Jodoh Gadis Indigo

Jodoh Gadis Indigo
Malu


Bida mengerjapkan matanya. Ia melihat Levi di dekatnya. Bida mencoba duduk tapi ada bagian dalam dirinya yang sangat perih.


"Aaawh perih..." Bida merintih


Levi memegang tangan Bida lalu menciumnya. Bida mencoba duduk. Selimutnya merosot. Bida sadar bahwa ia sedang polos. Ia langsung menutup tubuhnya dengan selimut. Ia mengedarkan pandangannya ke bajunya yang tercecer. Ia menutup mulutnya yang menganga. Ia ingat kejadian tadi malam. Ia ketakutan melihat bercak darah di sprei.


Levi meraih kepala Bida kedadanya. Bida terisak... "Aku takut mas." Tadi malam, aku terlalu terbawa suasana, aku sangat merindukanmu. Aku ..."


"Ssst mas Levi yang minta maaf." Levi ingat sekali saat Bida berusaha lepas darinya saat kesakitan tapi Levi membuatnya tidak berkutik. Ia terus mencumbui Bida hingga ia menyerah kembali.


"Mas aku datang bersama mamamu, apa yang akan dipikirkan mamamu tentang aku? Aku takut mamamu marah. Aku juga takut bapak dan ibu marah karena aku baru bulan depan lulus sekolah."


"Bulan depan?"


"Ya mas. Aku ikut akselerasi. Aku sudah ujian akhir."


"Bagus dong, kita kan sudah menikah. Kita bulan madu sekarang saja. Setelah kamu lulus, kita selenggarakan pesta pernikahan kita." Levi menarik selimut Bida hingga melorot jatuh hingga pinggulnya terlihat.


"Jangan ! " Bida langsung menarik selimutnya lagi lalu menutupi tubuhnya lagi.


Levi tersenyum, lalu mengecup pipi Bida. Mencium daun telinganya kemudian berbisik. "Mama ada disini sejak tadi, mama sudah melihat ketika kita masih tertidur dalam satu selimut tanpa apa-apa dengan baju berserakan. Karena pintu kamar itu terbuka dari semalam. Mama sedang menunggumu bangun. Beliau sekarang duduk di sofa ruang tamu."


Bida kaget, mulutnya menganga lucu. lalu bangun tertatih lupa dengan selimutnya setelah 2 langkah kembali berbalik memungut selimutnya. Membalutkannya ke tubuhnya di depan Levi. Levi menertawakan tingkahnya.


"Aku sudah melihatnya. Bahkan tadi malam aku sudah menyentuh semuanya." Levi mengatakan itu sambil tersenyum.


Wajah Bida memerah menahan malu. Ia ragu keluar kamar karena ia melihat pintu kamar mandi Levi tidak menyatu dengan kamarnya.


Levi mendekap tubuh Bida lalu menunjuk pintu di kamarnya. Pintu itu juga kamar mandi. Yang di luar itu hanya shower. Kamu pakai yang di dalam. Ada bath up di dalamnya. Aku akan bawakan bajumu.


Bida diam menerima dekapan Levi. Ia melirik pintu di dalam kamar Levi.


"Cepatlah mandi, atau kamu ingin aku temani berendam di bath up?"


Bida langsung terkesiap dengan pertanyaan Levi. Ia jalan bergegas ke pintu kamar mandi di dalam kamar Levi. Selimutnya terjulur ke lantai. Saat melewatinya Levi sengaja menginjaknya. Begitu Bida sampai di depan pintu kamar mandi, selimut itu terlepas dari tubuhnya membuatnya segera membuka handel kamar mandi lalu menghilang ke dalamnya. Levi kembali menertawakan tingkah Bida, ia merebahkan tubuhnya di kasur menatap foto dirinya dan Bida yang terpajang di dinding. Tangannya menemukan sesuatu ia memegangnya. Itu adalah benda segitiga warna orange berenda. Levi bangkit memunguti Baju Bida, menemukan Bra Bida yang juga berwarna Orange berenda. Ah Bida suka warna orange. Levi teringat kejadian selimut dan benda warna orange itu.


Levi mengetuk pintu kamar mandi Bida.


"Bida...ini bajumu."


"Tidak mas, aku akan ganti baju nanti. Biarkan baju itu. Aku akan pakai handuk saja. Oh tidak tolong kemarikan tasku."


Levi tersenyum senang mendengar kepanikan di ucapan Bida. Ia menemukan sebuah tas di atas nakas.


