Jodoh Gadis Indigo

Jodoh Gadis Indigo
Pengakuan


Levi mengajak Bida ke restauran B Levi.


Kedatangan Levi disambut ramah.


"Selamat datang mas Levi."


Meski Levi tidak pernah berkunjung ke restaurant ini, tapi Levi rutin mengadakan rapat daring untuk memberi bimbingan demi kemajuan restaurannya. Sehingga semua karyawannya mengenal wajah Levi.


"Kok mereka tahu namanya mas Levi?"


"Tentu saja."


"Dari mana mereka tahu namanya mas Levi?"


"Nanti mas Levi ceritakan. Sekolahmu kan disamping restauran ini, pernah ke sini?"


"Pernah dengan Rona satu kali. Nama restauran ini B Levi mas. Apa artinya ya mas?"


"Artinya Bidadarinya Levi. Bagus kan?" Levi mensedekapkan tangannya menunggu respon Bida.


"Mas Levi sama dengan Rona berkata begitu."


"Bida... Mas levi membangun restauran ini untuk kita makanya mas Levi beri nama B Levi."


"Ha? Jadi benar mas ?" Bida terbelalak.


"Awas ada lalat masuk." Goda Levi


"Mas Levi sekaya itu ya. Bida tidak menyangka. Jika tahu mas Levi sekaya itu. Bida tidak akan mendekati mas Levi. Bida takut tidak diterima keluarga orang kaya."


Levi menghembuskan nafasnya.


"Bida kita sudah menikah, kita sudah saling menyatu. Kita harus bisa menerima kondisi masing-masing."


"Ya mas."


"Apartemen itu milik keluarga mas Levi. Hotel tempat Ayu menginap juga, klinik rumah sakit dan semua ribuan unit apartemen, beberapa hotel di beberapa kota juga milik keluarga mas Levi. Mas Levi bisa memberi apapun yang Bida inginkan. Katakan apa yang Bida inginkan?"


Bida menatap Levi, matanya berkaca-kaca. Levi bingung dengan sikap Bida. Harusnya Bida senang dan bersorak lalu menyebutkan barang-barang mewah yang diinginkannya.


"Mas Levi sangat kaya raya. Bida takut tidak bisa menjangkau mas Levi."


"Apa maksudmu Bida? " Sekarang air matanya meluncur turun ke pipinya. Levi langsung menghapus air mata Bida.


"Bida ingin mas Levi. Bida ingin jiwa dan raga mas Levi. Bida ingin mas Levi hanya melihat dan menyentuh Bida saja. Pasti banyak perempuan yang ingin merebut mas Levi dari Bida. Bida takut tidak cukup membahagiakan mas Levi. Lalu mas Levi akan berpaling dari Bida. Bida tidak peduli kekayaan mas Levi. Bida hanya ingin mas Levi."


Levi terharu dengan ucapan Bida. Ia menggenggam tangan Bida erat lalu muncul ide usilnya untuk menggoda Bida.


"Bida... kamu benar, banyak perempuan di sekitar mas Levi yang suka menggoda. Maka berusahalah menjadi istri yang baik, ibu yang baik, jagalah anak-anak kita nanti. Jaga mas Levi dari godaan para wanita penggoda. Jangan lengah, berdandanlah hanya untuk mas Levi. Terutama tingkatkan performa dan prestasimu di bidang itu. Maka mas Levi akan selalu merindukanmu. Mas Levi hanya akan jatuh ke pelukanmu. Bagaimana ?"


"Ya mas."


Levi hampir tertawa keras mendengar Bida menyatakan kesanggupannya. Tapi Levi menahan tawanya melihat kesungguhan Bida di matanya.


Bida, I love you so much.


"Bida"


Bida menoleh ke arah suara yang memanggilnya. Begitu juga Levi langsung mengarahkan pandangannya.


Kebetulan yang tidak disangka, Arman dan Prendi ada di depan mereka.


Levi sudah pernah melihat Prendi tapi tidak dengan pemuda di sampingnya.


Mereka duduk di depan Bida dan Levi.


"Bagaimana kabarmu Bida?" Prendi bertanya kepada Bida tanpa melihat ke arah Levi.


"Baik."


"Prendi, kamu juga mengenal.Bida ?" Arman tampak heran.


"Ya. Bida adalah wanita yang pernah kuceritakan padamu."


