
Levi datang menenteng laptopnya. Tawa mereka sudah mulai mereda, namun melihat Levi datang sambil bertanya, "Apanya yang lucu sih kok tertawa segitunya?"
Mereka kembali tertawa bahkan Roni seperti tidak kuasa menahan tawanya namun berusaha menutup mulutnya dengan.tangannya.
"Apanya sih yang lucu?" Levi kembali bertanya.
"Itu loh rencana upin mau main dengan meimei gagal." Miki menjawab asal lalu kembali tertawa.
"Masih suka lihat film upin ipin? Coba lebih dewasa dikit. Lihat film petualangan apa gitu?"
"Aku peringatkan kamu Vi, jangan lihat film dewasa nanti kamu tambah menderita!" Deni tersenyum meremehkan Levi.
"Kalian ini ada-ada saja." Levi mencoba tidak terpancing sindiran Deni.
"Vi kita jadi kan ke Balai Desa untuk merencanakan perpisahan kita besok?"
"Ya nanti jam 10 saja. Sekarang masih terlalu pagi." Jawab Levi.
"Kita foto-foto yuk di sungai besar dekat balai desa." Deni mengajak teman-temannya.
"Ayo !" Miki dan Jodi kompak setuju.
"Roni pergilah bersama mereka. Aku masih ada urusan." Levi mengibaskan tangannya ke arah Roni
"Ce ileh... pengantin baru ada urusan dan mengusir kita..." Miki cari masalah.
Herannya Levi tidak marah malah wajahnya memerah.
"Ayo kita berangkat !" Roni mengajak teman-temannya. Mereka berlalu sambil cekikikan melirik Levi.
Setelah semua pergi, Levi mencari Bida. Bida sedang ada di dapur sedang mengelap tangannya dengan tisu. Levi menghampirinya lalu memeluknya dari belakang.
"Mas Levi, ada apa? Jangan begini, nanti dilihat orang."
Levi tambah erat memeluk Bida. Aku memang tidak akan melakukan yang itu tapi bukan berarti aku akan membiarkanmu begitu saja.
"Ayo ikut aku!" Kita bicara di ruang tengah. Pergilah ambil buku dan pulpen, aku menunggumu di ruang tengah. Levi melepaskan pelukannya lalu menggandeng tangan Bida keluar dari dapur. Levi melepaskan pegangan tangannya lalu menuju ruang tengah. Bida masuk ke kamarnya ambil buku dan pulpen.
Ada apa sih mas Levi minta aku ambil buku dan pulpen. Bida mengambil buku dan pulpennya lalu duduk di kasur, meletakkan tangannya di dadanya tempat tadi levi mendekapkan tangannya. Ah jantungku mau copot.
***
Bida duduk di depan Levi.
Levi menatap istrinya yang tampak semakin cantik di matanya.
"Tulis baik-baik ya. Aturan sebagai istri Levi Braveano." Levi mendikte Bida
Bida menulisnya. Levi mengamati hasil tulisan Bida.
"Eh salah, tidak usah pakai huruf Y. Tulis B R A V E A N O."
Bida membalik bukunya lagi untuk membuka lembaran yang baru.
"Sudah ?"
"Ya sudah."
"Tulis No 1."
"Wajib memakai hijab di depan laki-laki lain"
Levi terus mendikte, Bida menulisnya tanpa protes. Hanya sesekali tampak mengerutkan dahinya sambil menatap Levi.
"2. Tidak berteman dekat dengan laki-laki"
"3. Tidak menerima tamu laki-laki"
"4. Selalu ingat sebagai istri mas Levi Braveano"
"5. Selalu setia sebagi istri mas Levi Braveano"
'6. Rajin belajar di sekolah"
"7.Rajin belajar menjahit"
"8.Rajin merawat diri agar semakin cantik untuk membuat mas Levi Braveano semakin terpesona."
Bida berkali-kali tertegun mendengar kalimat yang didiktekan, sambil menatap Levi kemudian melaniutkan menulis lagi.
"9. Fokus dalam belajar, tidak melirik teman laki-laki karena yang paling tampan adalah mas Levi Braveano."
"10.Selalu menghabiskan waktu dengan efektif agar waktu cepat berlalu dan segera bisa berkumpul bersama mas Levi Braveano."
"11. Berusaha menjadi istri yang baik bagi mas Levi Braveano"
Bida terlihat melemaskan jarinya lalu kembali menulis yang didiktekan Levi.
"12. Selalu merindukan mas Levi Braveano sebagai suami"
"13. Selalu mengenang kebersamaan bersama suami tersayang Levi Braveano."
"14. Bidadari harus selalu ingat sebagai istrinya Levi Barveano."
"Mas Levi tadi kan sudah ada di no 4"
"Sudah tulis saja, kamu kan harus taat suami."
"Ya mas."
"15. Yakin bahwa mas Levi akan selalu setia"
"16. Yakin bahwa mas Levi akan kembali kepada Bida"
"18. Membeli HP terbaru ketika usia 17 tahun."
"19. Hidup sederhana dan bijaksana menggunakan uang saku."
"20. Membeli semua kepentingan belajar dan menjahit dengan kualitas terbaik."
Bida berkali-kali ingin berkata sesuatu, namun Levi tidak memberi kesempatan. Ia terus mendikte Bida sambil memperhatikan hasil tulisan Bida.
"21. Membuat baju couple Bida dan mas levi lalu menyimpan untuk diberikan ketika mas Levi datang.
"22. Tidak boleh berbicara hal pribadi dengan siapapun."
"23. Menulis semua perasaan kangen kepada mas Levi di buku harian dan disimpan baik-baik"
"24" Tidak mengijinkan siapapun masuk kamar Bida kecuali keluarga dan mas Levi."
