
Sampai di apartemen, Roni dipersilahkan masuk oleh Levi. Roni duduk di sofa dengan wajah masam.
"Kenapa sih kok wajahmu begitu?" Levi menepuk keras pundak Roni yang masih terasa sakit.
"Aow"
"Gini aja mengaduh ?" Levi mengulangi tepukannya tapi tidak sekeras tadi.
"Ini mas, gara-gara mendapatkan ini. Aku kena masalah." Roni menyerahkan struk belanjaan lalu memijat bahunya sendiri.
Levi menerima struk belanjaan itu dengan wajah berseri. "Roni kerjaanmu tambah cekatan sekarang."
"Tapi kamu tidak tahu yang sebenarnya terjadi demi struk itu mas."
Roni akhirnya menceritakan semua kejadian demgan detil. Levi mentertawakannya hingga sakit perut. Levi membayangkan Roni menjadi detektif konan lalu jatuh terpelanting di parkiran.
Roni hanya diam menahan dongkol.
Setelah tawanya mereda,
"Buka Ron, aku mau lihat!"
Levi memaksa meminta Roni membuka kaosnya untuk melihat bahunya yang terasa sakit.
"Tidak usah mas. Cuma nyeri dikit nanti juga sembuh. Aku akan oles dengan minyak gosok nanti." Roni mempertahankan kaosnya yang ditarik Levi ke atas.
"Baiklah. Kamu belilah minyak gosok. Nanti aku transfer uangnya."
"Terima kasih mas."
"Ya sama-sama Ron. Aku ingin mengirimi Bida sesuatu melalui belanja on line. Termasuk nafkah kebutuhan pribadinya karena aku cek, Bida belum menggunakan uang di ATM yang aku kirimkan hingga sekarang. Ini artinya aku sudah 2 bulan Roni tidak memberinya nafkah."
"Mas, belanja bulanan yang kamu belikan sebelum wisuda itu untuk persediaan 3 bulan kan mas."
"Oh ya. Aku lupa Roni. Pastinya kamu masih ingat kan apa saja barangnya. Harusnya kamu tidak perlu aku suruh cari struk ini." Levi tersenyum namun wajahnya tampak menyesal
"Tanggung mas, bahuku sampai sakit begini demi struk itu." Roni semakin kesal
"Ok. Terima kasih ya atas semua jasamu ini." Levi melambaikan struk belanja itu.
Segitu cintanya kamu dengan Bida yang masih ingusan itu, sampai kamu kuatir melalaikan nafkah. Biaya rehap rumahnya itu sangat lebih dari cukup untuk nafkah setahun mas. Banyak yang bilang, cinta membuat orang kehilangan akal sehat. Buktinya kamu ini mas.
"Roni aku berencana membeli lahan tidak jauh dari sekolah Bida untuk memulai usaha kuliner."
"Kuliner mas? Bukan perhotelan?" Roni heran karena seingatnya Bisnis keluarga Levi adalah hunian. Tantenya Bisnis di bidang fashion dan kecantikan.. Levi tidak mungkin terjun di bisnis yang dilakoni tantenya. Tapi Bisnis Kuliner adalah hal baru.
"Ya. Kamu ingat pemilik warung yang kita pesan makanannya. Masakannya enak, sajiannya menarik, tapi lokasi warungnya tidak bagus. Aku mengetahui ternyata pemilik warung itu tergabung dalam pelatihan enterpreuner yang aku mentori. Aku akan bekerja sama dengannya."
"Baik, apa tugasku mas?" Roni tidak akan kaget lagi jika menyangkut keputusan Levi yang berhubungan dengan Bida.
"Kamu nego dengan pemilik tanah itu. Dapatkan harga yang terbaik tapi ingat meski kamu menawarnya, jangan sampai tidak mendapatkan tanah itu."
Berat ini, kamu memintaku menawar tapi juga mewajibkan mendapatkanya. Tiba-tibaku kepalaku yang berdenyut mengalahkan nyeri bahuku.
"Dapatkan lahan itu, aku akan memberi nama restoran itu dengan nama "B Levi" artinya Bidadarinya Levi. Keren kan ? Kamu yang akan mengurusnya namun tetap koordinasi denganku. Seleramu masih di bawah standart. Aku targetkan tidak sampai setahun restauran disertai ruang pertemuan itu harus sudah beroperasi. Ingat jangan pernah mampir atau menemui Bida tanpa ijin dariku. Juga rahasiakan usaha ini dari siapapun."
