Jodoh Gadis Indigo

Jodoh Gadis Indigo
Menghadirkan Bidadari


Levi tampak bosan di kamar ditemani Mira tantenya yang posesif. Roni masih setia menemaninya.


Levi melakukan komunikasi dengan Roni melalui HP meskipun mereka sedang dalam 1 ruangan.


"Levi, tante capek ingin tidur." Mira meregangkan tangannya.


"Tante pilih kamar kosong saja di apartemen."Levi menawarkan.


"Tidak nanti kamu kabur dari sini." Mira melengos saat tatapan Roni bertemu dengannya.


"Tante tidur di sampingmu saja ya." pinta Mira


"Ok. Sini tante masih cukup kok bednya."Levi tersenyum manis lalu mengedipkan matanya kepada Roni.


Roni tidak paham kedipan Levi kepadanya.


Mira naik ke tempat tidur, Levi membalutkan selimut ke tubuh tantenya. Tidak lama kemudian terdengar bunyi nafas teratur dari Mira.


Levi turun perlahan lalu duduk di sofa.


"Akhirnya.... aku bebas." Levi berkata dengan suara sangat pelan. Ia juga meletakkan jarinya di atas bibirnya agar Roni juga memelankan suaranya.


"Mas Mengapa kamu harus opname lagi? Apa kamu masih pusing?" Roni berkata pelan seperti Levi.


Levi menggeleng lalu bangkit lalu keluar klinik diikuti Roni. Levi memilih duduk di resto apartemen yang tidak jauh dari klinik.


"Bagaimana HP nya Ron, apakah sudah dikirim?"


"Sudah mas. Iphone keluaran terbaru, aku sudah meminta orangnya untuk mengisi no baru, memberi nama kontak mas Levi juga menyimpankan foto dan video. Tadi aku sudah beri nomernya ke mas Levi. Mas Levi sudah mengirim pesan kan?"


"sudah Ron." Levi mengambil HP dari sakunya.


"Sudah terbaca dari beberapa jam yang lalu Ron tapi kenapa kok belum dibalas ya."


"Telfon saja mas."


"Ya." Levi berkali-kali melakukan panggilan


"Tidak aktif Ron. Ada apa ya? Apakah Bida sudah melupakanku?"


"Berpikir positif mas. Aku yakin mungkin Bida masih belajar menggunakan Iphone atau mungkin masih di charge kan baru mas jadi harus di charge lama."


"Mungkin ya. Setelah makan kita kembali ke kamar klinik Ron atau kita akan semakin kena masalah. Tante Mira itu baik tapi cerewet kamu tidak akan tahan mendengar omelannya."


"Ya mas. Aku tidak menyangka, kamu ternyata kebanyakan belaian wanita makanya kamu anti disentuh cewek. Tantemu itu memperlakukanmu seperti balita." Roni terkekeh


Levi langsung melotot. Roni pun menghentikan tawanya.


*****


Bida dan Bu Dewi sampai di kota *****.


Bu Dewi menelfon Ayu dan membuat janji bertemu di hotel tempat Ayu menginap.


Bida dan Bu Dewi sampai di hotel.


"Ma, kok kita ke hotel? Mas Levi di rumah sakit mana?"


"Aku akan mendandanimu sebentar, kamu tampak kusut setelah dari perjalanan. Kamu mau menemui Levi seperti itu?"


"Ya ma."


Bu Dewi dan Bida sampai di depan pintu hotel. Ayu membuka pintu dan kaget dengan kedatangan Bida.


"Kak Ayu."


"Bida... ayo masuk kok bisa datang dengan Bu Dewi?"


"Ini calon istri Levi." Bu Dewi memperkenalkan. Bida hanya tersenyum saja. Bu Dewi tadi sudah menjelaskan bahwa lebih baik jika Bida diperkenalkan sebagai calon istri saja sebelum ada hitam di atas putih.


"Aku sudah menduga, Bida ini cantik sexy pula. Pasti mas Levi klepek klepek deh jika lihat bampernya." Ayu menyerocos.


Bu Dewi hanya tersenyum saja.


Bida mandi dulu di kamar Ayu lalu masih menggunakan kimono mandi. Ayu meriasnya, setelah itu memberinya baju.


"Bida bawa baju kok." Bida menolak baju dari Ayu.


"Sudah pakai saja." Ayu memaksa.


"Tapi bagaimana cara Bida mengembalikannya?"


"Mengembalikan? Bida ini baju baru buat kamu, tidak usah dikembalikan. Baju ini pilihanku atas permintaan bu Dewi.


"Aku akan ke rumah sakit, masa aku pakai baju secantik ini?"


Bida memperhatikan Dress panjang semata kaki berbahan mirip sifon tapi lebih lembut berlapis warna pink dan hijau muda. Gaun ini pasti berkibar ketika dipakai jalan.


