Jodoh Gadis Indigo

Jodoh Gadis Indigo
Jalan-jalan


"Bida, besok ikut ibu ke kota, kita akan cari persewaan kebaya buat wisudamu."


"Ya bu."


"Kenapa tidak minta antar Levi saja bu?" Deni ternyata tidak main-main ingin mencomblangi Levi.


"Oh tidak usah nanti merepotkan." Bu Joko menolak usulan Deni.


"Tidak merepotkan kok. Saya akan antarkan" Levi menawarkan diri.


Kesempatan ini, aku ingin tahu siapa diantar mereka yang jodohnya Bida. Jika Bida dan Levi pergi ke kota, nanti bisa diketahui. Jika selama perjalanan, Bida tidak melihat makhkuk halus maka berarti Levi lah jodohnya Bida Sekalian akan ku ajak ke pasar saja. Bu Joko membatin sendiri.


"Mas Levi tidak sibuk ?" Bida berusaha menyakinkan lagi kesanggupan Levi.


"Tidak Bida." Tapi jika soal kebaya akan aku usahakan buatmu. Aku akan tetap menyanggupi pergi denganmu. Pasti menyenangkan bisa pergi jauh denganmu.


*****


"Hallo Levi sayang, apa kabar?" Tante Mira mengangkat panggilan telfon dari Levi


"Baik te.Tante baik juga kan?"


"Alhamdulillah baik. Ada apa sayang ?"


"Levi ingin pinjam kebaya, untuk sehari saja. Pilihkan yang paling bagus untuk acara wisuda."


Wah Levi... ini perkembangan yang bagus. Pasti Levi sudah mulai menyukai seorang perempuan.


"Boleh, mau dipakai kapan? Levi ajak saja orangnya ke butik tante." Aku penasaran sekali dengan perempuan ini.


"Maaf te. Levi tidak bisa. Justru Levi ingin tante kirim kebaya dan periasnya ke sini, nanti Levi kirim alamatnya jika tante bersedia."


"Tanggal berapa acaranya sayang?"


"Tanggal 7 pukul 9 pagi, tante baik deh. Levi sayang tante. Akan lebih baik jika tante tidak cerita ke mama. Levi percaya kok sama tante."


Tuh kan, Levi anak yang baik. Harusnya Levi itu lahir dari rahimku.


"Ya. sayang. Jangan khawatir. Tapi tanggal tersebut, tante sibuk. Biar tante kirim Ayu saja ya. Kirim alamatnya saja. Tante akan siapkan kebaya terbaik."


"Ok tante. Tante yang terbaik dah."


"Siapa gadis itu? Jika tante boleh tahu."


"Bidadari tante."


Ya ampun, Leviku memanggilnya Bidadari, pasti ia sangat cantik. Tapi yang terpenting Levi sudah mulai menyukai cewek. Aah leganya...


*****


"Ayu." Mira memanggil salah satu asistennya. Yang dipanggil adalah seorang berkulit mulus namun memiliki suara asli parau dan berat. Ada jakun di lehernya. Ia adalah perias andalan Mira.


"Ya Cin." Ayu berjalan melenggang dengan gemulai.


"Kamu akan merias untuk acara wisuda, kebayanya yang aku pajang di etalase itu."


"Oh my God. Anak pejabat mana cin yang mau sewa kebaya itu? Anaknya cantik kan cin. Sayang kebayanya kan jika yang makai kurang cantik."


"Dia sepertinya pacarnya Levi." Mira menyimpulkan sendiri lalu meletakkan jarinya di bibirnya.


"Owh" Ayu menjerit histeris


Diana kalah saing nih... aku senang banget, Diana kan sombong mentang-mentang merasa cantik.


"Acaranya tanggal 7 pukul 9 pagi harus on time. Atur jadwal keberangkatanmu. Nanti Levi kirim alamatnya."


"Beres Cin... Aku akan lakukan yang terbaik"


*****


"Bida, ayo kita berangkat." Bu Joko mengetuk pintu kamar Bida.


