
Sarapan sudah siap. Pak Joko mempersilahkan para mahasiswa tamunya untuk sarapan bersama.
"Ayo mari kita sarapan bersama."
"Ya Pak. Terima kasih." Kejadian tadi pagi sangat tidak menyenangkan, membuat situasi terasa canggung.
"Bida masih libur sekolah ya Pak?" Roni sekedar mencairkan suasana.
"Ya. Bida sudah ujian akhir. Sekarang masih libur. Bida selalu ranking satu di kelasnya. Bida bercita-cita memiliki ruko, ia ingin membuka usaha konveksi. Bida ingin menjadi ibu rumah tangga yang baik, sambil melakukan usaha konveksi. Bida tidak ingin bekerja kepada orang lain. Ia khawatir melalaikan anaknya nanti." Pak Joko menceritakan tentang Bida.
"Bagus Pak. Perempuan memang lebih baik buka usaha sendiri di rumah." Roni selalu berhasil menanggapi pernyataan Pak Joko dengan baik.
"Mari silahkan nak Roni. Ini pepes tahu buatan Bida. Bida hobi memasak seperti ibunya." Pak Joko mengambilkan pepes tahu untuk Roni.
"Terima kasih Pak." Roni memakan pepes tahu itu dengan lahap.
Apa-apaan ini? Mengapa Pak Joko hanyq menawarkan pada Roni saja? Apakah mungkin Pak Joko ingin menjodohkan Bida dengan Roni? Menyebalkan sekali. Levi mengambil pepes tahu sendiri, lalu makan dengan lahap seolah mau makan beserta piringnya.
"Vi... kamu kenapa? Kamu makan seperti orang kelaparan ?" Komentar Jodi semakin membuat Levi merasa jengkel.
"Bida... kamu tidak sarapan juga?" Roni menyapa Bida yang sedang menenteng sapu.
"Nanti saya sarapan mas, saya masih mau nyapu teras." Bida berhenti untuk menjawab Roni lalu tersenyum.
Mengapa Bida tersenyum kepada Roni? Apa yang terjadi antara mereka? Aku akan tanya Roni nanti. Mengapa Bida tidak tersenyum padaku juga?
Setelah sarapan semua bersiap berangkat. Program KKN mereka adalah membantu merehap gedung pertemuan balai desa.
Levi tiba-tiba punya ide, ia ingin diam di rumah. Ia tidak ikut teman-temannya ke balai desa.
"Vi... ayo berangkat." Jodi mengajak Levi yang tampak masih sibuk dengan HP nya.
"Hari ini, aku ndk ikut."
"Apakah kamu tidak enak badan mas? Tadi malam sepertinya kamu gelisah, tidak bisa tidur nyenyak. Apakah perlu aku belikan obat, mungkin mas Levi masuk angin. Atau aku perlu diam di rumah saja menemani mas Levi?" Roni tampak sangat perhatian.
"Tidak usah. Kamu pergi saja. Berangkat sana !" Levi mengibaskan tangannya untuk memberi tanda agar Roni meninggalkannya.
Kamu sengaja ya, ingin sok perhatian. Tuh kan Pak Joko memperhatikan. Mulai kapan kamu genit. Awas kamu jika macam-macam dengan Bida. Akan ku pecat kamu. Levi menatap Roni dengan tatapan tajam.
Mengapa Levi ketus. Aku salah apa ya? Jangan-jangan aku membuat kesalahan, tapi apa ya? Nanti akan tanyakan baik-baik. Aku tidak mau cari perkara. Aku masih membutuhkan pekerjaanku. Selama KKN aku tidak bisa membersihkan apartemennya, apa yang bisa aku kerjakan untuknya disini, Karena aku masih dibayar penuh seperti biasa.
*****
Levi duduk di bangku dekat pohon kenanga. Bida hampir selesai menyapu teras. Teras itu luas dengan keramik putih motif marmer. Levi masih memperhatikan Bida.
Mengapa mas Levi tidak pergi dengan teman-temannya? Sekarang mas Levi terus memperhatikanku? Apa ada yang salah dengan bajuku? Ah biasa saja, bajuku juga tidak terbalik.
"Bida kemarilah...." Levi segera diam lalu mengalihkan pandagannya ke pohon kenanga yang berdiri kokoh di depannya karena niatnya hanya berkata dalam hati tapi malah terucap.
Semoga Bida tidak mendengar ucapanku.
"Ada apa mas?" Bida sudah berdiri tepat di hadapan Levi. Levi terpana melihat wajah Bida yang sangat cantik.
