
Simpan nomerku, dengan nama lain. Jangan sampaikan kepada Levi jika aku menelfon.
Mamanya Levi mengirim pesan singkat.
*****
# Di ruang tengah
Levi sibuk dengan laptopnya.
"Aku dapat pesan dari Pak Frans, dosen pembimbing yang killer itu, beliau menagih tugasku." Miki tampak tegang
"Aku juga dapat pesan itu" Deni juga tampak gusar.
"Aku tidak." Roni menyahut.
"Vi... Bagaimana ini, kan kamu yang mengerjakan laporannya. Apakah kamu belum mengirimkannya?"
"Aku sudah kirim mungkin ketika aku kirim sedang gangguan jadi tidak terkirim."
"Tolong kirimkan lagi punyaku Vi." Miki meminta tolong.
"Ya Vi, aku juga." Deni juga minta tolong
"Maaf ya, aku kemarin sudah menghapus data kalian, tapi jangan kuatir kalian boleh melihat laporanku, hanya beda di saran, harapan, dan kesimpulan progres saja. Foto dokumentasi juga ada. Cuma laporanku sudah berbentuk pdf. Nanti aku copikan ya."
"Apa !" Deni dan Miki kompak kaget.
Levi tampak datar seolah tidak berempati.
"Jodi, kamu tidak dapat pesan juga? Berarti nasibmu masih lebih beruntung daripada mereka." Roni tersenyum pada Jodi
Jodi segera memeriksa HP nya. Lalu tersenyum lega setelah tidak menemukan pesan dari dosennya.
"Sudahlah kalian kerjakan saja, agar kalian tidak sibuk main HP." Juga agar kalian tidak sempat memperhatikan Bida. Levi tersenyum sendiri.
Bu Joko dan Pak Joko ikut bergabung bersama Levi dan teman-temannya.
"Bu panggilkan Bida."
"Ya. Pak." Bu Joko belum berdiri, Bida sudah datang hendak ke dapur.
"Bida sini." Pak Joko memanggil Bida.
"Ya Pak." Bida duduk di samping Levi dengan gugup.
"Bagaimana rencanamu nak Levi?" Pak Joko mengalihkan pandangannya kepada Levi.
Bida cantik sekali Miki menatap Bida.
Roni langsung mengirim pesan kepada Miki dan Deni. Jangan memperhatikan Bida ! Apakah kamu ingin susah? Roni
Ting....Mengapa? Deni
Ting... Ada apa? Miki
HP Deni dan Miki berbunyi bersamaan,
Kalian tidak belajar dari masalah laporan ? Levi sepertinya menyukai Bida. Jadi jaga sikap kalian ! Roni
Miki dan Deni kaget membaca pesan dari Roni lalu keduanya menatap Roni tidak percaya. Roni mengabaikan mereka.
Oh begitu. Jadi gara-gara Bida sampai laporanku tidak dikirimkan Levi. Jahat sekali, benar-benar tidak sebanding, aku hanya menatap Bida saja sudah membalas seperti ini. Sekalian aku comblangi kamu agar kamu senang. Deni menatap Levi tidak percaya.
"Begini pak, saya akan buat kamar mandi ibu dulu karena modelnya sederhana. Lalu ketika kamar mandi ibu sudah selesai, Bida bisa tidur di kamar ibu dulu. Karena kamar mandi Bida lebih rumit pengerjaannya sehingga kamarnya akan berantakan. Sambil mengerjakan kamar mandi, saya juga akan membuat dapur di depan sana." Levi menunjuk bagian ruang makan yang cukup luas.
"Mengapa di situ?" Pak Joko bertanya.
"Desainnya dapurnya bagus kok pak. Dapur dan ruang makan akan jadi satu. Dapur yang lama akan tetap dapat difungsikan. Jika ibu mau bongkar jika dapur baru selesai juga tidak apa-apa. Tapi sebelum mengerjakan semuanya. Saya akan membuat talang air dulu di samping rumah. Jika mengandalkan air pdam, maka pancuran showernya akan kecil.
"Mas Levi, apakah biayanya cukup?" Bida menghadap wajah Levi di sampingnya.
"Cukup, jangan kuatir." Levi menjawab sambil matanya menatap bibir Bida. Ah bibir itu manis sekali...
"Bida, jika uangnya kurang. Bapak akan menjual sapi yang lain. Jangan khawatirkan itu."
Deni dan Miki memperhatikan cara Levi memandang Bida.
