
"Mas Levi masih marah ya? Roni menghampiri Levi yang duduk di kelasnya
Levi hanya melirik sekilas lalu mengabaikan Roni.
Kan ekspresi itu, cemberutnya Levi itu pangkal kikir. Tadi saja langsung pergi begitu saja dari kantin. Apes buat semua terutama Miki. Padahal tadi Miki pesan banyak makanan begitu tahu Levi bergabung. Pesan dua minuman sekaligus. Jus durian dan strawberry float. Kemungkinan besar aku tidak dapat bonus meski sudah mencetakkan fotonya bersama Bida. Padahal jauh-jauh aku cari percetakan terbaik, muter-muter menebus kemacetan di kawasan Dinoyo hingga Suhat.
"Mas ini tanda terima fotonya." Roni menyerahkan secarik kertas nota.
Semoga Levi tersenyum mengetahui bahwa pesannya sudah aku laksanakan.
Levi tersenyum menerima nota foto itu, namun kemudian wajahnya menegang lagi.
"Kamu asisten yang loadingnya lelet. Bagaimana mungkin kamu tahu ada setan duduk di sampingku tapi kamu diam saja." Levi menyimpan kertas itu di saku almamaternya lalu menatapku.
"Setan? Ya ampun mas, dia cantik gitu kok disebut setan. Miki yang mempersilahkannya duduk. Sepertinya Miki sengaja melakukannya. Tadi kamu terlalu fokus dengan HP mu mas. Jadi tidak tahu ada wanita cantik di sampingmu."
"Cantik ? Kamu lihat dari mananya? Itu yang kamu sebut cantik. Seleramu ternyata tidak standart. Mungkin aku akan pertimbangkan lagi menjadikanmu asistenku saat sudah lulus nanti. Aku ragu kamu bisa menilai seni interior dan kualitasnya."
Levi memang mengatakannya dengan suara datar tapi justru itulah yang menakutkan dari Levi. Levi tidak tampak bengis hanya terlihat jutek tapi bagi yang mengenalnya baik akan paham bahwa ia tidak main-main dengan perkataannya.
"Mas, justru itu kamu harus membimbingku dengan sabar. Aku kan masih harus banyak belajar darimu."
Aku harus berusaha mengambil hatinya dengan pilihan kata yang tepat. Levi sangat membenci sikap cari muka.
"Harusnya kamu segera tanggap, dia sudah menyentuh rambutku bahkan nyaris dua kali. Bida saja belum pernah menyentuh rambutku. Dia kurang ajar. Aku ini milik Bida seutuhnya. Aku ini masih orisinil dan masih bersegel." Levi tersenyum bangga.
"Maksudnya ... ? Masa sih ? Mas Levi kan dekat dengan dunia para model."
Aku tidak percaya perkataannya, namun jika aku melihat kesibukannya yang sering keluar kota mengurus bisnis properti, sibuk dengam HP untuk mengurus saham dll. Aku tidak pernah melihat Levi berkencan. Sekarang ia sudah menikah.
"Memangnya kamu sudah tidak orisinil Ron?" Levi memasang wajah serius.
"Aku mas. Ah pertanyaanmu itu mas. Jelas saja aku masih perjaka mas. Aku belum menikah." Aku gugup menjawab pertanyaan sensitif itu.
"Aku sudah menikah, tapi aku masih perjaka. Aku hanya akan menyerahkan milikku yang berharga untuk Bida." Levi mengatakan itu dengan wajah merona
Harusnya kamu jadi model saja mas. Kamu serasi jika bersanding dengan Diana. Tapi saat kamu foto bersama Bida ketika wisuda, kalian juga serasi. Perias bernama Ayu itu memang hebat bisa mengubah wajah polos Bida yang imut jadi wanita dewasa yang sangat cantik.
"Mas bagaimana dengan model bernama Diana? Aku sudah lama tidak diminta mas Levi untuk mengangkat telfon darinya." Roni tiba-tiba ingat Diana ketika mengungkit soal model.
"Diana tidak menelfonku lagi karena aku memblokir nomornya." Levi kembali sibuk dengan HP nya.
