
Levi terbangun, Bida masih ada di pelukannya. Levi melihat jam dinding, masih jam 3 pagi. Bida kamu lelap sekali. Ada sesuatu yang juga ikut terbangun dalam dirinya. Jiwa laki-lakinya yang tergugah. Selimut yang mereka pakai melorot, bahu dan lengan Bida terekspos karena gaun tidur yang dipakainya berupa tali bahu kecil. Di bagian krahnya yang rendah ada renda kecil. Levi memejamkan matanya tidak ingin melihat yang terpampang didepannya. Meski tadi Levi sekilas sudah melihatnya.
Levi ingat kejadian tadi malam, ia tidak berniat tidur di kamar Bida. Levi hanya ingin bertanya alasan Bida menangis ketika pulang sekolah tapi ternyata Bida sudah tidur, ketika Levi mengetuk pintu, Bida mengira Levi adalah ibunya.
Masih dengan memejamkan mata, Levi bangkit dari tempatnya lalu meraba-raba mencari selimut hendak menutup tubuh Bida dengan selimut, tapi justru tangannya merasakan sesuatu yang kenyal. Levi langsung membuka matanya, apa ini ? Levi kaget karena justru tangannya ada di dada Bida. Levi langsung menarik tangannya lalu kembali memejamkan mata, ia kembali mencari selimut dengan mata terpejam dan ia merasa berhasil, ada kain di jarinya. Levi menariknya ke atas tubuh Bida tapi kainnya terasa kurang panjang, kain itu seperti tertahan tidak bisa ditarik lagi. Levi kembali membuka matanya dan terbelalak. Karena yang ia tarik ternyata adalah ujung rok Bida. Sekarang rok itu tersingkap hingga memperlihatkan ****** ***** Bida yang berwarna oranye. Levi melepaskan rok Bida, ia menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
Nafasnya terasa sesak, aku harus segera membereskan kekacauan ini.
Jari Levi gemetar mengembalikan rok Bida ke posisinya. Levi menurunkan rok itu dengan sangat hati-hati. Levi khawatir Bida terbangun, Bida akan salah sangka kepadanya. Setelah itu Levi mengambil ujung selimut dan menutupkannya ke seluruh tubuh Bida hingga lehernya.
Levi bernafas lega, jantungnya serasa berdegup kencang. Tenang tenang.... Levi mengelus dadanya sendiri. Lalu melangkah keluar dari kamar Bida.
Levi masuk ke kamar depan, Roni masih tertidur pulas. Levi melakukan push up hingga 50 kali kemudian membaringkan tubuhnya. Namun tiba-tiba ia teringat bahwa kamar Bida tidak terkunci. Meski Levi sudah merapatkan selimutnya, bisa saja Bida bergerak lalu selimutnya tersingkap. Bayangan tubuh Bida ada di depannya. Ia melirik ke arah Roni.
Levi menemukan ide, Levi mengenggam pergelangan tangan Roni erat lalu memejamkam matanya. Kamu tidak bisa kemana-mana Ron. Aku akan terbangun jika kau bangun. Aku tidak akan memberimu kesempatan sama sekali.
Roni sempat terbangun karena merasa ada yang memegang erat pergelangan tangannya. Ia memicingkan mata karena masih sangat mengantuk. Apa yang terjadi, mengapa Levi berpegangan erat kepadaku. Apakah ia bermimpi ada hantu. Dasar aneh.
Roni tidak mengetahui jika Levi baru kembali dari kamar Bida.
*****
Levi bangun tapi pegangan tangannya kosong, ia menoleh ke samping. Roni sudah bangun. Pasti aku lelah setelah push up hingga tidak menyadari jika Roni bangun.
Levi teringat pada kamar Bida yang tidak terkunci. Levi bergegas keluar kamar.
Bida sedang menyiapkan sarapan bersama bu Joko. Levi ingin mulai membiasakan memanggil bapak dan ibu kepada Pak Joko dan bu Joko seperti Bida, meski canggung namun sekarang mereka adalah mertuanya.
Bida mencuri pandang kepadanya lalu tersenyum. Levi suka melihatnya..
Dimana Roni ? Levi mengedarkan pandangannya ke ruang tengah tapi tidak melihatnya.
Terdengar suara langkah kaki. Roni dan Pak Joko baru pulang dari musholla.
Roni, kamu sengaja menunjukkan kalau kamu lebih soleh ya. Awas kau harusnya kamu bangunkan aku tadi agar aku juga bisa berangkat le musholla bersama bapak.
Levi menatap Roni tajam.
"Mas Levi sudah sholat ?" Roni bertanya kepada Levi karena Levi masih menatapnya tajam. Ia merasa tidak melakukan kesalahan, bahkan ia hanya diam ketika Levi memegang erat tangannya tadi. Roni jadi tidak bisa berganti posisi tidurnya karena genggaman itu. Roni menunggu Levi yang melepaskan sendiri genggaman di pergelangan tangannya.
"Ya. ini juga mau sholat." Levi menjawab ketus.
Kamu sengaja ya bertanya begitu di depan bapak. Dasar... aku tidak akan memberimu bonus apapun bulan ini. Levi melangkah ke kamar mandi meninggalkan Roni.
