
Bu Dewi sedang memikirkan Levi. Terdengar dering suara HPnya. Lina putrinya yang sedang ada di Amerika menelfonnya.
"Hallo mama..."
"Hallo sayang, bagaimana kabarnya?"
"Baik mama. Mama baik juga kan?"
"Ya. Hanya mama sedang memikirkan Levi."
"Lina juga mau berbicara tentang Levi ma."
"Ada apa?"
"Ma... tolong jangan terlalu keras kepada Levi. Biarkan saja Levi menjalani masa mudanya. Levi sudah ikut berbisnis dengan Papa sejak kecil ma. Yang ada di otaknya hanya belajar, properti dan bisnis."
Jadi benar yang dikatakan Mira bahwa aku lah yang mendoktrin Levi.
"Ma..."
"Ya sayang."
"Ada yang ingin Lina sampaikan, tapi ingat mama jangan menanyakannya kepada Levi, jangan menginterogasinya, jangan perintah Levi seperti mama memerintah pegawai mama. Maaf ma... Lina tidak ingin menggurui mama. Tapi Lina mohon, jangan ikut campur urusan pribadi Levi. Biarkan Levi memutuskan hidupnya. Lina yakin Levi sudah dewasa, Levi tidak akan mengecewakan kita.
Bu Dewi meneteskan air matanya. Apakah benar aku adalah ibu yang tidak baik? Apakah selama ini aku memperlakukan Levi seperti seorang pegawai? Apakah Lina juga mencurigai Levi sudah melenceng, atau Lina sudah mengetahuinya.
"Tapi Lin, mama tidak bisa membiarkan Levi menghancurkan hidupnya. Mama ingin Levi menjadi orang yang normal."
"Normal ? Apakah maksud mama? Justru karena Levi normal maka Levi jatuh cinta."
"Tapi kepada siapa Levi jatuh cinta, itu yang terpenting. Memangnya kamu tahu Levi jatuh cinta kepada siapa?"
"Ya ma. Apakah Levi juga cerita ke mama?" Aneh Levi tidak mungkin berbicara terbuka dengan mama. Percakapannya dengan mama selalu tentang bisnis. Papa yang dekat dengan Levi.
"Tidak, mama hanya mencari informasi sendiri."
"Mama... itulah mama. Mama selalu ikut campur hingga Levi jauh dari mama. Lina sampai heran. Mengapa Levi sangat akrab dengan tante Mira tapi sangat formal dengan mama? Mama yang melahirkannya. Tidak inginkah mama melihat Levi tersenyum dan tertawa lepas saat bercanda dengan mama."
Bu Dewi semakin tidak kuasa menahan perasaannya. Air matanya semakin deras membasahi pipinya.
"Ma... Lina akan mengirim gambar Levi dan kekasihnya. Tolong mama jangan mencari tahu tentangnya. Mama cukup diam saja. Lina akan minta bantuan tante Mira untuk mencari informasi lebih jauh. Nanti Lina akan telfon lagi ma.."
*****
Levi duduk termenung memegang HP nya. Ingin sekali Levi menelfon mama dan kakaknya untuk mengabarkan rencana pernikahannya meski cuma karena tragedi.
Terdengar dering lagi Anji...
"Ku selalu mencoba..."
Levi ragu-ragu mengangkat telfon tersebut.
"Hallo ma."
"Hallo Levi." Bu Dewi bingung ingin mengatakan apa.
Levi mengatur nafasnya, menunggu mamanya mengucapkan sesuatu namun tidak ada suara. Akhirnya Levi menguatkan tekadnya untuk berbicara dengan mamanya.
"Mama... Ada suatu hal yang kadang, Levi belum bisa sampaikan ke mama. Tapi Levi berjanji akan selalu menjadi anak yang baik ma. Levi tidak akan menyakiti hati perempuan. Seperti Levi menghargai mama dan kak Lina."
Begitukah? jadi karena kamu tidak ingin menyakiti perempuan, lalu kau menyukai laki-laki. Karena kamu belum siap menikah dengan perempuan jadi kamu memilih dekat dengan laki-laki.
Bu Dewi langsung duduk dengan tegak.
"Perempuan Vi ?"
"Ya ma. Levi mencintainya hingga ingin sekali menikahinya. Meski Levi masih kuliah, meski dia juga masih belum siap menikah tapi Levi ...." Apa lagi yang harus ku katakan, ? Aku tidak ingin menceritakan tragedi ini. biarlah hanya keluarga Bida dan masyarakat Desa yang tahu kejadian ini. Lagi pula aku yakin, aku sudah jatuh cinta pada Bida. Aku tidak akan cerita akan menikah sekarang.
