Jodoh Gadis Indigo

Jodoh Gadis Indigo
Makan malam


Levi manatap Bida, ia masih memandang dada Bida yang tadi disentuhnya. Levi teringat dengan teman-temannya.


Mereka pasti juga memperhatikan Bida, ini tidak boleh dibiarkan Bida adalah istriku sekarang, tidak boleh ada seorang pun yang melihat kemolekan tubuh Bida.


"Bida ganti bajumu dengan baju yang mas Levi belikan tadi. Gunakan jilbabnya juga, jangan menunggu sampai masuk sekolah SMK. Mulai sekarang kamu harus memakai hijab, jika ada orang selain keluarga. Termasuk di dalam rumah saat ini, karena ada Roni dan yang lain. Mas Levi tidak rela mereka melihat rambut dan lekuk tubuhmu. Jangan pakai baju ketat dan terbuka kecuali di dalam kamarmu. Di dalam kamar kamu bebas pakai baju apa saja."


"Ya mas, jika begitu Bida akan sering di kamar saja kan gerah mas pakai baju panjang terus. Kapan mas Roni dan teman-temannya pulang?"


"Tiga hari lagi."


"Apakah mas Levi juga akan pergi bersama mereka? Kita kan baru menikah mas, apakah mas Levi akan menceraikan Bida setelah 3 hari?"


"Hus, ngomong apa kamu. Kita menikah kan atas nama Allah, tidak ada kata cerai. Mungkin Roni masih akan tinggal disini membantu mas Levi mengurus rehap."


Bida berbinar mendengar tentang rehap.


"Pasti akan menyenangkan jika Bida punya kamar mandi pribadi di dalam kamar Bida sendiri. Bida tidak perlu menggunakan baju rangkap ketika ke kamar mandi. Bahkan Bida bisa keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk."


Levi langsung terbayang Bida sedang keluar kamar mandi hanya berbalut handuk saja.


"Mas kok bengong? Mas Levi, kamar mandiku ada bath up nya kan? Agar Bida bisa berendam dengan busa yang sangat banyak. Pasti menyenangkan sekali."


Levi sekarang membayangkan Bida sedang berendam di bath up.


"Mas Levi...."


Bida menepuk tangan Levi


"Ya Ada apa?" Bayangan Bida yang berendam di bath up sirna.


"Kamar mandiku ada bath up nya kan?"


"Ya. tentu saja ada." Levi menjawab sambil masih menatap ke arah dada Bida.


"Mas Levi kok lihat Bida seperti itu sih?"


"Makanya ganti bajumu."


"Aku tidak bisa ganti baju sendiri mas, aku kuatir kebayanya rusak."


"Ayo mas Levi bantu." Levi bangkit dengan semangat.


"Ah tidak boleh, Bida mau minta bantuan ibu saja." Bida langsung berlalu meninggalkan Levi sendirian di ruang tamu.


Levi melangkahkan kakinya hendak ke ruang tengah, ketika melewati kamar Bida. Bida membuka kamarnya lalu memanggil Levi.


"Mas Levi" Bida membuka pintu kamarnya sedikit, ia bersembunyi di balik pintu kamarnya.


"Ada apa?" Levi mendekat.


"Ibu repot mas. Bisakah mas Levi membantu Bida menarik resleting kebaya Bida? Kata Mas Levi kan kita sudah sah. Boleh kan Bida minta bantuan mas Levi."


Levi tidak ingin Bida berubah pikiran, Levi langsung menerobos ke dalam kamar Bida.


"Ini mas tanggung tinggal separuh saja, Bida buka sendiri tapi resletingnya macet."


Bida membelakangi Levi, menampilkan punggungnya yang mulus ada tali transparan di punggungnya. Levi menahan nafasnya.


"Ayo mas, tarik resletingnya."


"Ya." Levi menarik resleting Bida perlahan hingga terlepas semuanya. Karena kebaya itu pas body maka ketika resletingnya terlepas. Kebaya itu hampir meluncur lepas dari tubuhnya jika Bida tidak menahan di dadanya.


"Sudah mas, sana keluar." Bida mendorong dada Levi menuju pintu kamarnya.


Lalu ketika levi membalikkan tubuhnya hendak membuka pintu kamar, Bida memanggilnya lagi.


