Jodoh Gadis Indigo

Jodoh Gadis Indigo
Ingin Hamil


"Mas Levi, Bida kan sudah lulus. Kita juga sudah punya buku nikah."


"Terus...?" Levi membelai kepala Bida. Lalu memperhatikan dada Bida yang semakin menggembung. Ia mengingat artikel kehamilan yang sering dibacanya akhir-akhir ini bahwa salah satu tanda kehamilan adalah perubahan bentuk payudara.


"Bida kan sudah bilang, Bida ingin punya anak. Bida ingin segera hamil mas."


"Oh ya. Mas Levi juga ingin begitu."


Levi tidak ingin mengatakan kebenarannya bahwa sebenarnya Bida sudah posiif hamil agar Bida tidak merasa dibohongi. Toh nanti bisa beli testpack lagi.


"Mas Levi..." Bida mendekatkan tubuhnya ke arah Levi.


Sebagai laki-laki normal, Levi terprovokasi apalagi Bida sangat seksi. Maka terjadilah lagi adegan dewasa suami istri yang memporak porandakan ranjang mereka. tatanan sprei yang tadinya rapi jadi berantakan.


Setelah selesai, Bida membersihkan dirinya di kamar mandi. Terdengar bunyi bel di pintu hotel, Levi segera memakai bajunya segera lalu membuka pintu.


Bu Dewi dan Mira ternyata masih menunggu di depan pintu dari tadi.


"Lama sekali bicaranya. Bagaimana apakah kamu memberi tahu Bida kebenarannya?" Bu Dewi memberondong pertanyaan kepada Levi sambil melangkah masuk ke kamar hotel diikuti Mira.


Bu Dewi mendengar suara air dari dalam kamar mandi.


"Mas Levi, tolong ambilkan bra ku." Suara Bida dari kamar mandi.


Levi mencari-cari sesuatu lalu menemukan bra Bida jatuh dekat kaki ranjang. Levi memungutnya lalu mengetuk pintu kamar mandi dan menyerahkannya melalui pintu kamar yang terbuka sedikit.


Bu Dewi dan Mira memperhatikan kondisi kasur yang berantakan Levi juga tampak kacau. Levi merapikan rambutnya dengan tangannya dan tersenyum.


Wah ketahuan nih... Batin Levi


"Levi... kamu ya, tadi minta pesta dihentikan agar Bida tidak kelelahan ternyata kamu malah melakukannya. Apakah kamu tidak bisa menunggu nanti malam saja. Tante dan mamamu menunggu di depan kamar dari tadi." Mira sewot menjewer telinga Levi pelan.


"Tante, tadi spontanitas te.... tidak direncanakan." Levi berpura-pura kesakitan.


"Levi, kamu harus hati-hati. Jangan membuat Bida kelelahan. Kehamilan Bida masih sangat dini masih berupa segumpal darah, jika kamu begini bahaya." Bu Dewi tidak kalah sengit dengan Mira.


"Mama, tante.... " Bida keluar dari kamar mandi dengan wajah yang tampak segar, tidak ada raut kelelahan di wajahnya.


"Kamu tidak apa-apa kan?" Bu Dewi menatap Bida.


"Tidak apa-apa ma."


Terdengar suara ketukan di pintu.


Bu Dewi membuka pintu kamar. Tampak Bu Joko dan Pak Joko di depan pintu.


"Maaf kami baru selesai mandi dan ganti baju. Bagaimana kabar ibu, katanya vertigo ibu kambuh?" Bu Joko terdengar mencemaskan bu Dewi sebagai besannya.


"Oh saya sudah mendingan" Kata Bu Dewi.


"Bida, mengapa kasurmu berantakan? kasur di kamar ibu rapi sekali. Room servicenya sangat cekatan. Padahal type kamarnya sama." Bu Joko tampak heran masih membandingkan kondisi ranjang di kamarnya dan kamar Bida. Ini pengalaman pertama Bu Joko menginap di hotel, Bu Joko mengagumi kondisi kamar jenis suite room.


"Itu karena ...." Bida tidak melanjutkan perkataannya. Ia berusaha merapikan kasurnya kembali dengan wajah merah.


"Sebaiknya kita bicara di hall room nanti sore. Sekarang kita kembali ke kamar masing-masing untuk istirahat dulu." Mira mengatakannya sambil berkedip ke Levi.


"Itu lebih baik tante. Kita semua sudah lelah setelah pesta tadi. Tadi tamunya sangat banyak." Levi mendukung usulan tantenya.


Akhirnya semua pergi. Tinggal Levi dan Bida berdua di kamarnya.


Ting HP Levi berbunyi tanda ada pesan masuk.


Demi keselamatan cucu Mama, maka biarkan Bida tinggal bersama mama dua minggu saja, setelah itu mama kira sudah melewati masa aman. Kandungan Bida masih terlalu dini. Jika bersamamu, nanti kamu gempur Bida. Kan kasihan cucu mama. ---- Mama


Levi malas membalas pesan mama karena mama memang benar. Levi pasti tidak akan membiarkan Bida.


