
Semua sudah siap. Rehap sudah selesai. Tidak ada sisa material berserakan. Semua rapi. Levi dan Roni duduk di meja makan yang menyatu dengan dapur baru. Mereka sedang makan pizza yang mereka pesan lewat gofood.
"Mas Levi, bagus sekali hasil pekerjaan Toni."
"Sayangnya ia tidak berhasil menyelesaikannya sebelum deadline jadi ia gagal mendapatkan bonus 20%. Kau lihat wajahnya tetap tersenyum saat terakhir ia berpamitan kepadaku tapi aku tahu ia pasti ngomel ke pegawainya habis-habisan."
"Tapi upah mereka sudah mahal mas, mengapa mas Levi masih menjanjikan bonus" Roni mengingat nominal biaya rehap secara keseluruhan lebih dari 100 juta.
"Tapi sepadan dengan hasil kerjanya. Pekerjaannya sangat rapi. Saat pelanggan puas, ia tak akan menyesal. Namun jika mengecewakan pelanggan, maka bersiaplah segera bangkrut perlahan."
"Mas apakah mas Levi akan menagih sisa pembayarannya segera. Dua sapi yang tersisa itu tidak mampu membayar kekurangannya mas. Kasihan Pak Joko setidaknya berilah tenggang waktu agar bisa menyicilnya."
"Kamu lucu Ron." Levi tersenyum riang.
"Sumpah mas, kedua sapi yang dititipkan Pak Joko ke Pak Ridwan selama Pak Joko di Surabaya itu tidak sebesar sapi yang dijual kemarin. Aku yakin harga jualnya tidak mencapai 50 juta." Roni berusaha meyakinkan Levi.
"Aku tidak akan meminta Pak Joko membayar sisanya Ron."
Roni menatap penuh tanda tanya.
"Jangan bilang kamu pakai uang orang tuamu mas, nanti mamamu curiga lalu menemukan informasi jika mas Levi sudah menikah dengan anak kecil."
"Woooo serius amat, kamu kira aku orang miskin? Aku punya saham dimana-mana Ron. penghasilan dari rumah kos hanya kupakai untuk menggajimu. Sisanya aku inveskan lagi. Uang 50 juta dari Pak Joko, aku gunakan untuk rehap kamar tidur dan kamar mandi Pak Joko serta pembuatan tandon, Itupun masih kurang. Sedangkan dapur, kamar tidur dan kamar mandi Bida murni dari uangku sendiri." Levi mengatakan sambil membayangkan wajah Bida yang tersenyum melihat kamar dan dapurnya.
"Orang kadang meremehkan keperluan pipa dan kran. Padahal instalasi pipa, kran, septic tank dan pembuatan tandon itu biayanya sangat besar." Levi menjelaskan lagi kepada Levi untuk memberinya wawasan.
"Ya mas. Tapi penampakan perabot seperti ranjang, lemari, lampu hias, lampu-lampu itu jelas membuktikan jika biayanya lebih dari 50 juta. Pak Joko pasti menanyakan biayanya nanti."
"Aku belum memikirkan itu. Kapan ya Bida kembali? Aku sudah merindukannya."
"Hmm mmm" Roni berdehem.
Levi menyikut lengan Roni sambil tersipu
"Ayo kita tidur Ron"
"Mas kamu sedang kangen Bida. Tidurlah di kamar tengah. Aku di kamar depan. Aku tidak mau tidur denganmu karena kau pernah mengigau memelukku sambil memanggil nama Bida." Roni menjawab sengit.
"Kapan Ron?"
"Tadi siang ketika kita berdua ketiduran di karpet ruang tengah setelah membantu membersihkan sisa material di halaman."
"Ha ha ha. Maaf Ron itu kan ketidaksengajaan. Aku tidak sudi menyentuhmu. Aku laki-laki normal." Levi mentertawakan dirinya sendiri membayangkan ketika ia mengigau memeluk Roni.
*****
Roni terbangun mendengar suara ketukan pintu depan rumah Pak Joko. Roni melirik jam di dinding. Pukul 03.00 Wib. Siapa yang bertamu dini hari begini. Setengah malas, Roni membuka pintu.
"Pak Joko, Bida, loh mana ibu?" Roni mengedarkan pandangannya ke sekitar.
"Ibu masih di rumah kakek mas. Mana mas Levi? Bida mengedarkan pandangannya cemas.
