
Tok tok tok "Assalamualaikum..."
"Itu suara bu Sulis"
"Ya, Pak. Biar ibu yang buka pintu." Bu Joko berdiri.
Bude Sulis datang, lebih baik aku ke kamar saja. Aku sudah sangat canggung dengan situasi ini. Kedatangan Bu Sulis akan semakin memperkeruh suasana.
"Pak, Bida permisi dulu, Bida mau ke kamar." Bida pamit kepada bapaknya lalu menuju kamarnya.
Jodi dan Miki mengedarkan pandangannya mengikuti kepergian Bida. Levi langsung berdehem membuat keduanya jadi menunduk diam tapi tidak mengerti.
"Pak Joko... " Bu Sulis sudah ada di ruang makan, di belakangnya ada Bu Joko mengikuti.
Dasar Bu Sulis, nyelonong saja sedangkan Bu Joko masih di belakangnya. Jodi tidak suka sikap Bu Sulis.
"Ada apa bu Sulis?" Pak Joko bertanya tanpa menoleh ke Bu Sulis.
"Tadi saya melihat ada 3 orang laki-laki melihat-lihat sapinya Pak Joko. Ketika saya tanya, bilangnya ada rencana mau beli sapi. Sikapnya mencurigakan Pak, belum selesai saya ngomong. Mereka malah pergi tergesa-gesa. Saya baru kepikiran sekarang. Kan tadi pintu belakang rumah Pak Joko terbuka, kok tidak ketuk pintu. Kejadiannya tidak lama setelah saya pulang dari sini."
"Aneh sekali. Saya memang ada janji dengan pembeli sapi, tapi saya tunggu sore ini. Dia tidak datang."
"Hati-hati Pak, pasti mereka maling. Sekarang musim pencurian sapi. Lagi pula, Pak Joko ini jika mau jual sapi, hubungan dengan anak saya saja. Gatot biasa jualkan sapi. Jangan sembarangan takutnya begini, kan bahaya jika mereka maling. Nanti Pak Joko tidak jadi jual sapi, tidak jadi juga kan buatkan kamar mandi buat Bida. Kasihan Bida pasti sangat kecewa."
Pak Joko menghela nafas mendngar perkataan Bu Sulis yang selalu saja tidak enak didengar
"Terima kasih informasinya Bu Sulis".
"Ya sudah. Saya permisi dulu, saya akan memperketat rantai kandang sapi saya. Assalamualaikum" Bu Sulis berlalu ke arah dapur lalu melewati pintu belakang lagi.
Bu Joko mengikuti Bu Sulis untuk menutup dan mengunci pintu belakang kembali.
Wah datang tak dijemput, pulang tak diantar. Kalimat itu tepat untuk wanita tua itu. Roni membatin sendiri.
"Maaf ya, Bapak permisi dulu." Pak Joko mengajak Bu Joko berbicara di kamar.
"Roni, kamu bereskan meja makan jika sudah selesai, kutunggu di kamar. Kalian tolong bantu Roni."
"Ya. mas."
Pantas saja Roni patuh. Kata Roni digaji senilai harga sewa 3 kamar kos milik Levi setiap bulannya.
Bagi mahasiswa itu besar banget, lumayanlah buat beli makan dan pulsa. Apalagi sekarang, kita makan gratis di rumah Pak Joko. Wah utuh dong gaji Roni bulan ini. Jodi berandai-andai menjadi Roni.
Levi berlalu pergi ke kamar depan.
"Enak saja, Levi kok tambah songong. Kita ini sama-sama mahasiswa. Sama-sama numpang tidur dan makan di rumah Pak Joko." Miki protes.
"Sudah kerjakan saja, aku pilih aman saja. Iya kan Jodi?" Roni menyikut Jodi.
"Ya. Ayo kita bereskan. Kasihan Pak Joko pasti sedang cemas gara-gara ucapan wanita tua tadi." Jodi mulai menumpuk piring kotor lalu membawanya ke dapur.
"Jika dipikir-pikir, aku tidak keberatan kok bantu bersih-bersih . Kita kan sudah makan gratis. Masak gini saja kita cemen. Iya kan Den?" Miki meminta dukungan Deni.
"Ya, kamu saja yang bersih-bersih sendiri. Aku sedang mager (malas gerak). Deni nyengir namun tangannya ikut merapikan meja makan."
"Semua sudah selesai. Aku mau ke Levi dulu. Levi pasti menungguku."
Belum sempat Roni melangkah, kriing kriiing HP Roni berdering. Ada nomer tidak dikenal menelfonnya. Roni mengabaikannya. Nomer itu menelfonnya lagi. Akhirnya Roni memblokir nomer tersebut.
Jodi, Deni dan Miki masih memilih duduk di ruang tengah, tapi mereka sibuk dengan HP masing-masing.
