Jodoh Gadis Indigo

Jodoh Gadis Indigo
Hamil


Levi merasakan harinya sepi meski ia sudah menyibukkan dirinya dalam berbagai kegiatan persiapan wisuda. Berbagai konsep kegiatan disampaikan di hadapan Levi tapi Levi seolah blank tidak fokus. Sehingga sering minta agar penjelasannya diulang.


Levi sengaja menyibukkan dirinya. Ia berkali-kali memeriksa HP nya tapi tidak ada pesan dari Bida. Levi berkali-kali menelfon tapi HP nya tidak aktif. Levi mulai merindukan Bida tingkat berat. Ia merindukan kehadiran Bida di pelukannya. Selama tidur, Bida selalu menempel erat kepadanya.


Levi membuka-buka artikel kehamilan. Disana terdapat info bahwa wanita hamil.kadang membenci bau suaminya. Levi memfokuskan membaca artikel itu.


Aku kangen Bida, bisa menderita diriku jika setelah tidak bertemu lama kemudian Bida tidak mau aku dekati.


Ting


ada notifikasi masuk di HP nya


Mas Levi, Bida kangen... tadi Bida lihat ada pasangan foto maternity. Bida ingin segera foto seperti itu. Pokoknya Bida ingin cepat hamil titik. ---- Bida


Levi langsung antusias membaca pesan itu.


"Mas Levi jemput besok ya terus kita buat anak." ---- Levi


Levi tersenyum jahil sambil menekan tombol send.


"Ya. Langsung jemput Bida ya. Tidak usah bilang tante Mira jika mau jemput Bida." ----- Bida


"Beres Bos."------ Levi.


Levi menambahkan meme bergambar tokoh kartun berseagam tentara sedang hormat.


Levi terkekeh senang.


"Sayang ayo dimakan. Nanti lagi main HP nya ya." Mira mengingatkan Bida


"Ya tante." Bida meletakkan HP nya yang masih terhubung ke power bank milik Mira.


"Kok Jus yang Bida pesan belum datang."


"Sabar sayang pasti bentar lagi datang. Bida tadi pesan jus apa?"


"Jus nanas te. Pasti segar." Bida menelan ludah membayangkan jus nanas dingin masuk ke tenggorokannya.


"Nanas ?" Mira panik. Ia teringat pesan dari kakak iparnya.


Menantuku sudah makan? Awas beri makanan yang bergizi dan aman untuk cucuku. Jangan beri junk food. Jika kamu sedang tidak punya uang, aku akan transfer sekarang. ------ Dewi


T**adi aku sudah menyanggupi kak Dewi dengan balasan OK don't worry I have a lot of money. I don't need your money.


"Bida...tante akan ke toilet sebentar ya."


"Ya tante." Bida langsung meriah HPnya lagi setelah Mira pergi


Mira pergi ke bagian dapur dan mengcancel pesanan jus nanas ia menggantinya dengan jus jeruk.


Bida melakukan video call dengan Levi.


Seorang mahasiswi bagian entertain mendatangi Levi dari arah belakang. Levi langsung menyuruhnya menjauh dengan isyarat tangannya.


"Siapa itu mas?"


"Teman."


"Kok mendatangi mas Levi?"


"Ya. ada kepentingan dengan mas Levi."


"Nanti lagi ya mas. Ada tante Mira."


Bida mengentikan panggilan videonya. Tapi ia masih memikirkan wanita yang tampak di layar ketika video call tadi.


Pelayan datang mengantar jus jeruk. Bida langsung meminumnya.


"Loh kok jus jeruk? Bida nan pesannya jus nanas." Bida hendak memanggil pelayan itu tapi Mira menghentikannya.


"Sudahlah sayang. Disini lama pelayanannya, jika kamu pesan lagi nanti lama lagi nunggunya." Mira menenangkan Bida.


Akhirnya Bida tidak protes lagim Mira sangat lega. Ia mengirim pesan ke kakak iparnya tentang daftar makanan dan minuman yang dimakan Bida.