"Bagaimana mungkin kita bisa menyukai gadis yang sama?"


Kalimat itu terdengar jelas di telinga Levi membuatnya marah. Ia menatap tajam ke arah Bida.


"Siapa dia Bida?" Levi bertanya.


"Ia teman satu kelas denganku di semester awal lalu aku masuk kelas akselerasi sedangkan ia masuk kelas reguler."


"Sebaiknya kita pergi saja dari sini." Prendi akan berdiri.


"Hei tunggu. Kamu datang dari luar kota ingin menemui Bida kan? Sedangkan aku juga masih ingin mendekatinya. Mari kita selesaikan masalah ini sekarang dengan jantan."


Aku tahu mas Levi. Ia mahasiswa KKN itu. Ia pasti berhasil memikat Bida. Tidak ada harapan untukku lagi. Prendi merasa kalah.


Levi mulai semakin jengkel. Bida hanya tertunduk. Kamu memang cantik Bida, bodohnya aku sudah lalai dalam 2. tahun ini


Aku harusnya memprediksi hal-hal seperti ini.


Arman dan Prendi sekarang duduk bergabung dengan Bida dan Levi.


Arman menghela nafas. Siapa laki-laki ini ? Badannya tinggi sekali. Apakah ia pamannya atau kakaknya. Sorot matanya sangat tajam. Aku harus bertindak jantan.


"Maaf mas, kenalkan namaku Arman, aku sangat menyukai Bida. Bida memang pernah menolakku tapi penolakan itu yang justru yang membuatku sadar. Aku menjadi siswa yang baik setelah itu. Aku bertekad akan belajar bersungguh-sungguh lalu aku akan meraih sukses dan aku akan datang melamarnya suatu hari. Aku tahu dari Rona bahwa Bida katanya bertunangan sejak lulus SMP tapi sekarang bukan jamannya perjodohan. Maaf Apakah Anda saudaranya atau om nya?"


Prendi menyentuh tangan Arman tapi Arman menepisnya.


Levi menatap marah kepada Arman.


"Apa kau sudah selesai bicara?" kalimatnya sangat jelas menyiratkan kemarahan.


Bida tertunduk takut.


"Ya. Aku merasa lega telah mengatakannya. Bida kamu akan lulus. Aku mohon maaf jika awal pertemuan kita, aku sering menjahilimu. Hingga pernah membuatmu menangis."


"Cukup. Apa yang kamu lakukan hingga Bida menangis? Levi sudah mengepalkan tangannya." Sayangnya Arman hanya fokus pada wajah Bida yang tertunduk.


"Aku dulu siswa yang nakal. Waktu itu aku pernah memaksa menerima cintaku dan menjadi pacarku. Karena Ia tidak mau dan selalu menghindar dariku. Aku menyeretnya, membawanya ke dalam gudang yang gelap lalu menguncinya dari luar. Bida menangis menggedor pintu tapi tidak ada yang mendengarnya karena semua anak sudah pulang. Waktu itu hujan deras, Bida sedang menunggu hujan mereda. Satu jam kemudian aku membukakan pintunya."


Sebenarnya yang terjadi. Setelah Bida terkunci di dalamnya. Datanglah hantu laki-laki muda bernama Arjuna. Ia menggunakan stelan jas warna putih yang bersinar di kegelapan. Arjuna menyarankan agar Bida diam di situ sambil menunggu hujan reda. Tapi jika Bida ingin memberi Arman hukuman maka Arjuna akan menghukumnya. Bida tidak mau Arjuna mencelakai Arman. Bida juga tidak ingin dibantu keluar oleh Arjuna karena itu akan menunjukkan bahwa Bida menyerah. Bida yakin Arman tidak akan menguncinya lama di sana. Bida memang menangis tapi Bida menangis karena rindu kepada Levi.


"Cukup !" Levi mencengkeram krah pemuda itu. Wajahnya adalah wajah blasteran. Neneknya dari ibunya berasal dari Jerman sedangkan ayahnya sendiri dari pakistan. Memberinya wajah yang sangat tampan melebih wajah Prendi. Wajah tampan itu semakin membuat Levi muak dan marah. Beraninya ia memaksa Bida menerima cintanya. Levi melayangkan tinjunya ke wajah Arman. Bida terpekik, Prendi juga sangat marah. Ia tidak terima mendengar pengakuan Arman yang tega melakukan itu kepada Bida.


