memang tidak bisa mengendalikan diri. Padahal aku ingin menunggu legalitas pernikahan kami, tapi suasana sepi membuatku hilang kendali.


Bida keluar kamar menggunakan baju lengkap dengan jilbab. Levi sedang membuka HPnya, ketika Bida menghampirinya. Untunglah bu Joko belum kembali dari pasar.


Ibu datang dari pasar, melewati ruang tengah, melihat Bida baru saja mendudukkan dirinya di samping Levi.


"Loh kok pakai jilbab di dalam rumah ? Levi kan suamimu mengapa harus pakai jilbab di dalam rumah ?"


"Bida akan mengurus KTP bu."


Kan rambut Bida basah habis keramas, meski tadi sudah pakai hair dryer tapi masih terlihat basah. Bida khawatir ibu melihat rambutnya basah.


"Oh ya tapi ibu tadi dengar jika buat KTP nya nanti jam 1 siang. Ini masih jam 12 Bida."


"Ndak papa bu."


Bida duduk di samping Levi dengan wajah merona.


Levi mendekatkan wajahnya, mengecup pipi bida lalu berbisik pelan, "I love you so much... untung tadi ibu belum datang"


Bida sangat malu mendengar kalimat Levi. Ia ingin segera kabur tapi Levi menahan nya dengan menarik tangannya agar kembali duduk. Levi kembali berbisik,


"Ada yang beda, kamu jadi eksrpesif tapi aku suka."


Wajah Bida semakin merah menahan malu. Levi tersenyum nakal.


"Ayo kita jalan-jalan dulu, aku kangen keindahan desa ini, kemudian jam 1 nanti kita urus KTP mu."