"Mas Levi tidur, mungkin kecapekan karena tadi sebelum tidur, mas Levi membersihkan kamar Bida tadi. Apakah perlu aku bangunkan?" Roni membuka pintu kamar depan. Tampak Levi sedang tertidur pulas.
Bida diam di pintu mengamati Levi sambil tersenyum.
"Tidak usah mas." Bida masih menatap Levi dari luar kamar.
"Nak Roni, sampaikan ke nak Levi agar menjaga Bida seminggu ke depan karena bapak masih ada tugas di Surabaya. Ibu masih di Banyuwangi untuk menemani nenek Bida." Kata Pak Joko
"Ya Pak. Bapak tidak masuk dulu, Bida akan buatkan kopi."
"Tidak usah. Kamu baik-baik dengan nak Levi ya." Pak Joko mencium kening Bida lalu Bida mencium tangan Pak Joko.
"Tutup pintunya lagi !." Pak Joko kembali ke dalam mobil.
Bida kembali diam mengamati Levi yang sedang tidur pulas.
"Bida tidurlah, mas Levi sudah membersihkan kamar barumu. Lihat itu sampai pulas begitu tidurnya." Roni yang masih mengantuk ingin kembali tidur.
"Ya mas." Bida melangkah ke arah kamarnya.
Bida tertegun memperhatikan pintu kamarnya dan pintu kamar orang tuanya berbeda modelnya.
Sementara Roni langsung masuk ke kamar tengah karena masih mengantuk.
Bida membuka pintu kamarnya, menekan saklar lampu yang terlihat remang-remang dari cahaya koridor antara kamarnya dan kamar orang tuanya.
Bida menjatuhkan tas yang dibawanya. Bida tidak menyangka kamarnya seindah itu. Bida mengerjapkan matanya. Apa ini kamarku? semua perabot ini bukan milikku Ada pintu lagi, mungkin itu pintu kamarku. Bida membuka pintu itu lalu kembali tercengang. Ini mirip gambar yang Bida pilih di layar laptopnya mas Levi.
Bida berlari ke kamar depan, masuk ke dalam kamar mengamati Levi dari dekat.
Bida pasti sedang ketiduran di mobil. Bida pasti sedang bermimpi karena terlalu merindukannya. Bida takut bangun, lalu mas Levi menghilang.
Bida meneteskan air mata hingga jatuh di wajah Levi.
Saat itu Levi sedang bermimpi, Bida mendatanginya di kamar menggunakan gaun tidur yang dipakainya di awal Levi melihatnya.
Levi membuka matanya.
Terasa nyata sekali, Ia membelai pipi Bida yang basah lalu bangun dan memeluknya erat hingga Bida merasa sesak nafas lalu menggigit dada Levi karena tidak berhasil melepaskan diri.
"Aauw" Levi meringis mengusap dadanya.
Bida menutup mulutnya lalu lalu lari keluar kamar Levi.
"Bukan mimpi... jadi ini nyata." Aku menggigitnya keras. Aku malu, aku mau kembali ke kamar tapi yang mana kamarku? Mengapa aku linglung.
Bida termangu di depan pintu kamar barunya, tidak berani masuk. Lalu Bida melangkah ke dalam saat tiba di ruang makan, Ia kembali kaget dengan kitchen set yang ada disana.
Sedangkan Levi masih mengusap dadanya sambil berpikir. Mimpi atau nyata? Tidak mungkin Bida berani mendatangiku lalu menggigit dadaku atau ia hanya halusinasiku atau hantu?
Levi melangkah keluar kamar. Pintu kamar Bida terbuka kosong, Levi membuka pintu kamar Pak Joko juga kosong.
Levi melangkah pelan ke dalam, hingga di dapur ia menemukan Bida dari belakang
Siapa perempuan ini?
"Siapa kamu ?" Levi membentak.
Hantu ini pasti meniru wajah Bida. Tidak ada Pak Joko dan Bu Joko belum datang. Bida sedang ada di kota Banyuwangi. Dia pasti hantu.
Bida yang sedang termenung menoleh, mereka bertatapan lama sekali.
Aku dimana? Mas Levi tidak pernah membentak keras. Bahkan ketika marah kepada temannya, suaranya tidak keras meski nadanya tajam. Siapa dia. Dimana nenek dan bibi? Bibi permah cerita jika jin bisa meniru seseorang. Bibi , nenek... Bida takut.....
Roni yang belum bisa tidur lagi, mendengar bentakan Levi yang keras. Lalu heran melihat keduanya hanya saling menatap.