"Sudah cukup, ayo kamu tanda tangani di bawahnya." Levi tersenyum
Bida menandatanganinya di bagian kanan bawah lalu menuliskan namanya.
"Mana bukumu."
Levi mengulurkan tangannya lalu Bida menyerahkannya.
Levi juga tanda tangan di bawah sebelah kiri lalu memfotonya di HP nya. Lalu menyerahkan buku itu kepada Bida lagi
"Kamu harus taati isi peraturan itu.!"
"Tapi mas yang no 18 sampai 21 harus Bida bicarakan dengan bapak dan Ibu. Karena Bapak dan Ibu yang memberi uang saku kepada Bida. Bida harus menabung dari sekarang untuk bisa memenuhinya. Bida tidak janji ya mas."
Levi tersenyum kepada Bida.
Bisa-bisanya kamu masih mau minta saku ke orang tuamu setelah menikah denganku.
"Bida simpan ini, pinnya adalah tanggal pernikahan kita, 6 digit ya tanggal, bulan dan dua angka terakhir tahun kita menikah." Levi menyerahkan kartu ATM berlogo B...
"Untuk apa kartu atm ini mas?"
"Itu nafkah buat kamu dari mas Levi. Nanti mas Levi akan mengisinya rutin."
"Mas, kata Pak Soleh mas Levi akan memberi nafkah lahir batin, bagaimana Mas Levi memberi nafkah batin ke Bida jika mas Levi meninggalkan Bida?"
"Maksudmu ?" Levi sudah gemas melihat Bida apalagi hanya mereka berdua di rumah itu sekarang.
"Batin kan artinya ketenangan jiwa. Jika mas Levi kembali ke ****** lalu Bida ada masalah dengan teman Bida di sekolah, Bida kan tidak bisa cerita ke mas Levi. Bida tidak bisa minta nasehat mas Levi. Bida minta nafkah batin dari Ibu saja ya mas."
Hilang sudah senyum Levi, mendengar penjelasan Bida.
"Tapi khusus untuk hubungan fisik antar Bida dan mas Levi tidak boleh dibicarakan dengan siapapun termasuk ibu."
"Hubungan fisik seperti mas Levi memeluk Bida tadi? Tentu saja mas, Bida malu menceritakan hal seperti itu." Wajah Bida memerah.
"Mas... Bida ingat, Bida pernah lihat perempuan yang mirip dengan Diana di foto itu."
"Oh ya, dimana?" Levi memandang Bida heran.
"Di dalam mimpi, perempuan di mimpi Bida mirip sekali dengan Diana di foto itu. Bida mimpi sedang pacaran dengan mas Levi, kita berjalan bergandengan di taman bunga."
"Benarkah?" Levi sangat senang mendengar cerita Bida.
"Lalu perempuan itu ingin merebut mas Levi dari Bida, perempuan itu menjambak rambut Bida. Bida balas lalu Bida tendang hingga Bida jatuh dari kasur. Kaki Bida sakit kena meja."
Levi tertawa Ha ha ha
"Apakah kamu menyukai mas Levi?"
Levi bertanya dan menunggu jawaban Bida dengan antusias
"Bida tidak tahu, yang jelas Bida tidak suka ada yang dekat-dekat mas Levi. Seperti ketika teman-teman Bida yang berebut foto dengan mas Levi. Mungkin Bida sedang terkena cinta monyet."
"Cinta monyet?" Levi tidak suka memdengar ucapan Bida.
"Iya, Prendi pernah bilang ke Bida jika ia suka Bida, suka berdebar jika dekat Bida. Ketika Bida cerita ke ibu, ibu bilang Prendi sedang cinta monyet ke Bida. Yang penting Prendi sopan dan Bida jaga jarak gitu. Lagi pula Bida kan ndak ada perasaan cinta monyet ke Prendi. Buktinya lama kelamaan Prendi bersikap biasa ke Bida. Itulah cinta monyet mas, lama kelamaan akan memudar. Apakah mas Levi pernah mengalami cinta monyet?"
"Tidak pernah." Levi sewot mendapat pengakuan Bida tentang cinta Prendi.
"Baru kali ini Bida merasakan seperti ini. Selalu ingat mas Levi. Maka itu Bida harus jaga jarak dengan mas Levi. Karena Bida masih sekolah. Cinta yang sebenarnya itu antara suami istri mas."
"Terus hubungan kita apa?" Levi tambah sewot.
"Suami istri mas, tapi kan beda kondisinya."
"Beda apanya?" Levi semakin tidak sabar.
"Kan bude Sulis yang membuat kita menikah. Cinta sejati itu hanya ada pada suami istri yang selalu bersama mas, tidur bersama, senang dan duka bersama. Kita kan tidak mas. Mas Levi akan kembali ke ***** sedangkan Bida akan sekolah di sini. Jika Diana itu membuat mas Levi cinta monyet bagaimana, mas Levi akan melupakan Bida.
Bida akan sakit hati. Bida menutup wajahnya yang memerah, ada air mata menggenang di matanya.
"Bida..." Levi semakin gemas.
Levi berdiri lalu duduk disamping Bida, menarik Bida ke pelukannya. Membiarkan Bida terisak di dadanya.
"Bida ... mas Levi akan selalu bersamamu, tidak akan tergoda oleh Diana atau yang lain.
Perlu kamu tulis dengan tulisan yang besar di bukumu. Cinta Bida dan mas Levi bukan cinta monyet karena Bida dan mas Levi sudah menikah, ingat itu! cepat tulis !"
Bida melepaskan diri dari pelukan Levi, menghapus air matanya, mengambil bukunya lalu menuliskan seperti yang Levi perintahkan.
Levi tersenyum gemas melihatnya.