Jodoh Gadis Indigo

Jodoh Gadis Indigo
Akad Nikah


Bu Joko keluar kamar bersama Pak Joko.


"Mbak Rini, mana Bida? ini bidannya sudah datang." Bu Sulis menggandeng bidan desa kami.


Bu Joko tidak menjawab pertanyaan Bu Sulis. Bu Joko menuju kamar Bida lalu mengetuk pintu kamar Bida. Tok tok tok


"Ya bu."


"Ini ada bu Bidan yang akan memeriksa Bida." Bu Sulis mencoba menerobos masuk ke kamar Bida yang terbuka separuh sambil menggandeng Bidan tersebut.


Bu Joko menarik tubuh Bu Sulis. "Bu Sulis tidak usah ikut masuk." Bu Sulis kaget, Tidak biasanya mbak Rini memanggil aku dengan sebutan Bu, biasanya memanggil aku dengan mbak.


Bu Sulis diam, bu Joko sama sekali tidak melihat ke wajah Bu Sulis. Bu Joko sangat geram dan tidak ingin melihat ke arah Bu Sulis.


Nenek dan Bibi ada di antara mereka.


#Nenek dan Bibi


"Nenek tadi menampar orang ini kurang keras, lihat saja dia masih bisa berkata ketus dengan lancar." Bibi mendekatkan wajahnya ke wajah bu Sulis untuk mengamati wajah bu Sulis lebih dekat.


"Aku tidak bermaksud menamparnya tadi aku hanya menyeimbangkan tamparanmu."


"Maksudnya nek?" Bibi tidak mengerti maksud nenek


"Jika aku tidak segera menampar pipinya segera, maka mulutnya bisa perot."


"Benarkah?" Bibi mengamati wajah Bu Sulis dengan seksama keemudian tersenyum ganjil.


Bu Joko dan Bu Joko tampak cemas menunggu Bida diperiksa. Bukan karena meragukan kesucian Bida, tapi khawatir Bida kesakitan saat diperiksa.


Bu Sulis bersandar ke tembok kamar Bida. Ia menjaga jarak dari Pak Joko yang tampak dengan tatapan seperti ingin menamparnya.


Plak Tamparan keras dilayangkan bibi di pipi kanan Bu Sulis hingga membuat Bu Sulis meringis kesakitan.


Nenek kaget dengan tindakan bibi.


"Jangan menyeimbangkannya nek, aku ingin dia perot selama beberapa waktu saja. Nenek bisa menamparnya lagi besok."


Bibi kemudian meniup ubun-ubun bu Sulis dan terkekeh senang.


Nenek diam, bagaimanapun nenek juga sangat marah kepada Bu Sulis. Lagi pula jika besok baru ditampar akan terlambat. Bu Sulis akan tetap perot dalam jangka lama.


Bu Sulis merasakan wajahnya oleng ke kiri dengan keras, kepalanya berdenyut sebentar kemudian terasa ringan.


"Mbak.... Mbak..." Bu Sulis berusaha memanggil nama Bu Joko tapi suaranya tidak jelas karena lidahnya kaku, bibirnya perot ke kiri. Bu Sulis merasa aneh tapi tidak paham dengan kondisinya.


# Di dalam kamar


"Wah Bida cantik sekali. Tapi kok sedih ?" Bu Bidan ingin mengurangi ketegangan Bida.


Bida sedang menggunakan kebaya. Rambutnya sudah terurai, namun menggunakan rok lebar di bagian bawahnya. Bida belum membuka kebayanya karena tidak bisa melakukannya sendiri. Bida kuatir kebayanya rusak karena nanti harus membayar ganti rugi.


"Terima kasih bu Bidan." Mata Bida kembali tergenang.


"Bida tidur dengan siapa?"


"Sendirian."


"Bida pernah pacaran."


"Tidak. Bu Bidan ayo periksa Bida. Mana stetoskopnya?"


Bu Bidan mengehela nafas pelan.


"Bida lepas celana dalammu dan berbaringlah."


"Ha? Mengapa ?"


"Ibu akan periksa itumu?"


"Ah ndak mau, apaan Bu Bidan ini jorok, Bida malu."


Aku sudah yakin, pasti mulut Bu Sulis itu perlu dijahit. Aku yakin Bida tidak apa-apa, aku yakin Bu Joko menjaga putrinya dengan baik.


