Jodoh Gadis Indigo

Jodoh Gadis Indigo
Takut


"Mana Bida, sepedanya ada di depan pintu." Levi bertanya kepada Roni.


"Bida tadi datang dengan wajah pucat, sekarang ada di dalam kamarnya, Bu Joko menemaninya."


Levi langsung menuju kamar Bida.


"Bida..."Levi memanggil nama Bida di depan kamar.


Bu Joko yang sudah mendengar cerita Bida membukakan pintu. Levi masuk mendekati Bida yang sekarang duduk dengan mata sembab.


"Bida kamu menangis, ceritakan ada apa?"


Levi merasa khawatir.


Bida gugup dengan tatapan khawatir Levi. ia tidak bisa menceritakannya. Ia selalu ingat nasehat ibu dan bapaknya bahwa jika ia bercerita tentang hantu maka Bida akan dianggap gila


"Nak Levi, tolong jaga Bida." Bu Joko melangkah gontai keluar kamar.


Nenek dan Bibi mendengar cerita Bida. Nenek dan bibi ingin sekali menemani Bida tapi Nenek dan bibi sudah pernah dilarang masuk kamar jika Bida tidak memintanya. Nenek dan Bida cemas, mereka melayang-layang di depan kamar Bida. Lagi pula ada Levi di rumah. Bida tidak dapat mendengar atau melihat mereka. Wowo tampak marah di atas pohon kenanga. Wowo melihat Bida berwajah pucat tadi.


"Bida... mengapa Bida menangis?" Levi menatap mata Bida yang masih sembab. Levi duduk di samping Bida, merengkuh kepala Bida di dadanya. Levi tidak bertanya lagi, Levi ingin menenangkan Bida terlebih dahulu.


ia akan bertanya lagi nanti.


"Baiklah, jika tidak ingin cerita sekarang. Bida istirahat dulu ya."


"Ya mas."


Levi keluar kamar Bida dan menutup pintu perlahan. Ia tidak ingin berlama-lama di kamar Bida.


Ingin rasanya Levi bertanya kepada bu Joko tentang Bida, tapi Bu Joko tampak murung.


Levi kembali mengawasi para pekerjanya.


#Di dalam kamar


"Nenek, bibi masuklah."


Nenek dan bibi segera masuk ke kamar Bida.


"Aku tidak bisa melihat atau mendengar nenek dan Bibi tapi tolong temani Bida..., Bida sangat takut."


Bida melepas sepatunya lalu mencoba memejamkan mata hingga tertidur. Nenek dan bibi tetap menjaga Bida di kamar itu.


*****


Makan malam kali ini lebih sedikit personilnya. Jodi, Miki dan Deni sudah kembali. Bida hanya diam selama makan malam. Bida hanya makan sedikit.


Pak Joko menatap istrinya yang tampak murung.


"Pak ... Levi dan Roni akan pergi ke kota sebentar karena ada keperluan.


"Ya." Pak Joko menjawab singkat.


"Bida, mas Levi pergi sebentar, nanti kita bicara ya."


Bida hanya menganggukan kepala.


*****


Levi dan Roni ke kota naik mobil Levi.


Bida melihat nenek dan Bibi di ruang tengah.


"Nenek, Bibi.... Bida lama tidak bertemu."


Bida menuju ruang tengah lalu duduk dengan wajah ceria di sana. Pak Joko menatap putrinya iba.


Kamu sudah menikah nak tapi di usia yang masih terlalu muda, kamu harus bersabar, akan ada saatnya nanti kau terbebas dari makhluk halus. Nanti jika kau sudah dewasa.


"Nenek hari ini ada hantu perempuan menakutkan. Badannya gendut, matanya merah, rambutnya panjang. Ia sangat marah kepada Bida karena pacarnya membantu Bida mengeluarkan sepeda Bida dari parkiran. Laki-laki itu bisa memegang sepeda Bida."


Pak Joko dan Bu Joko mendengar cerita Bida. Ada bulir air mata di wajah bu Joko. Pak Joko menatap wajah istrinya lalu menoleh ke arah Bida. Pak Joko tidak kuasa menahan perasaannya. Untuk pertama kalinya, ia mendengar Bida cerita ada hantu yang menyakitinya. Pak Joko masih terkenang kejadian mengerikan ketika Bida kejatuhan dahan pohon kenanga. Meskipun Bida mengaku itu suatu kecelakaan karena ulah penunggu pohon kenanga yang marah kepada Bu Sulis bukan kepada Bida. Pak Joko menggenggam tangan istrinya. Katakan padaku bu, apa yang harus kita lakukan untuk menyelamatkan Bida? Pak Joko tidak mampu berkata apa-apa.