"Benarkah? Gaun ini pasti mahal." Bida hanya bisa menurut menerima gaun itu.


"Mahal ? Eh gaun ini harganya sama sekali tidak mahal bagi bu Dewi..." Ayu nyerocos..


"Ssst sudahlah ayo cepat." Bu Dewi menghentikan ocehan Ayu.


"Rambutnya tidak usah diapa-apakan cukup disisir saja kan Bida pakai jilbab. Nanti Bida bisa menyisir rambutnya sendiri jika melepas jilbabnya." perintah Bu Dewi


Bu Dewi mengagumi kecantikan Bida setelah dirias natural oleh Ayu.


"Sudahkan ayo kita temui Levi." Bu Dewi mengajak Bida setelah mengucapkan terima kasih kepada Ayu.


Di perjalanan, bu Dewi mengirim pesan kepada Mira.


"Nanti jika aku menghubungimu, segera minta Levi agar beristirahat di apartemennya. Suruh asistennya pulang. Kamu temui aku di kamarku di apartemen. Ingat tunggu instruksi dariku. Sekarang tetap jaga Levi." ----- Dewi


"Ya kak". ------ Mira


*****


Bida dan Bu Dewi tiba di apartemen.


"Maaf ma, kok kita ke hotel lagi?"


"Ini bukan hotel, ini apartemen tempat Levi tinggal. Levi dirawat di klinik apartemen."


"Bida tampak tergesa-gesa keluar dari mobil."


Bu Dewi menggandeng Bida masuk ke apartemen. Setiap pegawai apartemen menyala Bu Dewi ramah.


Mengapa semua orang menyapa mamanya mas Levi? Batin Bida


Bu Dewi membuka pintu apartemen, lalu mengajak Bida masuk.


"Buka jilbabmu dan sisir rambutmu. Levi akan segera pulang dari klinik. Kamu istirahat dulu ya. Tunggu Levi dikamar saja."


"Kok di kamar ma? Nanti Bida ketiduran." Bida tunggu disini saja ya. Bida duduk di sofa ruang tamu.


"Eh tidak boleh kamu juga harus istirahat dulu, karena kamu harus sehat. Jika kamu sakit nanti akan mengkontaminasi Levi yang baru pulih.


"Baiklah ma." Bida menurut ia mengikuti mamanya Levi masuk ke kamar.


"Mama ada perlu dulu. Kamu tidak apa-apa kan menunggu Levi sendirian."


"Ya ma. Bida akan sabar menunggu mas Levi datang."


Bu Dewi menghubungi Mira.


# Di kamar klinik.


Mira menerima panggilan kakak iparnya.


"Iya" Jawabnya.


"Levi... kamu sepertinya sudah sehat, lebih baik kamu istirahat di apartemenmu saja. Pintumu sudah diperbaiki.


Kode kamarmu sementara adalah *****. Nanti kamu harus mengganti kode kamarmu ya.


Tante harus pergi karena ada kepentingan.


Asistenmu itu suruh pulang saja, ia oasti sudah capek menemanimu. Kamu sendiri harus istirahat.


"Baiklah tante. Tante baik deh."


Levi menekan panggilan dokter sengaja ingin membuat dokter Didi kesal. Pasti Dokter Didi hanya menuruti kemauan mamanya saja untuk menahannya di kamar klinik.


Dokter Didi datang ke kamar Levi.


"Dokter tolong periksa aku, kata tante, aku sudah diijinkan pulang sekarang. Aku kuatir ada sesuatu dalam diriku yang belum beres."


Dokter Didi paham maksud Levi yang hanya menjahilinya. Ia memeriksa detak jantung Levi dengan stetoskop lalu berbisik pelan.


"Hati-hati, jangan berhalusinasi lagi lebih baik hadirkan seorang bidadari cantik ke kamarmu dan lampiaskan semua karena pengaruh obat itu masih mengendap di darahmu."


Dokter Didi menyeringai menang melihat kekesalan Levi.


Levi sangat kesal lalu pergi meninggalkan kamar klinik tanpa berkata apa-apa. Kemudian berbalik, "Tante terima kasih ya. Roni istirahatlah."


# Di kamar Levi.


Bida ketiduran di kasur Levi. Gaunnya tersebar disamping kiri kanannya membuatnya semakin cantik dengan riasan natural dan rambut terurai.


Levi masuk apartemen langsung menuju kamar mandi dan mengguyur tubuhnya di shower. Ia ingin segera tidur di kasurnya sendiri.


Ia hanya menggunakan celana boxer dan menuju kamar. Ia tertegun melihat Bida di atas kasurnya. Ia teringat ucapan dokter Didi


Apakah aku masih berhalusinasi, Bida tidak mungkin ada di sini di kasurku. Kode pintuku baru, tidak mungkin ada yang bisa masuk apartemenku jika tidak tahu kodenya.