# Di kamar
"Iya Pak. Ibu hanya kuatir mengecewakan Bida. Jika sapi kita dicuri maka kita tidak bisa membuatkan kamar mandi yang bagus untuk Bida."
"Ayo kita istirahat bu. Soal meja makan, biarkan Bida yang mengurusnya nanti."
"Jika Bida ketiduran, bagaimana Pak?"
"Biar besok saja. Kita istirahat saja sekarang."
#Di kamar depan.
"Mas Levi, apa yang terjadi? Mengapa tadi mas Levi marah seperti itu." Roni duduk di kasur, sementara Levi duduk di kursi sibuk mengutak atik laptopnya.
Levi menghadap ke arah Roni.
"Dengarkan baik-baik. Aku tidak suka mengulang perintah. Kamu urus mereka, peringatkan mereka agar tidak macam-macam terhadap Bida. Tidak ada satupun yang boleh menatap atau memikirkan fisik Bida."
"Tapi apa alasannya mas?"
"Kamu cerewet sekali, jika mengurus 3 orang saja kamu ndak becus, jangan jadi asistenku."
"Setidaknya aku harus punya alasan yang tepat mas."
"Kamu pikir sendiri alasannya. Yang jelas aku tidak rela ada yang menggodanya bahkan menatapnya. Jangan lama-lama menatapnya, jaga jarak, berkata seperlunya. Intinya jangan ada yang mendekatinya, titik"
Tidak rela ? Apakah aku tidak salah dengar. Apakah kau menyukai Bida ? Ya ampun mengapa aku baru menyadarinya. Tentu saja aku tidak akan macam-macam lagi. Ah aku harus berbicara dengan Jodi dan yang lain.
"Baik Mas. Aku mengerti, aku akan urus semuanya."
"Roni...... Miki sepertinya belum membayar uang kos. Kemarin kan terakhir pembayaran. Kamu tagih ya, beri penekanan jika ia tidak bayar hinga 3 hari, silahkan kemasi barangnya. Lagi pula, biaya kos yang terbaru kan sudah 2 juta per bulan. Jika Miki pindah, biar diganti anak kos baru. Jangan salah menggunakan no telp. Gunakan no telpon khusus yang kuberikan untuk mengurus bisnisku. Jangan bocorkan informasi bahwa akulah pemilik tempat kos itu."
"Ya, mas." Tega sekali ke Miki. Aku harus memperingatkan Jodi untuk hati-hati, jangan sampai ia membocorkan informasi ini.
Roni membuka ponselnya lalu mengirim pesan kepada Miki menggunakan nama lain.
Jika artis punya nama beken, Roni punya nama bisnis.
#Di ruang tengah
"Busyet, aku dapat pesan nih. Tanggal berapa sih ini? Aku lupa belum bayar kos untuk 3 bulan mendatang. Gila... aku diminta kemasi barangku jika tidak segera membayar." Miki berhenti bermain game.
"Kamu kok betah kos disana, kan mahal?" Deni masih fokus dengan gamenya.
"Tempat kos ku itu nyaman banget. Kamar mandi dalam, ada air panas, dan free wifi. Dibandingkan dengan tempat kos lain, di tempatku itu masih termasuk murah maksudku dengan fasilitas yang sama."
"Jika aku pilih yang murah saja lah, uang dari orang tuaku tidak cukup untuk bayar kos yang mahal. Lagian tidur tinggal merem saja kok."
"Memangnya ada berapa kamar sih di tempat kosmu?" Jodi bertanya kepada Miki karena ingin tahu lebih jauh tentang kekayaan Levi.
"Ada 40 kamar. Semua sistem paviliun, jadi privacinya terjaga banget. Kata pengelolanya sih, dia tidak akan menaikkan harga sewa selama 2 tahun kepada anak kos lama, jika pembayaran tepat waktu."
"Berarti 40 x 1,7 juta nilainya 68 juta dipotong biaya operasional, masi banyak dong uangnya." Jodi menegakkan posisi duduknya.
"Kamu mengkhayal ya, menjadi pemilik tempat kos? Ketinggian, harusnya itu kamu daftar jadi pengelolanya saja. Karena pemiliknya mungkin terlalu sibuk. Jadi selama ini, aku hanya behubungan dengan pengelolanya saja."
"Oh ya. Apakah kamu tahu siapa pengelolanya?"
Ekspresi Jodi membuat Miki bertanya-tanya.
"Aku hanya tahu, di Wa nya bernama Jaya, profilnya saja hanya gambar bangunan kos. Aku juga belum pernah bertemu dengannya. Aku hanya komunikasi dengan Pak Sis. Seorang security di tempat kosku. Sedangkan untuk transfer, aku punya VA nya, karena aku transfer ke semacam provider gitu bukan atas nama pribadi. Memangnya kamu tahu siapa Jaya itu?"
Jodi hanya mengakat bahunya menandakan ia tidak tahu. Roni Wijaya... Jaya. Pasti itu Roni. Batin Jodi.