
"Siapkan barang-barang kita Ron! Jika Pak Joko dan Bu Joko datang kita harus segera siap berangkat." Levi mendatangi Roni di kamar dengan wajah kesal.
"Ya mas."
Roni mengira jika Levi kesal kepadanya gara-gara kata pusaka itu.
Levi tidak mengira ia telah lancang mencium Bida. Levi sangat ingin menjaganya hingga saatnya nanti. Levi sangat kesal pada dirinya sendiri. Ia merasa mengecewakan kepercayaan Pak Joko. Ia merasa sangat malu pada dirinya sendiri.
*****
Sore hari, Bida duduk di bangku yang ada di halaman, ia menikmati kesegaran udara yang wangi bunga kenanga. Bida menatap atas pohon kenanga tapi tidak melihat keberadaan Wowo. Setelah Levi menciumnya, Bida merasa sangat malu sehingga selalu menghindar dari Levi.
Levi juga selalu menghindar dari Bida karena kuatir dirinya melakukan kesalahan lagi.
Levi sedang ada di dalam ruang tamu, mengamati Bida dari kaca jendela ruang tamu.
Sebuah mobil datang. Bu Joko dan Pak Joko turun dari mobil. Bida terlonjak senang
"Ibu.." Bida menghambur ke pelukan ibu, lalu melepaskan pelukannya.
"Ibu, Bida kangen sekali. Kok ibu sudah pulang katanya nunggu seminggu. Ini kan baru hari ke empat kematian kakek."
Bida mengapit lengan Bu Joko mengajaknya masuk.
"Nenek bilang, kasihan Bida sendirian di rumah. Jadi ketika Bapak datang, ibu langsung diminta pulang bersama bapak. Bida baik kan?"
"Ya bu. Bapak sudah selesai pekerjaannya yang di Surabaya?" Bida menoleh ke bapaknya yang menenteng tas ibu dan miliknya.
"Ya. Pekerjaan bapak selesai lebih cepat dari yang dijadwalkan jadi bapak mengunjungi ibu di Banyuwangi.
"Mari masuk bu, Bida akan tunjukkan kamar ibu." Bida tersenyum berbinar.
"Memangnya kamar ibu kenapa?" Bu Joko bertanya, Pam Joko mengangkat alisnya tanda tidak paham
"Nanti, bapak dan ibu pasti kaget seperti Bida yang juga kaget ketika masuk kamar Bida." Bida terus menggandeng tangan ibunya.
Levi menyalami bapak dan ibu mertuanya.
"Roni." Levi memanggil Roni yang masih di dalam kamar
"Bapak, ibu." Roni menyalami Pak Joko dan bu Joko.
Bida masih menggandeng ibunya, Pak Joko mengikutinya dari belakang. Levi membawakan tas yang dibawa Pak Joko.
Bida membuka pintu kamar, Bu Joko dan Pak Joko kaget melihat kamarnya. Bu Joko masih digandeng bida. Bida menuntun Bu Joko membawanya ke kamar mandi yang ada di kamarnya.
Pak Joko masih mengamati sekelilingnya lalu ikut masuk ke kamar mandi.
*Mengapa kamarku juga didesain ulang, semua perabot ini, kamar mandi ini kan keinginan Bida. Mengapa Levi justru membuat kamar mandi yang bagus di kamarku. Harusnya kamar mandiku cukup berupa shower dan closet saja yang penting ada di dalam kamar.
Jika seperti ini, pasti biayanya habis untuk mengurus kamarku*.
"Bida, bagaimana kamarmu?" Pak Joko bertanya kepada Bida.
"Punyaku lebih bagus." Mari Pak, bu, kita ke kamar Bida.
Bida berjalan tergesa-gesa menggandeng ibunya. Pak Joko mengikuti dari belakang.
Levi dan Roni di dapur membuat 3 cangkir kopi. Levi yakin Pak Joko akan membahas rehap rumahnya.
Bida membuka pintu kamarnya, Bu Joko dan Pak Joko terpana melihat ruangan kamar Bida. Pak Joko duduk di sofa yang ada di kamar Bida. Bu Joko meraba sprei, memperhatikan lampu hias dan semua perabot yang ada di ruangan Bida.
"Bagus kan bu?"
"Bagus sekali pasti harganya sangat mahal." Bu Joko memperhatikan ranjang Bida dengan seksama.
"Tapi yang paling Bida suka adalah kamar mandi Bida bu.
Bida melangkah ringan menuju sebuah pintu "Ini kamar mandi Bida." Bida membuka pintu kamar mandinya.
Bu Joko dan Pak Joko mendatangi Bida, kemudian mereka bertiga masuk ke kamar mandi.
"Bida suka bath up nya bu, menyenangkan sekali bisa berendam air hangat dengan busa melimpah. Ibu juga bisa melakukannya, di kamar mandi ibu kan juga ada bath up nya. Tapi mas Levi tidak mau mandi disini, mas Levi masih memakai kamar mandi yang di dekat ruang tengah. Pernah satu kali Bida meminta mas Levi menggunakan kamar mandi Bida, eh malah mas Levi seperti marah ke Bida. Mas Levi mencueki Bida setelahnya."
Ibunya hanya mendengarkan Bida becerita, ibu sangat senang melihat ekspresi bahagia di wajah Bida, semua ceritanya meluncur penuh keceriaan. Ia tidak murung seperti ketika di rumah kakeknya.
