
#Flash Back Rehap hari ke 4
"Toni !" Levi memanggil kepala kontraktor
"Ya mas."
"Panggil semua kepala penanggung jawab masing-masing bagian"
"Ya mas." Pak Toni berlari-lari kecil memanggil mereka.
Gawat aku seperti melihat Tuan Brave, sorot matanya tajam. Pasti ada yang berbuat kesalahan. Buah tidak jatuh dari pohonnya. Levi mewarisi tubuh kekar papanya, sorot mata tajam papanya. Kulit, hidung dan bibirmya seperti mamanya Bu Dewi. Bu Dewi orangnya cerewet dan disiplin namun selalu mengarahkan sedangkan Tuan Brave sedikit bicara tapi tidak mau menerima kesalahan. Ada kesalahan artinya off jangan bekerja sama lagi. Semoga Levi memiliki sifat gabungan keduanya seperti fisiknya yang merupakan gabungan mama dan papanya.
Toni memanggil 3 orang penanggung jawab rehap yaitu 2 penanggung jawab kamar mandi karena ada 2 kamar mandi, yang satu penanggung jawab dapur.
"Geri, Wawan, Andi...ayo cepat, mas Levi memanggil kita."
"Tanggung mas, sebentar lagi ya." Geri menunjukkan rokoknya.
Toni kaget, Ia langsung merebut rokok itu menginjaknya lalu memungutnya dan melemparnya ke luar melalui jendela.
"Tamatlah aku." Toni memegang kepalanya.
Wawan dan Andi juga tampak cemas.
"Siapa yang mengajaknya?" Wawan menunjuk ke Geri.
"Aku yang mengajaknya." Andi meremas jari-jarinya.
"Memangnya ada apa sih? ini kan bukan waktunya makan siang."
Andi memukul kepala Andi dengan gulungan gambar desainnya.
"Keparat kamu, istriku sedang mengandung. Ia ngidam beli Terios, jika tahu kau begini aku tidak akan mengajakmu." Andi tampak kesal.
"Apa salahku?" Geri bingung.
"Ayo kita menemui mas Levi dulu. Kau nanti temui aku." Toni sebagai kepala Divisi rehap ini menunjuk Andi.
Andi berjalan gontai mengikuti Toni dan yang lain.
Geri yang masih bingung mendekati Andi, menepuk lengannya. Andi langsung menepis tangannya kasar.
Mereka berkumpul di halaman di bawah rindangnya pohon kenanga.
"Aku berubah pikiran, aku akan mempercepat proses rehap. Aku ingin kalian siapkan petugas shift. Pemilik rumah sedang pergi selama seminggu ke depan. Tambah pekerja secukupnya. Aku juga akan menambah seorang desain interior untuk 2 kamar. Pastikan kalian sanggup atau menyerah?" Levi menjelaskan dengan lugas.
"Tentu kami sanggup mas." Toni menjawab penuh percaya diri.
"Bagus, aku akan tambahkan bonus 20% jika selesai lebih awal. Pastikan semua pekerja bekerja efektif karena aku akan membuat perjanjian, jika pekerjaan kalian molor aku tuntut 25% dari total semua biaya termasuk jika ada kerusakan interior saat pemasangan." Levi berbicara dengan tegas.
Geri melongo tidak percaya jika cowok muda keren juga cantik di depannya memiliki aura pebisnis bengis. Sanggup atau menyerah ? Bonus 20 % VS kerugian 25% ide darimana itu.
"Roni, siapkan surat perjanjiannya!"
"Ya mas." Roni membagikan dokumen untuk ditanda tangani mereka.
"Ada lagi, aku tidak suka pekerja malas yang mencuri waktu kerjanya. Merokok saat bekerja adalah salah satunya. Kalian bisa lihat di lampiran halaman kedua. Karena aku baru tahu jika Toni menggunakan rekanan baru dalam timnya. Maka aku ingin kalian pelajari itu. Aku yakin anggota tim lama tidak perlu kuperingatkan. Toni... silahkan kamu jelaskan aturan tentang merokok di waktu kerja."
"Ya mas. Bagi pekerja yang kedapatan merokok maka gajinya akan dipotong sebesar upah sehari per batang rokok yang sudah dihisap selama kerja, potongan itu akan ditanggung bersama dalam timnya." Toni mengatakannya dengan sedikit gugup
"Mengapa kamu gugup Ton. Itu kan peraturan lama. Jangan-jangan ada pekerjamu yang merokok sekarang? Jika aku tahu, aku tidak memerlukanmu lagi."
"Tidak ada mas. Anggotaku sudah paham semua."
Wajah Andi langsung Pias. Toni meliriknya sekilas.
Aneh dimana-mana pekerja bangunan merokok. Mengapa tidak boleh. Rokoknya bawa sendiri kok.
Geri hanya berkata pada dirinya sendiri.
"Bagus sekarang lanjutkan pekerjaan kalian. Aku akan pergi sebentar." Toni awasi mereka dengan baik.
Setelah kepergian Levi. Toni memanggil Andi.
"Andi jangan pergi dulu."
"Geri jangan pergi dulu." Andi memanggil Geri.
"Dengar Andi, aku tidak peduli kamu keponakanku. Jika kamu ingin menghancurkan karirmu setidaknya jangan seret aku. Apa kamu tidak menjelaskan padanya tentang larangan merokok." Toni menunjuk Geri.
