Jodoh Gadis Indigo

Jodoh Gadis Indigo
Tanggung Jawab


Pak joko menggandeng Bida memasuki rumah dengan wajah murung. Levi memandang bu Sulis tajam.


"Apa yang akan kamu lakukan? Kamu harus bertanggung jawab. Bida dan keluarganya pasti sangat malu dengan ulahmu. Kamu sudah menodai putrinya." Bu Sulis berjalan sambil mengelus pipinya namun mulutnya masih bertenaga nyinyir.


"Apa maksud Bu Sulis, aku menodai Bida ? Apa maksudnya? Tadi itu suatu kecelakaan. Jangan sembarangan bicara." Suara Levi lantang.


"Nak Levi masuklah ! Kita bicara di dalam saja." Pak Joko memanggil Levi.


Levi masuk diikuti teman-temannya.


Bu Sulis mengikuti mereka, Pak Ridwan juga mengikuti Bu Sulis. Pak Ridwan memprediksi bahwa Bu Sulis akan membuat keadaan semakin kacau.


"Bida menangis di dalam kamar ditemani ibunya yang juga berlinang air mata."


"Mas levi tidak salah bu. Bude Sulis menuduh mas Levi macam-macam. Mas levi hanya melindungi Bida. Ini pasti ulah Wowo bu, Wowo tidak terima bude Sulis menjelek-jelekan Bida. Tadi Bida pasti terluka jika mas Levi tidak melindungi Bida. Meski yang menjatuhi kami tidak begitu besar tapi pasti menyakitkan. Mungkin punggung mas Levi terluka bu."


Bida bangkit lalu keluar kamar, Bu Joko segera mengikutinya. Bida melihat Levi, bapaknya, bude Sulis dan Pak Ridwan di ruang tamu begitu juga teman-teman Levi.


"Pak, mas Levi tidak salah pak. Bida yang salah. Ini semua masalahnya ada pada Bida. Bude Sulis benar, Bida diikuti makhluk halus." Bida menangis tersedu., membuat Bu Joko semakin meneteskan air mata.


Pak Joko tertunduk, air matanya tergenang.


"Bida... sudahlah jangan berkata seperti itu." Levi menenangkan Bida.


"Mas Levi tidak tahu, mengapa dahan pohon itu jatuh kan? Pasti mas Levi sangat kesakitan. Bida minta maaf ya mas...." Bida semakin terpukul menyadari bahwa ia adalah biang masalah memalukan yang terjadi.


"Cukup Bida." Levi meletakkan jarinya di bibir Bida. Levi memeluk Bida erat. Membiarkan Bida menangis di pelukannya. Levi tidak menyadari bahwa tindakannya menjadi bom yang semakin memperkeruh suasana.


"Lihat mereka! " Bu Sulis menuding Bida dan Levi dengan jari telunjuknya.


Semua orang di halaman mendekat mendengar suara Bu Sulis yang menggelegar.


Bida melepaskan diri dari pelukan Levi.


Levi menyesali perbuaatannya yang spontan memeluk Bida. Ia tertunduk menyesal semakin menyakiti Bida, sekarang semua mata semakin menyudutkan Bida. Banyak warga berkerumun di jendela besar rumah Bida.


"Maafkan Bida Pak. Harusnya Bida tidak terlahir di dunia ini jika hanya membuat bapak dan ibu malu. Lihat mereka menonton kita." Bida terus menangis.


Pak Kepala Desa membubarkan semua orang yang menonton.


"Pulang semua. Bubar!" Pak Kepala Desa berjaga di luar menghalau semua orang.


Di ruang tamu Pak Joko sekarang, ada Levi, teman-teman Levi, Bida, Pak Joko, Bu Joko, Bu Sulis dan Pak Ridwan.


"Kalian duduklah." Pak Joko mempersilahkan semuanya. Semua duduk kecuali teman-teman Levi karena kursinya tidak cukup.


"Kamu harus tanggung jawab !." Bu Sulis menunjuk Levi.


"Tentu saja, saya akan bertanggung jawab sepenuhnya."


Kalimat Levi membuat Pak Joko dan bu Joko kaget.


"Kamu yakin dengan ucapanmu?" Pak Ridwan menatap serius kepada Levi.


"Tentu saja. Katakan apa yang harus saya lakukan untuk bertanggung jawab!" Levi menatap Bu Sulis tajam


"Kamu harus menikahi Bida. Sekarang juga ! Aku tidak peduli kamu orang kaya, uang tidak ada hubungannya dengan martabat seorang wanita di desa kami." Bu Sulis balas melotot ke arah Levi.


Levi bingung dengan perkataan Bu Sulis.


Levi mengusap wajahnya lalu kaget mendapatkan noda merah di tangannya. Roni mendekati Levi menunjukkan video dirinya dan Bida tadi. Saat kejadian, handycam milik Levi yang dipegang Roni masih menyala dan tanpa sengaja merekam kejadian tadi.


Levi tidak percaya dengan yang dilihatnya. Jodi mendekatinya menunjukkan foto wajahnya ketika marah kepada Bu Sulis. Wajah marah dengan lipstik warna bata belepotan di bibirnya dan satu lagi di pipi kanannya, yang di pipinya, bibir Bida tercetak hampir sempurna.


Levi memandang Bida yang tertunduk malu.


"Mas Levi tidak perlu menyanggupinya." Bida tidak berani menatap Levi.


Pak Joko dan Bu Joko tidak percaya ucapan Levi begitu pula teman-teman Levi.


"Harus, harus malam ini agar kalian tidak terus berbuat kesalahan." Bu Sulis memecah kesunyian.


Levi mengangkat wajahnya menatap bu Sulis, tidak ada lagi rasa segan meski B Sulis lebih tua.


