Jodoh Gadis Indigo

Jodoh Gadis Indigo
Urusan


*Bida ... simpan bukumu baik-baik ya."


"Ya mas. Bida permisi mau menyimpan buku ini di kamar."


*****


#Di Balai Desa


"Bapak mengucapkan terima kasih atas bantuan kalian, sehingga membantu pembangunan di Desa kami. Semoga kalian sukses meraih cita-cita. "


"Amiin Pak." Roni menjawab mewakili teman-temannya.


"Maaf bapak ada perlu dengan Levi sebentar saja."


"Silahkan Pak."


"Tadi malam Gatot putranya Bu Sulis menghadap saya. Bu Sulis tidak bisa meminta maaf secara terbuka di acara besok. Bu Sulis sudah dibawa ke dokter, tensinya 200/100. Mulutnya masih perot, beliau tidak bisa berbicara dengan jelas. Setiap tidur juga sering mengigau didatangi Gunduruwo. Bu Sulis ingin minta maaf dalam bentuk tulisan nanti akan dibacakan Gatot."


"Maaf saya tidak bisa menerima itu, Bu Sulis sudah mempermalukan Bida dan keluarga Pak Joko termasuk mencemarkan nama baik saya. Saya sudah menghubungi pengacara saya. Saya tidak akan mundur hanya karena kondisi Bu Sulis yang perot."


Pak Kepala Desa menelan ludahnya.


"Maaf mungkin bisa dipertimbangkan lagi. Mungkin Levi perlu melihat kondisi Bu Sulis agar Levi bisa mempertimbangkan."


"Saya tidak ingin melihat wajah Bu Sulis. Saya akan mempertimbangkannya, tapi saya bukan orang yang mudah memaafkan. Saya tidak suka orang yang menginjak martabat orang lain."


"Bapak kepala adat juga akan membantu menyelesaikan masalah ini dengan seadil-adilnya. Bapak yakin, Levi adalah pemuda yang murah hati."


"Bapak salah menilai saya. Saya orang yang konsisten dengan ucapan saya. Apakah bapak ingin melindungi Bu Sulis?"


"Bukan begitu saya tidak melindunginya. Mari kita bicara yang lain saja." Pak Kepala Desa mulai gerah melihat sorot tajam mata Levi kepadanya.


*****


Acara malam ini di Balai Desa sangat meriah Bidang kesenian Desa, menampilkan beberapa kesenian. Sebenarnya mereka latihan untuk penyambutan malam 1 syuro tapi karena sekarang ada pepisahan kelompok KKN maka Pak Kepala Desa ingin mereka tampil acara tersebut.


Levi mengajak Bida di acara tersebut. Banyak pemuda yang menatap Bida yang anggun dengan gamis ungu yang dibelikan Levi tempo hari. Bida sangat jarang keluar rumah meskipun ada acara hajatan di desa mereka.


Levi tidak suka keadaan tersebut. Maka ketika Levi diminta memberi sambutan, di akhir sambutannya Levi menyampaikan sesuatu.


"Terima kasih sekali lagi atas kesempatan yang diberikan kepada kami. Saya Levi Braveano akan menjadi bagian Desa ini karena dua hari yang lalu, saya sudah mempersunting Bida putri Pak Joko."


Levi berani mengumumkan pernikahannya karena di Desa tersebut masih lumrah dengan pernikahan dini.


Bida kaget mendengar pengumuman Levi namun kemudian ia tersenyum kepada Levi.


"Karena saya masih harus meneruskan kuliah dan pekerjaan saya. Maka saya akan mengalami hubungan jarak jauh. Namun saya akan meluangkan waktu untuk mengunjungi istri saya."


Para pemuda tampak kecewa mendengar pengumuman Levi.


Turun dari panggung, Levi mendekati Bida dan merangkul pundaknya mesra. Bida tersipu malu.


*****


Pagi ini Jodi, Miki, dan Deni sudah bersiap-siap mengepak barangnya.


Tok tok tok Assalamualaikum


Terdengar suara ketukan dan salam dari pintu belakang rumah Pak Joko.


Bida membukakan pintu lalu mempersilahkan laki-laki dewasa berkulit hitam berambut agak botak mengikuti Bida di belakangnya.


"Siapa dia Bida? " Levi menatap laki-laki jelek yang mengikuti istrinya masuk.


"Ini mas Gatot putranya Bu Sulis. Silahkan duduk mas. Katanya Mas Gatot ingin berbicara dengan mas levi."


"Sini kamu" Levi menepuk kursi kosong di sampingnya. Bida segera duduk di samping Levi.


Tampan sekali, ini suaminya Bida. Sorot matanya tajam. Mengapa ibunya sampai berurusan dengan laki-laki ini. Pak Kepala Desa mengatakan bahwa beliau tidak berhasil membujuknya.


"Apa yang ingin kamu bicarakan? Cepatlah aku masih banyak urusan." Levi hanya menoleh sekilas kepada Gatot, wajahnya sibuk memandangi wajah Bida.


