Jodoh Gadis Indigo

Jodoh Gadis Indigo
Serba Salah


Roni bingung melihat keduanya yang saling menatap. Roni berdiri di antara mereka.


"Mas Levi, kamu bilang merindukan Bida kok diam saja. Bida ada di depanmu sekarang."


Levi berusaha mencerna kalimat Roni... namun masih belum yakin.


"Bida... ?"


"Apakah benar kamu mas Levi? " Bida malah balik bertanya.


"Kalian ini kenapa sih kok seperti main drama, males aku lihat drama seperti ini." Roni akan meninggalkan mereka.


"Jangan pergi !" Roni menautkan alisnya.


Mengapa mereka kompak melarangku pergi?


Apa yang mereka inginkan dariku?


Akhirnya Roni mencoba menjelaskan situasi yang terjadi.


"Tadi Bida datang bersama Pak Joko. Lalu Pak Joko berpesan agar Mas Levi menjaga Bida karena Pak Joko masih ada pekerjaan di Surabaya Tadi Pak Joko langsung berangkat setelah mengantar Bida. Bu Joko masih di kota Banyuwangi." Roni berusaha menjelaskan.


Penjelasan Roni membuat Bida yakin bahwa ia benar-benar sudah di rumahnya sendiri. Bida merasa lega, teringat kembali kejadian makhluk halus yang mengganggunya selama di rumah kakek.


Sekarang Levi di hadapannya, membuatnya merasa aman. Selama ada Levi disampingnya, Bida tidak pernah sekalipum diganggu makhluk halus. Bida mengalihkan pandangannya ke arah kitchen set yang ada di depannya.



"Bida... kamu pasti lelah. Sekarang istirahatlah." Roni ingin meninggalkan mereka. Namun ekspresi diamnya Levi membuat Roni menepuk lengan Levi.


"Mas Levi, kamu tidak ingin menunjukkan kamar Bida yang baru."


"Oh ya. Aku akan menunjukkannya." Levi mengusap dadanya. Jadi benar, Bida yang menggigitnya tadi. Levi tersenyum.


"Bida... ini dapur untukmu. Bida bisa membuat pizza disini." Levi menggandeng tangan Bida, membawanya mendekat ke dapur barunya.


Roni meninggalkan mereka, Ia kembali ke kamarnya.


"Bagus sekali mas." Bida meraba permukaan meja makan kecil di kitchen set itu.


"Kompornya bagus mas." Bida memperhatikan kompor tanam itu dengan kagum.


"Ayo !" Levi kembali menggandeng tangan Bida, Levi mengajak Bida masuk ke kamar orang tua Bida.


Bida hanya diam terkagum memperhatikan semua perabot baru di kamar tersebut.



Levi masih menggandeng tangan Bida. Levi mengajak Bida membuka pintu kamar mandi di ruangan itu, Bida kembali kagum.


"Bagus." Bida melepaskan tangannya dari pegangan Levi. lalu memasuki kamar mandi tersebut.



Levi kembali menggandeng tangan Bida mengajaknya keluar dari kamar orang tuanya.


Sekarang Levi mengajaknya masuk ke kamar Bida yang sudah dibersihkannya lagi kemarin dengan tangannya sendiri.


"Ini benar kamarku mas? Bida melepaskan tangannya lagi dari pegangan Levi. Ia berjalan mendekati ranjangnya lalu meraba spreinya.



"Mas ini bagus sekali." Bida duduk di atas sofa yang senada dengan kepala ranjangnya.


"Ayo ikut aku !" Levi mengulurkan tangannya. Bida menyambutnya lalu mengikuti Levi yang mengajaknya memasuki sebuah pintu.


Bida terpaku setelah melihat kamar mandi itu.



Kamar mandi itu sangat luas, ada ruangan khusus untuk ganti baju dengan lemari baju, tas dan sepatu.


Bida tidak percaya dengan penglihatannya, ia berkeliling meraba perabot yang ada disana.


"Suka mas. Sukaa ... sekali. Terima kasih." Bida menghambur ke pelukan Levi.


Levi kaget, hingga hanya diam mematung. Setelah beberapa detik kemudian, barulah Levi membalas pelukan Bida. Namun melihat bathup membuat Levi membayangkan Bida sedang berendam di sana. Membuat Levi segera melepaskan pelukannya.


"Ayo kita duduk disana!" Levi meninggalkan Bida. Bida mengikuti langkah Levi lalu duduk di sofa.


"Sini, ceritakan apa saja yang terjadi di sana."


Levi menunggu Bida bercerita.


