
"Bida, nenek belum terlalu yakin juga tapi nenek mempelajarinya." Nenek berbelit-belit.
"Ayolah nek, beritahu Bida."
"Tanyakan Bibi saja. Bibimu yang meyakinkan nenek."
Bida mencabut kabel setrikanya, lalu mendekat ke Bibi.
"Ayolah bi, aku ingin tahu." Bida memelas.
"Baiklah tapi aku tidak menjamin, ini hanya prasangkaku saja." Bibi mencoba tersenyum kepada Bida.
"Baiklah bi. Aku hanya ingin tahu saja. Aku tidak akan menanggapinya serius." Bida tampak senang dengan jawaban bibi.
"Orang itu adalah yang paling tinggi badannya."
"Owh" Bida menutup mulutnya.
"Mengapa Bida? Apa kamu tidak menyukainya. Ia terlihat sangat tertarik padamu." Bibi heran dengan ekspresi Bida.
"Bukan begitu Bi. Justru aku sangat senang, Mas Levi kan yang paling ganteng dan keren. Tapi... aku ndak yakin mas Levi menyukaiku. Jika aku melihatnya, ia selalu memalingkan wajahnya." Bida menyatakan pendapatnya.
"Ya, benar. Levi namanya... Levi itu selalu sibuk memandangimu, tapi jika kepergok kamu, maka ia akan memalingkan wajah dan menjadi gugup."
"Benarkah ?" Bida tampak sangat senang.
"Kamu jangan menutupi, nenek tahu kamu juga menyukainya." Nenek menatap Bida.
"Aku nek ? Aku tidak yakin dengan diriku sendiri." Bida tampak tersipu malu.
"Bida... suara detak jantungmu dan Levi itu seperti bunyi genderang perang saat kalian bersama. Meski kami tidak terlihat olehmu dan mereka, tapi kami ada di sekitarmu. Kami mendengar suara jantungmu dan Levi."
"Benarkah? nenek dan Bibi sampai mendengar detak jantung" Bida meletakkan tangannya di dadanya.
"Bagaimana kami tidak mendengar. Telinga kami sangat peka. Suara detak jantungmu dan Levi itu benar-benar seperti genderang perang dag dug dag dug seolah saling bersahutan." Bibi berkata seperti menghakimi Bida.
"Aah... Aku suka sekali mendengarnya, aku sangat bahagia hari ini." Bida menghempaskan badannya ke atas kasur ibunya.
"Bida... Bida..." Nenek terkekeh melihat sikap Bida yang sangat disayanginya.
"Berarti aku cantik ya bi? Sampai mas Levi yang keren itu menyukaiku. Ah nenek dan Bibi memang baik. Terima kasih ya atas kabar gembira ini."
Nenek dan Bibi ikut senang melihat Bida bahagia.
*****
"Bida..." bu Joko mengetuk pintu kamar Bida.
Bida yang baru selesai mandi membuka pintu kamarnya lalu Bu Joko segera masuk.
"Ada apa bu?"
"Bida jangan pakai baju ini, pakailah baju yang lain." Bu Joko bangkit, berjalan ke arah lemari baju Bida lalu membukanya dan memilih baju.
"Ini, pakai yang ini. Ganti bajumu !" Bu Joko menyerahkan baju pilihannya kepada Bida.
"Bida kan ndak akan kemana-mana bu? Mengapa harus pakai baju ini? Lagi pula baju ini sudah agak pendek. Ini baju lebaran Bida tahun lalu." Bida heran dengan sikap ibunya yang aneh menurutnya.
"Baiklah, Bida segera mengganti bajunya di depan ibunya."
Wah, Bida memang sudah beranjak dewasa. Aku tidak percaya jika tidak ada satupun dari mereka yang menyukai Bida.
Bida melihat bayangannya di cermin. Dress merah itu berlengan 3/4 dengan bagian dada yang tidak begitu ketat tapi tetap menonjolkan dadanya. Krahnya tidak rendah namun melebar membuat tulang selangkanya terlihat. Panjang dressnya tidak lagi mencapai betisnya, dress itu hanya menutupi lututnya saja. Bida memang mengalami kenaikan tinggi badan yang cepat dalam setahun ini.
"Bu, Bida malu pakai baju ini?"
*****
Pak Joko dan Bu Joko sudah duduk di ruang makan. Levi dan teman-temannya ikut bergabung. Hanya Bida yang belum terlihat.