"Ya. mas."
"Aku pernah telfon pemiliknya, ia minta 4 M, kamu tawar saja, syukur jika ia mau menerima pembayaran secara angsuran selama 1 tahun. Untuk bangunannya sedang aku desain sederhana berupa pondok-pondok lesehan namun juga menyediakan beberapa set kursi dan meja. Aku menganggarkan 3 M untuk pembangunannya. Aku serahkan urusan pembelian lahan dan kontraktor kepadamu. Biar aku yang urus kesepakatan kerja sama dengan pengelolanya. Aku yakin pemilik warung itu punya potensi dalam bidang kuliner."
"Mas, kamu menyerahkan urusan uang senilai milyaran kepadaku?" Aku menunjuk wajahku sendiri.
"Ya. Kenapa? Kamu tidak takut sebelum mencoba kan ?
"Aku grogi mendengar kata milyar mas."
"Ayolah jangan alay. Aku sibuk mengurus rehap hotelku di Surabaya. Aku akan bolak balik Surabaya-malang. Kasihan Mama jika harus mengurus banyak hal."
"Siap mas. Aku boleh gabung di grup enterpreuner yang kamu mentori kan mas. Agar aku bisa mendapat wawasan."
"Aneh kamu Roni. Aku mentornya. Kamu bisa tanya langsung hal apapun kepadaku. Tapi jika kamu mau gabung ya silahkan saja."
"Terima kasih mas."
******
#Pov Bida
Bida menyibukkan diri dengan belajar, ia mengikuti program akselerasi, ia juga semakin giat belajar menjahit dengan ibu.
"Permisi paket buat Ny Levi"
Bida yang sedang menyapu, didatangi seseorang membawa mobil box bertuliskan belanja on line.
"Maaf mencari siapa ya? Bida tadi mendengar kata Ny Levi tapi ia tidak yakin dengan pendengarannya."
"Saya mencari alamat ini. Agak aneh sih ini catatan di pesanannya." Laki-laki itu menyerahkan sebuah kertas resinya.
Kepada : Bidadariku/Ny Levi Braveano
Alamat : Jl Bunga Berbunga No. 5
**************************
"Ya Pak. Saya Bida."
Laki-laki itu mengerutkan dahinya.
Jadi nama Bidadari itu benar aku kira hanya julukan seorang suami ke istrinya. Yang penting barangnya sudah aku antar.
"Sebentar saya ambilkan barangnya." Laki-laki itu mengeluarkan 2 kotak kardus besar dari box nya lalu meletakkannya di teras kemudian pergi setelah mengklik HP nya.
"Siapa itu Bida?"
Pak Joko yang baru tiba dari rumah Pak Muhit berpapasan dengan laki-laki itu.
"Ini Pak. Kiriman dari mas Levi." Bida tampak gembira sekali.
Pak Joko menunduk melihat kertas yang ditempel di kardus itu. Lalu membawanya masuk. Bida mengikutinya dengan riang, tidak sabar membuka kardus itu.
Kardus itu berisi aneka kebutuhan harian dan perawatan tubuh.
Sejak saat itu, Bida sering mendapatkan paket. Mulai dari baju, aksesoris, jilbab, sandal dan sepatu. Herannya Bida ukurannya selalu sesuai seolah Levi sudah mengantisipasi pertumbuhannya. Kartu ATM dari Levi masih disimpan di dalam dompetnya tidak pernah dipakainya.
Suatu hari ada paket besar datang. Bida mendapat kiriman mesin jahit, mesin obras, mesin neci dan berbagai kelengkapannya.
Bida sangat menyukainya. Bida ingat bahwa ia harus membuatkan baju couple. Bida merasa bahwa Levi yang ikut hadir bersama kiriman paket-paket itu. Bida selalu menyambut kurir ekspedisi dengan suka cita.