Bida menarik nafas, ia tidak ingin menceritakan pengalamannya bersama makhluk halus. "Ibu masih di Banyuwangj untuk menemani nenek setelah kematian kakek kemarin. Bida sudah bilang akan menemani ibu tapi bapak mengajak Bida pulang karena Bida harus bersiap-siap masuk sekolah minggu depan. Bapak harus sampai di Surabaya besok, maka Bapak mengantar Bida sampai rumah lalu setelah berbicara dengan mas Roni. Bapak langsung berangkat ke Surabaya. Bida kaget saat masuk kamar, lalu Bida melihat dapur itu. Bida jadi bingung, Bida berpikir apakah benar ini rumah Bida. Lalu Bida ke kamar depan yang terbuka ..." Bida diam tertunduk malu mengingat tadi ia sudah menggigit Levi.


"Lalu Bida menggigit suaminya." Levi menggoda Bida yang tertunduk.


Levi memperhatikan sekeliling kamar. Aku dan Bida berdua di kamar ini. Ini bisa celaka, aku harus segera pergi dari sini.


"Bida ini hampir pagi, kamu bisa istirahat dulu, Mas Levi akan kembali ke kamar depan."


Aku tidak akan bisa tidur, aku akan push up sekalian sambil menunggu subuh.


Levi keluar dari kamar Bida, lalu menutup pintunya.


Bida termenung di kamar mengingat semua kejadian yang dialaminya di rumah kakek.


# Flash Back sebelum Pak Joko memutuskan membawa Bida kembali.


Malam itu jam 7 malam, Pak Joko menunggu mobil travel datang menjemputnya. Pak Joko berpamitan kepada Bu Joko untuk kembali ke Surabaya. Bu Joko tampak masih murung karena Pak Joko tidak menanggapi keinginan Bu Joko untuk mengajak Bida pulang bersamanya.


Pak Joko melangkah keluar kamar, ingin berpamitan kepada Bida.


Pak Joko terpaku di tengah pintu dapur, dia melihat Bida di sudut dapur, tubuhnya gemetar ketakutan.


Yang sebenarnya terjadi adalah nenek dan bibi sedang bertarung melawan hantu dari pohon bambu. Hantu pohon bambu memaksa Bida ikut bersamanya. Tapi nenek dan bibi menghalanginya. Hantu pohon bambu yang mirip Wowo itu marah, matanya menyala, ia menyeringai memamerkan gigi taringnya yang mengkilat. Ia terbang menerjang nenek hingga nenek tersungkur ke tanah. Bibi hendak membantu nenek tapi bibi ikut terpental ke tanah.


Pak Joko diam, tidak memahami kejadian yang dialami Bida.


Bida berkata sambil menangis, "Jangan sakiti nenek dan bibi. Aku akan ikut bersamamu ke pohon bambu."


Seketika itu Pak Joko langsung berlari ke arah Bida. Pak Joko memeluk erat tubuh Bida yang gemetar. Namun pandangan Bida masih kosong ke arah langit-langit dapur. Pak Joko melantunkan doa di telinga Bida. Kemudian tubuh Bida lemas. Pak Joko memapahnya menuju kamar depan.


"Bida, tunggu sini." Bida hanya diam tak bersuara, tatapan matanya masih kosong.


Dengan sigap Pak Joko meraih tas Bida, memasukkan baju-baju Bida yang terlihat terlipat di atas meja.


Terdengar suara klakson mobil travel yang sudah dipesan Pak Joko. Pak Joko menenteng tas Bida dan menggandeng Bida yang masih tampak kebingungan.


"Bu, aku akan bawa Bida pulang karena Bida harus bersiap-siap masuk sekolah." Pak Joko menyalami ibu mertuanya.


lalu Pak Joko berpamitan kepada istrinya yang tampak kaget tidak percaya dengan keputusan suaminya. Namun Bu Joko tampak lega.


"Bida... jaga dirimu baik-baik ya." Bu Joko mencium kening Bida.


"Bida hanya menunduk lalu mengikuti bersalaman dengan neneknya dan mengikuti pak Joko naik mobil."


Setelah 1 jam perjalanan, Bida mulai mengingat semua kejadian yang ia alami.


Ia menoleh ke kursi belakang.


"Nenek... Bibi... tidak apa-apa kan?"


"Tidurlah Bida, perjalanan masih jauh." Pak Joko menasehati Bida yang berbicara sendiri sambil menoleh ke kursi belakang.


"Ya. Apakah tidak apa-apa, Bida meninggalkan ibu?"


"Tidak apa-apa. Bapak akan menjemput ibu hari Minggu. Bida...., Bida tidak apa-apa kan tinggal di rumah dengan nak Levi sementara?" Pak Joko ingin meyakinkan keputusannya lagi


"Ya.." Bida menjawab singkat. Namun wajahnya tampak bahagia karena ia akan segera bertemu dengan Levi.


*****