"Bida." Pak Joko memanggil Bida yang masih mengambil es jeruk di dapur.
"Ya Pak. Sebentar." Bida menyahut dari dapur lalu mendekat ke ruang makan.
Roni sedang mengambi nasi, matanya melihat Bida yang sedang membawa es jeruk.
Cantik sekali... Aku tidak menyangka, Bida secantik itu. Itu bagian dadanya sangat bulat menonjol, kulitnya mulus.
Tidak sadar, Roni menatap Bida, lalu menjatuhkan nasinya namun sebagian tumpah ke meja makan. Levi mengikuti pandangan Roni dan kaget mengetahui Bida sedang menggunakan baju yang menampilkan lekuk tubuhnya. Bagian pinggangnya pas di badannya namun bagian pinggulnya ke bawah lebar berbentuk payung semakin menambah kecantikannya.
"Roni, nasimu jatuh." Deni menyenggol lengan Roni. Roni tergagap lalu memungut nasi yang jatuh dan meletakkan di atas piringnya.
Levi menendang kaki Roni, menatapnya tajam lalu berkata lirih, "Jangan macam-macam, jaga matamu!"
Roni segera mengendalikan dirinya.
Bida duduk di samping Bu Joko. Bu Joko memperhatikan reaksi para mahasiswa itu ketika melihat Bida.
Deni sedang mengunyah makanannya lalu tidak sengaja pendangannya mengarah ke arah Bida. Deni langsung tersedak melihat penampilan Bida. Bida sedang menguncir ekor kuda rambutnya, menampilkan leher dan tulang selangkanya yang mulus.
Miki dan Jodi masih asyik dengan makanannya. Mereka tidak menoleh ke arah Bida sama sekali.
Levi menatap tajam ke arah Deni. Levi memutuskan akan memberi peringatan kepada mereka semua. Tidak ada yang boleh menatap Bida. Awas kalian jika macam-macam.
Semua makan, tidak ada yang berbicara. Hanya terdengar suara sendok dan garpu beradu. Roni dan Deni sesekali mencuri pandang ke arah Bida. Bu Joko tersenyum melihat reaksi mereka.
Setelah menghabiskan makananya, Miki mengambil es jeruk yang ada di depan Bida, Miki langsung kaget, "Bida, kamu kok beda?"
Bida yang masih belum selesai makan, merasa canggung.
Jodi menoleh ke Bida, Jodi kaget, hingga menjatuhkan sendoknya ke lantai.
Levi sangat kesal, ingin rasanya Levi menarik Bida ke pelukannya untuk mencegah teman-temannya menatap Bida. Levi mengeraskan rahangnya.
Tunggu saja, awas kalian berani menatap Bida.
Pak Joko heran dengan situasi ini, karena baginya Bida selalu tampak cantik kapanpun.
Levi tidak tahan lagi, karena Jodi masih terus menatap Bida tidak berkedip. Ia meletakkan sendoknya dengan kasar lalu berdiri.
"Sudahlah, jangan macam-macam. Jaga pandangan kalian ! Tidak ada yang boleh menatap Bida. Awas kalian !" Levi berdiri sambil menatap tajam teman-temannya.
Pak Joko, bu Joko, Bida dan semua teman-temannya kaget dengan sikap Levi. Semua menatap ke arah Levi, terutama Bida.
Roni menyentuh lengan Levi pelan. "Mas, apa yang kamu lakukan? Mengapa kamu marah seperti ini?"
Levi tersadar dengan sikapnya. Levi bingung mau berbuat apa. Apalagi melihat tatapan Pak Joko dan Bida kepadanya. Levi kembali duduk dengan lemas.
"Maaf, saya tidak bermaksud... " Levi tidak meneruskan kata-katanya karena memang Levi tidak tahu harus bicara apa-apa. Otak Levi serasa blank. Ia tidak mampu berkata apa-apa.
"Ini minum dulu mas." Roni menyodorkan segelas air putih kepada Levi.
Levi meraih gelas tersebut dan meminumnya hingga habis. Levi ingin meredakan emosinya.
Mengapa aku harus marah di depan Pak Joko, Bu Joko dan Bida. Aku hilang kendali. Aku ndak suka mereka menatap Bida. levi menyesali sikapnya.
Aku akan tanya langsung kepada mas Levi. Apa yang sebenarnya terjadi? Siapa Bida bagi Mas Levi? Mengapa Mas Levi emosi seperti itu?