
Levi merasa bosan mendengar sambutan-sambutan yang disampaikan di acara wisuda Bida. Bida duduk di depan Levi bersama Bu Joko. Levi tidak bisa mengalihkan pandangannya kepada Bida meski hanya melihat punggungnya. Ketika Bida menoleh ke belakang lalu tersenyum, Levi kembali merasakan jantungnya berdebar.
Sepertinya aku memang harus menghubungi kak Lina. Detak jantungku tidak teratur, aku mungkin mengalamai aritmia. Sejenis penyakit gangguan detak jantung yang membahayakan.
"Aku mau keluar sebentar." Aku berbisik pelan mendekat ke arah Bida.
"Ya mas." Bida menoleh sambil tersenyum. Wajahnya hanya beberapa cm dari wajahku karena aku sedang memajukan badanku ke depan.
Aku perlu udara segar. Levi berdiri, melewati Ergi.
"Mau kemana mas? Prendi bertanya.
"Sebentar ada perlu."
# Di depan kelas
"Hallo."
"Hallo Levi, ada apa malam-malam telfon?" Suara kak Lina terdengar mengantuk.
"Maaf Kak, Levi lupa jika waktu kita beda. Ya udah nanti saja Levi telfon lagi."
Bagaimana aku bisa tidak berpikir sebelum telfon.
"Eh jangan ditutup telfonnya. Enak saja, sekarang kakak sudah terlanjur bangun."
Levi jarang telfon, ada apa ya?
Lina menyisihkan tangan suaminya yang masih melingkari pinggangnya.
Who is it honey?
My brother
Terdengar suara percakapan kak Lina dan suaminya, Levi menyesal mengganggu kakaknya malam-malam.
"Ada apa Vi?"
"Maaf lain kali saja Levi akan cerita kak."
"Jangan macam-macam ya, ceritakan sekarang."
Pasti ada sesuatu yang penting, Levi tidak mungkin telfon jika tidak ada yang serius.
"Kak, aku akhir-akhir ini merasa kurang sehat."
Tuh kan? Lina turun dari tempat tidur, duduk di sofa kamar dengan perasaan tegang. Levi adalah adiknya yang selalu menjaga kesehatan. Ia tidak mau makan sembarangan, ia bahkan lebih suka makan sederhana asalkan masakan rumahan. Levi tidak malas menyiapkan makanannya sendiri meski cuma telur rebus.
"Vi, ceritakan dengan pelan-pelan, rinci dan jelas. Ungkapkan semua gejala yang kamu rasakan." Lina menekan tombol rekam percakapan agar ia bisa mendengarkan lagi nanti.
"Begini kak. Levi tidak pernah seperti ini sebelumnya. Levi mengalami susah tidur, jantung Levi sering berdetak tidak beraturan, tiba-tiba berdetak kencang bahkan kadang sambil gemetar. Levi juga merasa mengalami kemuduran intelegensi. Seperti sekarang Levi tidak memikirkan perbedaan waktu, tapi langsung nelfon kak Lina."
" Apakah kamu demam Vi?"
"Tidak kak, Levi tidak mengalami demam tapi badan Levi terasa ringan karena kurang tidur. Ada beberapa kejadian yang selalu teringat di pikiran Levi bahkan saat terpejam pun, seolah kejadian itu terjadi berulang-ulang."
Lina mengerutkan dahinya.
"Teruskan Vi."
"Cuma itu kak, Levi sudah berusaha melakukan joging, sit up dan lain-lain. Jika Levi tidak bisa tidur, Levi akan melakukan Sit up, push up hingga Levi lelah barulah Levi bisa tidur. Itu membantu Levi agar bisa istirahat tapi detak jantung Levi tetap saja suka tiba-tiba berdebar."
"Levi..."
"Ya kak."
Lina mencoba memikirkan kalimat yang tepat untuk bertanya kepada Levi tanpa curiga.
"Mungkin kamu mengalami gangguan hormon Vi. Kamu harus optimis. Jangan mudah emosi, kendalikan dirimu."
"Ya kak. Levi suka jengkel akhir-akhir ini."
Levi ingat kejengkelannya kepada Miki, Deni, Prendi, Yogi dan Ergi saat menereka menatap Bida.
Alasan tidak masuk akal sih. Siapa juga yang ingin punya anak cewek, Lewis (suami Lina) sih ingin punya anak cowok itupun setelah aku meraih spesialis. Ndak papa dah, hanya itu yang terlintas di pikiranku saat ini.
"Oh ya kak? mama pasti senang jika punya cucu"
"Apakah Levi bisa mengirimkan foto Diana ke kakak? Diana kan cantik."
"Cantik apanya? Biasa saja."