"Mas... ada apa memanggilku?" Bida kembali bertanya.
"Oh ya. Aku mau tanya, apa obat agar aku bisa tidur dengan tenang ? Aku tidak bisa tidur akhir-akhir ini?" Levi kembali diam.
Mengapa aku menanyakan pertanyaan bodoh? Bida kan anak SMP yang masih mau masuk SMK , harusnya aku bertanya kepada kak Lina.
"Mungkin dengan cara minum susu hangat sebelum tidur. Tapi yang terpenting, harus evaluasi diri. Mungkin mas Levi memikirkam sesuatu atau seseorang." Bida menjelaskan, namun Levi hanya mendengarkan tanpa menyimak dengan baik. Levi fokus ke lesung pipit di pipi Bida yang menggemaskan.
Tiiin tiin suara klakson sepeda motor bersahutan. Dua buah sepeda motor memasuki halaman.
"Bidadariku..." Yogi nyengir turun dari boncengan Ergi.
"Apa kabar sayang? Prendi menghampiri Bida setelah memarkir sepeda motornya.
"Sudah sarapan? Jika belum aku temani ya.." Ergi segera bergabung setelah memarkir sepedanya.
Siapa mereka? Apa maksud mereka? Bidadariku, sayang, menemani sarapan? Levi mengangkat alisnya.
"Bida... Siapa oppa itu?" Ergi menunjuk ke arah Levi.
Oppa ? Apa-apan ? Apakah mungkin wajahku mirip artis korea? Benarkah ? Apakah aku seganteng artis korea? Levi tersenyum sendiri.
"Ini mas Levi yang KKN di desa kami." Bida mengenalkan Levi.
Yogi, Ergi, dan Prendi mengulurkan tangan untuk mengajak Levi berkenalan.
Levi berdiri menerima uluran tangan mereka. Prendi yang memiliki postur tubuh paling pendek daripada Yogi dan Ergi, terkejut dengan postur Levi yang tinggi menjulang.
"187 cm"
"Wow keren." Prendi terkagum-kagum
"Ayo masuk, aku kangen kalian. Ayo sarapan yuk. Kebetulan aku juga belum sarapan."
Bida masuk ke rumah diikuti teman-temannya.
"Loh mas Levi, ndak ikut masuk?" Ayo masuk mas. Bida sengaja mengajak Levi karena kuatir meninggalkan Levi sendirian, pasti Wowo memperhatikan Levi dari atas pohon.
Bida mengajakku masuk. Manis sekali, aku akan segera masuk. Mereka mungkin hanya teman bagi Bida. Meski aku melihat tatapan mereka ke Bida lain. Namun aku lega karena sepertinya tidak ada seorangpun dari mereka yang dilihat Bida seperti tatapan wanita kepada laki-laki, seperti cara Diana menatapku.
Bu Joko sedang ada di ruang tamu.
"Eh ada tamu, mari silahkan. Lama ndak ketemu ya."
"Ya bu. Bagaimana kabarnya?"
Mereka bergantian bersalaman dan mencium tangan Bu Joko.
"Baik bu. Maaf kami datang pagi-pagi sengaja ingin diajak sarapan." Yogi berkata tidak tahu malu. Prendi dan Ergi hanya bisa menyengir saja menanggapi kejujutan Yogi
"Ha ha kalian ini tetap saja lucu, pantas Bida betah berteman dengan kalian. Silahkan saja, Bida ajak mereka sarapan."
"Ya Bu."
Bida mengajak teman-temannya ke ruang makan. Levi juga ikut bersama mereka. Bida menyiapkan makanan.
"Mas Levi, mau sarapan lagi, atau mau minum saja." Bida baru ingat jika tadi melihat Levi sarapan dengan teman-temannya.
Levi kelabakan, ia sudah kenyang tapi mengikuti Bida menuju ruang makan bahkan sudah duduk. Levi mengurut kepalanya sendiri karena pusing memikirkan jawabannya.
"Mas Levi pusing ya, biar Bida buatkan kapulaga saja ya." Bida berlalu ke dapur
Bida sangat perhatian kepadaku. Levi tersenyum sendiri.
"Prendi, kamu jangan banyak-banyak ambil dadar telurnya. Aku juga mau."
Yogi menegur Prendi.
"Itu ada pepes tahu, kamu makan itu saja."
"Ya, jangan ribut. Malu ke ibunya Bida." Ergi menengahi.