"Dengar Bida, kamu harus mau diperiksa, harga diri orang tuamu adalah taruhannya. Ibu Bidan tidak akan melukaimu hanya memeriksa sebentar. Bu Bidan memakai hand glove nya.


Bida berbaring tapi belum membuka celananya.


"Sini biar bu Bidan yang buka"


Bida menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Ia sangat ketakutan.


***


"Selesai. Bida bangunlah, pakai lagi celanamu." Bu Bidan membuka hand glovenya lalu tersenyum kepada Bida.


Bu Bidan menunggu Bida merapikan bajunya. Bu Bidan mengajak Bida keluar kamar. Di depan kamar sudah ada Bu Joko dan Bu Joko serta Bu Sulis.


"Bida baik bu, Bida masih suci." Bu Bidan segera melaporkan hasil pemeriksaan.


Bu Joko langsung memeluk putrinya. Pak Joko juga memeluk mereka. Mereka bertiga tersenyum namun air mata mereka meleleh di pipi mereka.


"Mari kita ke depan." Pak Joko mengajak semuanya ke ruang tamu tempat Pak Ridwan dan Pak Soleh (Tokoh agama di Desa) sudah menunggu. Pak Kepala Desa yang menghubungi Pak Soleh.


Bu Sulis mengikuti mereka, Bu Sulis masih meraba pipinya. Ia merasa ada yang beda ketika menggerakkan bibirnya.


"Mmm" Bu Sulis kesulitan berbicara


Semua berkumpul di ruang tamu begitu juga Levi dan teman-temannya. Mereka menunggu bu Bidan berbicara.


"Bapak Ibu semuanya, Saya sudah memeriksa Bida. Bida masih suci." Bu Bidan melaporkan hasil pemeriksaannya di depan semua orang.


Levi tidak terkejut dengan ucapan bu Bidan karena Levi sangat yakin akan kondisi Bida.


"Maaf tanpa mengurangi rasa hormat saya, saya rasa rencana akad nikah ini perlu ditinjau ulang. Bukankah saya sudahbukyikan bahwa Bida masih suci. Itu artinya tidak ada yang terjadi di antara mereka."


Bu Bidan menatap penuh harap kepada Pak Ridwan dan Pak Soleh.


Pak Soleh menganggukkan kepalanya.


"Syukurlah, Bida bisa menjaga kehormatan dirinya dengan baik. Namun mencegah itu lebih baik. Di antara dua anak yang sudah baligh kemudian memiliki saling ketertarikan maka menikah lebih baik."


Semua orang terdiam, mendengar penjelasan Pak Soleh.


Pak Joko mencoba mencerna kata saling ketertarikan yang diucapkan pak Soleh.


Sejak kapan Bida dan Levi saling tertarik. Bukankah masalah ini karena musibah jatuhnya dahan pohon kenanga.


"Mmmm" Bu Sulis duduk bergabung dengan mereka. Bu Sulis merasa lunglung, banyak yang ingin ia ucapkan tapi entah apa. Ia hanya bisa bergumam saja.


"Mmmm, mmmm,...." Bu Sulis mencoba bersuara tapi selalu gagal.


Semua orang di ruangan itu tidak menggubris keberadaa. bu Sulis.


"Maaf, saya masih ada janji dengan pasien. Saya permisi dulu." bu Bidan menganggukkan kepala untuk undur diri, kemudian ketika menoleh ke bu Sulis, ia kaget dengan penampakan bu Sulis.


"Loh Bu Sulis kenapa?" Bu Bidan menunjuk wajah Bu Sulis yang perot.


Semua orang memperhatikan Bu Sulis.


"Bu Sulis perot." Bu Joko mengucapkannya spontan.


"Aaah" Bu Sulis langsung berdiri, mencoba melihat pantulan wajahnya di kaca jendela rumah Pak Joko.


"Sebaiknya bu Sulis pulang, minta antar anaknya ke dokter saja." Pak Soleh menyarankan.


Pak Ridwan mengerutkan dahinya.


"Pasti, tensi bu Sulis sedang tinggi sehingga mempengaruhi syaraf Bu Sulis." Bu Bidan menyampaikan pendapatnya sebagai tenaga medis.


"Ssaya pemmisi dulllu..." Bu Sulis tampak kesulitan mengucapkan kalimat itu.