"Maaf mengapa kita membesar-besarkan masalah ini? Andi sudah memberi tahuku jika tidak ada rokok selama bekerja tapi aku pikir artinya aku harus bawa sendiri karena tidak disediakan. Aku yang salah sudah merokok ketika kerja."
"Bagus. Jadi kamu tidak menjelaskan dengan baik." Toni mendelik sambil berkacak pinggang. Dengan masih emosi, Toni melanjutkan lagi kalimatnya.
"Bagaimana jika soal rokok saja kamu tidak jelas menerangkannya? Lalu bagaimana kamu menjelaskan ke pegawaimu tentang pemasangan instalasi kompor tanam? Urus dia segera, ini terakhir kali aku kerja sama denganmu." Toni sangat marah lalu berlalu pergi mengawasi pekerjaan rehap.
Andi sekarang menatap Geri dengan tajam.Ia melampiaskan kekesalannya. "Saat kerjamu beres, upahmu cukup untuk membeli rokok sebanyak yang kamu inginkan. Hisap rokokmu saat libur di rumahmu sendiri. Jika kau ingin merokok bebas jangan bekerja bersamaku. Kau pembawa sial. Meski Toni pamanku, ia memegang teguh profesionalisme, aku menjadi pekerja dari nol. Aku sudah berjuang demi posisiku sekarang. Buang semua rokokmu sekarang di tempat yang jauh. Cari dan pungut rokokmu yang dilempar Toni tadi buanglah di tempat yang jauh. Sekarang! Andi membentak."
Aku tidak mengira, Andi yang kalem itu bisa berteriak marah seperti ini.
"Kenapa masih diam, Kau pilih mundur ? Kemasi barangmu sekarang!"
Geri terkesiap. "Tidak Andi aku akan cari putung rokok itu dan akan membuang semua rokokku di ujung jalan sana."
Sialan, jika aku menganggur... aku sudah terlanjur mengaku sebagai bagian kontraktor properti grup ternama ini kepada calon mertuaku.
Aku siap bekerja lembur, lumayan bonus 20 %
*****
# Rehap Hari kesembilan
"Jika Bida seminggu di kota B******* maka akan datang 2 hari lagi.Pastikan semua sudah siap." Levi mengamati hasil rehapnya.
Suasana tidak seramai hari-hari yang lalu, Sekarang adalah masa finishing. Pekerja desain interior bekerja cekatan . Dapur sedang dibersihkan dan diuci coba kompor tanamnya. Kamar Bida sedang dipasangi lampu hias. Beberapa orang sedang merapikan ruang tengah, terdapat beberapa lemari berjejer di sana, karena levi menempatkan lemari baru di kamar Pak Joko dan Bida. Kamar tidur dan kamar mandi pak Joko sudah siap. Levi mengabaikan kata sederhana untuk kamar mandi Pak Joko. Kamar mandi Pak Joko juga tergolong kamar mandi mewah.
Sedangkan kamar mandi Bida yang belum siap. Pekerja sedang memasang dispenser sabun dan shampo. Gantungan handuk, cermin besar juga belum dipasang. Ada pekerja yang sedang memasang blower di kamar mandi Bida.
Levi sedang menunggu kiriman sprei dan tirai kamar Bida. Levi mengawasi pengerjaan interior Kamar Bida dengn ketat. Ada saja kesalahan yang ditemukannya.
"Ini debunya masih ada? " Levi mencolek sofa di kamar Bida.
"Itu lantainya di pel yang bersih. Ini kan marmer jika debunya terlihat artinya kotornya kebangetan."
Ya, iyalah mas masih kotor. tadi sudah dipel tapi itu di kamar mandi kan masih ngebor masang ini dan itu. Harus berapa kali dipel sih lagian sprei dan tirai juga belum datang. Mending sekalian. Lagian ini kamar siapa sih kok di desain seperti putri kerajaan saja.
"Mas itu sprei dan tirainya datang." Roni memberi kabar. Di belakangnya, ada seseorang 11:12 dengan Ayu (Tubuh kekar, berjakun, kulit mulus, suara melambai) menenteng tas besar.
"Silahkan masuk, Pasang yang benar!."
"Ya." Suara baritonnya terdengar jelas
"Oh Anjiiir.... bagus banget, bidadari mana sih yang akan pakai kamar ini?" Ia mengeluarkan suara melambai, duduk di atas kasur sambil memantulkan pantatnya.
"Pegawai Roni kaget, ingin memperingatkan tapi terlambat. Levi sudah datang di depannya menatap tajam."
"Oh pangeranku, datanglah kemari... "Ayu KW itu memajamkan mata sambil mengarahkan tangannya. Desain kamar itu membuatnya berimajinasi menunggu pangerannya.
"Keluar kamu dari sini!"
Ia langsung terkesiap mendengar suara yang membentaknya.
"Maaf mas, saya akan cepat selesaikan!"
Ia tergopoh membuka tasnya.
Mengapa Toni mengirim orang seperti ini? Levi geram.
"Setengah jam harus siap dengan tirainya. Jika tidak aku akan menuntut 25% harga tirai dan sprei ini."
"What !" Ia tercengang kemudian melirik jam dinding dan segera menyelesaikan tugasnya.