*****


Malam hari Bida tidur di kamar Levi di kota *****. Tante Mira tidak bisa apa-apa ketika tiba-tiba mama Levi menjemputnya di tempat lerjamya. Bida sedang melihat foto-foto Levi di kamar itu. Ada foto Levi waktu masih kecil di pajang di dinding kamar.


HP Bida bergetar, ada panggilan masuk dari Levi.


'Hallo mas."


"Hallo sedang apa sayang?"


"Sedang memandang foto mas Levi waktu kecil. Ganteng sekali lebih ganteng dari yang sekarang."


"Masa iya. Gantengan yang sekarang dong." Levi tersenyum bangga, ia melirik wajahnya di cermin yang ada di kamar apartemennya.


"Tidak mas, gantengan waktu kecil. Nanti Bida ingin punya anak yang mirip mas Levi. Bida suka, ganteng sekali." Bida masih menatap foto Levi yang sedang menggunakan setelan jas warna kelabu.


Levi merasa melayang mendengar kalimat Bida.


"Boleh, mas Levi akan buatkan banyak buat Bida."


"Jangan banyak-banyak mas. Bida mau tiga saja."


"Tiga itu tidak masuk kategori banyak ya?" Levi mulai menggoda Bida.


"Tidak mas 3 itu sudah lebih dari cukup. Jika lebih dari 3 baru disebut banyak."


"Mas Levi, kangen apa tidak ke Bida?"


"Ya sayang, kangen sekali. Bida bagaimana?"


"Bida kangen sekali mas. Bida pingin tidur dipeluk mas Levi."


"Kan besok mas Levi jemput Bida. Sekarang Bida tidur saja ya."


"Ya mas."


Levi meletakkan HP nya lalu mencoba memejamkan mata tapi tidak bisa. Akhirnya Levi memutuskan berangkat ke kota **** malam itu juga.


Levi sampai di rumahnya lewat tengah malam. Satpam membukakan pintu rumahnya. Levi membuka pintu rumah dengan muda karena menggunakan kode yang sudah dihafalnya.


Levi langsung masuk ke kamarnya yang tidak dikunci, Ia merebahkan tubuhnya setelah membersihkan dirinya. Bida merangsek mendekatinya, ia seperti mengigau memanggil namanya.


"Mas Levi... "


Levi menatap wajah istrinya yang sangat disayanginya. Levi mengusap perut Bida yang masih rata. Kemudian ia jadi tidak bisa mengendalikan dirinya lagi. Dalam keadaan setengah mengantuk Bida merespon setiap sentuhannya.


Subuh menjelang, Bida mengerjapkan matanya. "Mas Levi... Bida kangen sekali." Bida memeluk Levi erat lalu merasakan kontak kulitnya. "Loh jadi tadi malam bukan mimpi ya mas. Ah mas Levi kok gitu sih." Bida kembali merapatkan tubuhnya. Ia menciumi dada Levi.


Levi hanya membelai rambut Bida penuh kasih sayang.


"Mas Levi, Bida suka baunya mas Levi" Bida masih saja menciuminya. Bida yang bergerak menciumi Levi membuat gesekan disana sini membuat Levi menginginkannya lagi."


Bu Dewi mendengar suara jeritan tertahan Bida ketika hendak menuju dapur. Bu Dewi yang tidak mengetahui kedatangan Levi langsung membuka pintu kamar Bida.


Bu Dewi kaget dengan pemandangan di depannya. Levi dan Bida masih berpelukan dengan nafas terengah-engah dengan selimut yang hanya sebagian kecil meliputi tubuh mereka. Bu Dewi langsung menutup lagi pintu kamar Levi dengan tergesa-gesa hingga menimbulkan suara bantingan yang keras. Bida dan Levi sempat melihat tubuh bu Dewi sekilas. Bida merasa malu, ia menenggelamkan wajahnya di dada Levi.


"Mas mama melihat kita, kok pintunya ndk dikunci sih mas."


Levi mencium puncak kepala Bida, membiarkannya bersembunyi di dadanya.


"Gimana lagi kan sudah terlanjur, mandi yuk. Kamu kok masih nyiumi mas Levi sih. Mas Levi bau belum mandi."


"Ndak bau. Bida suka baunya mas Levi."