Ting Terdengar lagi pesan, kali ini pesan dari Tante Mira.


Levi sayang, kamu fokus ke acara wisuda kamu. Biarkan tante yang jaga Bida 2 minggu saja. Jika pulang dengan ibu dan bapaknya kan jaraknya terlalu jauh. Bida jangan bepergian jauh dulu. Kasihan kan cucu tante nanti. Levi nurut ya, sabar dulu. Dua minggu itu kan sebentar. Kalian kan sudah puas selama bulan madu. Hasilnya juga sudah ada, tinggal merawat saja. Nah 2 minggu lagi pasti cucu tante sudah lebih kuat. Ok Levi ? Levi kan anak yang baik. ----- Tante Mira


Tante ya bisa-bisanya mengatakan Levi sudah puas bulan madu. Tante itu provokatornya. Gara-gara lingeri dari tante. Levi jadi pingin terus. Mana banyak banget varian modelnya.


Semuanya pas di tubuh Bida. Bahkan sangking bagusnya lingeri itu tidak pernah bertahan lama menempel di tubuh Bida.


*****


Sore hari, mereka berkumpul di sudut hallroom hotel.


Pak Joko dan Bu Joko berencana pulang besok pagi karena mereka punya jadwal latihan manasik umroh lusa besok. Levi memberangkatkan bapak dan ibu mertuanya pergi umroh bulan depan.


"Bida.... Levi sedang sibuk mempersiapkan wisuda apalagi Levi aktif di kegiatan mahasiswa jadi sebaiknya Bida tinggal bersama mama dulu dua minggu ini." Bu Dewi mencoba merayu Bida


"Jangan, Bida tinggal bersama tante saja dulu ya." Mira tidak mau kalah.


"Biar Bida saja yang memutuskan akan tinggal dengan siapa." Kata Pak Joko


"Bida maunya bersama mas Levi terus."


Bida mengatakannya sambil menunduk malu.


Lagian Bida mau menunjukkan prestasi Bida. Katanya mama dan tante ingin punya cucu. Kok Bida mau dipisahin dari mas Levi sih. Batin Bida.


"Begini saja, seminggu Bida tinggal dengan mama, seminggu lagi dengan tante." Levi akhirnya mau membujuk Bida juga meski terpaksa karena tidak tega pada Bida.


"Bida tidak mau. Bida seminggu saja berpisah dengan mas Levi. 3 hari tinggal dengan mama, lalu 3 hari lagi dengan tante. Setelah itu mas Levi harus jemput Bida." Bida merangkul erat lengan Levi yang ada di sampingnya.


Levi menggigit bibirnya ketika merasakan lengannya yang bersentuhan dengan dada Bida.


"Ya tante." Levi tersenyum ke arah tantenya.


Tante ini selalu memperhatikan gerak gerikku.


Batin Levi


Akhirnya mereka sepakat bahwa Bida akan tinggal terpisah dengan Levi selama seminggu.


*****


Hari pertama, Bida ikut Mira ke tempat kerjanya. Butik plus studio Mira sangat besar.


Mira sudah berpesan kepada semua karyawannya agar menuruti semua keinginan Bida. Bida ijin melihat-lihat tempat kerja Mira.


Bida masuk ke ruang ganti para model yang akan melakukan sesi foto. Tampak seorang model sedang memasang sesuatu ke dalam branya. Bida ingat dulu Ayu pernah membawanya ke rumah ketika merias Bida.


"Apa itu kak?" Bida bertanya sambil menunjuk ke benda satunya yang masih ada di sebuah wadah di meja.


"Siapa ini? kok masuk ruang ganti. Oh ini pasti menantu kesayangan yang disebutkan Mira.


"Oh ini properti untuk memperindah penampilan, sekarang jaman sudah semakin maju. Para designer sudah membuat inovasi baru. Tidak perlu operasi plastik, lagi pula ini lebih aman meski hanya bersifat sementara."


Dia kemudian memasang yang satunya. Bida memperhatikannya dengan seksama. Setelah memasangnya kemudian model itu mengamati penampakan dadanya di cermin besar. Ia melihat dari sisi samping kiri dan kanan juga dengan berkaca sambil.memeringkan badannya.


Bida menyibak kerudungnya lalu ikut berkaca sambil meniru cara model itu berkaca.


"Kok masih besar punya Bida, padahal Bida ndk pakai apa-apa?"


Ucapan Bida membuat model itu tersinggung, ia memperhatikan Bida. Ia.semakin jengkel mengetahui bahwa Bida memang jauh lebih seksi darinya. Tapi ia tidak berani ketus karena sudah diingatkan.


Jadi ini saingan Diana. Diana yang malang. Meski kamu selalu PD dengan fisikmu. Tapi tetap saja kamu perlu properti tambahan untuk tampil. Sekarang karirmu sudah tamat, aku dengar kabar jika kamu mulai merintis dari nol. Menggunakan nama lain untuk mengikuti kegiatan model level bawah. Gadis di depanmu ini memang menang telak, kamu tidak bisa menyainginya.