Levi dengan penuh suka cita, sedang memanasi mobilnya.


Bida keluar kamar menggunakan kulot panjang lebar dan tunik berbahan rajut. Levi menyambut kedatangan Bida dan Bu Joko dengan senyum mengembang.


Levi membukakan pintu mobil. Bu Joko masuk kedalam mobil. Levi langsung menutup pintu mobil. Lalu membukakan pintu mobil depan samping dirinya.


"Maaf Bida, mas Levi kan tidak hafal jalan jadi lebih baik Bida di depan memberi instruksi." Ini hanya akal-akalan Levi saja karena bisa saja Bu Joko yang di depan atau pakai aplikasi waze.


"Ya mas." Bida masuk dengan tersipu.


Tiba-tiba Roni ikut menyusul. "Maaf mas Levi, aku ikut ya. Aku mau beli sesuatu untuk oleh-oleh adikku. Sekalian menemani Bu Joko ngobrol di belakang.


"Baiklah." Kamu boleh ikut tapi jangan mengganggu, Levi mengisyaratkan melalui matanya.


"Saya mau ke mall dulu, jika tidak keberatan kita kesana dulu ya." Roni mengusulkan.


"Ok di mall kan juga ada kebaya, nanti Bida bisa lihat-lihat." Levi basa basi.


"Tapi Bida hanya akan sewa mas, tidak ada rencana beli, kan cuma dipakai sehari."


"Baiklah nanti mas Levi antar kok ke tempat persewaan kebaya."


Bu Joko akan mengamati ekspresi Bida dengan seksama. Bu Joko penasaran, apakah Bida masih bisa melihat makhluk halus jika ada Levi di sampingnya.


Sepanjang perjalanan, wajah levi tampak cerah, ia sesekali melirik Bida di sampingnya. Sementara Roni mengajak Bu Joko mengobrol.


"Bida tidak pernah megang HP, apakah Bida tidak punya HP? Roni bertanya kepada Bu Joko


"Oh begitu." Dasar mas Levi keterlaluan 15 tahun. Bisa kena penjara kamu mas.


"Di desa kami, usia 15 adalah usia lumrah untuk menikah, jika Bida sudah ketemu jodohnya. Ibu dan bapak akan menikahkan Bida."


Bida langsung menoleh ke belakang


"Ibu apa sih"


"Bida kan bisa tetap sekolah, menikahnya sekarang tapi tidak tinggal sekamar dulu, jika Bida sudah lulus baru Bida boleh sekamar dengan suaminya."


"Bida tidak mau menikah bu. Bida mau sekolah." Bida mulai meninggi suaranya lalu cemberut.


Levi terkekeh melihat ekspresi Bida sementara Roni terdiam.


"Kita sampai." Levi memasuki mall terbesar di kota tersebut setelah satu setengah jam perjalanan dari rumah Bida. Padahal Bida sama sekali tidak memberi petunjuk jalan.


Bukan perkara besar mencari mall besar. b


Batin Levi


Di dalam mall, Levi mengetik pesan buat Roni. Belikan semua kebutuhan hidup untuk waktu 3 bulan dari sabun mandi, sabun cuci baju, gula, dan semuanya. Gunakan troli tersendiri ! Nanti aku yang bayar semuanya. ---- Levi


Ya mas. ----- Roni


Mereka masuk bersama lalu Bida dan Roni membawa troli.


"Bida lihat itu, ada pan besar. Kamu bisa buat pizza ukuran besar. Yuk kita lihat." Bu Joko melangkah diikuti Bida, Levi dan Roni.


"Wah mahal bu."


"Ya."


Levi melirik Roni lalu Roni mengerti, Roni langsung meminta pramuniaga menyiapkan, setelah menerima nota, Roni kembali mengikuti Bida dan Bu Joko lagi.


"Roni kau jaga jarak aman jangan terlalu dekat agar mereka tidak curiga. Belilah semua yang Bida dan Bu Joko inginkan." Levi berbisik pada Roni.


"Ya mas."


