
Levi berpamitan meninggalkan Bida dan teman-temannya menuju kamar depan.
Levi membuka laptopnya untuk melihat-lihat desain kamar mandi untuk renovasi hotelnya di Surabaya.
Levi merasa mengantuk, Levi mematikan laptopnya lalu berbaring di tempat tidur. Tidak lama kemudian, Levi sudah tertidur pulas.
# Di dalam mimpi Levi.
Bida dan Levi sedang duduk di dekat pohon kenanga. Bida menyandarkan kepalanya di dada Levi.
"Mas, kita sudah menikah selama setahun. Aku sangat ingin segera memiliki seorang putra yang wajahnya mirip denganmu."
Levi mengecup kening Bida.
"Kita harus tetap berusaha dan berdoa kepada Allah."
"Hari ini, mas tidak bekerja kan?"
"Tidak, aku ingin seharian bersamamu." Levi mencium tangan Bida.
"Mas, ayo kita ke kamar."
Levi menggandeng Bida ke kamar. Kamar mereka sangat indah. Levi sudah mendesain kamarnya dengan sangat indah. Kamar mereka bertema kahyangan. Di langit-langit kamarnya ada lukisan awan tiga dimensi, Spreinya bergambar sungai, di dindingnya terdapat relief pepohonan dan taman bunga.
"Aku mau ke kamar mandi dulu ya mas."
"Ya."
Bida keluar dari kamar mandi. Bida sudah ganti baju. Sekarang Bida sudah menggunakan gaun yang pernah dipakainya ketika pertama Levi melihatnya. Levi sangat terpesona, mendekati Bida lalu menggendongnya. Bida dibaringkannya di tempat tidur. Lalu Levi mengecup bibirnya.
"Mas, berdoa dulu, agar kita diberi anak laki-laki yang gantengnya seperti kamu."
"Aku sudah berdoa tadi ketika membaringkanmu."
Levi kembali mengecup bibir Bida, istrinya yang sudah setahun dinikahinya.
Selanjutnya semua terjadi. Levi dan Bida melakukannya dengan penuh kedamaian.
Saat setelah selesai, Levi mendekap Bida ke dalam pelukannya. Namun tiba-tiba Bida melepaskan diri dari pelukannya. Lalu berdiri hendak meninggalkannya.
"Bida, kamu mau kemana?"
"Mas Levi jahat."
"Ada apa? Bida..." Levi bangkit ingin mengejar Bida yang semakin menjauh.
"Aow" Levi terjatuh dari tempat tidur. Dahinya menatap ujung meja di samping tempat tidur.
#Kembali ke alam nyata.
*Aku mimpi, ya ampun, apa yang terjadi denganku? Mengapa aku mimpi melakukan hal itu dengan Bida. Bida masih kecil. Untung saja ini cuma mimpi. Apa yang ku pikirkan, aku tidak serendah itu, mengapa aku sangat menikmatinya meskipun hanya dalam mimpi. Aku benar-benar laki-laki jahat.
Ada satu keyakinan, yang membuatku bertahan*... suara dering telpon itu adalah lagu Anji.
Levi mengambil HP nya tertera nama mama di layar HP nya.
"Hallo Assalamaualaikum mama."
"Waalaikumsalam, apa kabar?"
"Baik ma. Mama bagaimana?"
"Baik juga."
"Vi,... mama bermimpi kamu bersama seorang Bidadari."
"Apa ? mama juga bermimpi, ma... Apakah mama melihat Levi dan Bidadari sedang ... "
Levi langsung bungkam, Levi menepuk dahinya sendiri. Mengapa aku harus bertanya konyol, apa yang terjadi denganku, aku semakin bodoh dari hari ke hari. Aku seorang enterpreneur muda yang sudah terbiasa presentasi dan berbicara terstruktur.
"Levi... kamu sedang apa ... teruskan ceritamu."
"Maaf ma, Levi baru terbangun dari mimpi."
"Ceritakan mimpimu vi."
"Mama saja yang cerita ma."
Mungkin benturan di dahiku membuatku sedikit sarap hingga aku hampir menceritakan mimpiku kepada mama.
"Terus ma..."
"Lalu Mama menegurmu dan menanyakan alasanmu. Kamu mengatakan, mama aku mencintainya tapi meninggalkannya demi kebaikan. Tapi aku akan kembali padanya karena aku yakin ia akan menungguku. itu jawabanmu. Kamu tahu mama ikut menangis, bersama bidadari itu. Hingga mama terbangun masih menangis."
"Ma... itu cuma mimpi"
"Maka itu mama telpon, mama kuatir kamu menyakiti seorang perempuan. Mama peringatkan Vi. Jangan main-main dengan perempuan, jangan mempermainkan hati perempuan. Jika kamu menyakiti hati perempuan, sama artinya kamu menyakiti mama. Mama masih sangat ingat Bidadari itu menangisimu. Kasihan sekali."