"Bida.... "Levi menempatkan dirinya di atas Bida namun menahan berat badannya dikedua tangannya.


"Bida..." Levi mengecup keningnya


Aneh terasa nyata sekali. Apakah benar pengaruh obat itu masih mengendap di darahku. Bagaimana ini? Mengapa jantungku berdebar sekali.


"Bida..."


"Mmmmh.." Bida membuka matanya dan tertegun menatap wajah Levi sangat dekat diatasnya. Bida langsung memeluk Levi erat.


"Aku merindukanmu mas..." Bida terus memeluknya tidak peduli dengan bobot tubuh Levi yang membuatnya sulit bernafas.


Levi membalik posisinya. Bida di atasnya sekarang masih memeluknya.


"Bida benarkah ini kamu Bida?"


"Ya mas. Aku Bida."


Levi menatapnya dengan pandangan sayu. Ia larut dalam pelukan Bida.


Bida terasa sangat nyata. Mungkin aku harus melampiaskannya agar aku segera pulih. Imajinasi ini terasa sangat nyata. Obat itu sangat keparat.


"Mas Levi, apakah mas Levi juga merindukanku?" Bida masih memeluknya.


"Tentu saja" Levi menciuminya penuh kemesraan, Bida tidak menolaknya sama sekali. Rasa rindu diantara keduanya membuat mereka lupa diri hingga kemudian terdengar rintihan kesakitan dari Bida.


"Saakiiit mas"


"Sedikit lagi sayang.. " Levi akhirnya menuntaskannya. Ia memeluk Bida dalam dekapannya kemudian keduanya tertidur.


Pagi hari, Levi terbangun dengan tubuh Bida masih di sampingnya. Levi menyelimuti tubuh Bida. Ia melihat bercak darah di sprei. Levi mulai takut. Ia mengenakan celananya lalu keluar dari kamar menuju sofa.


Di Sofa, tampak mamanya sedang duduk memainkan HP nya.


"Mama... Sejak kapan mama disini?"


"Sudah setengah jam yang lalu. Harusnya kamu mengganti kode pintumu. Aku menekan bel tapi tidak ada respon akhirmya aku coba kode kemarin ternyata berhasil. Setelah aku masuk ternyata kamu masih tidur jadi aku menunggumu bangun disini.


Levi tampak semakin panik.


"Ma... ikut Levi ma..." Levi menarik tangan mamanya lalu mengajaknya masuk ke kamarnya.


"Ma.. Lihat ma. Apa yang mama lihat?" Tanya Levi.


Bu Dewi tampak malu melihat kamar Levi yang berantakan dengan baju Bida berceceran


"Apa maksudmu meminta mama melihatnya?" Bu Dewi akan kembali ke sofa.


Levi mencegahnya.


"Ma... Levi harus periksa lab ma, Levi berhalusinasi bersama Bida ma. Gadis di Foto ini . Sekarang Levi lihat di atas kasur ma. Bahkan Levi melakukannya, mama tidak lihat kan. Ada noda darah di sprei itu ma. Levi pasti sudah gila ma. Levi berimajinasi, mungkin obat itu menyerang saraf Levi. Bahkan Levi masih merasakan menginginkannya lagi sekarang."


Bu Dewi menyeret Levi ke ruang tamu lalu


plak sebuah tamparan keras mengenai wajah Levi.


"Bisa-bisanya kamu mengatakan berimajinasi."


"Benar ma, Levi masih merasakannya. Levi sudah melakukan hal itu ma. Levi melihat noda darah di sprei. Itu terasa sangat nyata ma. Apakah Levi gila ma?"


Plak Bu Dewi kembali menampar putranya hingga tangannya membekas merah di wajah Levi.


"Kamu tidak gila, kamu bodoh. Kamu laki-laki bodoh yang kurang ajar. Bisa-bisanya kamu bilang berimajinasi. Bida adalah istrimu. Mama yang membawanya kemari. Dan kamu sudah menodainya sebelum ada hitam diatas putih. Mama kira kamu bisa menahan dirimu. Tapi mungkin benar jika pengaruh obat itu masih ada. Tapi hadapi kenyataan itu, jangan bilang kamu tidak sadar melakukannya."


Levi bengong, mencoba mencerna penjelasan mamanya.


Ia terbata-bata.


"Ma... Bida ada di kamar Levi sekarang ? Mama yang menjemputnya dari rumahnya? lalu Levi ... Levi sudah..."


"Ya." Jawab Bu Dewi tegas.


Levi langsung berlari ke kamarnya. Melihat Bida masih tertidur. Levi mengingat lagi rintihan kesakitan Bida tadi malam


Levi mendekati Bida, ia duduk di lantai kamar memandang lekat wajah Bida yang tampak letih. Membelai rambutnya, lalu meneteskan air matanya.


Bida... kamu benar ada disini... maafkan mas Levi Bida.


*****