
Roni datang ke ruang tengah lalu duduk dengan ekspresi serius.
"Ada apa Ron, tegang banget?" Apakah Levi memecat Roni. Jodi penasaran.
"Begini teman-teman, aku akan menyampaikan sesuatu. Levi melarang kita menggoda Bida. Karena kita harus menghormati Pak Joko."
"Berlebihan banget, siapa yang mengganggu Bida. Jelas-jelas Levi yang pernah menyentuhnya. Kamu ingat kan waktu itu, Levi memeluk Bida di pangkuannya." Miki protes.
"Itu kan kecelakaan. Levi dan Bida tidak sengaja." Deni mencoba mengingatkan Miki atas kejadian tersebut.
"Kecelakaan yang menyenangkan bagi Levi." Miki terkekeh.
"Kok sepertinya alasannya tidak masuk akal. Kecuali Levi menyukai Bida, maka itu cemburu jika kita menatap Bida. Wah seru nih, aku penasaran sekali." Jodi membuat asumsi.
"Masa sih, cewek-cewek di kampus banyak yang antri. Masa Levi tergoda dengan Bida. Bida masih kecil." Miki tidak percaya dngan asumsi Jodi.
"Begini saja, besok kita coba pancing Levi agar kita tahu kebenarannya." Deni mengusulkan.
"Aku sudah memperingatkan kalian. Aku tidak akan ikut-ikut kalian. Bagaimana denganmu Jodi?"
"Aku bingung nih pilih kubu yang mana?"
"Aaah.. "Roni mengusap wajahnya. "Aku serius dengan kegiatan KKN ini. Semua laporan juga Levi yang mengerjakan." Roni tidak meneruskan kalimatnya.
Jodi ngeri melihat ekspresi Roni. Pasti Roni ingin nenyampaikan hal penting lain , tapi tidak bisa mengatakannya.
"Aku pilih aman saja." Jodi mantap mengatakannya.
"Pilihan cerdas." Roni memberikan ibu jarinya buat Jodi.
"Tidak bisa begitu dong. Misalkan saja Levi menyukai Bida. Bida kan masih sekolah artinya hanya cinta lokasi, belum tentu juga Bida menanggapinya. Ayo bersaing sehat. Aku juga akan partisipasi." Miki mengedipkan matanya ke arah Deni.
"Ok. Aku ikut Miki." Deni semangat.
"Terserah ! Aku mau tidur." Roni berdiri diikuti Jodi.
"Aku juga mau tidur." Kata Jodi.
Sebenarnya Jodi ingin bertanya sesuatu kepada Roni.
"Roni..."Jodi menarik tangan Roni setelah menjauh dari ruang tengah.
"Ada apa?"
"Kamu yang ngirim pesan ke Miki kan? tentang uang bayar kos itu."
"Lebih baik kamu diam jika tidak ingin apes. Pilih selamat atau tamat? Levi orangnya sangat perhitungan. Jangan anggap bisa lolos jika cari gara-gara dengan Levi."
Roni mengibaskan tangannya. Lalu meninggalkan Jodi.
Wah keren banget Levi sudah bisa nulari Roni jadi macho gitu. Ah lebih baik aku tidur saja. Heran ngantuk sekali.
*****
Malam ini suasana sunyi sekali. Semua orang sedang tertidur pulas.
Wowo, nenek dan Bibi berkumpul di atas pohon kenanga. Mereka juga merasakan ada sesuatu yang ganjil. Angin berhembus sangat tenang. Sunyi sekali...
"Ada yang akan datang," nenek memejamkan mata. Wowo mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru. Beberapa orang menaiki mobil pick up parkir di depan rumah Pak Joko. Wowo menatap sosok hitam yang ikut dalam rombongan mereka.
"Bos, sepi sekali bos. Ilmu Bos hebat, kita bisa leluasa nih."
"Siapa dulu dong. Orang botak yang disebut bos menepuk dadanya bangga."
Mereka berjalan dengan santai menuju kandang Pak Joko. Nenek dan Bibi mulai paham niat buruk mereka.
Sosok hitam itu melayangkan pandangannya ke arah Wowo lalu menunduk takut.
Wowo menatapnya marah dengan mata menyala yang mengisyaratkan sesuatu. Wowo mengeluarkan suara geramnya.
"Hmmmmm...."
Sosok hitam itu, mengangkat wajahnya setelah mendengar geraman Wowo. lalu terjadilah komunikasi tanpa suara diantara mereka.
"Aku hanya mengikuti majikanku, aku tidak ingin mengangggumu. Aku hanya membantu agar majikanku bisa membawa sapi-sapi itu."