"Tapi saya tidak terima ucapan Bu Sulis, saya akan menuntut Bu Sulis atas pencemaran nama baik saya dan Bida. Saya tidak pernah menodai Bida. Saya menyentuh Bida karena suatu kecelakaan yang tidak disengaja. Saya minta bu Sulis meminta maaf secara terbuka di Balai Desa atau saya akan menuntut Bu Sulis. Saya akan pastikan Bu Sulis menangis di penjara." Levi menatap marah kepada Bu Sulis.


"Ya. Aku akan minta maaf tapi kamu harus buktikan ucapanmu. Nikahi Bida sekarang juga."


"Sekarang? tapi saya belum mempersiapkan gedung, catering bahkan saya belum menghubungi mama dan kakak saya." Levi bertanya kepada Pak Joko, levi tampak bingung.


"Tidak perlu begitu. Kamu cukup menyediakan mas kawin saja lalu akad, beres. Bida masih sekolah, jangan buat pesta. Kasihan Bida. Kamu itu laki-laki, tidak perlu wali. Lagi pula, kamu sepertinya orang kaya, memangnya keluargamu mau menerima Bida yang lulus SMP saja baru tadi siang."


Bu Sulis sekarang menunjuk Bida. "Lagian kamu ini Bida, masih SMP tapi badannya seperti wanita dewasa. Pantas saja laki-laki ini keblinger."


"Pak Joko juga salah, sudah tahu punya anak gadis cantik kok bisa malah masukkan laki-laki ke rumah. Pak Joko ini punya anak gadis satu-satunya kok ndak dijaga. Anak muda jaman sekarang beda. Mereka itu suka cari kesempatan. Pak Joko dan bu Joko kan tidak tahu, mungkin saja, malam hari ketika Pak Joko dan Bu Joko tidur, mereka janjian. Awalnya hanya ngobrol tapi yang namanya laki-laki dan perempuan berdua, pasti yang ketiganya setan.


Rumah ini Sepertinya angker, Bida ini mungkin sejak lahir sudah ditemani setan jadi ya begini kejadiannya. Membuat orang sial. Nak Levi yang ganteng ini harus terpikat kepada anak ingusan seperti Bida hanya karena bodynya yang aduhaj tapi tetap saja anak ingusan."


Bu Sulis nyerocos membuat Pak Ridwan marah.


"Bu Sulis cukup. Jika Bu Sulis jadi dipenjara, desa kita akan aman dari lidah berbisa milik Bu Sulis." Pak Ridwan langsung menutup mulutnya. Ya ampun, mengapa lidahku jadi beracun seperti Bu Sulis. Semoga saja Bu Sulis dipenjara beneran agar kapok.


Bida tertunduk sedih, Bida membenarkan ucapan Bu Sulis, bahwa ada setan makhkuk halus di sekitarnya. Keadaan Bida yang indigo itulah permasalahan terbesarnya,


"Mas Levi tidak salah. Tadi hanya ingin melindungiku dari jatuhan dahan pohon." Bida menggelengkan kepalanya.


"Bida, bagaimana tanggapanmu? Lebih baik kalian menikah agar masalah ini selesai. Nama baik keluarga jadi taruhannya, yang perlu dilakukan hanya menikah secara agama. Soal setelah menikah nanti, kamu diskusikan dengan keluarga nanti." Pak Ridwan mencoba menengahi.


Bida hanya diam menatap Levi.


"Saya bersedia menikahi Bida, tapi saya tidak mengakui melakukan yang bu Sulis tuduhkan.


Saya menghargai Pak Joko. Saya ingin Bu Sulis meminta maaf secara terbuka karena sudah menuduh tanpa bukti. Ini fitnah, saya akan menuntut Bu Sulis dengan pencemaran nama baik." Levi berbicara dengan nada tegas dan pandangan tajam ke arah Bu Sulis.


"Baik, tapi sebelum saya meminta maaf secara terbuka di balai desa, saya ingin memanggil bidan desa untuk memeriksa Bida, untuk membuktikan bahwa Bida masih suci." Bu Sulis menantang.


"Baik. Saya tidak keberatan Bude. Silahkan Bude panggil bidannya kesini sekarang."


Bida berkata dengan penuh amarah. Sepertinya aku tidak akan bisa memaafkan bude Sulis lagi.


"Baik, saya akan panggil sekarang juga." Bu Sulis keluar ruangan dengan sewot.


Roni tampak cemas memikirkan semua ini. Terlintas lagi kejadian melihat Levi keluar dari kamar Bida.


Apakah Bida bodoh, mengapa menantang Bu Sulis. Levi mengapa tidak tampak cemas. Apakah mereka belum melakukannya. Tapi... Levi pernah menanyakan tentang darah dan rasa sakit yang dialami Bida. Ah entahlah, bagaimana tanggapan Bu Dewi jika tahu anaknya menikah seperti ini. Roni terdiam seperti seorang patung.


"Apakah kamu sudah siap dengan mas kawinnya? Pak Ridwa bertanya kepada Levi.


"Saya belum beli apa-apa?" Levi tergagap karena bingung.


"Uang saja, seadanya." Kata Pak Ridwan bijak.


"Oh ya." Levi mengeluarkan dompetnya lalu mengeluarkan semua uangnya.


"Hanya ada 3 juta, saya akan pergi ke atm untuk ambil uang." Levi hendak berdiri.


"Tidak usah, jika Bida menerimanya. Bagaimana Bida? Pak Ridwan menatap Bida.


"Ya pak. Saya menerimanya." Bida sangat gugup ketika matanya bertatapan dengan mata Levi.


Wowo, nenek dan bibi menangis sedih karena merasa bersalah kepada Bida. Mereka ingin menjaga Bida tapi justru mempermalukannya.