*****
Pagi ini juga ada pizza di atas meja makan. Roni mengarahkan tangannya akan mengambil potongan pizza. Levi langsung memukul tangan Roni. Hei jangan macam-macam kamu, Bida yang membuat itu.
"Mas Levi kok gitu, ambil saja mas Roni. Pizzanya besar kok." Roni hanya diam, Bida segera mengambil sepotong pizza lalu meletakkannya di atas piring Roni.
"Silahkan mas Roni." Bida menawarkan kepada Roni untuk memakan pizza.
Levi semakin tajam menatap Roni.
Gawat, aku sudah merasakan aura kikir di matanya. Aku yakin bulan ini tidak akan ada bonus untukku. Levi pasti cemburu dengan perhatian Bida. Aku bahkan berusaha tidak menatap Bida sama sekali. Meski Bida mengajakku bicara, aku selalu mengarahkan pandanganku ke arah lain.
"Mas Levi..." Bida menepuk tangan Levi yang ada di atas meja karena Levi tampak melamun.
Levi menoleh ke arah Bida.
"Mas terima kasih ya. Tadi pagi mas Roni menyerahkan belanjaan yang sangat banyak.Termasuk pan untuk memanggang pizza ini. Kata mas Roni, itu semua belanjaan itu dari mas Levi buat Bida dan Ibu."
Bida menunjukkan deretan kresek besar yang tampak sudah dibuka.
"Mas Levi baik sekali ke Bida. Dulu Bida pikir kok mas Roni belanja banyak sekali, ternyata itu semua buat Bida dan ibu. Mas Levi jadi repot karena Bida."
Pak Joko menatap Levi, menunggu tanggapan Levi.
"Sama sekali tidak merepotkan, justru Bapak, ibu, dan Bida yang selama ini sudah banyak direpotkan dengan kedatangan Levi dan teman-teman Levi."
Levi tersenyum memandang Bida, lalu menggenggam tangan Bida di bawah meja. Wajah Bida langsung merona.
Bida menarik tangannya dari genggaman Levi kemudian menggeser kursinya menjauh karena merasa canggung.
"Loh kok menjauh? sini saja jangan jauh-jauh."
Levi menggenggam pergelangan tangan Bida.
Akhirmya Bida kembali ke posisi semula.
Romantis sekali nak Levi ini kepada Bida. Bu Joko sangat bahagia.
Nak Levi ini sangat pencemburu, artinya nak Levi sangat menyukai Bida. Pak Joko mulai makan sarapannya.
Dasar lebay... seolah dunia ini hanya milik kalian berdua. Apa Levi tidak malu kepada Pak Joko dan Bu Joko. Jangan jauh-jauh apanya, jarakmu itu sudah dekat. Kamu yang akan pergi jauh meninggalkan Bida. Roni tersenyum namun hatinya memaki Levi.
*****
Setelah merapikan meja makan. Bida memegang sapu, Bida mulai menyapu teras terlebih dahulu. Ia menuju teras sambil melirik Levi. Levi yang melihatnya merasa tergoda, Apakah Bida ingin aku mengikutinya ?
Levi akhirnya menyusul Bida ke teras. Bida menghentikan kegiatan menyapunya lalu memandang Levi sambil tersenyum.
Levi yang gemas mendatanginya, "Ada apa kok senyum begitu? Mas Levi ganteng ya?" Levi menggoda Bida.
Bida menganggukkan kepalanya. Membuat Levi merasa melayang-layang. Yang terjadi sebenarnya Nenek dan Bibi yang sedang melayang menemui Wowo.
" Mas..." Bida memanggil Levi tapi sekarang kembali meneruskan kegiatan menyapu.
Levi mengikuti Bida, "Ada apa? "
"Aku malu mengatakannya."
"Apa itu, katakan saja."
Bida melihat sekelilingnya lalu menggeleng.
"Jangan ah, aku malu."
"Ada apa sih?" Levi sangat penasaran.
"Sini mas." Bida melambaikan tangannya agar Levi mendekat.
Bida berjinjit, mendekatkan mulutnya ke telinga Levi. "Tadi malam aku bermimpi tidur ditemani mas Levi." Bida meletakkan sapunya lalu langsung pergi setengah berlari masuk ke dalam rumah, wajahnya memerah menahan malu.
Ha mimpi? kamu kira mimpi, itu bukan mimpi Bida. Kita memang tidur bersama berpelukan dalam satu selimut bukankah kita sudah menikah.
Roni keluar rumah, heran melihat Levi melamun sambil tersenyum sendiri.
Levi sedang melamunkan kejadian ketika Levi berusaha menyelimuti Bida dengan memejamkan mata.
"Mas Levi kok melamun? " Roni mengagetkan Levi.
"Roni... sapu rumah sampai bersih. Aku mau olah raga." Levi menyerahkan sapu yang ditinggalkan Bida ke tangan Roni.
Meski enggan, Roni tidak berani protes.
Mau push up lagi mas ? Mengapa aku yang menyapu rumah, bukankah ini rutinitas Bida. Rumah ini besar sekali tidak seperti unit apartemen yang kamu tinggali. Rumah ini juga tidak ber ac, Debunya pasti banyak. Mengapa Bida wajahnya memerah tadi. Ia bahkan tidak menyapaku saat berpapasan tadi. Apa yang terjadi, apa yang kamu lakukan kepada Bida? Roni menyapu sambil melamun.