Diana yang model cantik saja diblokir apalagi mahasiswi tadi yang cantiknya jauh dibawah level Diana telah berani menyentuhnya. Aku tidak kaget lagi jika tadi kamu sangat marah mas. Salah sendiri, kamu memiliki pesona menarik mas.
*****
Levi memajang fotonya bersama Bida yang diambil Ayu sebelum mengantar Bida ke acara Wisuda kelulusan di dinding kamar di apartemennya lalu memandanginya.
Bida... foto ini diambil di hari pernikahan kita. Kita foto di pagi hari, lalu menikah di sore hari. Anggap saja foto ini adalah foto prewed kita.
Levi memasuki kamar mandi, mengisi bath upnya lalu berendam disana sambil membuka HP nya untuk memeriksa beberapa hal.
*****
Roni sekarang ada di sebuah mall. Ia mendapatkan tugas dari Levi untuk mencari daftar belanja ibu-ibu yang sedang belanja kebutuhan bulanan.
Demi tugas ini, aku akan membeli beberapa cemilan saja. Aku akan mengikuti seseorang yang sedang berbelanja.
Itu ada ibu-ibu yang sedang mendorong troli, ia ditemani seorang anak perempuan seusia Bida. Aku akan mengikuti mereka. Target yang tepat. Gara-gara Bida tidak menggunakan ATM yang diberi mas Levi. Mas Levi jadi kepo ingin belanja on line buat Bida. Mas Levi berdalih, "Aku ini kan harus menafkahi Bida jadi karena Bida tidak menggunakan uangku, aku harus punya alternatif sendiri."
Roni menjaga jarak dari mereka namun tetap mengikuti seperti seorang detektif.
Terdengar percakapan mereka.
"Ma.. samponya ini saja ya ? Wanginya enak."
Ia memasukkan sampo tersebut ke dalam trolinya.
Roni segera mengetikkan nama merk sampo itu.
"Ini bagus loh, harumnya juga enak. Nih kamu coba." Ibu-ibu yang dipanggil mama itu menyerahkan sebotol sampo kepada anaknya.
Gadis tersebut meraih botol sampo dari tangan mamanya.
"Ya mama benar, ini lebih wangi. Ini saja deh ma." Gadis itu memasukkan sampo yang ada di tangannya ke dalam troli lalu mengembalikan sampo yang sudah dimasukkan ke dalam troli itu ke tempatnya semula.
Roni langsung menghapus tulisan merk sampo yang sudah dicatatnya di HP lalu mengganti dengan nama sampo yang baru.
Aku merasa sudah lelah berputar hampir satu jam. Mereka ini masih saja belum selesai belanja. Eh melewati sini lagi, kita sudah 3 kali melewati deretan perlengkapan mandi, 4 kali melewati etalase peraeatan tubuh wanita. Harusnya kalian buat perencanaaan yang tepat jadi tidak harus bolak balik kesini, kesana, kesini lagi.
Roni mulai tidak sabar mengikuti mereka. Di keranjang belanjaan Roni hanya ada benerapa camilan karena barang kebutuhan pribadinya masih ada. Tidak ada penambahan belanjaandi keranjangnya dari tadi. Roni hanya mengikuti seorang ibu dan anaknya itu yang belum menunjukkan tanda-tanda hendak menuju kasir.
"Ma ... orang itu mencurigakan, ia terus mengikuti kita."
Roni mendengar pengaduan anak itu kepada mamanya.
"Ah masa sih? Buat apa ia mengikuti kita.
Roni memilih segera menjauh ia sekarang berada di etalase yang dekat dengan kasir.
Aku akan lihat ketika barang itu discan dikasir saja. Harusnya dari tadi aku berpikir cerdas seperti ini. Roni menepuk dahinya sendiri
15 menit berlalu, Roni sudah mondar mandir ke etalase yang dekat kasir, berpura-pura melihat-lihat barang.
Lama sekali mereka belanja, sudah 1 setengah jam. Padahal Mas Levi minta laporan keuangan rumah kos juga untuk dikirim ke emailnya. Tugas kuliah juga banyak.