"Itu sapi majikanku. Kau cari perkara denganku ya. Aku tidak akan melepaskanmu juga majikanmu itu."
Wowo terbang mencengkram sosok hitam kurus yang tadi masih bertahan di atas pick up. Sekarang Wowo membawanya terbang ke pucuk pohon kenanga. Nenek dan bibi menatap sosok hitam itu penuh kebencian.
Sosok hitam itu semakin ciut nyalinya.
"Aku hanya bertugas mengamankan situasi agar tenang. Yang terpenting malam ini, majikanku dapat sapi. Jika kalian tidak mau Bos ku mengambil sapi majikanmu. Aku akan kena masalah dari seniorku. Seniorku juga sosok sepertimu. Sosok hitam kurus itu menatap Wowo ingin belas kasihan."
Sementara Bos botak dan para pembantunya sudah mengeluarkan 2 ekor sapi Pak Joko yang paling besar lalu mengikatnya ke tempat biasa Pak Joko menjemur Sapi-sapinya saat pagi.
Nenek dan bibi menatap Wowo lalu mengangguk tanda memahami maksud Wowo. Bibi dan nenek memegang pergelangan tangan sosok hitam itu di kiri dan kanannya lalu meniupkan sesuatu di telinga kiri kanannya. Kemudian nenek dan bibi membawa sosok hitam kurus itu terbang ke arah Bos botak. Sampai di depan Bos botak, Nenek dan Bibi mendorong tubuh sosok hitam kurus itu ke arah Bos botak dari arah depan.
Bos botak mengejang, hingga ngiler, matanya mengerjap.
"Bos, ada apa bos?" para pembantunya bingung.
Nenek meniup telinga para pembantu itu hingga mereka terdiam.
Tubuh Bos botak sudah tidak mengejang lagi. Ia berlalu dari kandang Sapi diikuti para pembantunya. Mereka meninggalkan 2 ekor sapi Pak Joko yang sudah mereka ikat.
Wowo terbang memimpin rombongan Bos Botak dan pembantunya. Bos botak sudah dirasuki sosok hitam kurus. Nenek dan bibi mengapit lengannya. Mereka berjalan menuju kandang Sapi Bu Sulis. Di depan kandang, Gatot tidur berbalut selimut di atas dipan bambu. Gatot dan semua keluarga Bu Sulis tertidur pulas.
Pembantu Bos botak membuka gembok rantai kandang menggunakan kapak, lalu mereka masuk kandang dan mengeluarkan satu-satunya sapi di kandang itu.
Mereka berjumlah 3 orang. Satu Bos botak dan 2 orang pembantunya. 2 orang pembantunya menggiring sapi naik ke pick up.
Nenek dan bibi melepaskan tangannya dari Bos botak. Setelah Sapi diikat sempurna di atas pick up, 2 orang pembantunya ikut naik di bak bersama sapi. Bos botak naik ke tempat duduk supir bersiap menghidupkan mesin pick upnya. Tidak ada pembicaraan di antara mereka.
Wowo menatap bos botak tajam.
"Keluar kamu dari orang botak itu."
"Ya." Sosok hitam kurus keluar seperti asap dari tubuh bos botak. Bos botak tertunduk lemas. Kepalanya bersandar di kemudi.
Pletak Pletak Nenek dan Bibi memukul kepala pembantu bos botak yang sedang menemani sapi di bak pick up. Hingga mereka sadar.
"Ayo berangkat Bos. Sapi sudah siap."
Kata salah satunya.
"Ok." Bos botak sedikit linglung lalu menghidupkan mesin mobil. Mobil pick up mulai melaju pelan.
"Kedua orang pembantu bos botak menatap sapi dengan linglung."
Lalu datang sekelebat makhluk tinggi besar hitam, menyeringai menunjukkan taringnya dengan mata menyala. Makhluk hitam itu mengikuti mereka. Kedua pembantu bos botak, ketakutan dengan mulut menganga tidak mampu berkata apa-apa. Salah seorang dari mereka kencing di celana. Sedangkan satunya menatap ke mata menyala itu dengan tubuh gemetar. Makhluk hitam besar itu menghilang. Kedua pembantu bos botak menarik nafas lega. Tiba-tiba, mereka melihat ada sosok hitam kurus ikut duduk di bak pick up bersama mereka. Matanya juga hanya menunjukkan bagian putih yang berkilat. Kedua pembantu bos botak itu pingsan di atas bak pick up, tergeletak di samping sapi Bu Sulis yang terikat.
Sosok hitam kurus itu menyeringai lega karena misinya membantu membawa sapi berhasil. Ia menatap manis pada sapi yang terikat tanpa peduli dengan 2 tubuh pembantu bos botak yang tergeletak lemas.