Mamanya benar ia laki-laki bodoh. Setidaknya ia sudah gagah berani memperjuangkan miliknya dan menyerahkan hanya kepada Bida istrinya. Ia menatap noda darah di sprei dengan penuh kebanggaan. Levi sejenak lupa keberadaan mamanya di sofa. Ia keluar kamar tapi tidak menemukan mamanya. Ia membuka HPnya. Ada pesan dari mamanya


"Selesaikan masalah kalian, mama tunggu di apartemen mama di jam makan siang. Jangan lupa ganti kode pintumu. ----- Mama


Mama minta aku menyelesaikan. Hingga waktu makan siang. Ah masih banyak waktu. Aku belum selesai dengan urusanku.


Levi kembali ke kamar, tampak Bida membuka kamar mandi sedikit dengan tubuh berlilit handuk. "Mas Levi, tolong tasku mas."


Levi sengaja tidak menyahutinya. Levi sembunyi dibalik gantungan jaket di samping nakas. Bida kemudian keluar dari kamar mandi setelah menoleh kiri kanannya.


Levi langsung muncul dan memeluk Bida dari belakang. Bida kaget namun tidak bisa berkata apa-apa karena levi segera membalik tubuhnya dan membungkam mulutnya dengan bibirnya. Levi hanya memberi kesempatan untuk Bida menghirup udara lalu kembali melahapnya lagi.


Wangi tubuh Bida membuatnya menginginknnya. Keinginan itu sama kuatnya dengan keinginan karena pengaruh obat dari Diana. Bedanya tubuhnya saat ini sangat bersemangat sedangkan obat itu membuat tubuhnya lunglai selain bagian itu.


Waktu makan siang masih lama. Batin Levi.


*****


"Masuklah" Bu Dewi mempersilahkan Levi dan Bida masuk.


"Levi, apakah mama perlu menamparmu lagi ?"


"Tidak ma, Tidak perlu. Levi sudah membuktikan bahwa Levi secara sadar sudah melakukannya." Levi meneruskan kalimatnya di dalam hati beberapa kali ma...


Levi tersenyum riang.


"Apa maksudmya mas? Menampar, melakukan...."


Bida langsung diam, tangannya gemetar, wajahnya merah menahan malu. Levi melihat ekspresi Bida. Levi mengecup pipinya di hadapan mamanya.


"Mas.." Bida mencoba ngeles saat Levi akan menciumnya lagi.


"Jika tahu begini tadi mama harusnya minta kalian menemui mama di jam makan malam." Bu Dewi menggoda Levi.


Levi malah cengar cengir menanggapi ucapan mamanya.


"Levi, urusan pesta pernikahan akan dihandle Tantemu. Mama yang akan mengurus bulan madumu. Kamu harus segera mencatatkan pernikahan kalian. Karena kalian sudah melakukannya."


'Ya ma." Levi tidak membantah mamanya karena mamanya sudah mengetahuinya.


Sementara Bida semakin menundukkan wajahnya. Levi menyentuh dagu Bida lalu mengangkatnya. Hampir saja Levi mengecup bibir Bida.


Tok mama memukul kepala Levi dengan remot AC.


"Kamu tidak sensitif ya. Lihat Bida sudah malu seperti itu. Jika kamu tidak bisa mengendalikan diri, lebih baik Bida tidur bersama mama. Kamu sendirian saja. Bida tampak kelelahan begitu."


"Jangan ma. Levi akan menjaganya ma. Levi janji akan lebih sabar."


"Besok kamu antar Bida pulang ke rumahnya. Minggu depan, mama dan tante akan menemui orang tua Bida."


"Sekalian minggu depan saja ma, jadi kita bisa bareng ke rumah Bida. Jangan besok ma."


"Terserah Bida saja." Bu Dewi menatap Bida dengan lembut.


" Bida terserah mas Levi saja ma."


Levi tersenyum penuh arti. " Mama dengar kan ma, kata Bida terserah mas Levi. Jadi minggu depan saja ya."


"Baiklah." Bu Dewi menyerah.


Toh mereka sudah menikah sah, ada saksinya bahkan ada rekaman proses akadnya.


"Levi.. pastikan Bida istirahat yang cukup dan jangan mengurung Bida di kamar. Ajak Bida jalan-jalan keluar." Bu Dewi memberi saran.


"Ya mas. Kan di kota ini banyak tempat wisata mas. Ajak Bida ya mas." Bida meminta dengan suara pelan karena malu kepada mamanya Levi.


Mau kemana, lebih asyik ke taman cinta daripada berdesak-desakan antri di setiap wahana. Batin Levi.


"Ya."


"Terima kasih mas. Nanti malam ya mas."


"Nanti malam ? Besok saja. Mas Levi kan baru dari rumah sakit, kamu mau ngajak mas Levi keluar."


"Oh ya mas. Jangan sudah mas, besok juga jangan. Kita di kamar saja. Kita jalan-jalan jika mas Levi sudah sehat saja."


Bida tampak khawatir.


Levi tersenyum, Bu Dewi yang paham arti senyuman itu.


Bida begitu polos, tidak tahu akal-akalan Levi.