Jodoh Gadis Indigo

Jodoh Gadis Indigo
Pusaka


Bida merebahkan tubuhnya di kasur, mencoba memejamkan mata. Baru sejenak ia tertidur, Bida mendengar suara adzan dari Musholla. Bida bangun, membuka tas yang dibawanya dari Banyuwangi untuk mengambil baju. Lemari bajunya dan lemari bapak ibunya masih terjejer di ruang tengah. Levi mengeluarkannya dari kamar karena mengganti semua perabot di kamar dengan yang baru.


Bida memasuki kamar mandi, mau meletakkan baju yang diambilnya dari tas ke lemari di ruang ganti yang terhubung dengan kamar mandinya.


Ternyata di dalam lemari sudah ada beberapa baju yang digantung. Ada beberapa baju tidur yang mirip dengan baju tidur Bida hanya bahannya beda. Baju tidur yang ada di lemari berbahan satin halus namun lebih tipis. Juga ada beberapa set pakaian dalam.


Kok mas Levi tahu ukuranku, Oh ya. Pasti mas Levi melihat tumpukan baju yang belum sempat di masukkan lemari karena baru selesai di setrika malamnya sebelum berangkat ke kota Banyuwangi.


Bida berendam di dalam bath up, ia sangat menikmati mandinya. Selesai mandi, Bida memilih baju yang sudah ada di lemari. Pilihan jatuh pada setelan baju kombinasi warna oranye dan biru muda. Bida melihat penampilannya di cermin, setelah ia merasa sudah cukup rapi. Kemudian keluar kamar untuk menyiapkan sarapan, tapi Bida tidak menemukan bahan makanan apapun. Akhirnya Bida hanya membuat 2 cangkir kopi lalu meletakkannya di atas meja di ruang tengah.


Levi melewati ruang tengah sambil membawa baju ganti.


"Mas Levi mau kemana?" Bida menyapa Levi


Levi menatap penampilan Bida yang sangat cantik menurutnya. Warna baju itu cocok di tubuh Bida. Bida menghampirinya semakin dekat.


"Mas Levi mau ke kamar mandi? Pakai kamar yang di kamar Bida saja. Kan mas Levi yang buatkan."


Tanpa membantah seolah terhipnotis, Levi mengikuti Bida yang menggandengnya ke kamar mandi di kamarnya.


Sampai di dalam kamar mandi, Bida melepaskan pegangan tangannya lalu meninggalkannya di kamar mandi, Bida menutup pintu kamar mandi dari luar.


Apa yang ada di pikiranku? Mengapa aku menurut saja ketika Bida membawaku ke sini.


Levi menatap tubuhnya yang terpantul pada cermin di kamar mandi. Tubuhnya semakin kekar karena sering push up.


Mungkin guyuran air dingin akan membantuku meredakannya....


Levi menyegerakan mandinya. Ketika keluar dari kamar mandi. Bida sedang duduk di sofa menunggunya.


"Mas, bagaimana mandinya? Segar kan? Tadi aku berendam di dalam bath up segar sekali."


Kalimatmu ini bisa membuatku kepikiran lagi. Aku barusan selesai mandi. Aku tidak mau push up. Lebih baik aku keluar.


Bida heran melihat Levi tidak menjawab pertanyaanya. Tapi justru pergi keluar kamarnya tanpa berkata apa-apa sambil membawa baju kotornya.


Levi mencari Roni di kamar tengah. Roni sedang merapikan kasurnya.


"Roni, jika Pak Joko dan Bu Joko datang kita akan segera kembali ke ******. Aku tidak mau lama-lama disini."


"Kenapa mas?" Roni meraih baju kotor Levi untuk dicucinya di mesin cuci.


"Aku tidak ingin dekat-dekat Bida." Jawab Levi.


"Kamu rumit mas, ndak ada bilang kangen. Ada ndak mau dekat-dekat. Kamu akan meninggalkannya mas jadi nikmati saja kebersamaan kalian, mumpung tidak ada Pak Joko dan Bu Joko." Roni tersenyum menggoda Levi.


"Gila kamu!" Levi melotot sambil meninju lengan Roni.


Roni bertemu Bida di ruang tengah. Bida sedang menyapu.


"Mas Roni, itu baju mas Levi kan, sini biar Bida yang mencucinya." Bida mengambil baju dari tangan Roni.


"Boleh, kamu istri yang baik." Roni menggoda Bida. Roni terkekeh melihat wajah Bida merona. Bida meletakkan sapunya lalu pergi ke belakang untuk mencuci baju Levi.


Setelah menghidupkan mesin cuci, Bida kembali meneruskan kegiatannya menyapu.


Levi dan Roni sedang duduk di halaman menunggu pesanan masakan yang sudah dibayar hingga minggu depan.


"Mas Levi, aku tidak bisa memasak makanan. Tidak ada bahan makanan di rumah."


"Roni sudah memesankan makanan hingga minggu depan. Kamu tidak usah repot memasak." Levi berbicara tanpa menoleh ke arah Bida. Roni heran dengan sikap Levi.


Pesanan mereka datang. Roni menerima kresek berisi makanan lalu menyerahkannya kepada Bida.


"Mari kita masuk!" Levi melangkah masuk rumah tanpa menoleh ke Bida namun sebenarnya Levi masih meliriknya sekilas diam-diam.