"Pepes tahu itu enak kok, Bida yang memasaknya." Levi menginformasikan.
"Oh, aku juga mau makan pepes tahu, ini dadar telurnya buat kamu." Prendi menyerahkan dadar telurnya kepada Yogi.
"Eh, aku ambilkan pepes tahu juga. Itu masakan Bidadariku." Ergi tidak mau kalah.
Ah teman-temannya Bida asyik juga.
"Ini mas minumannya." Bida datang menyerahkan secangkir minuman buat Levi.
"Terima kasih Bidadariku" .... Ah mengapa aku ketularan konyol seperti teman-temannya Bida. Lebih baik setelah ini, aku segera pergi dari sini. Kelamaan bersama anak-anak ini akan membuatku tampak bodoh.
#Pov Bida.
Untunglah ujian sudah berakhir. Akhir-akhir ini, aku susah tidur. Aku selalu mengingat wajah mas Levi.
Aku selalu penasaran, apakah ia sempat melihatku malam itu. Ia selalu diam-diam menatapku. Saat mataku bertemu dengan matanya ia langsung gugup.
Kejadian tak terduga itu membuatku kaget, aku membeku di pangkuannya. Saat aku tersadar aku langsung bangkit, sayangnya karena terburu-buru, aku kembali terjatuh di pangkuannya. Ia memelukku. Deg jantungku seakan mau melompat keluar.
Bibirnya merah, seperti cerry. Mengapa ada laki-laki secantik itu. Tanpa sadar, aku terus menatap bibirnya. Seperti menatap potongan cerry diatas kue tart. Pasti rasanya manis dan segar jika digigit.
Ya ampun, aku tersadar dan segera bangkit lalu berlalu dari ruangan itu. Aku malu sekali, jangan-jangan mereka mendengar apa yang aku pikirkan. Barang kali saja, ada salah satu dari mereka yang memiliki indera ke enam sehingga bisa mendengar apa yang aku pikirkan. Bukannya manusia itu unik. Contohnya diriku sendiri yang bisa meihat makhluk halus. Bagaimana jika ternyata justru mas Levi yang bisa membaca pikiranku. Ah malu sekali.
Aku sengaja menghindar, aku menyapu ketika mereka sarapan. Entahlah kata hatiku mengatakan aku harus menghindari mas Levi karena jika berdekatan dengannya, aku merasa terhipnotis. Ia seperti menatapku lekat, tatapannya seperti menyalurkan benang laba-laba kemudkan menggulungku untuk mendekatinya. Jantungku terasa berlompatan ketika mata kami bertemu.
Seperti saat ini, aku sedang menyapu teras dengan tatapannya yang tidak berpaling dariku. Kemudian aku mendengar suara lirih namun penuh magis. "Bida, kemarilah..." dan tanpa mampu melawan, aku berjalan mendekatinya masih dalam tatapannya.
Saat aku sudah di depannya, ia tampak canggung. Sementara aku berdebar-debar menunggunya. Untunglah Prendi dan teman-temanku datang. Aku lega lepas dari situasi berdua dengan mas Levi.
Jika aku gambarkan, bagiku mas Levi itu sangat tampan, gagah, sekaligus mistis. Aku tidak takut berhadapan dengan wowo dan sejenisnya. Tapi di hadapan mas Levi, jantungku berdebar, bulu kudukku meremang meski hanya merasakan hembusan nafasnya ketika tanpa direncanakan, posisinya dekat denganku. Kehadirannya di dekatku lebih menegangkan daripada ketika aku melihat makhluk halus yang tiba-tiba. Kehadiran mas Levi, meski tidak tiba-tiba tetap bisa membuatku terkesiap setiap mataku menatap bibir cerrynya.
Aku memang sangat suka cerry. Bagiku tampilan cerry di atas kue tart dan sejenisnya sangat indah sekaligus menggiurkan. Namun ini beda, mengapa aku memandang bibirnya seperti sebuah cerry di atas kue. Mungkin otakku kelah karena terforsir untuk belajar menghadapi ujian kemarin. Aku harus menghindarinya. Entahlah bagaimana cara menghindarinya, sementara mataku seolah berkhianat, mataku selalu mencari-cari keberadaannya. Meski hanya menangkap sekilas punggungnya, sudah membuatku lega. Namun ketika ia berbalik, dan mata kami bertatap meski sekian detik, ketegangan langsung menyergapku. Tidak ada lagi ketenangan. Jantungku berdebar, jariku gemetar saat ia mendekat.