"Vi.. Levi mama mendukungmu. Siapapun dia, seorang model atau bukan, kaya atau miskin, lebih tua atau lebih muda darimu, dari manapun asalnya. Mama merestuinya. Mama tidak akan mencari tahu, mama akan menunggu kamu yang membawanya ke rumah mama. Mungkin saja, sekarang kamu masih belum yakin dengan yang sekarang. Tapi mama yakin perlahan-lahan kamu akan menemukan yang terbaik. Saat itulah kamu bawa calon mantu mama ke rumah dan kenalkan kepada mama."
Levi tidak percaya dengan pendengarannya, Levi menatap layar HP nya. Benar ini panggilan dari mama, suaranya juga suara mama.
Levi mendekatkan HP nya ke telinganya lagi. Menunggu mamanya bersuara lagi.
"Dengan satu syarat mutlak Vi."
"Apa ma?" Syarat mutlak, Ini benar-benar mama.
"Asalkan calonmu seorang perempuan tulen, bukan Roni bukan juga yang seperti Ayu."
Levi tercengang mendengarkan perkataan mamanya, kemudian langsung tertawa terbahak-bahak.
"Ya jelas lah ma. Levi ini laki-laki normal. Calonnya Levi sangat cantik dan sexy. Mama lucu sekali, mama belajar melucu dari tante Mira ya ? Apakah mama sedang bersama tante Mira? Mana tante Mira ma? Sampaikan terima kasih Levi kepada tante Mira karena sudah membuat mama menjadi mama yang hangat dan menyenangkan."
Bu Dewi tersenyum senang campur jengkel. Bu Dewi senang karena Levi menyukai perempuan tidak seperti dugaan Mira atau mungkin saja Mira benar tapi Levi hanya khilaf dan sudah kembali normal. Yang terpenting adalah Levi yang sekarang.
Yang menjengkelkan adalah Levi mengatakan bahwa dirinya adalah mama yang menyenangkan karena belajar dari Mira.
Bu Joko dan Pak Joko masuk ke dalam kamar mereka, sepertinya ada hal serius yang akan mereka bicarakan.
"Ma... sudah ya ma. Levi ada urusan. Levi mohon doa restu mama dalam segala urusan"
"Pasti Levi. Mama merestuimu, Lakukanlah yang menurutmu baik. Berdoalah kepada Allah agar memberimu petunjuk." Bu Dewi mengatakannya dengan setulus hati.
"Terima kasih ma."
#Di dalam kamar Bu Joko dan Pak Joko
"Bu, apa yang akan terjadi pada Bida ?"
"Aku juga bingung pak, tapi bapak tahu sendiri kan kejadiannya. Bida dan Levi tidak bersalah, itu murni kecelakaan."
"Ya bu. Bapak tidak membicarakan yang sudah terjadi. Kita harus membicarakan Setelah ini."
"Maksud bapak setelah Bida dan Levi menikah?" Bu Joko terdiam, bagaimana mungkin ia akan menyerahkan anak gadisnya yang masih kecil kepada Levi.
"Bu, setelah menikah mungkin Bida akan sembuh bu. Bida akan normal seperti yang lain. Hari ini membuktikan bahwa kedekatan Bida dengan makhluk halus sangat mengganggunya bahkan tadi hampir saja melukainya." Pak Joko masih mengingat bagaimana dahan pohon kenanga yang besar itu hampir mengenai putrinya.
"Tapi Bida masih kecil pak, Bida harus tetap sekolah. Apakah Levi akan membawa Bida, Atau Levi akan mencampakkan Bida setelah pernikahan ini, setelah ...."
"Kita harus berbicara kepada Bida dan Levi agar bisa menemukan solusinya."
Pak Joko masih belum menemukan solusi setelah pernikahan ini terjadi. Satu sisi Pak Joko ingin agar Bida segera terbebas dari gangguan makhluk halus, namun disisi lain Pak Joko tidak sampai hati membuat anak gadisnya kehilangan masa depannya.
"Bapak saja saja yang bicara. Ibu bingung mau bicara apa?"
"Bu, mengapa kita bingung seperti ini. Kita harusnya pasrah kepada yang kuasa. Yang terpenting kita akan selalu mendukung Bida anak kita. Kita hanya bisa mendoakan yang terbaik."
"Benar pak."
Tok Tok tok "Pak Joko, ... Mbak Rini... Bidannya sudah datang." Suara Bu Sulis yang menjengkelkan terdengar dari depan kamar.