Hari ini kamu cantik sekali, berani-beraninya kamu tadi menggandengku masuk ke kamar mandi dan masih menungguku di dalam kamar tertutup. Apa kamu tidak paham situasi laki-laki di pagi hari yang dingin. Pak Joko ceroboh sekali menitipkan putrinya padaku. Aku ini singa jantan bukan kucing persia yang jinak. Aku akan berusaha tidak memperhatikanmu. Kamu seperti tidak paham ada bahaya yang mengintai. Seenaknya saja bercerita tadi berendam di bath up.


Bida menyiapkan sarapan di atas meja. Levi dan Roni sudah duduk. Bida mengambilkan makanan untuk Levi. Levi memakannya tanpa berbicara.


Apa aku berbuat kesalahan, biasanya saat makan, mas Levi suka menatapku dan meminta aku mengambilkan ini dan itu. Tapi sekarang mengapa diam.


Bida mencoba memandang Levi tapi Levi berpura-pura tidak melihatnya.


Apa lagi ini? Mengapa mas Levi mencueki Bida? Roni heran dengan perubahan sikap Levi.


Setelah makan, Levi sibuk dengan laptopnya di ruang tengah. Bida membongkar lemarinya yang ada disamping lemari ibunya di ruang tengah. Bida mengeluarkan isi lemarinya untuk dipindahkan ke lemari di kamarnya.


Sesekali Levi melirik Bida sembunyi-sembunyi. Ketika Bida menoleh, Levi langsung kembali menatap layar laptopnya.


Bida mondar mandir dari ruang tengah ke kamarnya untuk memindah pakaiannya.


Tanpa sadar Bida menjatuhkan satu benda berwarna oranye. Bida langsung tergopoh mengambilnya.


Kok bisa jatuh sih. Padahal aku sudah meletakkannya di antara bajuku. Mas Levi pasti sudah melihatnya.


Benda berwarna oranye itu... Mengapa otakku jadi keruh begini. Itu yang dipakai Bida waktu itu, saat aku mengira roknya adalah selimut.


Aku harus menghindarinya jangan sampai ada celah bersamanya berdua.


Levi mencoba memfokuskan pikirannya pada laporan bisnis propertinya.


Roni sibuk dengan HP nya.


"Mas Levi, apa maksud kalimat Pak Soleh yang mengatakan jangan mempusakai istrimu dengan paksa ?"


Ternyata Bida sudah duduk tepat di sampingnya.


Levi baru mau menjawabnya namun Bida kembali bertanya.


"Memangnya mas Levi punya pusaka?"


"Punya dong." Roni yang sedang duduk di depan mereka menjawab asal dengan masih fokus pada HP nya.


"Oh ya ? Seperti apa bentuknya ? Mas Roni pernah melihatnya ?" Bida penasaran.


"Buat apa aku melihatnya? Aku juga punya." Roni hanya melirik Bida sekilas lalu kembali fokus ke HP nya sambil tersenyum. Roni tidak menyadari tatapan Levi yang tajam kepadanya.


"Mas Roni apakah pusaka itu semacam keris yang ujungnya runcing?"


"Ha ha ha" Roni tertawa keras tidak menyangka jika Bida menanggapinya serius.


"Tidak juga, ujungnya tumpul." Roni segera menyingkir melihat tatapan tajam Levi kepadanya.


"Mas bolehkah Bida melihat pusaka mas Levi?" Sekarang Bida mendekat sambil memegang lengan Levi.


"Sebentar saja, Bida janji tidak akan memegangnya hanya melihat saja."


Ha ha ha Terdengar suara tawa Roni yang masih sedang berjalan menuju kamarnya untuk mengamankan diri dari Levi.


"Bida..." Levi berusaha menata kalimatnya.


"Pusaka itu ... maksud kalimat itu seorang laki-laki harus membayar mahar untuk menikahi istrinya, tidak boleh memaksa menikahi, tidak boleh mengambil kembali mahar yang diberikan. Seperti itulah, mas Levi juga tidak bisa menjelaskan karena mas Levi bukan ustadz."


"Loh tapi kata mas Roni yang tumpul itu maksudnya apa?"


Bida memangku wajahnya dengan kedua tangannya sambil menatap Levi yang duduk disampingnya, sedang menunggu penjelasan Levi.


Levi terdiam sejenak lalu, Ia tidak sanggup lagi menahan diri melihat Bida yang sangat dekat dengan dirinya. Levi mendekatkan wajahnya mengecup bibir Bida.


Bida kaget, seolah waktu berhenti berdetak, ia diam menatap Levi.


Levi kembali mengecup bibirnya untuk kedua kalinya. Bida memejamkan matanya.


Kamu cari gara-gara Bida. Aku sudah berusaha tidak mendekatimu. Tapi kamu yang mendekatiku.


Levi menarik nafas dalam-dalam setelah sudah tersadar dengan apa yang telah dilakukannya.


"Sekarang kembali ke kamarmu ! Baca peraturan itu 10 kali, jangan keluar sebelum selesai membacanya ! Jangan pernah mengungkit kata pusaka lagi! Mengerti ?"


Levi meminta Bida pergi sebelum kondisi semakin memburuk.


"Ya mas." Bida bergegas kembali ke kamarnya. Bida masih merasakan detak jantungnya yang serasa mau copot. Ia merebahkan tubuhnya lalu membaca paeraturan yang sudah dihafalnya sambil menghitung jarinya.