Tidak jarang ada sepasang mata mengintip di antara celah pagar yang terbuat dari pohon kelor, dan aneka tanaman lain. Pagar itu terlihat rapat karena juga diselingi tanaman beluntas dan sirih. Sepasang mata itu adalah mata Bu Sulis yang mulutnya seperti radar suka menyiarkan berita ke seluruh penjuru desa. Gatot anaknya melarang bu Sulis untuk bermain ke rumah Bida. Ketika ada hajatan, Gatot meminta istrinya yang mengantar makanan hajatan ke rumah Bida. Gatot adalah orang awam yang sangat takut dengan surat penyataaan bermaterai yang dibuat Levi. Di situ tertulis ***** tunduk kepada hukum.
Gatot takut Pangacara Levi akan mendatanginya dan memenjarakan ibunya.
# Pov Pak Joko
Memiliki mantu ketika usia Bida masih dini sempat membuat Pak Joko ragu. Apalagi Bida harus menikah karena desakan warga setelah tragedi Bida dan Levi yang tertimpa dahan pohon kenanga.
Tidak disangka, Levi adalah sosok yang bertanggung jawab. Levi sering menjalin komunikasi melalui HP jadul miliknya.
Sehari setelah kepergiannya, Levi menelfon Pak Joko.
"Assalamualaikum Pak. Bagaimana kabar bapak, ibu dan Bida?"
"Baik. Nak Levi bagaimana kabarnya?"
"Baik. Pak... saya ingin membicarakan sesuatu. Tapi bapak sekarang tidak sedang bersama Bida kan ?"
"Tidak. Bapak dan ibu di kamar. Bida sedang belajar di kamarnya. Silahkan"
"Saya ingin Bida menjalani kehidupannya sebagai pelajar dengan normal. Saya tidak ingin berkunjung selama Bida belum lulus. Saya percayakan Bida kepada Bapak. Bagaimanapun saya adalah suaminya. Saya akan mengirimkan beberapa barang kebutuhan Bida. Tolong jangan sungkan jika Bida memerlukan biaya pendidikan."
"Nak Levi, biarlah tanggung jawab itu bapak yang tanggung. Sampai saatnya nanti nak Levi menjemput Bida."
"Baiklah, tapi jangan tolak pemberian saya. Besok saya kirim HP untuk bapak, agar kita bisa komunikasi lebih baik. Saya ingin bapak mengirimkan saya foto/video Bida sekali waktu. Biarlah saya berkomunikasi dengan bapak saja. Saya tidak ingin menelfon Bida. Jangan sampaikan juga ke Bida jika saya menelfon Bapak. Saya juga melarang Bida punya HP android sebelum usia 17."
"Baiklah. Nak Levi jangan kuatir, seisi desa tahu tentang pernikahan kalian."
Dari tempat berbeda, mereka saling tersenyum.
***
Sejak saat itu, Levi sering mengirim barang. Baju, snack, kebutuhan sehari-hari dll.
Bahkan ketika menjelang lebaran kemarin, Pak Joko menerima paketan parcel lebaran bukan hanya untuk Bida dan dirinya tapi juga untuk diberikan kepada Pak Kepala desa dan beberapa tokoh desa. Dalam kemasan Parcel tersebut jelas dituliskan dari Keluarga Besar Pak Joko, beserta anak dan menantu (Bida & Levi).
Tanpa ada komunikasi dengan Bida secara langsung dan telfon namun kiriman paket seringkali datang. Selalu dengan tulisan untuk Istriku tersayang Bidadari/ Ny Levi Braveano.
Secara tegas, Levi ingin mengingatkan bahwa Bidadari adalah istrinya.
Pov Bida
Bida mulai mencoba menjalani hidup senormal mungkin. Ia mulai mengurangi ketergantungan dengan nenek dan bibi. Ia selalu tampak ceria. Ia sudah paham bahwa bibi, nenek dan wowo tidak segan menyakiti siapa saja yang mengganggunya.
Bida masih suka menyapa bibi dan nenek dengan senyumannya. Bida tidak akan berbicara dengan bibi dan nenek saat ada orang lain disekitarnya termasuk ibu dan bapaknya. Bida paham ternyata kondisinya yang bisa komunikasi dengan makhluk halus menjadi sumber kesedihan bagi orang tuanya.
Bida juga paham bahwa di dunia medis, komunikasi seperti yang Bida lakukan dianggap sebagai kelainan jiwa.
Bida tidak mau dianggap gila. Bida sudah menyampaikan hal ini kepada nenek dan bibi.