"Ayo kita mandi dulu, nanti jika sudah mandi. Bida boleh mencium mas Levi lagi semuanya." Levi mulai menggoda Bida lagi.


*****


"Jelas saja kamu tidak membangunkan mama karena tujuanmu kan bukan menemui mama. Malah langsung action saja. Lebih baik, Bida segera mengetahui kebenarannya agar Bida bisa mawas diri juga."


"Ya ma. Levi juga berpikir begitu."


"Mama, mas Levi ini hasil masakan Bida ditemani bibi." Bida berkata dari ruang makan


Levi dan mamanya menuju ruang makan.


Di meja makan ada 2 piring besar, masing-masing berisi ikan gurami besar di masak asam manis.


Mereka makan bersama. Bida tampak makan dengan lahap.


"Loh mas, ikannya habis ya." Bida memandang satu piring berisi tulang ikan di depannya.


"Bida masih mau ikan, ini masih ada kan", bu Dewi menyodorkan piring satunya yang masih sisa separuh setelah dimakan oleh bu Dewi dan Levi.


Bida menggeleng sambil meraba perutnya.


"Bida menghabiskan ikan itu sendirian mas, nanti Bida bisa gendut. Bida tidak mau gendut nanti Bida jelek. Mas Levi nanti tidak suka Bida lagi."


Bu Dewi dan Levi saling menatap.


"Bida katanya ingin hamil, kok takut gendut?" Kata Levi sambil mengusap punggung tangan Bida.


"Kan beda mas, gendut karena hamil sama gendut gembrot." Bida semakin menunduk menyesali sudah makan banyak.


"Mama punya ide, Bida periksa saja ya. Mama akan belikan tespack siapa tahu Bida hamil makanya Bida makannya banyak. Itu juga tambah penuh." Bu Dewi menunjuk dada Bida dengan matanya.


"Ya sayang. Mama benar, siapa tahu yang kita bikin tadi sudah jadi." Levi mulai usil menyentil hidung Bida.


Bida menunduk malu atas perkataan Levi yang menyinggung peristiwa tadi yang kepergok mamanya.


*****


"Mas Levi..." Bida memanggil Levi.


Bu Dewi dan Levi menunggu Bida di ruang keluarga.


Bida muncul dari kamarnya sambil membawa hasil testpacknya.


Levi berpura-pura penasaran dengan hasilnya.


"Mas Levi, Bida positif hamil." Bida mengatakannya dengan wajah cerah.


Levi memeluk Bida senang, "Usaha kita berhasil kan yang." matanya berkedip ke arah mamanya.


Bu Dewi tanggap, ia langsung berdiri lalu memeluk Bida.


"Terima kasih ya sayang sudah mau memberi mama cucu. Hati-hati jangan dekat-dekat Levi dulu ya." Bisik mama.


Bida melepaskan pelukan mama mertuanya lalu kembali memeluk Levi. "Tidak mau ma, Bida tidak mau jauh dari mas Levi lagi. Bida maunya dekat mas Levi terus."


Bu Dewi hanya bisa pasrah melihat menantu belia nya ini. Ia sangat bahagia melihat Levi yang terlihat sangat bahagia dengan kehadiran Bida di sisinya.


"Mas Levi, kabari tante Mira mas. Tante Mira juga ingin Bida cepat hamil."


"Biar mama yang akan memberitahu tante Mira dan kakakmu Lina." Kata mama.


"Ya ma. Nanti Bida juga akan memberitahu ibu dan bapak. Oh tidak jadi, Bida akan bilang bapak dan ibu ketika ibu dan bapak sudah sampai di Mekah saja." Bida ingin membuat kejutan untuk bapak dan ibunya.


*****


Bida da Levi sudah kembali ke apartemennya.


Ketika berpamitan, mama berpesan agar Levi menuruti semua kemauan Bida selama ngidam agar tidak ngileran seperti Levi waktu kecil. Mamanya Levi mengidam ingin makan nasi goreng spesial buatan papanya. Tapi sudah berkali-kali papanya memasakkan nasi goreng katanya selalu tidak enak. Padahal mamanya Levi ingin nasi goreng rasa spesial tapi buatan papanya sendiri, hingga papanya menyerah dan tidak mau membuatkan nasi goreng lagi karena selalu tidak dimakan.