Terdengar suara Bida lalu hening, Bida bersuara lagi begitu seterusnya.


" Ya nek. Mas Levi akan kembali ke Malang untuk kuliah. Setelah mas Levi pergi, nenek dan bibi akan dapat Bida lihat setiap saat. Jika Bida sekolah nanti nenek atau bibi menemani Bida ya. Bida takut sekolah sendirian. Bida harus sekolah agar Bida jadi orang pintar. Nanti jika Bida lulus sekolah, mas Levi akan menjemput Bida."


Bida diam lalu tertawa


Entah apa yang dikatakan nenek dan bibi. Bida sudah dapat tertawa.


Pak Joko mengusap air matanya yang hampir saja menetes. Tangan Pak Joko yang satunya masih menggenggam tangan bu Joko.


Bida masih saja bergurau dengan yang ia sebut Nenek dan Bibi. Pak Joko dan Bu Joko masih di ruang makan mengamati Bida.


"Bida, saatnya kamu istirahat."


"Tapi tadi mas Levi bilang ingin bicara dengan Bida bu."


"Tunggulah sambil istirahat di kamar. Sampaikan ke nenek dan bibi agar tidak masuk kamar Bida."


"Ya Pak. Nenek, bibi, Bida mau ke kamar ya. Jangan lupa jika Bida sekolah nenek atau bibi temani Bida. ya."


Bida diam sebentar lalu


"Boleh, akan lebih seru jika nenek dan bibi ikut semua. Tapi Bida tidak bicara jika ada teman Bida ya. Nanti Bida dikira gila."


Bida tertawa terpingkal-pingkal.


Bida apa yang dikatakan bibi dan nenek itu hingga kau tertawa seperti itu.


Mungkin yang terbaik adalah kau menikah yang sebenarnya dengan nak Levi agar kamu tidak seperti ini. Pak Joko sangat galau.


Bida melangkah ke kamarnya, karena lama menunggu Levi, Bida jadi mengantuk. Akhirnya Bida mengunci kamarmya lalu ganti baju. Bida pun tertidur pulas.


*****


"Sepi sekali ya Ron. Apakah semua sudah tidur. Rumahnya tidak dikunci. Kamu tidur dulu Ron, aku akan menemui Bida dulu."


"Mungkin ya mas." Roni mengiyakan pendapat Levi.


tok tok tok "Bida...." Levi memanggil pelan.


Bida sangat mengantuk, Bida membuka kunci kamarnya lalu kembali merebahkan tubuhnya, "Masuk saja bu..." Bida kembali pulas. Ia mengira ibunya yang mengetuk pintu


Levi membuka pintu kamar, dan tampaklah Bida sedang tertidur pulas menggunakan gaun tidurmya. Levi mengamatinya sekilas lalu mengambil selimut yang masih terlipat dan menyelimuti Bida.


Kasihan sekali Bida pasti sangat mengantuk sampai mengira aku ibunya. Ia pasti berjalan membuka kunci kamar dengan setengah terpejam.


Levi mau keluar kamar, namun tidak menemukan kunci kamar. Kamar Bida hanya bisa dikunci dari dalam menggunakan slot besi. Bagaimana ini, jika ia keluar ia harus meminta Bida menguncinya lagi dari dalam. Jika membiarkan Bida tanpa mengunci pintu, akan bahaya. Ada Roni di rumah. Levi tidak menuduh tapi kan jaga-jaga saja. Akhirmya Levi memutuskan tidur di samping tubuh Bida. Sebelumnya Levi merapatkan selimut Bida erat dari ujung kaki hingga mencapai lehernya.


Levi juga mengambil guling sebagai pembatas. Ia pun memejamkan mata.


"Mas Levi... tolong aku, Ia membawa cutter. Ia mau melukai wajahku." Bida mengigau.


Levi menatap wajah Bida yang berkeringat dingin. Levi mencoba membangunkan Bida dari mimpi buruknya.


"Bida.... Bida..." Levi menepuk pipi Bida pelan


"Mas Levi tolong aku.... aku takut." Masih dengan mata terpejam, Bida merapatkan tubuhnya. Levi mendekapnya. Wajahnya tampak ketakutan, sepertiny Bida bermimpi hal yang mengerikan.


Tidak lama kemudian, Bida kembali mengigau. "Mas Levi... jangan pergi."


Levi mengeratkan pelukannya. Levi.


"Bida aku tidak akan pergi meninggalkanmu. Tidurlah."


Terdengar nafas teratur Bida yang menandakan Bida sudah pulas kembali


Levi pun ikut terlelap