"Terus yang mana yang cantik Vi? Kakak sudah lihat di Istagram tapi tidak ada yang benar-benar cantik menurut kakak. Kakak kan sedang cari inspirasi agar nanti keponakan kamu cantik seperti Bidadari."
"Benar kak. Kakak benar Bida sangat cantik. Bahkan Deni, Miki, Ergi, Yogi, dan Prendi suka menatapnya membuat Levi jengkel sekali. Enak saja menatap Bida seperti itu." Levi berkata berapi-api.
"Bida yang mana Vi, kamu punya fotonya? kirim dong." Yes kena...Lina mengepalkan tangannya. Lina yang umurnya 7 tahun di atas Levi selalu berhasil memperdayai adiknya dengan taktiknya.
"Ok. Sebentar ya kak, Levi kirim fotonya."
Tut tut tut .... Levi menutup telfonnya lalu mencari foto Bida di galerinya. Tadi Ayu mengirimkan foto Bida melalui WA.
Tidak tanggung-tanggung, Levi mengirimkan 3 foto Bida. Satu foto sedang sendirian, satu foto berdua bersamanya. dan yang satu lagi adalah foto Bida bersama Ayu, Levi dan Bu Joko.
Ting Ting Ting Lina segera membuka foto-foto itu lalu memberinya tanda bintang.
Lina tertegun melihat foto levi berdua dengan seorang wanita berbaju kebaya yang sangat cantik dan sexy.
Wah pantesan Levi berdebar-debar, model yang sangat cantik. Diana pasti patah hati jika begini.
Lina mengira Bida adalah salah satu model Tante Mira, karena ada foto bersama Ayu. Ayu adalah perias andalannya Tante Mira.
*Ck Ck Ck Cantiknya gadis ini.
Dreet dreet* HP Lina bergetar ada nama Adik Levi di layar HP nya. Lina langsung menggeser tanda di HP nya.
"Gimana kak? Cantik kan? Bida adalah gadis tercantik yang pernah Levi temui. Levi selalu mengingatnya kak, padahal levi sering bersamanya tapi tetap saja sampai terbawa mimpi."
"Ya elah yang lagu jatuh cinta." Lina menggoda Levi.
Levi langsung terlonjak kaget dengan kalimat yang disampaikan kakaknya.
"Jatuh Cinta? Maksud kakak, Levi jatuh cinta kepada Bida?"
Levi diam memikirkan kata jatuh cinta. Benarkah aku jatuh cinta? Kepada Bida yang baru lulus SMP ? Apa aku sudah tidak waras ?
"Mas Levi disini. Ayo mas kita foto bareng teman-teman Bida."
Bida mendatanginya. Levi menatap Bida yang sedang mendekat. Bida memang anak lulusan SMP tapi ia sangat cantik dan tubuhnya seperti seorang model.
"Bida, ayo foto !" Prendi yang tampak ganteng dengan jasnya memanggil Bida dari depan kelas.
"Ya sebentar." Bida menoleh sekilas ke arah Prendi lalu mendekat ke Levi.
Aku jatuh cinta kepada gadis ini. Jadi inikah yang namanya jatuh cinta. Jantungku berdebar lagi. Ah aku kira lagu dan film romantis itu hanya klise komersil ternyata seperti inikah jatuh cinta. Ternyata jatuh cinta membuat gangguan jantung dan menurunkan kecerdasan.
"Mas, ayo" Bida memegang pergelangan tangan Levi mengajaknya berjalan bersamanya. Prendi menatap tajam ke arah Levi.
Mengapa kau menatapku seperti ini anak kecil?
levi balas menatap Prendi.
Aku akhirnya paham. Aku jatuh cinta pada gadis ini. Tidak akan kubiarkan orang lain menyentuhnya.
Bida melepaskan pegangannya di tangan Levi lalu mempercepat langkahnya mendatangi Prendi. Sudah ada Yogi dan Prendi di saming Prendi sekarang. Levi kecewa dengan sikap Bida yang melepaskan tangannya demi 3 anak kecil yang hari ini memang terlihat keren terutama Prendi. Sekilas Levi merapikan rambutnya dengan melihat pantulan wajahnya di kaca kelas.
Aku lebih keren, Bida pasti lebih menyukaiku. Levi tersenyum mengingat Bida menggandengnya tadi.
Sementara Lina masih menempelkan HPnya di telinganya. Ia masih bisa menatap percakapan di sekitar Levi melalui HP.
Kedatangan Bida membuat Levi lupa jika ia sedang menelfon kakaknya.
Levi ingat tentang HP nya, lalu membuka HP nya ternyata kakaknya sudah memutuskan panggilannya.
Ah pasti ada gangguan jaringan... kok mati sendiri. Batin Levi.