
Setelah makan malam, Bu Joko dan Bida merapikan meja makan. Pak Joko, Levi dan teman-temannya berpindah duduk di ruang tengah.
Setelah membereskan semua peralatan makan, Bida berencana ke kamar tapi Pak Joko memanggilnya.
"Bida... sini."
Bida mendekat, Levi segera menggeser duduknya untuk memberi ruang buat Bida tapi Bida duduk di samping Pak Joko.
Levi tampak kecewa. Deni tersenyum meremehkan Levi. Roni memberi isyarat kepada Deni, tapi Deni tidak peka.
Kamu menertawaiku, awas kamu nanti.
"Pak, Bida capek sekali, high heel Bida tinggi banget. Apalagi tadi Bida tertindih mas Levi. Badannya berat sekali."
"Bida, jangan bilang begitu. Nak Levi ini suamimu." Bu Joko merasa ikut malu, Bida mengungkitnya.
"Tapi memang ya bu. Mungkin ditambah berat dahan pohon kenanga itu jadi tambah berat. Tadi kan ibu juga lihat, tiba-tiba Kretek Brak, Bida langsung jatuh tertimpa badan mas Levi dan dahan itu. Untung Bida tidak penyet."
Miki dan Deni tidak bisa lagi menahan tawanya. "Ha ha ha... " namun langsung diam ketika sorot mata Pak Joko menatap mereka.
"Bu, Bida capek, mau tidur dulu ya. Permisi..."
Bida berdiri pergi menuju kamarnya.
Levi diam saja.
"Nak Levi pasti juga capek, apakah nak Levi tidak tidur juga ?" Pak Joko setengah hati mengatakannya.
"Ya Pak. Saya juga capek. Permisi saya mau tidur dulu." Levi pergi meninggalkan ruang tengah.
Tidak lama kemudian Pak Joko dan Bu Joko juga pamit untuk istirahat.
Setelah Pak Joko dan Bu Joko pergi.
"Aku kasihan ke Levi. Kau lihat tadi kan?" Deni bertanya sambil menahan senyumnya.
"Levi hebat menurutku, mau bertanggung jawab seperti itu. Levi memang jantan." Jodi mengungkapkan kekagumannya.
"Jantan yang tidak bisa dibuktikan secara fisik maksudmu? " Miki terkikik..
"Bayangkan saja, melakukan akad nikah lalu kembali ke aktivitas masing-masing kan, dimana letak senangnya. Mengapa Levi tampak bahagia sekali." Deni menimpali.
"Aku yakin Levi memang bahagia, Menurutku Levi mencintai Bida." Roni memiliki pendapat berbeda dengan teman-temannya.
"Mengapa kamu berpikiran begitu Ron? Di kampus, banyak cewek yang lebih cantik dan sexy dibanding Bida. Jika Levi ingin menikah setidaknya tidak sampai setahun lagi, Levi sudah lulus. Bahkan jika Levi sudah kebelet nikah ya nikah sekarang saja. Kan enak bisa kuliah bareng." Miki menjelaskan pendapatnya.
"Semua ini karena si nenek lampir itu." Roni tampak kesal.
"Kamu tadi lihat, mulutnya perot begitu sudah keriput, perot, menjengkelkan pula." Deni juga menyatakan ketidak sukaannya pada Bu Sulis.
"Kurang 3 hari lagi, kita akan meninggalkan rumah Pak Joko." Jodi menunjukkan 3 jarinya.
"Aku tidak kembali, aku disini menemani mas Levi untuk rehap rumah Pak Joko."
"Selamat ya Ron, kamu akan jadi asisten sejati." Deni meremehkan Roni.
"Kamu jangan keterlaluan Den, kamu tidak tahu yang sebenarnya. Jika saja aku bisa menggantikan posisi Roni jadi asistennya Levi, aku akan sangat bersyukur."
"Jodi kamu kok jadi seperti Roni. Selalu membela Levi."
"Karena ... " Roni memukul pundak Jodi.
"Sudahlah Jodi, jangan teruskan atau kamu akan menyesal."
"Ok Ron, maaf hampir keceplosan." Jodi meletakkan jarinya dibibirnya tanda dia akan bungkam.
"Kalian ngomong apa sih?" Miki penasaran.
"Sudahlah aku mau tidur." Roni berdiri meninggalkan mereka.
Aku akan memeriksa laporan keuangan apartemen dan rumah kos. Aku harus sibuk malam ini agar otakku tidak berpikir ke arah sana... kasihan sekali Bida sampai bilang tubuhnya capek. Pasti badan Bida merasakan pegal akibat kejatuhan dahan pohon ditambah beban tubuhku. Tingginya pohon dan pengaruh gravitasi bumi membuat dahan itu jatuh cukup keras. Punggungku saja masih terasa nyeri.
Levi membuka laptopnya lalu memeriksa semua laporan dengan cermat. Ia juga membaca dan mengirim email untuk urusan bisnis apartemennya. Levi juga memeriksa perkembangan sahamnya.