Pak Joko dan Bu Joko sedang berkunjung ke rumah saudara di desa tetangga. Bida sendirian di rumah. Bibi dan nenek menemani Bida di ruang tamu.
"Bida, sudah tidak ada orang lain. Nenek kangen ngobrol denganmu."
"Ya. Bida. Bibi juga kangen. Kamu tidak mengijinkan kami masuk kamarmu. Sedangkan waktumu lebih banyak belajar di kamar."
"Nenek, bibi.... Bida kan harus belajar. Lagi pula, kita sudah pernah membicarakan ini kan? bukan karena Bida tidak sayang nenek dan bibi."
"Ya. Kami mengerti. Saat itu akan tiba Bida. Saat kami tidak akan pernah lagi bisa menampakkan diri padamu. Saat kalian bersatu."
"Nenek, bibi semua sudah ada takdirnya. Bida sekarang berusaha ikhlas menerima semuanya."
"Ya kamu benar Bida. Kami minta maaf jika keberadaan kami mengganggumu."
"Tidak bibi, nenek. Bida terima kasih, selama ini bibi dan nenek menjaga Bida juga wowo. Bida tahu, kalian sayang Bida. Tapi ada batas tegas antara kita. Saat kalian marah, lalu menyakiti orang lain maka Bida merasa Bidalah yang menyakiti orang itu. Bida yang berdosa. Seolah Bida lempar batu sembunyi tangan."
"Maafkan kami Bida." Nenek dan Bibi tertundul lesu. Suasana hening, wowo diam termenung di atas pohon kenanga.
"Meski Bida sudah tidak bisa melihat kalian lagi suatu saat nanti. Bida akan tetap mengingat kalian di hati Bida."
"Terima kasih Bida. Sekarang istirahatlah di kamar."
"Malam ini, Bida akan tidur di sofa ini saja. Nenek dan Bibi akan menemani Bida tidur malam ini."
"Tentu Bida, tidurlah nenek disini menjagamu."
"Bibi juga tidak akan beranjak, tidurlah yang nyenyak."
*******
# Dua tahun kemudian.
Diana sedang ada di kota Malang. Ia akan mengikuti Fashion Show tiga hari lagi di Mall terbesar di kota tersebut.
Diana sangat jengkel karena selalu gagal menghubungi Levi. Diana adalah model yang tergabung dalam agennya Mira. Mira sendiri sedang ada di Jakarta untuk bertemu klien nya. Seorang artis akan mengadanan show dan ingin bekerja sama dengan Mira untuk mepersiapkan kostum dan riasannya. Mira menyerahkan kegiatan Fashion show di Kota Malang kepada Ayu.
"Sudah jam berapa ini? Kapan kamu datang Diana. kita harus gladi bersih." Ayu ngomel kepada Diana di telfon
Diana sedang mencoba perawatan SPA di Malang tersebut. Ia menerima telfon sambil telungkup karena sedang diurut menggunakan lulur rempah.
"Ayu.... besok saja sekalian sebelum pelaksanaan, kita gladi bersih sebentar atau tidak usah sekalian." Diana tampak asyik dengan perlakuan terapis spa nya.
"Apa?... Gila kamu ya, Jika kamu tidak bersedia harusnya kamu tidak menerima tawaran ini. Aku bisa minta model yang lain untuk menggantikanmu." Ayu menggunakan suara aslinya yang berat.
"Oh ya. Kepada siapa akan kau berikan kostumku? Aku adalah ambasadornya. Kamu cerewet. Udah ah males ngomong sama kamu." Diana menutup telfonnya dan menekan mode pesawat.
Tut tut tut...
"Eh ditutup. Sok cantik kamu. Aku tidak akan posting foto-fotomu di kegiatan fashion besok." Ayu membuka HP nya. Ia menelfon model cadangan jika saja Diana ngambek atau ada hal yang tidak terduga lainnya.
Ayu tidak mau mengganggu Mira dalam hal ini. Ayu membuka galeri di HP nya untuk menghilangkan galau karena sikap Diana. Ia ingin memposting beberapa foto dan video di ig nya.
Ya ampun foto ini cute... banget sih. Boleh ndak ya jika aku posting di Ig. Ayu menemukan foto Bida dan Levi ketika kelulusan SMP Bida.