
"Bida, nanti sore setelah bapak pulang kerja, kita akan belanja di kota. Bapak akan membelikanmu tas dan sepatu baru untuk sekolah besok." Pak Joko mengatakannya ketika bersalaman dengan Bida sebelum berangkat kerja.
"Tapi mas Levi sudah membelikannya Pak. Bahkan mas Levi sudah memberi uang saku kepada Bida."
"Uang saku ?" Pak Joko heran karena Levi sudah pergi.
"Ya Pak. Mas Levi memberi Bida kartu atm, Bida menyimpannya di dompet."
"Tapi bapak yang akan memberimu uang saku, sebelum nak Levi datang biarkan bapak yang memberimu uang saku. Jangan gunakan uangnya nak Levi. Kita sudah banyak merepotkannya."
"Tapi Bida sudah berjanji akan patuh aturannya mas Levi Pak. Jika Bida tidak patuh maka mas Levi tidak mau kembali lagi."
"Baiklah. Gunakan uang di atm itu jika keadaan sangat terpaksa saja." Pak Joko semakin heran.
Aturan apa ? Mengapa Levi sangat memperhatikan Bida sejauh itu sedangkan pernikahan mereka hanya sebatas akad saja. Lagi pula mengapa Bida sangat patuh.
"Baiklah bapak berangkat dulu."
*****
Hari pertama sekolah, Bida sudah siap dengan seragam, tas dan sepatu barunya. Bida juga menggunakan masker wajah karena jarak sekolahnya lebih jauh dari sekolahnya yang dulu. Bida malah menemukan ide akan minta ijin mengenakan masker meski di sekolah, Bida khawatir kelasnya nanti dekat kantin sekolah.
Bagaimana jika kelasku dekat kantin, lalu ternyata penjual di kantin tersebut memakai jasa sosok penglaris kumal dan bau disana. Perutku akan mual. Aku akan beralasan jika aku alergi. Aku kan memang alergi dengan bau sosok penglaris kumal
Bida menuntun sepeda pancalnya keluar dari halaman rumah, menatap ke atas pohon kenang namun tidak melihat keberadaan Wowo.
Bida mengayuh sepedanya dengan riang.
Sampai di sekolah, Yogi sudah menyambutnya di gerbang sekolah. Bida turun dari sepedanya, menuntun sepedanya menuju ruang parkir yang masih kosong rupanya Bida berangkat terlalu awal. Bida mengarahkan pandangannya ke sekitar, pengalamannya bertemu dengan sosok laki-laki muda, bapak-bapak, dan wanita gendut dengan cutter di tangannya membuatnya bergidik. Bibi menemaninya di sekolah. Bibi menjaga jarak dengan Bida. Bida sama sekali tidak mengajak bibi berbicara agar tidak ada yang curiga.
"Bida kelasmu dan kelasku jauh. Kelasmu disana dekat kantin. Kelasku di ujung sana"
Yogi menunjukkan jarinya, Bida mengikuti arah telunjuk Yogi.
"Prendi sekolah di Surabaya, mamanya memilihkan sekolah yang terbaik di sana. Ergi sekolah di SMA. Jadi sekarang kita berdua."
Yogi tersenyum ceria.
"Berdua apanya? Lihat sekelilingmu! Teman-teman kita sudah berdatangan." Bida tersenyum geli kepada Yogi.
Lalu tiba-tiba hadir wajah Levi di depannya sedang memperingatkan peraturan pertama dan kedua. Bida menganggukkan kepalanya.
"Bida... kamu kenapa kok nunduk gitu?" Yogi membuat bayangan Levi menghilang.
"Ah tidak apa-apa." Bida meninggalkan Yogi.
"Mau kemana?" Yogi menghadang Bida.
"Ke kelasku." Bida menjawab singkat, Yogi menyingkir memberi Bida jalan.
Bida membenahi masker yang dipakainya karena tadi Bida sempat membuka maskernya ketika bebicara dengan Yogi.
Perhatian kepada semua siswa agar berkumpul di halaman sekolah. Suara itu menggema ke seluruh wilayah sekolah. Bida mempercepat langkahnya mencari kelasnya lalu meletakkan tasnya dan ikut bersama para siswa lain yang menuju halaman.