"Ya. tapi harus lengkap dengan jilbabnya. Ingat jangan biarkan ada laki-laki melihatmu."


"Apakah aku juga harus pakai jilbab di depan mas Levi?"


"Tidak perlu. Jika di dalam kamar dengan mas Levi kamu tidak perlu pakai baju panjang."


"Loh mas Levi kan tidurnya sama mas Roni."


Levi mengusap wajahnya kasar. Ia sempat lupa bahwa ia menikah dengan kondisi beda.


"Mas Levi mau ke ruang tengah dulu ya."


Levi membuka pintu kamar lalu keluar.


Bisa-bisanya Bida mengajakku bicara dengan baju yang hanya menempel di sedikit bagian dada dan perutnya saja. Untung aku segera keluar jika tidak ... Aah kepalaku pusing.


Bu Joko membawa sepiring tempe goreng lalu meletakkannya di atas meja makan.


"Pak makan malam sudah siap." Bu Joko meminta Pak Joko mempersilahkan yang lain untuk menuju ruang makan.


"Mari kita makan dulu" , Pak Joko bangkit diikuti yang lain.


Levi baru datang ke ruang makan.


"Bida mana nak Levi? Pak Joko bertanya pada Levi.


"Di kamar masih ganti baju". Levi menjawab singkat.


Deni tercengang mendengar jawaban Levi


"Vi, ini masih sore... " Belum selesai Miki berkata, Levi langsung mendelik ke arah Miki


"Apa yang kamu pikirkan, Bida ganti baju karena masih pakai kebaya. Tidak ada yang terjadi. Kamu kan lihat aku disini. Jaga ucapanmu." Levi tampak marah.


"Maaf Vi. Aku hanya bercanda." Miki langsung menyesali ucapannya. Miki teringat kejadian laporan KKN nya. Gawat kalau Levi marah, apa lagi yang akan terjadi.


Bida datang, Ia sedang memakai tunik berwarna hijau dengan paduan celana dan jilbab hijau botol. Bida tampak sangat cantik, dan trendy. Deni menatap penampilan Bida yang semakin cantik.


Memang sudah dasarnya cantik. Bida menggunakan hijab tetap saja cantik. Bida tampak seperti mahasiswi jika seperti ini.


"Ehem" Levi sengaja berdehem sambil menatap tajam ke arah Deni.


Deni tidak menghargaiku sebagai suami Bida, mengapa ia berani melihat Bida seperti itu.


Bida canggung dengan tatapan Deni.


"Mengapa Bida pakai hijab?" Pak Joko bertanya kepada Bida.


"Saya yang memintanya Pak. Bida tidak perlu menunda niat baiknya untuk berhijab. Ia kan Bida?" Levi sengaja merangkul Bida. Ia melingkarkan tangannya di bahu Bida. Bida hanya menunduk sambil tersenyum lalu menepis tangan Levi dari bahunya.


Deni hampir tidak kuasa menahan tawanya melihat penolakan Bida kepada Levi.


Roni memberi isyarat kepada Deni agar diam.


Semuanya makan malam tanpa berbicara. Hanya Levi yang tampak lebay kepada Bida. Levi meminta bantuan Bida untuk mengambilkan makanan meski sebenarnya lebih terjangkau dari Levi daripada Bida Sedangkan Bida menuruti semua kemauan Levi dengan ekpresi terpaksa. Kelakuan Levi membuat Miki dan Deni manahan diri untuk tidak menertawakannya.


Dasar Bodoh, Apa kau mau membuktikan bahwa Bida adalah milikmu? Ingat kamu menikahi Bida karena tragedi. Apa yang kamu harapkan dari Bida yang masih ingusan itu.


Jodi menatap Levi.


Levi, Bida masih kecil. Kasihanilah dia. Jangan bertindak gegabah. Bagaimana jika Bu Dewi tahu pernikahanmu ini. Aku akan selalu mendukungmu. Namun sebagai sesama laki-laki, aku sarankan berjuanglah semampumu untuk mengendalikan diri. Aku yakin kamu tetap akan tidur bersamaku.


Roni menatap Levi yang wajahnya tampak berseri-seri namun kehilangan aura kecerdasannya. Yang ada adalah ekspresi lebay seorang laki-laki dewasa seperti anak kecil yang mendapat hadiah balon.