"Bida ingin apa?" Levi mengelus perut Bida yang masih tampak rata.


"Bida mau mas Levi." Kata Bida sambil menatap tangan Levi yang masih ada di perutnya.


"Bida, mas Levi serius. Bida ingin dibelikan apa? Rujak, Bakso atau apa?" Levi menghentikan tangannya.


"Bida memang ingin mas Levi kok." Bida mulai menciumi Levi lagi. Bida selalu beralasan suka bau sabun dan sampo Levi padahal mereka pakai yang sama


"Bida, mas Levi kan sudah beberapa jam yang lalu mandinya. Masak masih harum."


"Ya. Punya Bida sudah ndak wangi tapi, kok wanginya masih lengket di tubuh mas Levi." Bida mencium tangannya sendiri lalu mencium lengan Levi dan membandingkannya.


*****


Hari ini Bida akan mengajak Bida periksa ke dokter kandungan wanita.


Levi dan Bida menjawab pertanyaan asisten dokter di bagian administrasi


"Umur istri ?" Tanya asisten itu setelah menamyakan nama Levi


"17" Levi mengucapkannya pelan.


"Maaf berapa?" Tanyanya lagi.


"17" Kali ini Bida yang menjawab dengan suara lebih keras, membuat beberapa orang menoleh kepada mereka. Mereka seperti menghakimi Levi.


Setelah mengantri, akhirnya tiba giliran Bida diperiksa.


"Ny Levi silahkan." Levi senang mendengar panggilan itu.


Bida dibaringkan di atas meja periksa, perutnya diolesi gel lalu dokter menatap layar di depannya.


"Bagus janinya ini ya di dalam kantong. usianya 7 minggu. Sepertinya kembar nanti kembali lagi bulan depan atau 3 minggu lagi agar dapat dilihat lebih jelas perkembangannya."


"Loh kok 7 minggu, Bida kan baru lulus sekolah 2 minggu lalu." Bida tiba-tiba mengatakannya setelah duduk di depan dokter di ruangan sebelahnya.


Dokter itu tampak kaget lalu membaca data pasien di mejanya.


"Umur 17 ya. Begini nyonya Levi,... kehamilan itu bukan diawali kelulusa sekolah tapi hubungan suami istri." Dokter itu melirik Levi yang tampak jutek.


Dasar dokter sok pintar kamu. Tanpa kamu beritahu aku juga tahu soal itu. Jika saja kak Lina ada di sini, aku akan periksakan Bida ke kak Lina. Kak Lina sudah bergelar Spog sekarang. Levi masih memasang wajah jutek.


"Terima kasih penjelasannya dokter."


Levi mengajak Bida berdiri setelah menerima resep vitamin.


Sampai di apartemen, Bida tampak merenung.


"Bida mikir apa?" Levi merangkul pundak Bida.


"Mas, Bida inginnya hamil minggu saja."


"Bida, hamil 2 minggu atau 7 minggu kan yang penting hamil. Apa bedanya?"


"Bida malu mas jika ketahuan hamil sebelum lulus sekolah."


"Waktu kita melakukan itu, Bida kan sudah ujian jadi sudah lulus hanya ijazahnya masih ditulis oleh gurunya. Jadi jangan begitu, lagi pula kita kan sudah sah secara agama saat melakukannya. Bida menyesal ya, mas Levi hamili." Levi menggunakan jurus rayuan mautnya.


"Ndak. Bida tidak menyesal, Bida senang bisa hamil anaknya mas Levi nanti anak Bida pasti ganteng seperti mas Levi." Bida tersenyum.


"Nah gitu dong. Sekarang katakan Bida ingin apa?" Levi menempelkan keningnya ke kening Bida.


"Bida mau mas Levi." Bida mengecup bibir Levi.


Ya ampun ma... Levi jamin ma, cucu mama tidak akan ngileran karena Bida ngidamnya itu ma. Levi dengan senang hati akan menuruti kemauan Bida.


Ngidam yang asyik.


Levi membalas ciuman Bida dengan ********** lembut.


*****