"Kakak, maaf Bida permisi dulu, maaf jika mengganggu kakak." Bida keluar dari ruang ganti.


Bida memasuki ruang sesi pemotretan maternity.


Ada sepasang suami istri sedang melakukan foto maternity. Seorang wanita dengan perut buncit seperti balon menggunakan baju sejenis bra dan rok mini model susun bertumpuk berwarna warni. Perutnya dibiarkan terbuka, lalu seorang penata gaya melilitkan pita warna gold di perutnya. Suaminya duduk di karpet bergaya rumput ilalang, suaminya duduk menselonjorkan satu kaki, kaki yang satu di tekuk, istrinya duduk di pangkuannya bersandar di kaki yang ditekuknya sambil bergaya memegang ujung simpul pita di perut istrinya yang bulat itu seolah akan membuka sebuah kado.


"Ya. 1,2,3 ekspresinya ya. Ekspresi senang mau buka kado. Istrinya ayo menatap suaminya sambil senyum. Ok Sip." Fotografer memberi instruksi.


Bida melongo takjub. "Bagus sekali.... romantis." Fotografer menoleh ke arah Bida.


"Istrinya mas Levi ya?"


"Ya."


"Cepat hamil dong biar bisa foto seperti ini." Fotografer itu meneruskan sesi fotonya.


Bida betah mengamati kegiatan mereka hingga selesai.


"Mas fotografer, jika nanti Bida hamil fotokan kami ya." Bida berharap.


"Ya, nanti aku buatkan konsep yang bagus."


"Tapi Bida punya konsep sendiri."


"Oh ya coba jelaskan!" Fotografer itu mulai fokus ke arah Bida yang ketika bicara, menampilkan lesung pipitnya.


"Bida nanti didampingi hantu nenek dan bibi juga wowo dibelakang Bida. Terus Mas Levi menyodorkan tangannya menjemput Bida. Bida kemudian ikut mas Levi. Akhirnya para hantu menyerahkan Bida lalu pergi meninggalkan Bida bersama mas Levi."


Fotografer itu terdiam lalu tertawa keras.


"Baru kali ini ada ide aneh seperti itu. Cepatlah hamil aku tidak sabar melakukan sesi foto sesuai konsepmu."


"Bagaimana mau cepat hamil, mas Levi kan sibuk di kota ****. Sedangkan Bida disini menemani tante Mira. Lusa besok, Bida menemani mama. Bida sudah kangen mas Levi." Bida menunduk sedih.


Fotografer itu menatap wajah Bida yang imut namun, tapi porsi tubuh sangat dewasa.


Tapi cara Bida berbicara dan ekspresinya itu seperti ABG.


"Berapa umurmu?" Akhirmya fotografer itu bertanya.


"17 Tahun."


"Ha ? Kamu ngebet hamil di usia 17 th Kebanyakan baca konten dewasa ya. Gila kamu berhenti sekolah ya. Ayo ngaku!" Fotografer itu mendekat untuk menggoda Bida, ia mengarahkan jari telunjuknya ke wajah Bida, ia lupa jika Bida adalah menantu Mira bosnya.


"Bida sudah lulus SMK karena ikut akselerasi, Bida juga sudah menikah dengan mas Levi waktu Bida lulus SMP dua tahun lalu secara agama. Sekarang Bida sudah punya buku nikah. Memangnya tidak boleh hamil?" Bida menunduk sedih, ia merasa dilecehkan dan mulai berkaca-kaca.


Mira tiba-tiba masuk, sepertinya ia sedang mencari Bida lalu ketika melewati studio foto mendengar ucapan fotografernya yang agak lantang seperti membentak, kemudian terdengar suara Bida yang sedang emosi.


Melihat Mira, Bida langsung menghambur memeluknya sambil menangis. Mira menatap fotografernya dengan kilatan amarah tertahan.


Ya ampun gawat, aku keceplosan. Habisnya gadis ini lucu sekali. Levi menikahinya sejak usia 15 th. Wah gila. Gadis ini memang berwajah malaikat tapi badannya itu bidadari penggoda. aku bisa melihatnya meski ia memakai baju tertutup karena bajunya tidak begitu longgar mesi juga tidak ketat. Lekuk badannya masih terlihat. Sexy sekali, jika saja, dia bukan istri Levi keponakannya Mira. aku akan berjuang merebutnya.


"Sudahlah sayang, dia ini suka bercanda. Ia kan?" Mira langsung mendelik ke arahku.


"Ya, maaf ya." Aku mengulurkan tanganku, Bida akan menyambut ukuran tanganku tapi Mira menepisnya.


"Ayo kita makan siang Bida. Tadi mamamu sudah menelfon menanyakan keadaanmu. HPmu off ya?"


"Ya tante, HP ku drop."


Mira mengajak Bida keluar dari studio foto.


Sexy banget... Fotografer itu masih menatap kepergian Bida.