Benar ternyata Levi memandang Bida seperti itu... Wah Levi suka anak kecil ternyata.
"Banyak pekerja yang akan saya datangkan. Saya usahakan mereka tidak merepotkan Bapak dan Ibu. Mereka bisa tidur di teras, nanti akan saya carikan makan di luar."
Assalamualaikum.... Bu Sulis sudah ada di ruang tengah. Bu Joko bahkan belum menjawabnya. Pintu belakang rumah Pak Joko selalu terbuka dari pagi hingga sore. Malam hari, baru akan dikunci.
Bu Sulis selalu saja nyelonong masuk. Jika ada sisa dana nanti aku akan pasang pintu teralis agar udara masuk namun Bu Sulis tidak seenaknya masuk. Akan aku pasang gembok besar pada teralisnya.
Pak Joko terlihat sebal dengan kedatangan Bu Sulis.
Bukan hanya Pak Joko, semua yang ada di ruangan itu sepertinya juga tidak suka dengan kedatangan Bu Sulis.
"Bida kamu geser dikit, Bu Sulis memaksa Bida bergeser hingga duduknya merapat ke Levi." Levi kaget bercampur senang namun karena tatapan Pak Joko, Levi akhirnya bergeser menjauhi Bida.
"Begini Pak Joko, saya ini orangnya optimis. Meski sapi saya hilang tapi dunia belum berakhir maka saya akan berjuang sepenuh hati."
Semua orang diam menunggu pernyataan Bu Sulis berikutnya.
"Saya memutuskan buka katering. Masakan saya kan enak, jadi saya akan manfaatkan anugerah itu. Karena para mas-mas ini sedang KKN dan menumpang tidur disini, Lebih baik mas-mas ini pesan makannya di saya saja, nanti akan saya antarkan ke sini. Murah kok cuma 10 ribu satu porsinya. Jangan merepotkan Pak Joko. Sudah dibantu, harus membalas yang baik. Jangan sudah dibantu terus keterusan. Lagi pula apa kalian tidak kasihan ke Bida. Lihat ini tangan Bida nanti akan kasar kebanyakan masak."
Semua melongo mendengar penjelasan Bu Sulis yang panjang lebar.
"Bu Sulis maaf, Bida dan istri saya tidak keberatan...." Pak Joko berusaha menjelaskan tapi dipotong bu Sulis.
"Eh tidak boleh begitu. Meskipun Pak Joko tidak keberatan, harusnya mereka yang sadar diri. Sekalian bayar makannya di awal saja untuk seminggu ke depan sekalian buat modal saya. Bagaimana anak ganteng?"
Bu Sulis memajukan wajahnya di depan Bida untuk menanyakan ke Levi hingga Bida mundur.
Ajiib banget perempuan tua ini.... Aku tidak suka dia lama-lama di sini. Levi ngedumel sendiri.
"Baiklah. Pak Joko akan melakukan rehap. Jumlah pekerja sekitar 5 orang bisa mencapai 10 orang bahkan lebih nanti. Saya akan pesan makan di Bu Sulis. Tolong antarkan tepat waktu dan segera bereskan jika sudah selesai."
Levi mengeluarkan dompetnya. Lalu mengeluarkan 10 lembar uang ratusan ribu. Ini bu, nanti akan saya buatkan kartu pembayarannya agar tertib penghitungannya. Saya akan tambah jika kurang nanti
Levi belum menyerahkan uang tersebut, Bu Sulis langsung menyambarnya.
"Oh boleh. Mulai kapan tukangnya datang?" Bu Sulis menghitung uang tersebut dengan mata berbinar.
"Rencananya tanggal 10 nanti saya kabari lagi kepastian jumlah pekerjanya. Saya yang akan mengabari, ibu tidak usah kesini untuk tanya? Ok ?"
"Ok. Makanya Bida dekat-dekat kamu, ternyata selain ganteng kamu juga banyak uangnya. Bu Joko nanti jika Bida menikah, saya akan bantu memasak yang enak." Bu Joko berdiri, lalu melipat uangnya, menggenggamnya erat lalu berlalu... "Saya pulang dulu, Asaalamualaikum"
Semua lega dengan kepergian Bu Sulis. Hanya Bida tampak malu dikatakan dekat-dekat Levi padahal Bu Sulis yang memintanya bergeser tadi. Bida langsung menggeser duduknya menjauh hingga sampai ujung kursinya sambil menunduk malu.