"Keparat kamu. Aku tidak mau menganggapmu teman lagi." Prendi meninggalkan Arman yang kesakitan. Hidungnya berdarah. Pengelola restauran hanya diam menyaksikan bosnya marah. Pengelola restauran itu sering menjalin komunikasi dengan Levi melalui skype kadang mereka bertemu langsung di kota tempat Levi tinggal.


"Mas Levi sudah. Bida tidak mau mas Levi berurusan dengan polisi. Bida tidak ingin mas Levi dipenjara. Mas Levi sudah lama meninggalkan Bida." Bida memeluk Levi.


"Anda siapa?" Arman bertanya lagi.


Karena sangat marah, Levi sampai lupa menjelaskan siapa dirinya.


"Aku Levi Braveano suaminya Bida."


"Apa ? Tidak mungkin Bida masih baru ujian. Bida belum menikah." Arman tidak percaya.


Bida berbalik masih menempel ke tubuh Levi.


"Benar Arman, mas Levi suamiku. Aku sudah menikah 2 tahun yang lalu. Ini bukan perjodohan. Kami saling mencintai. Tolong pergilah."


Arman memandang Levi merendahkan. "Jadi anda menikahi Bida di bawah tangan. Anda bisa kena hukuman pidana. Lihat ulah anda sekarang, pemilik restauran ini akan menuntut kerugian kepada anda."


Vas bunga tampak pecah, Levi juga mendorong kursi yang tadi di duduki Arman hingga patah.


"Oh ya. Kamu anak bodoh. Pernikahan kami dalam proses legalisasi dan kamu baca nama restauran ini. B Levi alias Bidadarinya Levi. Ini restauran Bida hadiah dariku." Levi memberi kode pada security yang langsung datang.


"Seret anak ini keluar, Ia mengganggu istriku. Dan kau, aku bisa menuntutmu atas perbuatan tidak menyenangkan. Kamu kira aku tidak bisa memenjarakanmu."


Arman kaget dengan pengakuan Levi dan Bida. Ia melirik nama restauran yang tercantum. Selama ini ia tidak menyangka jika restauran itu milik Bida.


Levi memanggil karyawannya, "Bereskan kekacauan ini segera."


"Ya mas."


"Bida, kamu masih menempel erat padaku. Apakah kamu menginginkannya. Tiba-tiba Levi membisikkan sesuatu di telinga Bida ketika berjalan menuju mobilnya."


Bida langsung melepaskan pelukannya. Ia tidak sadar telah bergelayut memeluk Levi bahkan sambil berjalan membuat Levi kesulitan berjalan. Tadi Bida kaget melihat kemarahan Levi pada Arman.


Sial sekali jika sampai Bida tergoda dengan ketampanan pemuda tadi. Aku yakin aku bisa membunuhnya pemuda tadi Aku tidak peduli dengan ancaman penjara.


*****


Setelah proses perekaman KTP Bida dan Levi pulang.


Levi ingin sekali mengobrol tentang kejadian yang dialami Bida selama 2 tahun. Tapi Bida sepertinya enggan menceritakannya. Mereka duduk di sofa di dalam.kamar Bida.


"Mas aku sudah menuruti permintaan mas Levi untuk menulis semua perasaanku kepada mas Levi selama mas Levi pergi. Aku sudah menulisnya di buku harian. Nanti mas Levi bisa membacanya dengam syarat."


"Oh ya apa syaratnya?"


"Bacalah sendiri. Jangan baca di depanku. Aku malu. Juga jangan menjadikannya untuk bahan menggodaku. Tulisan itu terlalu lebay mas. Aku malu menunjukkannya."


"Ok." Mas Levi janji jika sampai ingkar mas Levi akan menciumu sebanyak yang kamu inginkan.


"Tuh kan, belum baca sudah begitu. Buku itu akan Bida bakar saja."


"Jangan. Sebutkan apa hukumannya jika mas Levi ingkar" Levi mencoba bernegosiasi.


"Kalau mas Levi menggoda Bida gara-gara isi buku itu maka mas Levi harus memijati kaki dan pundak Bida selama 1 jam."


"Serius ?"