Roni masuk kamar dan melihat Levi serius dengan laptopnya. Roni tidak berkomentar apa-apa, Roni memilih membaringkan tubuhnya lalu tertidur pulas.
Levi sudah memeriksa laporan bisnis dan sahamnya. Levi memeriksa lagi rancangan kamar mandi Bida dan anggarannya. Levi juga memeriksa lagi rancangan dan anggaran kamar mandi Pak Joko dan dapur Bu Joko. Semua sudah beres, waktu sudah menunjukkan pukul 00.30 tapi Levi tetap belum mengantuk. Otak levi dipenuhi dengan Bida saat ini. Pernyataan Akad nikahnya tadi terus terngiang. Levi merasa galau. Kejadian demi kejadian yang terjadi antara dia dan Bida terus terbayang membuatnya tersenyum sendiri.
Ah aku harus olah raga agar bisa semakin capek lalu bisa tidur.
Levi melakukan sit up, push up hingga nafasnya ngos ngosan. Lalu ia keluar untuk mengambil air minum. Ketika melewati kamar Bida, ia kembali teringat Bida.
Maka Levi kembali melakukan sit up dan push up hingga benar-benar lelah lalu terbaring di sisi Roni.
Roni sempat terbangun mendengar nafas Levi, ia membuka mata sebentar melihat Levi sedang melakukan push up. Roni ingin sekali menertawakannya, tapi Roni menahan diri.
Malam yang sibuk sekali ya Vi. Selamat malam. Roni memejamkan matanya lagi karena masih mengantuk.
# Di kamar Bida.
Bida yang sudah capek langsung merebahkan badannya. Tidak perlu waktu lama, Bida sudah terlelap dalam tidurnya.
#Dalam mimpi Bida.
Bida berjalan bergandengan dengan Levi di taman bunga yang sangat indah.
"Levi, siapa dia?" Seorang wanita cantik menyapa Levi di taman itu.
"Oh ini Bida pacarku." Jawab levi.
"Dia tampak masih kecil. Dia tidak cocok bersamamu." Perempuan itu melepaskan tangan Bida dari tangan Levi.
"Ayo Levi, kita tinggalkan dia." Perempuan itu menggandeng tangan Levi menjauh.
Levi hanya sesekali menoleh kepada Bida.
Nenek dan bibi datang, "Kejar Levi Bida, jangan menyerah."
Bida berlari menyusul mereka, lalu Bida menarik tangan perempuan itu, melepaskan pegangan tangannya di tangan Levi.
"Mas Levi milikku, kami sudah menikah."
Levi tersenyum kepada Bida lalu Bida memeluk Levi erat.
"Jangan menjauh dariku, atau aku akan dibawa kabur olehnya." Levi menunjuk perempuan cantik itu.
"Aku akan merebutnya darimu." Perempuan itu berusaha memisahkan Bida dari pelukan Levi.
Levi mempertahankan Bida dalam pelukannya.
Levi menatap dalam mata Bida, "Bida aku pamit dulu, aku akan kembali lagi nanti." Levi melepaskan pelukannya lalu pergi menjauh semakin lama semakin menjauh meninggalkan Bida dan perempuan cantik itu.
Bida mengejar levi namun langkah kakinya tidak mampu mengejarnya. Bida berusaha berlari namun tetap tidak mamu mengejarnya. Perempuan itu tertawa terbahak-bahak. Dia meninggalkanmu karena kamu tidak layak untuknya. Lebih baik kamu cepat tumbuh dewasa, agar bisa mengejarnya.
Perempuan itu berjalan dengan santai tapi berhasil mendahului Bida yang berlari. Perempuan itu hampir menyusul Levi yang tengah berjalan. Bida berlari lebih kencang berusaha mendahului perempuan cantik itu. Setelah berhasil mendahuluinya, Bida membentangkan kedua tanganya untuk menghalanginya menyusul Levi.
Perempuan itu tersenyum meremehkan Bida. Bida sangat marah lalu menarik rambut perempuan itu, hingga perempuan itu menjerit kesakitan dan membalas menarik rambut Bida juga. Bida semakin marah lalu menendang perempuan itu.
#Alam nyata
Gedebuk
Bida terbangun dari mimpinya. Kakinya terasa sakit karena terbentur meja di samling ranjangnya. Rupanya Bida mimpi. Waktu menunjukkan pukul 00.30 Wib.
Bida naik kembali ke atas ranjang untuk memejamkan matanya. Namun Bida tidak bisa tidur karena setiap memejamkan mata, bayangan kejadian yang terjadi antara dia dan Levi ada di pelupuk matanya.
Bida tidak bisa tidur lagi, Bida mengambil buku desain bajunya. Bida mencoba beberapa membuat desain baju muslim dan baju tidur hingga setelah membuat 5 desain baju, barulah Bida mengantuk, waktu sudah menunjukkan pukul 02.15 Wib. Bida akhirnya bisa memejamkan matanya.