Roni terus memperhatikan Bida dan Bu Joko, bahkan ketika Bida memilih milih pembalut, lalu tidak jadi beli karena Bu Joko berbisik kepada Bida, Roni langsung sigap memasukkan semua jenis pembalut yang tadi dipegang Bida.


"Loh mas Roni kok trolinya penuh?" Bida menunjuk Roni yang masih berada di belakang mereka, sedang memasukkan beberapa liter minyak goreng kemasan ke dalam trolinya yang penuh.


"Ah biarkan saja." Kata Levi.


"Bida lihat, itu gerai kebaya." Yuk kita lihat.


"Ndak mau bu. Bida tidak mau beli, Pemborosan. Bida hanya pakai sehari saja."


"Ya juga."


Setelah selesai belanja. Mereka melanjutkan perjalanan ke tempat yang disebutkan Bu Joko.


Sayangnya karena lama tidak ke kota. Bu Joko dan Bida bingung mencari alamat persewaan baju kebaya hingga mereka berputar-putar keliling kota.


"Sudahlah bu. Kasihan mas Levi sudah capek. Bida pakai kebayanya ibu saja."


"Kamu yakin ? kebaya ibu kan model lama."


"Tidak apa-apa bu." Bida tersenyum kepada ibunya.


"Bida, mas Levi punya kenalan yang menyewakan kebaya, nanti tanggal 7 akan diantar ke rumah Bida. Bida bisa memilih kebaya milik ibu atau milik temannya mas Levi."


"Benar nak Levi?"


"Ya bu, yang penting ada kebaya ibu juga jadi ada pilihan."


"Mas Levi kok seperti Doremon. Apa-apa ada solusinya." Bida tersenyum diikuti tawa yang lain termasuk Levi.


"Bukan begitu, mungkin karena kamu Bidadari jadi ada keajaiban." Levi mengatakannya sambil menatap Bida.


Sejak kapan levi jadi gombal. Dasar pasti ada maunya, mentang-mentang Bida masih kecil jadi dirayu seperti itu. Roni melengos ke arah pemandangan yang dilewati.


Aduh nak Levi ternyata romantis. Aku tidak sabar ingin menanyakan kepada Bida nanti di rumah. Apakah ia masih melihat makhluk halus tadi. Bu Joko berandai-andai jika Levi yang jadi menantunya.


Sampai di rumah, Levi dan Roni mengeluarkan semua belanjaan. Belanjaan Bida hanya satu kresek besar itupun tidak penuh. Sedangkan belanjaan Roni ada 7 kantong kresek besar dan 1 kardus besar.


"Wah banyak sekali belanjaannya?" Pak Joko datang membantu Roni.


Roni bingung mau jawab apa.


Setelah semua barang dimasukkan, Roni mengambil dua kresek yang ia sendirikan, meletakkan satu kresek di kamarnya lalu meletakkannya yang satu di ruang tengah. Ada bermacam makanan dan minuman ringan.


Sedangkan barang yang lain ia biarkan di pinggir tembok di sisi ruang tengah. Roni menggeliatkan badannya karena capek mendorong troli bahkan hingga meletakkan trolinya dekat kasir lalau mengambil lain karena trolinya penuh. Baru kali ini ia belanja sebanyak itu.


"Wah boleh dimakan ini?" Deni membongkar kresek yang dibawa Roni.


"Ya." Silahkan saja toh bukan aku yang bayar. Heran 5 juta habis sekali belanja. Tadi aku sempat dilirik cewek gara-gara beli banyak pembalut.


Wajah Levi berseri-seri seperti habis memenangkan undian, duduk di ruang tengah memainkan HP nya.


Bida menyebutku doremon ah manis sekali.


"Mas aku tadi beli baju untuk adikku, nanti aku akan ganti uangnya." Roni mengatakan pada Levi yang masih senyum-senyum sendiri.


"Ah tidak usah diganti, santai saja." Levi masih fokus dengan HP nya mengamati desain kamar mandi untuk Bidadarinya.