"Ya. Mijatnya harus profesional. Waktunya tepat satu jam. Jika perlu pakai Timer. Badan Bida rasanya remuk terutama pundak, punggung dan kaki." Bida memegang pundak dan kakinya sambil berbicara.


"Deal. Apakah sekarang badanmu terasa pegal ?"


"Ya. mas makanya Bida pingin pijet biasanya sih minta ibu mijiti Bida."


"Jangan minta ibu mijiti, nanti ibu bisa lihat."


"Lihat apa mas?"


"Lihat itu? Motif polkadot di dada dan punggungmu."


"Ah ini gara-gara kamu mas." Bida mengeluhkan perbuatan Levi.


Levi tertawa sambil meninggalkan Bida.


"Mas mau kemana?"


"Mau keluar kamar sebelum suamimu tidak tahan ingin melukis polkadot lagi. Siapkan bukunya ya. Nanti aku baca."


Levi masih tertawa meski sudah keluar kamar Bida. Bu Joko memandangnya heran.


# Pov Bu Joko


Sempat ada rasa ragu saat melihat Bida yang masih belia melangsungkan akad nikah dua tahun lalu.


Hatiku terasa sedih melihat kesedihan Bida, setelah kepergian Levi.


Namun hatiku tenang saat melihat Bida sudah sibuk dengan aktivitas sekolahmya.


Ada ketengangan saat paket demi paket datang dari Levi. Bukan karena isi paketnya tapi karena tulisan dalam paket yang selalu bernada manis.


"Untuk Bidadari istriku, Ny Levi Braveano."


"Untuk Bapak dan Ibu, dari menantumu Levi Barveano."


"Untuk Pak Kepala Desa dari Keluarga Besar Pak Joko, anak dan menantu (Bidadari dan Levi Braveano)"


Pak Kepala adat, pemuka desa, perangkat desa yang pernah berkomunikasi dengan Levi ketika KKN, bahkan Bu Sulis juga dapat paket ketika menjelang lebaran. Semua paket tersebut dialamatkan ke rumah lalu salah seorang perangkat desa datang ke rumah.


"Maaf Pak Joko, tadi malam mas Levi telpon saya. Katanya saya diminta bagi paket."


Paket itu dari Levi pribadi tapi selalu tertulis dari keluarga besar Pak Joko, anak dan menantu.


Komunikasi yang sering terjalin antara kami. Aku, Levi dan suamiku. Levi sering menanyakan kabar Bida tapi tidak ingin kami membahasnya di depan Bida. Suamiku yang sering mengambil foto dan video Bida diam-diam lalu mengirimkannya ke Levi.


Alasan Levi tetap sama, "Saya ingin Bida menjalani masa sekolahnya seperti anak remaja lain. Tentu saja masih tetap dalam batasan. Bapak, ibu dan Bida harus ingat bahwa saya suaminya Bida yang akan menjemput Bida suatu saat nanti."


Terasa aneh bagiku, jika Levi memang mencintai Bida. Mengapa tidak pernah mengunjungi Bida. Bukan hanya kiriman paket, Levi juga pernah mentransfer sejumlah uang ke rekening Pak Joko suaminya. "Mohon maaf bapak, tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada Bapak, tolong gunakan uang tersebut untuk keperluan Bida." Kenyataanya uang tersebut masih utuh, untuk apa lagi. Tas, sepatu, baju, snack, kebutuhan pokok semua sudah dikirimkan. Uang saku Bida, tentu saja kami sebagai orang tuanya masih sanggup memberi.


Suatu hari, Bida berkata, "Heran deh, kok mas Levi kirim barang yang selalu tepat ukurannya. Bagaimana Mas Levi tahu ukuran Bida. Saat SMP dan SMK, Bida mengalami banyak pertumbuhan badan loh. Ya kan Bu?"


Saat itu aku hanya tersenyum, "Disyukuri saja, artinya Levi perhatian sama Bida."


Hingga saat kedatangan wanita anggun tersebut. Bu Dewi namanya. Ibunya Levi yang datang untuk menjemput Bida. Sungguh sebagai ibu, aku sangat terharu. Bu Dewi ternyata menerima Bida dengan tangan terbuka. Biarlah keadaan Bida yang Indigo hanya milik kami.


Tak putus doa kami untukmu Bida.


Terima kasih Ya Allah, sudah mengirim Levi untuk menjemput Bidadari kami.