Levi sama sekali tidak iba kepada Bu Sulis. Bagi Levi, kondisi Bu Sulis masih tidak sebanding dengan kekacauan yang disebabkan mulut Bu Sulis. Levi sudah mencari informasi tentang tuntutan yang bisa diajukan atas pencemaran nama baik. Levi sudah mantab ingin memperkarakan Bu Sulis.


Setelah menghembuskan nafas untuk menenangkan diri, pak Joko mencondongkan tubuhnya ke arah Levi.


"Nak Levi, keputusan di tangan nak Levi. Apakah mau meneruskan atau membatalkan pernikahan ini?"


Semua pandangan ke arah Levi sekarang


Roni dan teman-temannya juga sedang tegang menunggu jawaban Levi. Mereka berharap Levi membatalkan saja rencana pernikahan dadakan tersebut.


"Saya akan tetap melaksanakan pernikahan ini. Saya menghargai budaya desa ini. Saya merasa wajib menjaga kehormatan keluarga pak Joko. Seperti yang bapak Ibu ketahui bahwa kejadian tadi adalah suatu kecelakaan. Namun kecelakaan tersebut melukai harkat martabat keluarga, terutama kehormatan Bida. Keputusan saya untuk bertanggung jawab sudah bulat."


Roni terperangah namun ia membenarkan ucapak Levi.


Miki, menyayangkan keputusan Levi.


Gila Levi, ini kesempatan untuk lepas dari masalah, untuk apa tetap tanggung jawab. Namun Miki tidak berani bersuara.


Deni dan Jodi juga pilih diam, larut dengan pikirannya masing-masing.


Pak Ridwan berdiri, kemudian menepuk pundak Levi.


"Bagus ! Kamu anak yang tegas."


Pak Joko dan bu Joko merasa lega dengan keputusan Levi.


"Apakah semua sudah siap, mari kita langsungkan akad nikahnya." Pak Soleh mempimpin acara.


Levi merasa tegang begitu juga Bida.


Levi mendekat ke arah Bida yang berdiri bersandar di tembok.


"Jangan sedih Bida. Semuanya akan baik-baik saja."


"Mas Levi tidak perlu meneruskan, semua ini. Mas Levi pasti sudah punya calon istri."


"Benar sekali. Kamu lah calon istriku. Tadi aku sudah telfon mama minta restu. Meski aku tidak cerita jika akan menikah hari ini. Setidaknya aku minta restu, bahwa aku ingin menikahi seorang gadis."


Bida kaget mendengar penuturan Levi.


"Jangan khawatir, setelah ini tetaplah lanjutkan sekolahmu. Aku tidak akan menghalangimu sekolah."


"Nak Levi, mari kita laksanakan akadnya."


Pak Joko menepuk bahunya.


"Percayalah padaku Bida." Levi tersenyum lalu mengikuti Pak Joko.


*****


"Alhamdulillah... "


Akad nikah sudah terlaksana dengan lancar.


"Bida, sekarang kamu adalah tanggung jawab suamimu. Taati perintahnya, hargai dan layani sebaik mungkin." Pak Soleh memberi tausiyah kepada Bida.


Bida hanya mengangguk. Levi terlihat sangat berbahagia.


Baik sekali saran bapak ini. Levi tersenyum.


"Levi, sekarang kamu punya tanggung jawab besar. Nafkahi Bida lahir batin semampumu. Jangan pusakai istrimu dengan paksa." Pak Soleh juga memberi tausiyah kepada Levi.


"Ya Pak. Insya Allah." Levi menjawab dengan mantab.


Pak Joko dan Bu Joko lega akad sudah terlaksana dengan lancar. Namun Pak Joko dan Bu Joko kuatir akan nasib Bida selanjutnya.


"Sekarang kalian sudah sah, mengapa duduknya berjauhan. Bida ayo jabat tangan suamimu, cium tangannya." Pak Ridwan menyuruh Bida.


Bida berdiri lalu duduk disamping Levi dan menyalami tangan Levi, Levi merasakan kecupan bibir Bida di punggung tangannya. Kecupan bibir Bida membuat getaran ke seluruh tubuh Levi.


"Pak Joko, kami pamit dulu. Yang penting semua masalah sudah diselesaikan dengan baik." Pak Ridwan mewakili Pak Soleh pamit. Mereka berdua pamit dan menyalami Pak Joko dan Levi.