"Mama, mengapa mama sangat terbawa emosi hanya karena mimpi."
"Ya juga. Bidadari dalam mimpi mama sangat cantik sekali. Tapi mama sudah lupa detail wajahnya. Apakah kamu pernah bertemu wanita yang nenurutmu sangat cantik bahkan yang paling cantik yang pernah kamu temui?"
"Tentu saja ma, Bidadariku sangat cantik." Levi menutup mulutnya dengan tangannya. Ya ampun aku salah omong lagi.
"Bidadari ? Levi, siapa nama wanita yang kamu anggap secantik bidadari itu?"
Levi diam dengan masih menutup mulutnya dengan tangannya.
"Vi, jawab mama, siapa namanya?"
"Bidadari ma, namanya Bidadari." kata-kata itu tiba-tiba meluncur dengan lancar dari mulutnya.
Aah Levi lemas sendiri dengan kecerobohannya.
"Maaf ma, Levi sedang sibuk sekarang. Maaf ya ma. Asaalamualaikum." Levi menutup telfonnya.
#Mamanya Levi.
levi... kok ditutup. Vi... Awas kamu, mama pasti akan dapat info tentang perempuan yang kamu bicarakan itu.
Levi keluar kamar masih menggenggam HP nya. Levi duduk di teras rumah kebetulan Bida sedang melihat-lihat brosur model baju wanita di teras juga.
Pasti temannya Bida sudah pulang dari tadi.
Levi memandang Bida yang sedang asyik dengan brosurnya.
Levi membuka HP nya lalu teringat akan Diana. Levi sengaja tidak membuka pesan dari Diana. Diana tidak berani menelfonnya jika Levi tidak menjawab pesannya. Karena itu artinya Levi sedang tidak ingin diganggu. Itulah alasan Levi masih menanggapi Diana. Karena Diana adalah temannya yang tidak banyak menuntut.
Mungkin dengan menghubungi Diana maka bayangan Bida dengan gaun tipis itu akan menghilang. Bukankah Diana juga tidak jelek, bahkan Diana sangat mengharapkannya.
Levi menekan tombol panggilan, namun ketika Bida mendongakkan kepalanya, Levi kembali terpesona, jantungnya berdetak kencang lagi. Cantik sekali, mengapa ia secantik itu. Diana memang bukan tandingannya. Diana sangat pandai ber make up natural namun anggun sedangkan Bida selalu tanpil polos tanpa eye liner, tanpa maskara, tanpa lipstik apalagi alisnya alami tanpa coretan pensil alis.
Levi menekan tombol akhir panggilan. Lalu kembali memandang Bida yang sekarang sedang kembali memfokuskan pandangannya ke majalah mode itu.
#Diana
Ada suara panggilan, ah aku masih di kamar mandi. Bagaimana jika ternyata Levi yang menelfon? Diana segera mengakhiri mandinya lalu menggunakan handuk kimononya dan langsung keluar kamar mandi.
Ia terlonjak senang ketika ada riwayat panggilan dari Levi.
Diana segera melakukan panggilan Video.
Levi yang masih memandangi Bida, menggeser tanda terima panggilan tanpa melihat siapa yang memanggilnya.
"Halo Levi? Bagaimana kabarmu?"
Levi memandang layar HP nya dengan kaget. "Diana, apa-apaan kamu? kamu baru mandi? Kamu masih pakai baju mandi. Levi tampak tidak suka dan langsung mengakhiri panggilannya.
Diana kaget, dan menyadari keadaan dirinya yang masih belum berganti bajum tapi kimono mandi yang dipakainya tertutup rapat.
Namun Diana menyadari kesalahannya, Levi bukan type laki-laki yang mudah tergoda.
Diana segera berganti baju dan menantikan panggilan dari Levi. Ia tidak berani melakukan panggilan lagi.
*Siapa Diana? Apakah pacarnya mas Levi? Mengapa mas Levi tampak tidak suka menerima panggilan Diana yang katanya masih pakai baju mandi? Bukankah jika Diana itu pacarnya, harusnya mas Levi tertarik?
Diana itu pasti pacarnya mas Levi. Tidak mungkin seorang wanita tanpa ada ikatan melakukan video call dalam keadaan seperti itu.
Berarti mas Levi tidak mungkin calon jodohku. Apa mungkin mas Roni yang calon jodohku? Bapak sepertinya menyukai mas Roni. Tapi aku pernah tidak sengaja jatuh di pangkuan mas Levi di depan mas Roni.
Mas Roni pasti beranggapan negatif padaku*.
Bida masih melihat brosurnya tapi pikirannya masih memikirkan nama Diana.
Entah mengapa ada rasa kecewa di hatinya.