Semua siswa berkumpul di halaman untuk mendapatkan pengarahan. Setelah memberi sambutan, semua guru diperkenalkan oleh Bapak Kepala Sekolah.
Ia memperhatikan ke deretan barisan siswa.
Bida mengenalinya, ia yang membantu Bida mengeluarkan sepedanya dari parkiran dan Bida menyadarinya bahwa ia bukan manusia
Maka tidak ada yang terusik dengan kehadirannya selain Bida.
Ia pasti jenis makhluk yang bisa berubah penampilannya entah seperti apa wujud aslinya. Mungkin aslinya ia seperti Wowo.
Bertaring tajam dan berbulu lebat seperti singa.
Bida mengikuti gerak laki-laki itu yang mondar mandir. Bibi yang melihat kecemasan di wajah Bida segera menghampirinya. Laki-laki itu langsung menatap ke arah Bibi yang melayang mendekati Bida.
Bida langsung menyadari bahwa mengajak bibi tidak memperbaiki keadaan karena justru keberadaan bibi justru mengundang kedatangan makhluk halus lainnya. Seperti sekarang, laki-laki itu berjalan seperti manusia, tersenyum mendekatinya yang sedang ditemani bibi.
"Akhirnya aku menemukanmu." Laki-laki itu berdiri dekat sekali tepat di depannya.
Membuat Bida ketakutan.
Bibi mendekati laki-laki itu.
Laki-laki itu menatap bibi dan Bida bergantian. "Aku tidak akan menyakitimu, kita akan berteman baik." Laki-laki itu tersenyum menggoda Bida. Membuat Bida semakin ketakutan mengingat sosok perempuan gendut dengan pisau cutter di tangannya.
Bida memejamkan mata sejenak menunggu, namun tidak ada suara teriakan wanita gendut yang disangka akan segera datang kepadanya. Bida membuka matanya perlahan. Laki-laki muda dan bibi menghilang daro pandangannya. Kemana mereka? Bida menoleh ke kiri, kanan dan kebelakang mencari mereka.
# Levi di apartemen
Sepi sekali, ini hari pertama Bida sekolah, bagaimana jika ada anak tampan yang mengajak Bida berkenalan lalu a
seiring berjalannya waktu Bida tertarik kepadanya.
Levi membuka layar ponselnya melihat fotonya dan Bida saat wisuda, melihat foto dan video dirinya dan Bida yang dikirim Jodi dan Roni. Foto saat ada lipstik Bida yang menempel belepotan di bibirnya, dan cetakan bibir Bida di pipinya. Levi tersenyum.
Ah bibir itu, aku menyesali kejadian itu tapi aku mensyukurinya. Levi meraba bibirnya sendiri. ciuman pertamaku, di usia 25 tahun. Usiaku mungkin yang tertua di antara teman-temanku karena aku mengambil D3 manajemen bisnis di Surabaya, baru kemudian kuliah lagi ambil S1 jurusan arsitek di ***** karena ketertarikanku ke dunia Properti. Sedangkan Bida masih terlalu muda...
"Awas kamu Bida, taati peraturannya jangan melanggarnya sedikitpun !" Levi mengatakannya secara langsung pada bayangan Bida yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Lalu ia tertawa geli pada dirinya sendiri.
Levi mengirim pesan kepada Roni.
Roni, cetak semua fotoku bersama Bida
Khusus fotoku berdua bersama Bida ketika berangkat wisuda kamu cetak ukuran poster sekalian cari bingkainya. --- Levi
Levi mengernyitkan dahinya, lalu kembali mengetikkan pesan.
Besok pulang kuliah, berikan nota tanda ordernya kepadaku biar aku yang mengambilnya sendiri. ---- Levi
Ya mas ---- Roni.
Levi menggulingkan tubuhnya di sofa di apartemennya mengingat semua kejadian yang terjadi bersama Bida.
Bayangan Bida yang panik tergopoh mengambil benda segitiga warna oranye itu membuat Levi terkikik sendiri.
Lalu bayangannya ketika insiden menyelimuti Bida kembali terlintas. Setelah terdiam lama.... menyadari sesuatu dalam dirinya. Levi bangkit dari sofa. Keluar dari unitnya menuju ruang fitnes, Ia gunakan hampir semua jenis alat yang ada disana hingga kelelahan.