Roni menggerutu sendiri.
Akhirnya... itu mereka. Mereka sudah antri di kasir.
Saat Roni mau ke kasir menyusul mereka, ada orang lain lagi dengan troli yang tidak kalah penuh mendahului sehingga Roni berada di deretan belakang. Semua kasir memiliki antrian panjang.
Aduh jika begini aku kurang jelas melihat merk barang yang mereka beli. Roni berusaha memfokuskan pandangannya tapi tidak berhasil. Pegawai kasir dengan cekatan memindai barcode di barang belanjaan mereka.
Mereka sudah akan membayar, aku tidak mau usahaku hampir 2 jam sia-sia. Roni berpikir lalu ia punya ide. Roni meninggalkan belanjaannya lalu keluar dari stand belanja dan menyusul mereka.
Aku akan meminta struk belanja mereka dengan baik-baik. Dimana mereka ? Oh itu mereka sedang menuju lift.
Roni setengah berlari mengejar mereka, terengah Roni berhasil menyusul mereka. Ia di dalam lift bersama beberapa orang lainnya.
Roni diam menunggu, memikirkam kalimat yang tepat untuk meminta struk belanja mereka. Gadis muda itu menatap Ke arah Roni dengan waspada.
Ketika mereka keluar, Roni segera mengikuti mereka. Mereka menuju ruang parkir. Gadis muda itu mengajak mamanya berjalan lebih cepat sambil memainkan HP nya.
"Maaf... " Roni menghadang mereka.
Roni tersenyum ramah kemudian berkata, "Maaf tadi saya mengikuti anda berbelanja karena saya sedang mendapat tugas dari senior saya di kampus untuk latihan kepemimpinan. Yaitu membuat daftar kebutuhan keluarga selama satu bulan. Jika anda berkenan, saya minta tolong memfoto struk belanjaan anda. Maaf jika saya lancang."
Roni mengeluarkan dompetnya untuk menyerahkan kartu mahasiswanya agar mereka percaya.
Namun yang terjadi adalah bug, ada yang memiting badannya dari belakang lalu menghempaskannya ke lantai parkiran.
"Aow" Roni kesakitan, tubuhnya terpelanting karena tidak sempat menghindar. Laki-laki dengan tubuh gemuk besar itu menyerangnya dari belakang.
"Siapa kamu !" Ia membentak Roni
"Papa.... biarkan dia, ternyata ia tidak jahat. Ini pa... Ia mahasiswa Univeraitas B******"
Gadis itu menyodorkan kartu mahasiswa Roni. Lalu gadis itu menjelaskan permasalahannya. Terdengar percakapan di antara ketiganya.
Roni berusaha bangkit, Ia mengerti keadaan yang terjadi. Ternyata gadis itu menghubungi papanya yang menunggu di parkiran karena merasa terancam. Sedangkan papanya hanya melihat dari belakang saat Roni menghadang dan menyodorkan kartu mahasiswanya. Papanya mengira Roni adalah seorang perampok yang menodongkan senjata.
Setelah semua jelas, ibu-ibu itu menyodorkan struk belanjaan yang panjang kepada Roni.
"Ini struk belanjanya."
"Terima kasih bu, akan saya foto sebentar lalu akan segera saya kembalikan." Roni menerima struk itu. dan mengambil ponselnya dari saku celananya.
"Sudahlah tidak usah difoto, ambil saja struknya. Ini kartu mahasiswamu. Maafkan om ya." Laki-laki bertubuh besar itu menepuk bahu Roni tepat di bagian yang terpelanting tadi membuatnya meringis kesakitan.
"Ya terima kasih om, ibu dan nona" Roni mebungkukkan kepala.
Mereka berlalu menuju mobil mereka.
Tiit tiit terdengar notifikasi dari HP Roni.
Bagaimana sudah dapat list belanjaannya? Datang ke apartemenku sekarang. Ada yang ingin aku bicarakan. ----- Levi
Roni mengehela nafas lalu mengetikkan di HP nya.
Ya mas.------ Roni