Pak Joko keluar dari kamar Bida, lalu menuju ruang tengah. Pak Joko kembali terpana melihat Levi dan Roni sedang duduk mengaduk kopi di dapur yang terletak di sisi ruang tengah yang luas. Levi membawakan secangkir kopi ke meletakkannya di atas meja. Roni masih duduk di tempatnya. Kitchen set itu juga dilengkapi meja dan kursi.
"Silahkan Pak..."
"Ya terima kasih." Bagaimana ini? Berapa kekurangan biayanya? Darimana aku mendapatkan uang untuk membayarnya? Aku adalah asisten Pak Muhit, aku perkirakan harganya jauh dari 50 juta. Uang penjualan sapi hanya 50 juta. Mengapa nak Levi tidak konfirmasi dulu kepadaku?
"Pak jangan berkata begitu. Uang Bapak sudah cukup. Saya yakin, jika bapak menganggap saya mantu bapak, maka bapak tidak akan membahas biayanya lagi."
"Tapi biayanya pasti sangat besar."
"Begini saja, jika bapak berniat menjual sapi untuk membayar saya maka biar saya menerima sapi tersebut. Biarkan sapi itu disini. Suatu saat nanti saya akan datang untuk mengambil sapi tersebut." Levi mencoba menghargai keputusan Pak Joko
"Baiklah, bapak akan menjaga sapi itu sampai nak Levi datang." Bapak tampak lega.
"Pak, saya menjaga amanat bapak menjaga Bida selama Bapak pergi. Saya tidak akan mengecewakan Bapak, Bapak bisa percaya ucapan saya. Saya mohon bapak juga menjaga Bida selama saya pergi. Saya akan kembali setelah Bida lulus."
Pak Joko mencoba mencerna kalimat Levi.
Pak Joko merasa lega sekaligus kecewa. Pak Joko membawa Bida tergesa-gesa dari kota Banyuwangi lalu membawanya kepada Levi dengan harapan Levi akan menyelamatkan Bida dari gangguan makhluk halus dengan cara memperlakukannya sebagai istrinya.
Apakah Bida tidak cukup menarik bagi Levi?
Tapi Levi melakukan rehap sampai seperti ini demi Bida.
"Roni, kemas dan masukkan barang-barang kita ke mobil."
"Ya mas." Roni langsung berlalu mengemasi barang-barang mereka lalu memasukkannya ke dalam mobil.
Bida dan ibunya masih di dalam kamar Bida.
"Bu, Bida pernah mengusulkan agar mas Levi tidur di kamar Bida sementara, biar Bida yang di kamar depan. Tapi mas Levi tidak mau. Katanya lebih enak kamar depan. Kamar depan kan kasurnya dari kapuk bu. Masa iya lebih enak tidur di sana? Coba ibu rasakan kasur Bida. Empuk kan ?" Bida mengajak ibu duduk di kasurmya, lalu menghempaskan tubuhnya ke kasur untuk menunjukkan betapa empuk kasurnya kepada ibunya.
"Jadi selama ini, nak Levi tetap tidur di kamar depan?" Ibu bertanya.
"Ya bu." Bida masih memainkan kasurnya dengan memantulkan badannya ke kasur.
Tok tok tok "Bida..." Pak Joko memanggil Bida.
"Ya Pak." Bida membuka pintu kamar, ibu masih duduk di kasur Bida.
"Keluarlah, nak Levi mau berpamitan."
Bida diam mendengarkan kalimat bapaknya.
Levi datang berdiri disamping Pak Joko.
"Bida...." Levi memanggil nama Bida.
Bida hanya diam menatap Levi.
"Bida...., mas Levi pamit pergi dulu, ingatlah semua pesan mas Levi kepadamu."
Mata Bida berkaca-kaca, Levi memalingkan wajah saat melihatnya. Levi tidak sanggup melihat Bida seperti itu.
Bu Joko menghampiri Bida menepuk pundaknya.
"Bida... antarkan nak Levi ke depan"
Roni datang menghampiri Levi, "Semua tas sudah di dalam mobil mas."
Levi dan Roni bersalaman kepada Pak Joko dan Bu Joko.
Roni melangkah keluar diikuti Pak Joko dan Bu Joko. Mereka sengaja meninggalkan Bida dan Levi berdua.
Levi menghampiri Bida yang masih matung ditempatnya. Levi membungkuk, mendekatkan mulutnya ke telinga Bida. "Jangan lupa peraturan itu, jika Bida tidak mematuhinya, jangan harap mas Levi akan kembali."
Air mata Bida menetes mendengar kalimat Levi.
Levi memegang pegelangan tangan Bida, mengajaknya keluar menyusul orang tuanya dan Roni sambil terus berbicara.
"Ayo antar mas Levi ke depan, hapus air matamu nanti ibu dan bapak mengira jika mas Levi habis mencubitmu. Selama Bida mematuhi semua aturan itu, maka mas Levi akan kembali."
Bida mencoba tersenyum.
Sampai halaman, Levi melepas tangan Bida lalu masuk ke dalam mobilnya dan menjalankan mobilnya. Bida memandang mobil Levi hingga hilang dari pandangannya.
Matanya berkabut, Bida berlari ke kamarnya lalu merebahkan tubuhnya disana sambil memejamkan mata menyebutkan semua aturan dari suaminya Levi Braveano.
Bapak melarang ibu yang akan menyusul Bida ke kamarnya.
"Biarkan Bida sendiri dulu bu."
"Bu Joko hanya menganggukkan kepalanya."