*****


"Bu, apakah ibu tidak menyiapkan makan malam?" Pak Joko bertanya kepada Bu Joko


"Ya. Pak, ibu akan segera memanasi rawon dan menggoreng tempe." Bu Joko segera beranjak dari duduknya.


"Bida akan bantu ibu." Bida akan berdiri tapi tangannya ditahan oleh levi.


"Tidak usah Bida. Biar bapak yang bantu ibu. Kamu temani nak Levi dulu. Kalian perlu membicarakan beberapa hal." Pak Joko menyusul Bu Joko ke dapur.


Levi tidak perlu berbicara pak, Levi maunya action. Jodi membatin kemudian tersenyum sendiri.


Levi menatap Roni yang masih berdiri di tempatnya. Roni memahami tatapan Levi


"Jodi, ayo kita ke ruang tengah. Miki, Deni, ayo !" Roni mengajak teman-temannya ke ruang tengah.


"Mengapa mereka pergi mas?" Bida menatap kepergian teman-teman Levi.


"Ada yang harus mas Levi sampaikan." Levi menggenggam tangan Bida. Bida sedikit gemetar karena duduknya berhimpitan dengan Levi apalagi sekarang Levi menggenggam tangannya.


Bida, kamu kan tadi ingat tausiyah dari Pak Soleh. Ah ini pasti akan sulit. Bagaimana aku bisa mengendalikan diriku jika berdekatan seperti ini.


"Mas Levi... " Bida melepaskan tangannya dari genggaman tangan Levi.


"Ada apa?" Levi menyematkan rambut Bida ke belakang telinganya.


"Mas jangan begini, aku jadi berdebar-debar."


"Kamu dengar kan tausiyah dari Pak Soleh. Kita sudah sah. Bidadari Jini binti Joko sudah menjadi istri Levi Braveano. Jadi kamu harus membiasakan kondisi ini."


"Tapi Bida beneran berdebar mas, tiap melihat mas Levi dan ketika mas Levi menyentuh Bida meski tidak sengaja, jantung Bida terasa berdebar. Apalagi sekarang ini, mas Levi duduk dekat sekali dengan Bida."


"Benarkah ?" Levi tampak sangat bahagia dengan pengakuan Bida.


"Mas Levi tidak percaya ya? Ini coba rasakan detak jantung Bida." Bida mengambil tangan Levi lalu meletakkan telapak tangan Levi ke dadanya.


"Levi sangat kaget dengan tindakan Bida sampai tidak bisa berkata apa-apa, namun tangannya terasa tersengat listrik tegangan tinggi."


"Mas Levi bisa merasakan kan? Oh ya, jantung itu ada di sebelah kiri mas." Bida menggeser tangan Bida, telapak tangan Levi digerakkannya sekarang ada di atas dada kiri Bida."


Levi memandang tangannya yang sedang ada di atas dada kiri Bida yang masih menggunakan kebaya. Levi merasakan detak jantung Bida yang berderu namun Levi lebih fokus pada sensasi yang dirasakannya. Levi berjuang sekuat tenaga untuk tidak menggerakkan jarinya.


"Ah mengapa seperti ini?" Bida menurunkan tangan Levi dari dadanya. Nafasnya sedikit berat.


"Mas jangan dekat-dekat aku. Aku merasa aneh jika dekat-dekat mas Levi." Bida menjauhkan tubuhnya dari Levi.


"Kamu kan harus patuh kepada suamimu. Sini duduk dekat sini. Jangan menjauh!" Levi menepuk kursi tepat di sampingnya.


"Bida mendekat pelan, duduk di sisi Levi tapi tidak sedekat tadi."


Aku akan menjagamu Bida. Aku tidak akan melakukan hal itu sebelum kamu lulus sekolah. Tapi aku juga tidak akan membiarkan kamu jauh dariku.


Levi memandang telapak tangannya lalu tersenyum. Ah senangnya aku punya istri sekarang.


Bida menatap Levi dengan penuh tanda tanya karena tersenyum-senyum sendiri.


Mas Levi jadi suamiku. Mas Levi ganteng sekali. Jika saja mas Levi mau jadi pacarku ? Bida tersipu dengan pikirannya sendiri.


Mereka berdua terdiam saling menatap, seolah saling berbicara melalui tatapan mata kemudian sama-sama tersenyum.