Ampun kamu seperti anak kecil melihat es krim. Pandanganmu seperti mau makan Bida.


"Begini saya anaknya Bu Sulis, saya ingin meminta maaf atas kelakuan ibu saya terhadap anda, Bida, Pak Joko dan Bu Joko."


"Bida, pergilah ke kamar sekarang. Mas Levi ingin berbicara dengannya." Levi masih tidak menoleh ke Gatot.


Bida langsung berdiri lalu melangkah menuju kamarnya. Levi mengikuti langkah Bida hingga Bida tidak terlihat.


"Lancang sekali kamu menatap istriku seperti itu !"


Suara Levi tidak berteriak tapi nadanya sangat keras. Gatot sampai kaget dan tergagap.


"Maaf saya hanya merasa Bida sudah besar, Saya sibuk bekerja Jadi jarang melihat Bida. Apalagi Bida juga jarang keluar rumah."


"Terus apa masalahnya, kamu tidak perlu memperhatikan istriku. Perhatikan saja istrimu sendiri. Jangan berani macam-macam kepada istriku."


"Maaf saya tidak akan berani melakukan hal seperti itu. Soal ibu saya, saya mohon keringanan... "


"Sebaiknya kamu bicarakan ini dengan pengacaraku saja. Jika kamu repot, siapkan pengacaramu juga. Biarkan mereka yang membantu menyelesaikan."


"Justru itu, jujur saja, saya tidak punya uang untuk menyewa pengacara. Saya akan lakukan apapun untuk memint maaf."


"Jika kamu tidak punya uang untuk menyewa pengacara bukankah kamu juga tidak mampu membayar denda."


"Ya. benar. Maka saya minta kemurahan hati anda. Tolong maafkan ibu saya. Saya akan menjaga ibu saya agat tidak mengganggu Bida lagi."


"Bagus. Kamu anak yang baik. Aku akan membatalkan tuntutanku jika ... "


"Jika apa ? Tolong saya akan lakukan selama itu tidak memerlukan biaya banyak."


"Aku berbicara sebagai suaminya Bida. Aku ingin kamu membangun pagar pemisah antara rumahmu dan rumah Bida. Pastikan pagar itu tidak bisa dilalui oleh ibumu lagi. Mungkin kau bisa manfaatkan tanaman berduri sehingga ibumu tidak seenaknya sendiri muncul di rumah Bida. Aku akan berada disini hingga rehap rumah Pak Joko selesai, pastikan aku tidak melihat wajah ibumu. Pengacaraku akan mengurus surat perjanjian bermaterai tentang kesepakatan ini.


"Tetap pakai pengacara ? Tidak perlu pengacara, kita minta tanda tangan pak Ridwan saja sebagai Kepala Adat."


"Baiklah, aku ingin yang tanda tangan 3 orang yaitu Pak Ridwan, Pak Soleh dan Pak Kepala Desa. Apa masalahnya dengan pengacara, mengapa kamu keberatan? Aku yang membayar pengacaraku."


"Agar lebih praktis karena Pak Ridwan tetap akan meminta surat pernyataan diatas kertas yang isinya agar ibu tidak berkata usil dan menuduh orang lain sembarangan."


"Baiklah, segera urus pagarnya. Terserah apa yang kamu gunakan. Bambu, daun rumbia atau apapun yang penting pekaranganmu dan Pak Joko terpisah."


"Baik. Terima kasih" Saya akan segera mengurus pagarnya.


"Jangan lupa urus suratnya juga.!"


"Baiklah" Gatot pun pamit


*****


Tok tok tok


Roni yang sedang berada di kamar membukakan pintu. Terlihat 5 orang berpakaian seragam dengan logo property grup milik keluarga Levi.


Roni mempersilahkan mereka masuk lalu memanggil Levi.


"Mas mereka sudah datang."


Jodi dan yang lain keluar kamar mengeluarkan tas tas besar milik mereka lalu meletakkannya di ruang tamu yang luas. Mereka melihat tamu yang datang.


"Tuan bagaimana kabarnya?"


"Jangan panggil aku Tuan. Julukan itu adalah milik mendiang papa. Panggil saja dengan mas."


"Ya. maaf mas Levi. Kami akan lakukan yang terbaik."


"Aku ingin kalian kerjakan secepat mungkin, jika perlu gunakan pekerja shift untuk mempercepat pengerjaannya."


"Ya mas. Siap"


"Aku tidak memberi fasilitas makan dan penginapan. Kamu atur saja sendiri."


"Gampang mas, kami tidak perlu adakan shift. Kami akan menerjukan banyak pekerja dengan tanggung jawab masing-masing. Semua akan bekerja sesuai tugasnya."


Mengapa mereka sangat formal kepada Levi. Siapa Levi ini ? Seragam mereka berlogo sama. Itu adalah logo properti grup. Foto salah seorang dari mereka ada di brosur apartemen tempat Levi tinggal. Siapa Levi sebenarnya ? Miki bertanya-tanya tentang Levi.